Variasi Interaksi Dalam Belajar

0
9
Variasi Interaksi Belajar — Dalam kegiatan interaksi berguru mengajar diharapkan variasi. Yang dimaksud variasi interaksi ialah frekuensi atau banyak sedikitnya pergantian agresi antara pengajar/pendidik dengan akseptor didik dan akseptor didik dengan akseptor didik secara tepat. Hal yang perlu disadari yaitu bahwa mengajar bukanlah menuang seperangkat pengetahuan kepada sesuatu yang mati. Peserta didik bukanlah benda mati, tetapi sesuatu yang hidup dan dinamis dan penuh emosi. Peserta didik bereaksi terhadap lingkungan tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara fisik, emosial dan sosial. Karena itu besar kecilnya variasi interaksi tergantung pada metode mengajar yang digunakan. Metode tanya jawab diharapkan kedua pihak (pengajar dan akseptor didik) banyak melaksanakan obrolan wacana materi ilmu yang dibahas. Sedang metode diskusi lebih banyak interaksi antara akseptor didik dengan akseptor didik lain atas prakarsa dan pengarahan pengajar/pendidik. Pada metode ceramah, pengajar lebih banyak melaksanakan agresi daripada akseptor didiknya.
Melalui variasi interaksi berguru sanggup diperoleh beberapa keuntungan, contohnya suasana kelas menjadi hidup. Jika kelas dikelola dengan menonton akan terjadi kebosanan dan suasana kelas menjadi redup, kurang bergarirah. Dengan variasi itu lantaran adanya perubahan situasi, kondisi, dan suasana belajar, muncul semangat gres untuk belajar. Disamping itu, berdasarkan Sardiman AM. (2005 : 207 – 208), melalui variasi interaksi tersebut sanggup diketahui dengan cepat kebutuhan dan minat akseptor didik, seberapa jauh materi sanggup diterima atau difahami, kekurangan atau kesalahan pengajar, perhatian akseptor didik, perilaku akseptor didik terhadap beberapa aspek yang dipelajari, dan ada tidaknya interaksi antara pendidik/pengajar dan akseptor didik.
Dalam membuat suasana berguru yang variatif, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan contohnya memahami dan menyikapi bahwa akseptor didik yaitu insan eksklusif dan sekaligus insan sosial yang mempunyai hakikat dan harga diri sebagai manusia, membuat kekerabatan yang erat antara pengajar dan akseptor didik serta akseptor didik dengan akseptor didik lain, menumbuhkan gairah dan kegembiraan belajar, kesediaan dalam membantu akseptor didik, menawarkan motivasi dan pengarahan untuk rajin berguru memakai metode dan seni administrasi pembelajaran yang bermacam-macam sesuai kebutuhan dan jenis materi pembelajaran.
Sehubungan dengan variasi interaksi berguru mengajar, tenaga pengajar guru/dosen menyandang banyak peran. Sebagaimana dikutip oleh Sardiman AM. (2005 : 144-146), kiprah itu yaitu : sebagai informator (pemberi informasi), sebagai organisator (pengelola kegiatan akademik), sebagai motivator (pemberi semangat), sebagai eksekutif (pengarah/pemimpin), sebagai inisiator (pencetus ide), sebagai transmitter (penyebar kebijakan pendidikan/pengetahuan), sebagai fasilitor pemberi fasilitas, kemudahan dalam proses mengajar belajar), sebagai perantara (penengah/pemberi jalan keluar), dan sebagai evaluator (memiliki otoritas menilai prestasi anak dalam bidang akademis maupun tingkah laris sosialnya). Berbagai kiprah tersebut dilakoni sesuai kebutuhan dan suasana berguru serta materi, metode dan seni administrasi pembelajaran yang digunakan.
Dalam interaksi berguru yang variatif itu perlu diciptakan keadaan dan suasana yang aman sehingga sanggup menguntungkan secara akademis. Untuk itu, ada beberapa perilaku yang harus dimiliki baik oleh pengajar/pendidik maupun akseptor didik. Sikap itu, berdasarkan Burahuddin  Salam (2004 : 73-74), yaitu : Pertama, perilaku saling mengenal. Ibarat pepatah ‘’tak kenal maka tak sayang’’ seorang pengajar yang tidak mengenal akseptor didiknya atau sebalinya akseptor didik yang tidak mengenal pengajarnya, tidak akan timbul rasa kasih sayang manusiawi yang paternalistik,  tidak akan timbul rasa kasih sayang antara orang renta dan anak, hal ini berakibat terjadinya jarak yang jauh antara keduanya. Kedua, perilaku terbuka. Sikap terbuka dalam dunia akademis merupakan suatu keharusan yang sanggup menumbukan mental untuk mendapatkan kritik. Keterbukaan juga sanggup mengakrabkan hubungan, lantaran hal masing masing. Dengan perilaku keterbukaan, tidak terjadi kecurigaan kedua belah pihak yang sanggup mempertebal kepercayaan. Ini sanggup berakibat pada kekerabatan ‘mesra’ Dan memepermudah komunikasi. Ketiga, perilaku saling percaya dan menghargai. Kepercayaan terhadap seseorang sanggup menjadikan penghargaan. Pengajar yang mempunyai kepercayan kepada akseptor didiknya akan mengjargai dan menempatkan mereka sebagai partner. Melalui kepercayaan itulah kemudian muncul perilaku menghargai. Tanpa perilaku saling percaya sulit perilaku mengahrgai sanggup dimunculkan. Dengan kata lain, orang akan saling menghargai manakalamereka terlebih dahulu saling mempercayai. Agak janggal tampaknya, dalam situasi saling meragukan akan muncul perilaku saling menghargai secara nrimo dan sesungguhnya. Keempat, perilaku berkesungguhan hatu untuk membimbing. Pengajar (guru/dosen) mempunyai kiprah untuk membimbing akseptor didiknya semoga menjadi manusi seutuhnya, lantaran itu ia harus mempunyai perilaku mental mau melayani dan memberi bimbingan. Kelima, perilaku menyadari akan hak kewajiban masing masing sebagai pengajar (guru/dosen) dan akseptor didik (siswa/mahasiswa). Dengan kesadaran demikian akan muncul saling pengertian (mutual understanding) kedua belah pihak dan pada jadinya sanggup menunjang keberhasilan berguru mengajar.
Belajar ada kalanya dilakukan secara sendirian dan ada pula yang dilaksanakan secara berkelompok. Sebagian orang menganggap bahwa berguru mesti dilakukan seorang diri saja. Duduk didepan meja dengan buku atau komputer di depannya, seseorang membaca, memahami, menghafal, atau menulis konsep dan teori-teori ilmu pengetahuan. Belajar sendirian bagi orang tertentu memang lebih pas lantaran konsentrasi terfokus, tidak terganggu oleh orang lain, berpikir lebih terang dan terarah. Sebaliknya, berguru secara berkelompok lebih pas. Sebab, buku dan sumber pelajaran yang lain hanya menawarkan bahan-bahan mentah materi ilmu pengetahuan. Melalui refrensi-refrensi yang ditemukan, materi ilmu pengetahuan perlu dipahami, dibandingkan dengan ilmu pengetahuan, perlu dibandingkan dengan keseluruhan bidangnya, dibatasi antara yang penting dan yang tidak penting, sehingga diharapkan suatu diskusi dengan orang lain (interaksi kelompok) yang dikenal dengan istilah berguru kelompok (study group).
Belajar secara berkelompok mempunyai nilai lebih dibanding berguru secara sendirian. Menurut Frans Bona S. (2005 : 62-63), nilai lebih berguru secara berkelompok itu yaitu :
  1. Dapat menggalakkan minat studi;
  2. Lebih efisien
  3. Mempermudah memahami acuan-acuan secara keseluruhan;
  4. Dengan berguru secara berkelompok, satu ‘’standard’’ pengetahuan akan tercapai untuk kelompok secara keseluruhan;
  5. Melatih diri untuk mendapatkan kritik, toleransi, menghilangkan  perilaku ekstrim keyakinan.
Karena berguru secara berkelompok melibatkan banyak orang, maka ia berbeda dengan berguru secara perorangan. Demikian pula, lantaran kelompok itu dimaksudkan untuk berguru bukan untuk kegiatan lain, maka berbeda dengan kegiatan-kegiatan berkelompok lain, contohnya arisan dan sebagainya. Disinilah terlihat ciri-ciri interaksi berguru kelompok (Burhanuddin Salam, 2004 : 29-30) sebagai berikut :

  1. Semua anggota terlibat secara maksimal terhadap semua kiprah yang telah ditetapkan oleh dan untuk kelompok;
  2. Interaksi impulsif antara sesama anggota dirangsang dan dilembagakan;
  3. terdapat saling berkomunikasi serta interaksional antar anggota;
  4. Terdapat saling membimbing dan membantu dalam usaha-usaha kelompok antar anggota sewaktu dibutuhkan;
  5. Semua anggota terikat pada tujuan untuk menjamin terlaksananya diskusi atas dasar nalar dan pikiran sehat (rasional), bukan atas dasar sentimen dan emosi;
  6. Setiap anggota bersikap demokratis dan berusaha tercapainya konsensus pendapat melalui organisasi.

Dalam kegiatan interaksi berguru kelompok terkadang terdapat beberapa kendala, contohnya kesalahan presepsi arti berguru kelompok sehingga menjadi minder, ketidakfahaman mengenai tema yang dibicarakan, diskusi tidak serius, bahkan jadinya jadi arena obrolan saja. Oleh lantaran itu, berdasarkan (Burhanuddin Salam, 2004 : 30 – 31) perlu difahami bahwa :

  1. Diskusi bukan untuk berlomba memperlihatkan kepandaian, kelihaian pendapat, tetapi sama hendak belajar,
  2. Untuk membuat diskusi yang bebas, anggota kelompok terdiri dari orang-orang yang sama tarafnya.
  3. Agar diskusi terarah, tidak menjadi arena obrolan saja perlu diangkat, seorang sebagai ketua diskusi atau sebagai moderator yang akan mengarahkan diskusi semoga tidak keluar dari tema yang dimaksud.

Sehubungan dengan hal tersebut, perlu adanya aturan-aturan sebagai berikut :

  1. Kelompok studi biarpun kecil supaya memberi peluang kepada tiap-tiap orang untuk berbicara secara bergantian. Idealnya satu kelompok studi cukup minimal 4 orang dan maksimal 8 orang.
  2. Untuk membuat diskusi yang bebas, anggota kelompok terdiri dari orang-orang yang sama tarafnya.
  3. Tiap-tiap orang berbicara mengikuti giliran, dan setiap orang mengadakan persiapan sebelumnya.
  4. Diskusi jangan menjadi ajang ngrumpi. Harus ada seorang ketua untuk mengawasi.

Tidak selamanya diskusi yang dilaksanakan sukses mencapai tujuan sebagaimana diharapkan. Menurut Dennis S. Couran, sebagaimana dikutip Burhanuddin Salam (2004 : 30-31), suatu diskusi mengalami kegagalan lantaran disebabkan oleh faktot-faktor berikut :

  1. Ketidakpatuhan anggota terhadap kalender ;
  2. Adanya anggota yang mempunyai tujuan berbeda ;
  3. Beberapa anggota cenderung tidak oke terhadap apa yang dibahas ;
  4. Beberapa anggota mungkin kurang bahagia berpartisipasi dalam diskusi;
  5. Ada yang bersitegang memikirkan sikapnya sendiri;
  6. Ada amggota yang meyakinkan bahwa dirinya lebih mengetahui banyak dari yang lain;
  7. Terkadang timbul konflik eksklusif lantaran penggunaan kata-kata yang kurang bijaksana;
  8. Adanya kecenderungan beberapa anggota menyetujui konsesnsus yang semu.

Interaksi berguru kelompok bermacam-macam baik dilihat dari segi cara atau teknik pelaksanaan maupun dan segi bentuk penyelenggaraannya. Dari segi cara atau teknik pelaksanaannya, interaksi berguru kelompok sanggup dibagi menjadi dua, yaitu debat dan diskusi. Dalam debat terdapat dua kelompok, mempertahankan pendapat yang saling bertentangan. Audience/pendengar dijadikan sebagai pihak yang menilai dan menetapkan mana pendapat yang benar dan yang salah. Diskusi merupakan musyawarah untuk mencari titik-titik pertemuan pendapat dari sekelompok orang wacana suatu masalah. Berbeda dengan debat, diskusi dipimpin oleh seorang moderator yang mengatur jalannya diskusi.

Dari bentuk penyelenggaraannya, interaksi kelompok sebagi berikut :

  1. Diskusi kelompok (group discussion), yaitu diskusi yang anggota-anggotanya dibagi dalam kelompok kecil, masing-masing mendiskusikan masalah tertentu. Di selesai pertemuan masing-masing ketua kelompok membacakan kesimpilan di hadapan semua kelompok.
  2. Diskusi panel, yaitu diskusi yang hanya dilakukan oleh beberapa orang saja (antara 3-7 orang). Dari diskusi para panelis itu, akseptor sanggup memahami maksud yang terkandung dalam masalah yang didiskusikan sehingga sanggup merangsang pendengar untuk berpikir dan mendiskusikannya dalam kelompok-kelompok kecil.
  3. Konferensi. Dalam konferensi anggota duduk saling berhadapan dan mendiskusikan suatu masalah. Setiap akseptor harus memahami bahwa kedahiranya, harus sudah mempersiapkan wacana pendapat yang akan diajukan.
  4. Simposium. Pelaksanaan symposium sanggup menempuh dua cara sebagai berikut : (a) mengundang dua orang pembicara atau lebih sebagai pemrasaran. Masalah yang dibahas sama, namun masing-masing menyoroti dari sudut pandangannya sendiri, (b) membagi masalah ke dalam beberapa aspek dan setiap aspek dibahas oleh seorang pemrasaran, kemudian disoroti oleh penyanggah umum yang akan menyoroti prasaran dan pemrasaran. Setelah itu barulah kesempatan diberikan kepada audience untuk menanggapinya.
  5. Seminar. Pembahasan seminar bertolak dari kertas karya yang disusun oleh pemrasaran yang berisi uraian teoritis sesuai tema. Diawali oleh pandangan umum atau pengarahan dari pokok-pokok pikiran yang berafiliasi dengan tema seminar. Setelah itu, audience diberi kesempatan untuk memberikan pendangan, pertanyaan, dan lain-lain.
  6. Musyawarah berguru (workshop). Kegiatan musyawarah ini dilakukan oleh orang-orang yang berkecimpung dalam bidang pekerjaan atau profesi yang sejenis. Pelaksanaan workshop biasanya dengan mengundang seorang atau beberapa orang mahir (expert) sebagai konsultan yang akan mendampingi kelompok dalam mendiskusikan, mempelajari dan merumuskan sebgaai kesimpilan. Adapun langkah-langkahnya : (a) pemetaan masalah yang dihadapi, (b) membentuk kelompom sesuai jumlah masalah, (c) masing-masing kelompok membahas problem yang telah dipetakan, (d) jikalau waktunya cukup, program sanggup dikembangkan, ceramah, diskusi, karya wisata dan berguru diperpustakaan, dan (e) hasil workshop disampaikan dalam sidang paripurna lengkap untuk dibahas sebagai materi kesimpilan workshop. 
  7. Sosiodrama (permainan peran). Sisiodrama merupakan alat pengajaran massal, pendengar harus benar-benar mengikuti jalannya sosiodrama. Pada selesai sosiodrama, pada suatu titik dimana telah timbul beberapa alternatif pemecahan soal yang disosiodramakan, pendengar dimintai pendapat kemudian dipilih orang-orang tertentu untuk tampil kedepan mensosiodramakan problem berdasarkan pandangan mereka. 
  8. Psikodrama. Psikodrama yaitu bentuk sosiodrama khusus mengenai peranan-peranan dan problem psikologik, contohnya dalam membahas situasi yang bergolak antar pimpinan suatu perusahaan dengan para karyawan dalam menuntaskan problem manajemennya. Dalam psikodrama biasnaya dilaksanakan dengan pertolongan psikologi, mahir peneliti, pedagog dan tokoh-tokoh kelompok tertentu.