Tipologi Forum Pendidikan Islam. Bab 1

0
9
Pendahuluan
Dalam konteks perjalanan umat Islam, semenjak pertama kali agama Islam disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. kepada umat insan merupakan agama yang menekankan arti pentingnya ilmu pengetahuan, baik secara teoritis maupun aplikatif. Secara normatif, Quran dan hadis tidak hanya menegaskan pentingnya pencarian ilmu pengetahuan dalam rangka meraih prestasi kehidupan duniawi dan ukhrawi, tetapi juga memperlihatkan apresiasi yang sangat tinggi terhadap orang-orang yang mengamalkan ilmu pengetahuannya untuk kemaslahatan manusia. Pesan moral keagamaan ini nampak dengan terang pada surat pertama Quran yang diturunkan kepada Rasulullah saw. yang memerintahkan kepada insan untuk mencari ilmu pengetahuan seluas-luasnya melalui kegiatan membaca. Secara praktis, umat Islam telah mengimplementasikan perintah iqra’ tersebut dalam bentuk pendidikan Islam semenjak masa Rasulullah saw. hingga remaja ini. Dalam proses perkembangan pendidikan Islam, umat Islam pernah mencapai kemajuan keilmuan dan budaya, yakni pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah tahun 750-1258 M (Akbar S. Ahmed, 1999: 44). Dengan demikian, sanggup dikatakan bahwa pendidikan Islam mempunyai perjalanan historis yang cukup panjang. Dalam pengertian yang lebih luas, pendidikan Islam berkembang seiring dengan muncul agama Islam itu sendiri. Bagi masyarakat Arab, kedatangan Islam telah membawa perubahan fundamental pada budaya dan peradaban mereka dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan. Dari catatan wacana peradaban bangsa Arab ditemukan bahwa masyarakat Arab pra Islam kurang memperhatikan pendidikan, hal ini terbukti dengan minimnya jumlah orang Arab yang bisa membaca dan menulis (Muhammad Atiyyah al-Abrasyi, 1964: 6). 
Terkait dengan kajian ini, penulis mencoba mengeksplorasi akar kemunculan dan perkembangan pendidikan Islam yang terfokus pada tipologi institusi pendidikan Islam semenjak masa Rasulullah saw. hingga masa dinasti Abbasiyah dengan kemunculan madrasah sebagai forum pendidikan Islam Par-Excellence dan pembatas antara sistem pendidikan Islam sebelum dan sesudahnya. Transformasi Tradisi Keilmuan dalam Islam yakni Melacak Awal Kemunculan Pendidikan Islam Adalah menjadi konsensus yang tidak terbantahkan bagi umat Islam bahwa akar kemunculan pendidikan dalam Islam dimulai semenjak masa Rasulullah saw.. Pendidikan Islam, dalam pengertian umum, sanggup dikatakan muncul dan berkembang seiring dengan kemunculan Islam itu sendiri, yakni berawal dari pendidikan yang bersifat informal berupa dakwah Islamiyah untuk membuatkan misi pemikiran Islam, yang pada mulanya lebih berorientasi pada penanaman pokok-pokok keyakinan (akidah) dan ibadah pada umat Islam. Dengan demikian, esensi pendidikan Islam yang dirintis oleh Rasulullah saw., baik pada periode Makkah maupun Madinah ialah dalam rangka mendukung dan memperkokoh posisi agama yang disebarkannya, yaitu Islam. Karena itu, materi pendidikannya tidak jauh dari nilai-nilai pemikiran Islam dan kasus lain yang menjadi kebutuhan masyarakat Islam ketika itu (Hisyam Nasyabe,1989: 6). 
Pada periode Makkah, Nabi saw. bekerjsama telah memulai acara pendidikan, tetapi masih bersifat terbatas dan sembunyi-sembunyi. Kegiatan pendidikan diselenggarakan di rumah-rumah sahabat, yang paling populer ialah Dar al-Arqam sebagai derivasi pribadi dari nama seorang sobat pemilik rumah yang dijadikan daerah pembelajaran antara Rasulullah saw.. dan umat Islam. Setelah Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, pendidikan Islam sanggup dijalankan secara leluasa, sistematis, dan terstruktur dengan mendirikan beberapa forum pendidikan Islam. Langkah pertama yang dilakukan Rasulullah saw. ialah mendirikan masjid sebagai sentral daerah ibadah dan mengatur kehidupan umat Islam dengan petunjuk pemikiran Islam. Masjid, disamping sebagai daerah ibadah juga dipakai sebagai daerah pendidikan untuk mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan. Bagi belum dewasa Islam, Rasulullah saw. mendirikan kuttab sebagai pusat pendidikan dalam hal membaca dan menulis (Ruswan Tyoib, 1998: 56). Secara teknis, proses pendidikan pada periode ini tidak hanya dilaksanakan oleh umat Islam, tetapi juga oleh tawanan perang yang belum masuk Islam. Dengan kemampuan membaca dan menulis yang mereka miliki, diberikan tanggung jawab oleh Rasulullah saw. untuk melakukan pendidikan bagi belum dewasa muslim sebagai tebusan pembebasan atas status mereka sebagai tawanan perang (K. Ali, 1980: 79). 
Setelah Rasulullah saw. wafat, pendidikan Islam yang dirintisnya tidak berhenti, sebaliknya mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik pada aspek kurikulum maupun forum pendidikannya. Kondisi ini disebabkan, lantaran masyarakat Islam mengalami perkembangan yang semakin kompleks, baik dari sisi jumlah pemeluknya yang semakin bertambah maupun dari kondisi wilayah kekuasaan Islam yang semakin luas. Dengan demikian, kebutuhan akan pendidikan semakin meningkat, terutama yang terkait dengan proses penyebaran pemikiran agama Islam (Zuhairini1997: 28-29). Pada masa Khulafaur Rasyidin, selain melanjutkan pendidikan Islam yang diwariskan oleh Rasulullah saw., terdapat sejumlah cabang ilmu pengetahuan keagamaan yang berkembang, yaitu tafsir, hadis, dan fiqih. Dalam bidang ilmu pengetahuan umum, mulai diperkenalkan ilmu bahasa, puisi, filsafat, logika, ilmu berenang, berkuda, dan memanah. Pusat pendidikan Islam pada masa ini tidak berbeda dengan masa Rasulullah saw., yaitu masjid. Guru yang mengajar di halaqah-halaqah masjid ditunjuk pribadi secara formal oleh khalifah sebagaimana yang pernah dilakukan oleh sobat Umar bin Khattab (Ruswan Tyoib, 1998:. 57-58). Kemudian, pada masa pemerintahan dinasti Umayyah, terdapat penambahan sejumlah ilmu pengetahuan yang dikembangkan dalam pendidikan Islam. Misalnya; ilmu tata bahasa Arab, sejarah, dan geografi. Dalam teknis pelaksanaannya, khalifah mulai menunjuk seorang guru khusus untuk mengajar belum dewasa di sebuah keluarga muslim.
Pengembangan keilmuan mulai dilakukan melalui proses penerjemahan buku-buku kedokteran dan ilmu kimia dari Yunani ke dalam bahasa Arab (K. Ali, 1980, h. 221-223). Pada masa selesai dinasti Umayyah, tepatnya pada tahun 707 M, di Damaskus telah didirikan sebuah rumah sakit sebagai daerah pengobatan dan difungsikan juga sebagai daerah pendidikan kesehatan. Selain itu, mulai didirikan forum pendidikan peradilan, tetapi khusus untuk kalangan istana dan anak pangeran (Ruswan Tyoib, 1998: 59). Pada masa Abbasiyah, pendidikan Islam mencapai puncak kemajuannya dalam segala bidang keilmuan, baik ilmu agama maupun umum. Kegiatan keilmuan pendidikan Islam yang mencakup penggalian, observasi, dan penerjemahan karya ilmiah menjadi tradisi dan budaya yang mengkristal di kalangan umat Islam. Pemerintah memperlihatkan santunan penuh terhadap proses pendidikan Islam, baik pada pelaksanaannya maupun penyediaan dana. Karena itu, pendidikan sanggup berlangsung di banyak sekali tempat, seperti; rumah pribadi, istana, toko-toko buku, masjid, maktab, bait al-hikmah, perpustakaan, dan yang monumental ialah munculnya madrasah (K. Ali, 1980: 299-300). Masa Abbasiyah manjadi saksi transfer ilmu pengetahuan yang luas biasa banyaknya ke dunia Islam melalui proses penerjemahan dan bergabungnya ilmuwan non Islam ke dalam masyarakat Islam. Dalam ilmu keislaman, terjadi transformasi aturan Islam, perkembangan tradisi filsafat Islam, dan munculnya konsesus ulama dalam bidang ilmu hadis (Ruswan Tyoib, 1998: 60).