Sejarah Perkembangan Analisis Ihwal

0
10
SEJARAH PERKEMBANGAN ANALISIS WACANA — Secara historis, tercatat hingga awal tahun 50-an, kajian tata bahasa masih berkutat di seputar kalimat. Baru pada tahun 1952, seorang linguis kenamaan bemama Zellig S. Harris menyatakan ketidakpuasannya terhadap ‘tata bahasa kalimat’ tersebut. Menurutnya, masih banyak problem kebahasaan yang tidak tersentuh oleh pisau bedah yang bemama ‘gramatika kalimat’ itu. la kemudian menulis dan mempublikasikan artikel yang berjudul “Discourse Analysis”. Karangan itu dimuat di majalah Language Nomor 28:13 dan 474-494. Dalam tulisannya tersebut, Harris mengemukakan argumentasi wacana perlunya mengkaji bahasa secara komprehensif; minimal tidak berhenti pada aspek internal struktural semata. Aspek eksternal bahasa, yang justru menyelimuti kalimat secara kontekstual, juga perlu dikaji untuk mendapat isu sejelas-jelasnya. 
Pada waktu itu, pernyataan Harris sebetulnya agak melawan arus. Aliran linguistik yang berkembang di Amerika waktu itu yaitu aliran Strukturalisme, buah pikiran Bloomfield (1887-1949) dan pengikut-pengikuthya (Dede Oetomo, 1993z6). Kaum Bloomfieldian memang dengan tegas memisahkan kajian sintaksis dari semantik dan hal-hal lain di luar kalimat. Linguis yang lain, menyerupai Franz Boas (1858-1942) dan Edward Sapir (1884-1939), yang juga seorang antropolog, sebetulnya pernah mengkaji bahasa yang dihubungkan dengan konteks kebudayaan dan kemasyarakatan. 
Namun, Bloomfiled dengan pengaruhnya yang sangat mengakar dalam aliran linguistik strukturalisme, tetap berkibar dengan ajarannya, yakni bahwa kajian linguistik harus menelaah bentuk dan substansi bahasa itu sendiri, bukan mengkaji lainnya. Itulah sebabnya, himbauan Harris untuk keluar dari kungkungan Bloomfiled dan menyebarkan kajian linguistik, kurang mendapat jawaban yang berarti. 
Jauh sebelum itu, pada tahun 1935 di Inggris, John Firth (1890-1960) pemah menganjurkan semoga para linguis mencoba menelaah bahasa percakapan. Menurutnya, “di sinilah akan kita temukan kunci bagi pemahaman yang lebih baik dan luas wacana apa yang disebut dengan bahasa dan bagaimana bahasa itu beroperasi” (Firth, 1935). Anjuran Firth mendapat jawaban dengan lahirnya analisis wacana percakapan “jual-beli” yang dilakukan oleh Mitchell dalam komunitas di Cyrenaica. Upaya yang kurang lebih semasa dengan ajuan Harris itu berbeda sedikit dalam hal objek kajiannya (percakapan mulut vs teks tulis). Selain itu Haris cenderung ragu. ragu ketika hendak melibatkan konteks sosial dalam analisisnya. Sedangkan Micthell justru dengan sengaja melibatkan hal itu (Dede Oetomo, 1993:8), Sejak ketika itulah, di Eropa, terutama Perancis, lahir karya-karya analisis wacana dari ancangan semiotik strukturalis, dari tokoh-tokoh menyerupai Bremond, Todorov, Metz, dan masih banyak yang lainnya. 
Sementara itu, di Amerika muncul pendekatan sosiolinguistik yang dipelopori oleh Dell Hymes, yang antara lain mengkaji kasus percakapan, komunikasi, dan bentuk sapaan, yang nantinya akan bermetamorfosis kajian wacana yang lebih luas. Minat dan hasil karya penelitian sosiolinguistik ini terus bergulir pada dasawarsa 1960-an. Penelitian bidang fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan variasi stilistik makin terbuka terhadap persentuhannya dengan faktor-faktor sosial. Kondisi itulah yang pada gilirannya mendorong mereka untuk menengok bidang kajian wacana yang sepertinya mewadahi problem tersebut. Pada tahun-tahun itu. muncul pula kajian bahasa lainnya, menyerupai filsafat bahasa, dan etnografi oleh Austin (1911-1960) dan Searle; bidang etnografi komunikasi oleh John Gumperz, dan Dell Hymes; bidang etnometodologi, dialektologi, atau analisis percakapan oleh Harvey dan Erving; dan tak ketinggalan pula, kajian psikolinguistik atau psikologi dan intelegensia artifisial yang dikembangkan oleh Bartlett. 
Analisis wacana (discourse analysis) sebagai disiplin ilmu dengan metodologi yang terang dan eksplisit, gres benar-benar berkembang secara mantap pada awal tahun 1980-an. Berbagai buku kajian wacana terbit pada dasawarsa itu, contohnya Stubbs (1983), Brown dan Yule (1983), danyang paling komprehensif karya van dijk (1985). Pokok perhatian analisis wacana juga terus berkembang dan merebak pada hal-hal atau problem yang banyak diperbincangkan orang di masa sekarang, menyerupai perbedaan gender, wacana politik, dan emansipasi wanita, serta sejumlah kasus sosial lainnya.
Judul Buku : Kajian Wacana, Teori metode & Aplikasi, Prinsip prinsip analisis wacana.
Penulis : Mulyana M.Hum