Sejarah Perayaan Tahun Gres Masehi

0
18

Setiap malam tanggal 31 Desember  menjelang pergantian malam tahun gres masehi, milyaran orang di penjuru dunia merayakan malam pergantian tahun dengan banyak sekali macam perayaan mirip pesta kembang api, meniup terompet, pertunjukkan musik, dan aneka pesta pora lainnya. Bahkan di negeri kita ini, yang dominan penduduknya yaitu muslim, juga tidak kalah hebohnya pesta pora perayaan tahun gres yang terjadi setiap tahunnya. Pertanyaannya adalah, sesungguhnya apa yang sedang kita rayakan? Adakah dasar besar lengan berkuasa yang menyebabkan tahun gres masehi menjadi sebuah perayaan? Pertanyaan simple, tetapi kebanyakan dari kita tidak memahami atau belum memahaminya.
 
“Dan janganlah kau mengikuti apa yang kau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS 17:36).
Merujuk pada ayat tersebut, sebagai seorang muslim wajib bagi kita berpikir dan mencari tahu lebih jauh mengenai perayaan tahun gres masehi. Apa sesungguhnya dasar dari perayaan tahun gres masehi? Bagaimana sejarahnya dan berasal dari kaum mana? Hal ini penting kita tahu supaya kita tidak terjebak pada aktifitas yang sia-sia bahkan berakhir pada kesesatan.
Sejarah Tahun Baru Masehi 1 Januari
Menurut catatan Encarta Reference Library Premium 2005, orang yang pertama membuat penanggalan kalender Masehi yaitu kaisar Romawi yang populer berjulukan Gaisus Julius Caesar. Penanggalan ini  dibuat pada 45 SM. Sebelumnya, bangsa Romawi kuno telah mempunyai kalender tradisional semenjak era ke-7 sebelum masehi. Namun kalender ini sangat kacau dan mengalami beberapa kali perubahan. Sistem kalendar ini dibentuk menurut pengamatan terhadap munculnya bulan dan matahari, dan menempatkan bulan Martius ( atau maret pada ketika ini)   sebagai awal tahunnya.
Kaisar Julius Caesar mengganti kalender tradisional ini dengan Kalender Julian. Urutan bulan menjadi: 1) Januarius, 2) Februarius, 3) Martius, 4) Aprilis, 5) Maius, 6) Iunius, 7) Quintilis, 8) Sextilis, 9) September, 10) October, 11) November, 12) December. Di tahun 44 SM, Julius Caesar mengubah nama bulan “Quintilis” dengan namanya, yaitu “Julius” (Juli). Sementara kaisar berikutnya yaitu Kaisar Augustus, mengganti nama bulan “Sextilis” dengan nama dirinya, yaitu “Agustus”. Sehingga hingga sekarang, bulan- bulan ini yang dipakai, mulai dari junius, Julius, kemudian bulan Agustus. 
Perayaan Tahun Baru Masehi 1 Januari
Di beberapa wilayah dan negera di dunia, bulan Januari merupakan upacara keagamaan. Januarius (Januari) diambil dari nama yang kuasa Romawi “Janus” yaitu yang kuasa bermuka dua, muka menghadap ke depan sebagai simbol msa depan dan muka yang satu lagi menghadap ke belakang sebagai simbol masa lalu. Dewa Janus yaitu yang kuasa penjaga gerbang Olympus yang diartikan sebagai gerbang menuju tahun yang baru.
Dewa Janus merupakan sesembahan kaum Pagan Romawi. Kaum Pagan, atau dalam bahasa kita disebut kaum kafir penyembah berhala. Ternyata hingga ketika ini budaya, ritual, dan upacara keagamaan  kaum pagan ini telah merasuk dan mewarnai kehidupan kita tanpa kita sadari termasuk salah satunya yaitu  perayaan pada malam tahun baru. Kaum Pagan juga merayakan tahun gres mereka dengan menyalakan kembang api, membuat api unggun dan mengitarinya, memukul lonceng, dan meniup terompet.
menjelang pergantian malam tahun gres masehi Sejarah Perayaan Tahun Baru Masehi
Sejarah Perayaan Tahun Bary Masehi
Bulan Januari juga ditetapkan sehabis Desember dikarenakan Desember yaitu sentra Winter Soltice. Winter Soltice yaitu bulan dimana kaum pagan yang merupakan penyembah Matahari merayakan ritual mereka ketika demam isu dingin. Tanggal 1 Januari yaitu seminggu sehabis pertengahan Winter Soltice, yang merupakan perayaan Paganisme (Penyembah matahari) dan ritual mereka di demam isu dingin.
Tanggal 1 Januari juga dirayakan oleh orang Persia yang beragama Majūsî. Mereka orang majusi yang menyembah api menyebabkan tanggal 1 Januari sebagai hari raya mereka yang dikenal dengan hari Nairuz. Kaum Majūsî  meyakini bahwa Tuhan membuat cahaya  pada tahun baru, sehingga mereka akan merayakan kejadian yang “Agung” ini
Dalam buku Nihâyatul ‘Arob dan al-Muqrizî dalam al-Khuthoth wats Tsâr. Menjelaskan bahwa kaum Majūsî menyalakan api dan mengagungkannya  dalam perayaan tahun gres ini.  Mereka berkumpul di jalan-jalan, halaman dan pantai, mereka bercampur baur antara lelaki dan wanita, saling mengguyur sesama mereka dengan air dan khomr (minuman keras). Mereka berteriak-teriak dan menari-nari sepanjang malam. Orang-orang yang tidak turut serta merayakan hari Nairuz ini, mereka siram dengan air bercampur kotoran. Semuanya dirayakan dengan kefasikan dan kerusakan.
Bagaimana Menyikapi  Perayaan Tahun gres Masehi?
Kita telah  mengetahui bersama bahwa sejarah perayaan tahun gres merupakan perayaan dan ritual keagamaan kaum kufar. Sebagai muslim kita harus menghindari dan menjauhi sikap dan budaya  dari kaum kufar.
Cukuplah firman Allah menjadi pengingat kita:
 “Dan janganlah kau mengikuti apa yang kau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya” (QS. Al isra’: 36)
Rasulullah bersabda :  “Barangsiapa yang mirip suatu kaum, maka beliau termasuk belahan dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)
Selain itu, masih teramat banyak keburukan dari perayaan tahun gres ini. Seperti tindakan pemborosan, menyia-nyiakan waktu, dan terjerumus pada perbuatan zina.
Pemborosan
Perayaan tahun gres seringkali dibarengi dengan diselenggarakannya aneka pesta pora yang membutuhkan banyak uang. Misalnya banyak sekali macam konser dan pesta kembang api. Hal ini termasuk bentuk pemborosan yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah membenci tiga hal pada kalian; kabar burung, membuang-buang harta, dan banyak bertanya.” (HR. Bukhari).
Menyia-nyiakan Waktu
Merayakan acara tahun gres dengan berhura-hura  merupakan perbuatan sia-sia tanpa manfaat. Padahal, dalam Islam, waktu sangatlah berharga sehingga Allah bersumpah demi waktu.
Imam Syafi’i membuat kesimpulan yang sangat sempurna terkait dengan waktu:

“Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), niscaya akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil)”

Waktu merupakan sesuatu yang sangat berharga, keberadaannya tidak dapat ditukar dengan harta benda, dan tidak dapat pula diulangi datangnya. Semoga kita menjadiorang-orang yang bakir mengatur dan memanfaatkan waktu.
Terjerumus Zina
Merupakah hal yang paling parah dalam perayaan tahun baru. Bagi para orang tua, harus sangat mencurigai putra-putrinya yang sudah cukup umur di malam tahun baru. Fenomena ini bukan hanya dongeng belaka, tetapi fakta yang banyak terjadi di lapangan. Menjelang tahun gres penjualan kondom laku manis di banyak sekali minimarket dan toko.  Perbuatan ini ada yang sudah direncanakan sebelumnya, dan ada  juga yang terjadi begitu saja pada malam tahun gres akhir pergaulan muda-mudi yang bercampur baur serta imbas minuman keras dan obat-obatan yang dikonsumsi. Na’udzubillah min dzalik.
Semoga sehabis membaca goresan pena ini, kita dapat memilih sikap yang tegas dalam menyikapi perayaan tahun baru. Sikap kita bukan atas dasar sekedar ikut-ikutan, tetapi sikap kita yaitu yang menurut ilmu pengetahuan. sebab kita sadar betul bahwa semuanya akan dimintai pertanggungan jawab di Yaumil Hisab kelak. 
<Diolah dari banyak sekali Sumber>