Sejarah Abjad Times New Roman

0
27

Sejarah jenis aksara Times New Roman dipakai sebagai standar aksara dalam dunia pengetikan. Keberadaannya dikenal luas oleh orang dari banyak sekali kalangan profesi. Namun, seberapa banyak di antara kita yang mengetahui sejarah penciptaan aksara jenis Times New Roman ini?

Huruf ini dirancang oleh seorang berkebangsaan Inggris berjulukan Stanley Morrison. Ia lahir pada tanggal 6 Mei 1889 di Wanstead, Inggris. Stanley tumbuh sebagai figur yang tidak mempunyai pengetahuan wacana percetakan, namun di lalu hari ia menempati banyak posisi penting di dunia tersebut. Pengetahuannya yang banyak dalam hal tipografi didapatkan semenjak menjadi anggota percetakan The Pelican Press.

Kecintaannya pada Tuhan membuatnya banyak membaca buku-buku religius, bahkan karya tipografinya yang pertama juga ditujukan untuk gereja. Setelah keluar dari The Pelican Press, ia bekerja untuk Cloister Press di Manchester. Banyak desain-desain terbaiknya dihasilkan dikala ia bekerja di perusahaan ini. Lagi-lagi, karyanya banyak mencerminkan latar belakang gereja katolik, hal ini terlihat pada ilustrasi dan banyak sekali macam dekorasi yang ia gunakan. Karena ia sangat membenci perang, gerakan antiperangnya membuat ia sempat dipenjara selama empat tahun (1914-1918).

Berawal dari Surat Kabar “Times”

Selama kurang lebih 30 tahun (1929-1960) Stanley Morrison menjadi konsultan aksara untuk koran The Times di London, Inggris. Sebagai konsultan huruf, pada tahun 1931 ia menyampaikan pada Times, ”The Times merupakan koran yang telah mempunyai pelanggannya sendiri, kita memerlukan sebuah aksara yang tidak sama dengan barang dagangan pada umumnya, aksara itu harus baik pada dasarnya, namun juga mencerminkan kekuatan dari garis, konsistensi, dan hemat bagi The Times”.

Karena kata-katanya itulah, 3 Oktober 1932 menjadi hari pemasaran jenis aksara “Times” ke khalayak ramai, alasannya ialah pada hari itu untuk pertama kalinya koran The Times dicetak dengan memakai jenis aksara yang dinamai menyerupai koran itu sendiri. Stanley Morisson bukan satu-satunya orang yang berada di balik layar kesuksesan aksara tersebut. Ia juga dibantu temannya berjulukan Victor Lardent sebagai orang yang menggambar rancangan aksara ini.

Huruf berjulukan Times ini dengan cepat menjadi sangat terkenal pada masa itu, banyak dipakai di koran, majalah, maupun buku laporan tahunan perusahaan. Huruf ini didaftarkan lisensinya ke The Monotype Corporation di Inggris, namun juga didaftarkan ke perusahaan lisensi Linotype di Amerika, alasannya ialah koran The Times banyak mendaftarkan lisensi dari produk-produknya ke Linotype. Akhirnya, pada tahun 1945, The American Linotype Company mendaftarkan nama dagang ”Times Roman” secara terpisah, bukan sebagai bab dari The Times ataupun Monotype. Di sinilah terjadi perbedaan nama untuk penggunaan aksara ini dalam komputer. Linotype dan perusahaan-perusahaan di bawah lisensinya menyerupai Adobe dan Apple Macintosh memakai nama ”Times Roman”, sedangkan Monotype dengan perusahaan-perusahaan di bawah lisensinya menyerupai Microsoft memakai nama “Times New Roman”.

Pada kurun ’80-an, Monotype mendesain ulang Times New Roman dan mengklaim bahwa aksara yang di desain ulang ini lebih baik daripada Times Roman yang dimiliki Linotype. Karena tidak mau kalah, pada periode waktu yang berdekatan, Adobe-Linotype juga meluncurkan seri gres dari aksara Times, yang tentu saja mereka mengklaim aksara yang gres juga lebih baik dibanding aksara milik Monotype. Pada kenyataannya, sebagian atau mungkin seluruh pengguna aksara ini tak akan menyadari atau bahkan tak akan mempermasalah kan perbedaan di antara keduanya walaupun huruf-huruf tersebut dicetak sangat terang dengan ukuran 10 pt dalam resolusi tinggi 300 dpi.

Lepas dari banyak sekali kontradiksi di atas, terbukti bahwa Stanley Morrison telah berhasil membuat aksara yang baik dengan ciri khasnya tersendiri sehingga jenis aksara ini terus dikenang dan dipakai oleh banyak kalangan sampai dikala ini. Ia meninggal pada 11 Oktober 1967 di London, Inggris.

Semoga menambah wawasan anda

courtesy : ilmu pengetahuan (fb)