Sejarah Mitologi Dan Pengertian Mitologi Dalam Lingkup Penelitian

0
9
Pada mulanya keingintahuan insan ternyata tidak sanggup terpuaskan atas dasar pengamatan maupun pengalamannya. Untuk memuaskan alam pikirannya insan mereka – reka sendiri balasan terhadap keingintahuannya melalui mite – mite. Jadi, mite – mite tersebut sudah merupakan percobaan insan untuk mengerti dunianya, melalui “penelitian yang paling sederhana”. Mite – mite sudah memberi balasan atas pertanyaan – pertanyaan yang hidup dalam hati insan : Dari mana asal insiden alam? Mengapa manusiadiciptakan? Apa alasannya yakni matahari terbit, kemudian terbenam lagi? Apakah pelangi itu? Mengapa gunung bisa tegak dan bisa meletus? Bagaimana bumi terhampar, padahal katanya bumi itu bulat? Bagaimana langit ditinggikan tanpa tiang penyanggah? Dan sebagainya. Melalui mite – mite, insan mencari keterangan serta melaksanakan “penelitian” wacana asal – seruan alam semesta dan wacana insiden – insiden yang berlangsung di dalamnya. Mite macam pertama yang mencari keterangan wacana asal – seruan alam semesta sendiri biasanya disebut mite kosmogonis, sedangkan mite macam kedua yang mencari keterangn wacana asal – seruan serta sifat – sifat insiden dalam alam semesta disebut mite kosmologis.

Baca Juga : Naluri Pengetahuan dalam Pengembangan Penelitian
 

Cara berfikir mitologis tersebut pada waktu itu sanggup diterima sesuai dengan perkembangan alam fikiran manusia, yang secara evolusi berdasarkan August Comte melalui tahapan. August Comte menggambarkan bahwa:

Proses berfikir insan dalam menafsirkan dunia dengan segala isinyaberkembang secara evolusi, melalui tahapan religius, metafisika dan positivisme. Dari konsep ini terwujudlah perubahan sosial masyarakat baru, berdasarkan kenyataan empiris hasil pemikiran rasional, dan pada jadinya akan mencapai tingkat integrasi yang lebih besar. Pada awal perkembangannya penalaran insan memakai gagasan – gagasan yang bersumber dari agama untuk mengambarkan semua tanda-tanda dan insiden alam. Faham animisme misalnya, menganggap alam semesta terdiri dari mahluk – mahluk yang berkuasa, mempunyai perasaan, kemauan serta bisa bertindak ibarat insan lain pada umumnya. Alam semesta berjiwa dan dianggap mempunyai kekuatan. Dunia dihayati sebagai kediaman roh- roh halus yang bisa memperlihatkan berkah dan bala. Karena itu melalui banyak sekali upacara kecil, semacam sesajen, selamatan, serta memakai mediator seorang dukun, orang berusaha mendapat santunan dari roh – roh halus yang dianggap mempunyai kekuatan itu. (Veeger, 1986: 20-21)

Proses perkembangan evolusionis itu kemungkinan bisa terjadi lantaran faktor – faktor alamiah, antara lain karena:

a)    Keterbatasan pengetahuan yang disebabkan lantaran keterbatasan pengindraan.

b)   Keterbatasan penalaran insan pada masa itu.

c)    Keingintahuan insan pada masa itu tidak terjawab.

Baca Juga : Proses dan Prosedur dalam Penelitian

Mitos dan Logos

Walaupun mitologi menjawab pertanyaan wacana alam semesta itu, tetapi balasan yang diberikan tidak sanggup dikontrol oleh pihak rasio. Pada kurun ke 6 s.m., di Yunani mulai berkembang suatu perilaku yang sama seklai berlainan semenjak ketika itu orang – orang mulai mencari balasan atas problem – problem yang diajukan oleh alam semesta. Manusia mencari semacam taktik guna menemukan kekerabatan tepat antara insan dengan daya kekuatan di luarnya. Perbuatan – perbuatan mudah ibarat upacara – upacara, masih berlaku tetapi pertimbangan –pertimbangan teoritis juga berperan. Manusia tidak begitu terkurung lagi dengan alam mistis, tapi ia mulai mengambil jarak dan berusaha memperoleh pengertian mengenai kekuatan – kekuatan yang menggerakkan alam dan manusia.

Perkembangan ini disebut peraliahan dari “mitos”. Atau, alam pemikiran mitologis diganti dengan pemikiran ontologi. Lahirlah filsafat dan ilmu pengetahuan yang tidak hanya bersifat teoritis, tapi juga berorentasi praktis, yakni “membebaskan” insan dari cengkeraman mitologis. Dengan demikian timbul perilaku ontologis yang terutama menonjolkan pengetahuan sistematis yang sanggup dikontrol. Manusia muali mencari alasannya yakni musabab dari segala sesuatu dan terutama mengaitkan banyak sekali sebab, jadinya mereka hingga pada alasannya yakni pertama. Singkatnya, insan mulai mencari sesuatu keterangan rasional yang memungkinkannya mengerti alam serta banyak sekali tanda-tanda di sekitarnya.

Tidak sanggup disangkal bahwa keterangan – keterangan macam itu bagi kita kini ini sering kali agak naif kedengarannya. Tetapi yang penting ialah cara rasional dan logis yang mereka gunakan untuk mendekati problem – problem yang ditemui di alam semesta. Suatu rujukan sederhana yakni pelangi. Dalam masyarakat Yunani yang tradisional, pelangi yakni seorang dewi yang bertugas sebagai suruhan yang kuasa – yang kuasa lain. Tetapi Xenophanes, salah seorang diantara filsuf – filsuf pertama, melalui proses penelitian menyampaikan bahwa pelangi hakekatnya merupakan suatu bentuk awan. Kira – kira satu kurun sesudahnya, Anaxagoras meneliti kembali bahwa pelangi disebabkan oleh pantulan matahari dalam awan – awan. Karena cara pendekatan sedemikian bersifat rasional dan sanggup dikontrol oleh siapa saja, terbukalah kemungkinan melakuakn penelitian ulang, yang hasilnya sanggup dijadikan materi diskusi secara terbuka. Satu balasan akan menampilkan pertanyaan – pertanyaan lain yang kritis atas satu keterangan lain, sehingga dari suasana rasional ini berkembang pemikiran ilmiah yang bisa melahirkan ilmu pengetahuan.

Lahirnya filsafat lantaran logos telah menyalahkan mytos atau munculnya filsafat tak lain lantaran adanya perjuangan mencari dan meneliti suatu keterangan rasional yang mungkin untuk memahami insiden – insiden yang sanggup diamati oleh umum. Dalam rangka pengertian itulah ilmu pengetahuan timbul sebagai perjuangan secara metodelogis dan sistematis mencari asas – asas yang mengijinkan untuk memahami kesatuan yang berkaitan satu sama lain antara banyak gejala. Proses ini sudah mulai di kalangan para Filosuf alam di Yunani, diantaranya Demokritos (abad – 5 s.m.) dengan ajarannya yang disebut Atomisme, yaitu ada kejamakan dan perubahan yang sanggup disaksikan pada benda benda serta gejala-gejala yang kelihatan, harus dimengerti sebagai perbedaan serta perubahan dalam susunan atom-atom yang tidak kelihatan dan tak terubahkan.

Dalam kaitan itu dapatlah dikatakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan yakni peralihan dari kejamakan menuju kesatuan. Namun sebaliknya juga terdapat kecenderungan bahwa dahulu ilmu pengetahuan lebih terang daripada sekarang, lantaran ilmu pengetahuan yang dulu satu itu kini telah terpecah menjadi banyak ilmu, yang bangkit sendiri-sendir.

Patut pula dicatat bahwa semenjak dulu sudah dikenal adanya banyak sekali tipe ilmu pengetahuan, Aristoteles (384 sm – 322 sm) mengelompokkan ilmu pengetahuan menjadi; pertama ilmu-ilmu praktis; dan kedua, ilmu-ilmu teoritis. Yang pertama disebut mudah lantaran dilihat dari sifat atau orientasi utama dan ilmu itu sendiri, yakni demi manfaat praktis. Sedangkan yang kedua bertumpu pada prinsip yang menyangkut cara memandang realitas. Yang termasuk didalam ilmu-ilmu mudah yakni budbahasa (menyangkut tindakan yang tepat), poetika (menyangkut produksi atau menciptakan sesuatu dengan tepat); dan politika (menyangkut negara atau politik). Sedangkan yang termasuk di dalam ilmu-ilmu teoritis yakni ilmu alam (memandang realitas berdasarkan aspek-aspeknya yang material dan kualitatif). Matematika (memperhatikan aspek-aspek kuantitatif). Dan metafisika (memandang realitas berdasarkan aspek-aspeknya yang paling umum dan fundamental, sejauh realitas itu ada).

Plato (427 sm – 347 sm ) mempunyai titik tolak berfikir yang berbeda dengan filosuf lainnya, ia menghindari pemikiran materialistik. Menurut Plato keaneka ragaman yang nampak di alam ini, bersama-sama suatu duplikat saja dari sesuatu yang kekal dan immaterial. Sebagai rujukan contohnya wacana kupu-kupu. Ada kupu-kupu yang kuning, putih, dsb. Begitu beraneka ragam, lantaran itu semua merupakan kopi atau tiruan, maka tak sempurna. Yang benar yakni : ilham kupu-kupu yang kekal dan immaterial. Tidak sanggup dipungkiri bahwa bagi orang Yunani, filsafat merupakan suatu pandangan rasional wacana segala-galanya. Baru berangsur-angsur dalam sejarah kebudayan, ilmu-ilmu pengetahuan satu demi satu melepaskan diri dari filsafat, biar memperoleh otonominya. Oleh lantaran itu, bangsa Yunani mendapat kehormatan yang bukan kecil, yaitu bahwa merekalah yang mnelorkan cara berfikir ilmiah. Melalui penelitian dengan cara berfikir mendalam, faham idealisme Plato menyimpulkan suatu temuan baru, bahwa semua yang ada di alam ini berupa benda-benda materi, hakikatnya yakni bayangan yang bersifat sementara. Benda-benda materi di alam itu akan hancur bersama hancurnya alam semesta. Yang abadi hanyalah yang ideal, yang berada jauh secara trancendent di luar alam, sehingga tidak akan hancur bersama hancurnya alam. Faham idealisme Plato yang kemudian juga dikembangkan bersama Aristoteles muridnya, menjadi materi pemikiran ilmiah yang akan melahirkan ilmu pengetahuan. Karena itu secara filosofis, penelitian tidak bisa dilepaskan dari konsep berfikir ilmiah dan ilmu pengetahuan.

Baca Juga : Cara Membuat Rumusan Masalah Yang Benar

Faham idealisme dan spiritualisme akan memperlihatkan warna bagi lahirnya ilmu pengetahuan yang ideal termasuk ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan nilai-nilai spriritual. Dasar pemikiran idealisme yakni sesuatu yang abstrak, sedangkan dasar pemikiran spiritualisme yakni nilai-nilai aliran agama yang bersifat sakral. Penelitian biasanya berlaku untuk mengamati gejala-gejala yang bersifat material. Namun demikian, perkembangan ilmu pengetahuan memperlihatkan peluang terhadap kemungkinan dilaksanakannya penelitian terhadap gejala-gejala yang ideal dan bersifat spiritual.

Berdasarkan kerangka diagram tersebut diatas sanggup dijelaskan eratnya kekerabatan antara kegiatan penelitian dengan filsafat dan ilmu pengetahuan. Perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan seirama. Menurut Darji Darmodiharjo (1995 ;1) ada ilmu pengetahuan biasa yang diperoleh dari hasil pengamatan indrawi. Ada pengetahuan ilmiah yang diperoleh berdasarkan metode penelitian yang sistematis. Dan ada ilmu pengetahuan filsafat yang diperoleh melalui perenungan mendalam (kontemplasi) sehingga menemukan hakikat kebenaran wacana sesuatu.

Lahirnya filsafat ilmu misalnya, merupakan manifestasi dari penelitian mendalam sehingga menghasilkan ilmu pengetahuan baru, ibarat juga filsafat dakwah, filsafat pendidikan, filsafat agama, filsafat sosial dll. Filsafat ilmu merupakan spesifikasi dari filsafat yang secara khusu dan kritis meneliti dan mengkaji konsep-konsep dasar atau asumsi-asumsi ilmu pengetahuan untuk memperoleh makna kebenaran yang hakiki. Van Peurson(1986:1) menegaaskan bahwa filsafat ilmu yakni pengkajian terhadap ciri-ciri pengetahuan ilmiah serta cara-cara untuk memperolehnya. Dengan kata lain filsafat ilmu sesungguhnya merupakan penelitian lanjutan, terhadap obyek atau problem khusus dari masing-masing bidang ilmu. Dengan demikian mempelajari filsafat ilmu merupakan bekal untuk berbagi ilmu pengetahuan yang telah diperoleh, sehingga kita mengerti hakikat ilmu yang dipelajari (ontologis), bagaimana cara memperolehnya (epistemologis), serta apa nilai manfaat dari ilmu itu (axiologis).

Ontologi yakni ilmu filsafat yang membahas wacana hakikat sesuatu kebenaran dan kenyataan yang terkait dengan pengetahuan ilmiah. Sedangkan epistemologi mengandung makna teori ilmu pengetahuan, sebagai salah satu cabang filsafat yang mempelajari adal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya suatu pengetahuan. Epistemologi mengkaji proses pengetahuan bagaimana insan sanggup mengetahui sesuatu? Dari mana pengetahuan itu diperoleh? Bagaimana validitas pengetahuan itu sanggup dinilai? Apakah ada perbedaan pengetahuan pra pengalaman dengan pengetahuan pasca pengalaman? Adapun Aksiologi yakni kepingan ilmu filsafat yang bersifat normatif, mengandung makna nilai-nilai manfaat suatu kebenaran ilmu pengetahuan yang diteliti dan dipelajari.

Memperoleh ilmu pengetahuan hakikatnya merupakan tuntutan naluri kemanusiaan, sesuai dengan fitrah keingin tahuan manusia, sehubungan dengan potensi budi dan hati yang dimilikinya. Segala sesuatu yang diketahui oleh insan itulah yang dikenal deng istilah pengetahuan. Biasanya pengetahuan diperoleh berdasarkan hasil pengamatan indrawi dalam kehidupan sehari-hari. Jika pengetahuan itu diperoleh melalui proses penelitian deng metode dan mekanisme yang sistematis, maka hasil penelitian itu disebut pengetahuan ilmiah. Apabila pengetahuan itu diperoleh melalui proses berfikir secara mendalam hingga mengalami kontemplasi hakikat kebenaran sesuatu, maka hasilnya sanggup dikatagorikan sebagai pengetahuan filsafat. Kalau pengetahuan diperoleh seseorang berdasarkan suatu keyakinan terhadap kebenaran aliran agama, maka hasilnya dikenal dengan istilah pengetahuan agama. Dengan demikian sanggup ditegaskan bahwa intinya filsafat, ilmu dan agama merupakan satu kesatuan sistem yang diperoleh melalui suatu proses penelitian.