Suamiku Kenapa Kau Waktu Susah Sama Aku, Tapi Dikala Bahagia Malah Menentukan Yang Lain? Sebuah Dongeng Inspiratif!

0
35
Aku paham kalau rumah tangga, memang akan selalu menerima ujian. Tapi kali ini kau memang sudah keterlaluan. Jika jauh sebelumnya kita selalu berdua untuk melewati setiap cobaan, kali ini saya harus berjuang sendiri untuk melawan.

 Tapi kali ini kau memang sudah keterlaluan Suamiku Kenapa Kamu Waktu Susah Sama Aku, Tapi Saat Senang Malah Memilih yang Lain? Sebuah Kisah Inspiratif!
Memerangi kau dengan ia yang kini lebih kau pilih.
Babak gres dari perjalanan cinta kita nampaknya mulai bergerak menuju ambang kehancuran. Keberanianku untuk menyampaikan ini tentu beralasan. Meski kau mungkin tak sadar, tapi kurasa kau bukan lagi suami yang kukenal.
Aku paham kalau rumah tangga, memang akan selalu menerima ujian. Tapi kali ini kau memang sudah keterlaluan. Jika jauh sebelumnya kita selalu berdua untuk melewati setiap cobaan, kali ini saya harus berjuang sendiri untuk melawan. Memerangi kau dengan ia yang kini lebih kau pilih.
Barangkali Kamu Lupa Siapa Dia Yang Kemarin Bersamamu Saat Susah, Perempuan Ini Adalah Orangnya
Tak perlu kujelaskan bagaimana kita dulu memulai perjalanan. Kamu tentu tahu susahnya hidup dua orang yang gres menikah. Memilih hidup di rumah kontrakan kecil, biar tak bergantung pada orangtua. Tak hanya diriku saja, kau juga tentu masih ingat bagaimana rasanya.
Hingga hasilnya kerja keras dan perjuangan yang kita lakukan, berbuah hasil yang baik. Hidup yang layak dengan ekonomi yang sanggup dikatakan lebih dari cukup. Bukan bermaksud untuk mengungkit masa yang telah lalu, ini semua hanya sebagian kecil dari dongeng kita. Bagaimana? Apa kau tetap menentukan untuk berpura-pura lupa?
Kutemani Mendaki Terjalnya Bebatuan, Namun Kini Kamu Malah Memberiku Pilihan Yang Tak Sekalipun Kuinginkan
Memang kau jadi pihak yang lebih secara umum dikuasai untuk semua keberhasilanmu sekarang. Tapi kurasa kau tahu, bahwa wanita ini pernah jadi penyokong untuk semua keluh kesahmu. Selalu setia disampingmu meski dunia ikut menertawaimu. “Aku tahu kau bisa, percayalah saya disampingmu” jadi kalimat pamungkas yang dulu katamu amat berharga.
Seperti yang dikutip dari gobagi.com, anehnya, hasil final dari apa yang telah kita miliki justru jadi kejutan baru. Masih lekat diingatan bagaimana kau berjanji tuk tetap bersama. Namun seseorang yang di luar sana memang nampakanya jauh lebih menggoda.
Dengan Apa Yang Kamu Miliki Sekarang Praktis Memang Untuk Menjatuhkan Pilihan
Wajar memang kalau dirinya akan dengan gampang tertarik padamu. Bagaimana pun kau memang sosok pria yang banyak dicari. Percaya diri dan punya sesuatu yang sanggup dibanggakan tentu jadi daya pikat yang menarik bagi seorang perempuan. Bukan berniat untuk selalu memojokkanmu, tapi kenyataannya kau jadi pihak yang justru berusaha untuk dilirik.
Segala pembuktian, hal yang tadinya hanya kau perlihatkan di hadapanku, rahasia kau perlihatkan untuk orang lain juga. Dengan semua yang telah kau punya, tentu gampang memang menjatuhkan pilihan. Tapi bagaimana kalau itu semua tak bertahan lama?
Diriku Sadar Jika Parasku Tak Seelok Dia, Tapi Setidaknya Aku Sudah Berhasil Memberimu Putri Kecil Yang Tak Kalah Cantik
Aku masih ingat, kalau dulu penampilan bukanlah sesuatu yang terlalu menerima perhatianmu. Tak heran kalau saya pun tak pernah merasa butuh untuk merias diri, dengan perawatan ekstra. Namun dunia gres yang ada, memang tiba dengan membawa beberapa perubahannya. Masalah-masalah kecil dalam hal penampilan, mulai masuk dalam daftar yang perlu dikeluhkan.
Meski telah berusaha untuk sanggup tampil serupa, usahaku memang tak lebih unggul dari dia. Paras yang kupunya tentu tak secantik dirinya, tapi apakah itu jadi syarat mutlak untuk tetap bersama ? Cobalah ingat betapa manisnya ia yang kini kita punya.
Sebab Cintaku Tak Perlu Kamu Ragukan, Lalu Bagaimana Dengan Dia Yang Ingin Kamu Jadikan Pilihan
Di awal dongeng kau tiba dengan segala kesederhanaan. Memintaku untuk melengkapi ruang-ruang kosong dalam hidup. Tanpa ragu, wanita ini mantap mendapatkan ajakanmu.
Bahkan kalau ketika ini kau kembali tiba dan bertanya, jawabanku tentu masih sama. Rasa sayang dan semua cinta yang sedari dulu ada masih tersusun rapi dengan baik meski kini sedang diombang-ambing oleh perubahan. Lalu bagaimana dengan dia? Sudahkah kau pastikan bahwa dirinya juga sanggup berlaku sama?
Bohong Memang Jika Kubilang Ini Tak Menyakitkan, Lalu Haruskah Aku Memaksamu Untuk Tetap Bertahan?
Sebagai pihak yang sedang dalam dua kemungkinan, ini tentu terasa menyakitkan. Ditinggalkan atau tetap dijadikan pilihan, jadi dua hal yang ketika ini selalu saya pikirkan. Tumpukan kemungkinan itu terlihat mengerikan, tapi haruskan saya tetap bertahan?
Dulu saya berpikir bahwa kau yakni sosok pendamping yang memang diciptakan semesta untukku seorang. Akan tetapi ada sesuatu yang kini saya percaya, bahwa apa yang kuanggap benar tak selalu sanggup sejalan. Ditinggal olehmu tentu saja menyakitkan, tapi apa iya saya harus terus bertahan? Sedang kau sudah berjalan tuk meninggalkanku.
Jika Akhirnya Kamu Ingin Nikmati Bahagiamu Dengan Dia, Aku Pun Paham Bahwa Waktu Mungkin Telah Merubah Segalanya
Masih dalam keterbatasanku yang tak sanggup menerka semesta. Posisiku sebagai pihak yang disakiti tentu jadi mimpi yang tak pernah kuingini. Memintamu untuk tetap bertahan memang nampaknya tak sanggup kulakukan. Tapi bukan berarti saya lantas berhenti untuk mengupayakannya.
Bahkan sampai kini saya masih mencintaimu dengan rasa yang sama ketika dulu pertama. Tapi kalau hasilnya kau ingin nikmati senang dengan dia, saya sungguh tak apa.
Kini saya sanggup melepasmu, bukan sebab rasa yang sudah tiada. Aku hanya sadar bahwa kau bukan lagi pria sederhana yang kemarin mengajakku hidup bersama. Karena nampaknya waktu dan segala yang kau punya telah berhasil merubah segalanya.


Sumber http://silahkanshare.blogspot.com