Urusan Yang Pasti

0
10
Menurut catatan (meski banyak versinya), setidaknya insan itu sudah ada semenjak 200.000 tahun lalu. Nah, buat insan yang hidup 200.000 tahun lalu, lantas meninggal, maka beliau sudah ada di alam kubur selama 200.000 tahun. Bandingkan dengan usianya (asumsi) 100 tahun.

Apakah hidup ini sebentar? Sungguh sebentar.

Kalau kita mati di jaman ini, coba pikirkan, akan berapa usang kita akan ada di alam kubur menunggu kiamat? 10.000 tahun? 100.000 tahun? 1.000.000 tahun lagi? Apakah hidup ini sebentar? Sungguh sebentar.

Kita bahkan lupa dengan orang2 yang hidup 100 tahun lalu. Nggak ngeh, dan nggak kepikiran. Jangankan 100 tahun, yang 20 tahun kemudian saja sudah dilupakan. Maka, lumrah saja, ketika kita mati, 100 tahun lagi, orang2 juga sudah lupa dengan kita. Tidak ada lagi yang ingat kita yang suka melanggar peraturan, zalim, ingin menang sendiri, petantang-petenteng di muka bumi. Tidak ada lagi yang ingat kita yang suka memberatkan orang lain, mengambil hak orang lain, sok tahu, sok mutu, dan sebagainya. Tidak ada. Musnah ditelan waktu.

Hidup ini hanya sebentar. Hanya sesore hari saja, eksklusif gelap malam.

Maka, mulailah memikirkan untuk mengisinya dengan baik. Apa susahnya sih bermanfaat dan tulus? Kalaupun tidak, apa susahnya sih sensitif, mau mematuhi peraturan. Kalaupun tidak, apa susahnya sih mendengarkan nurani sendiri. Semua orang punya hati, dilengkapi dengan cuilan paling lembut. Kita ini tahu persis apakah sesuatu itu salah atau benar. Tapi sekali kita lupakan hati nurani itu, berubah jadi kelam, maka hilang sudah semuanya. Lantas buat apa kita jadi orang menyebalkan? Agar kita dapat senang hidup ini? Agar kita kaya? Berkecukupan? Tidak ada harta benda yang dibawa ke liang kubur. Kalaupun ada, bahkan tidak akan cukup untuk kebutuhan 100.000 tahun di dalam sana?

Sungguh, orang2 yang senantiasa berusaha bermanfaat bagi sekitarnya, senantiasa menghiasi diri dengan ahklak baik, selalu mengingatkan dalam kebaikan, semangat tolong menolong, yang akan mempunyai bekal menumpuk ketika mati. Tetap akan dilupakan memang, tapi beliau mempunyai bekal terbaik untuk periode sesudah mati yang lebih panjang. Kita bahkan belum menghitung masa2 hari perhitungan. Yang kalaupun di sebut ‘hari’, itu setara dengan waktu yang lama. Juga masa-masa sesudah perhitungan, yang lebih super duper lama.

Entahlah jikalau ada yang tidak percaya hari perhitungan dan hari akhir. Silahkan.

Tapi mau percaya atau tidak, kita niscaya mati. Tidak butuh agama, klarifikasi ilmiah, dsbgnya soal mati ini. Pasti mati. Bagaimana rasanya mati? Sensasi mati? Tidak ada yang tahu, sebab yang tahu tidak dapat lagi menjelaskannya.

Semoga kesadaran atas hal ini, sedikit saja dapat mencegah kita untuk zalim, aniaya, memberatkan, melanggar peraturan, menyusahkan hak orang lain.

*Tere Liye
courtesy : darwis tere liye ( fb )