Sumpah Pocong Dan Sejarahnya

0
12

Dinamakan sumpah pocong alasannya ialah pihak bersumpah biasanya dibalut dengan kain kafan dengan posisi tidur atau juga dengan posisi duduk dengan muka tetap dibiarkan terbuka layaknya memperlakukan mayat.

Dari sinilah kata Pocong itu bermula. Namun tidak semua sumpah pocong membalutkan kain kafan ke seluruh badan kecuali muka, ada sumpah pocong yang hanya mendudukan pihak yang bersumpah dan dikerudungi dengan kain kafan.

Dan biasanya sumpah pocong dilakukan oleh pemeluk agama Islam dan pelaksanaannya di dalam masjid dengan sejumlah saksi.

Dan jikalau pihak bersumpah (biasanya yang menjadi tersangka) berdusta dengan sumpahnya maka akan menerima eksekusi dari Allah SWT. Entah itu menerima penyakit, kecelakaan atau mati mendadak… wa allahu’alam.

Tetapi sebaliknya jikalau tidak terbukti semua tuduhan yang ditimpakan kepada yang bersumpah, Insha Allah tidak akan terjadi apa-apa padanya.

>> Sejarah Sumpah Pocong

Tidak ada yang tahu kapan pastinya sumpah pocong mulai menjadi tradisi di tanah air, khususnya di beberapa tempat di tanah Jawa.

Namun sanggup dipastikan sumpah pocong lahir dari tradisi kearifan lokal masyarakat setempat dalam memecahkan perkara atau sengketa yang tidak sanggup diselesaikan lewat jalur atau ranah aturan formal, yaitu lewat persidangan.

Memang ada perkara atau sengketa yang tidak sanggup dibuktikan lewat persidangan formal?
Ada kok,, semisal santet, tenung, sihir, nujum. Kasus santet dan sejenisnya memang ada, namun tidak sanggup dibuktikan siapa pelakunya.

Satu-satunya cara pembuktian tentunya dengan Sumpah Pocong kepada orang yang diduga sebagai pelakunya.
Kasus sumpah pocong biasanya sering terjadi kepada mereka-mereka yang dituduh sebagai dukun hitam, pelaku pesugihan dan orang-orang yang dituduh berbohong dalam wasiat harta warisan atau hutang piutang tanpa bukti tertulis.

Sumpah pocong diyakini berasal dari tempat Pendalungan. Pendulungan ialah sebutan untuk wilayah Jember. Selama ini Pendalungan populer sebagai kota santri yang lebih banyak didominasi penduduknya Muslim dan mendudukkan Kiai sebagai tokoh panutan setempat. Di mana Kiai sering dijadikan referensi dalam menuntaskan konflik alasannya ialah ketinggian ilmu agamanya yang di atas rata-rata. Pun dengan sumpah pocong, Kiai lah yang ditunjuk sebagai hakimnya.