Sadar Akan Pengaruh Rokok

0
12
Ada 6 level kecanduan zat adiktif bagi manusia. Level pertama yang paling ringan yaitu kecanduan kopi; yang kedua yaitu kecanduan marijuana/ganja; yang ketiga yaitu kecanduan alkohol; yang keempat yaitu kecanduan heroin; yang kelima yaitu kecanduan morfin, dan yang paling tinggi levelnya yaitu kecanduan nikotin. Jika kalian berguru kesehatan (apalagi seorang dokter); atau punya teman yang mengerti, silahkan konfirmasi hal ini, semoga tidak merasa aku apusi/tipu.

Nah, kalau sudah dikonfirmasi, sungguh semua orang harus tahu, kecanduan nikotin (rokok) justeru ada di puncaknya.

Bagi saya, pertanyaan paling menarik, bukan hal2 terkait ini, atau membantahnya; alasannya yaitu terang orang2 kedokteran lebih paham (dan sama saja sok tahu kalau aku membantahnya); yang menarik adalah, jikalau demikian adanya, kenapa industri rokok begitu raksasa hari ini? Kalau kita tahu betapa berbahayanya nikotin, kenapa dibiarkan begitu saja?

Maka jawabannya ada dua. Yang pertama, tentu saja alasannya yaitu orang2 yang merokok keberatan dibilang sebagai pencandu. Mereka menuntut merokok dilegalkan, tidak mau disamakan dengan alkohol atau narkoba; Sudah rumus umum, hal2 yang menyenangkan (tapi merusak) ibarat rokok ini, tentu banyak peminatnya. Apakah perokok tidak sadar itu merusak? Mereka amat sadar sesadarnya. Kenapa mereka tidak mau berhenti? Inilah yang menjelaskan kenapa kecanduan nikotin duduk dipuncak jawara zat adiktif.

Yang kedua, alasan yang lebih rumit lagi, ini murni bisnis. Industri rokok besar sekali; di Indonesia saja, satu perusahaan rokok dapat untung 10 triliun setiap tahun, itu uang melimpah ruah. Jika sesuatu itu uangnya besar, maka tanpa diminta, banyak orang yang merasa berkepentingan. Saat banyak orang yang merasa berkepentingan, tanpa perlu dibujuk, disuruh, mereka sudah bersedia membela.

Dalam situasi yang sudah terlanjur ini, aku kira, tidak ada gunanya mengurusi orang2 yang sudah merokok. Dan terang kalian GR deh kalau merasa aku sedang rese dengan kalian yang merokok. Dinasehati atau tidak, sama saja reaksi mereka. Lebih baik fokus kepada yang belum dan tidak akan merokok. Itulah gunanya kampanye tidak merokok ini harus digalang, didukung oleh orang2 yang masih mempunyai konsen kepedulian–dan semoga itu termasuk kalian.

Ada info terbaru yang menakjubkan, dewan kota New York gres saja menyetujui menaikkan usia minimum untuk membeli rokok, dari usia 18 tahun menjadi 21 tahun. Ini keren sekali, di kota paling bebas, di negara paling bebas, regulasi merokok telah beranjak ke level berikutnya. Kota ini tahu sekali biaya dan buruknya kebiasaan merokok, mereka berhitung dengan nalar sehat, lantas menciptakan peraturan yang semakin menyulitkan rokok.

Di negara2 maju, regulasi merokok juga semakin mencekik. Kota2 Australia misalnya, mereka semakin memperbanyak daftar daerah terlarang merokok, tidak dapat seenaknya merokok. Negara2 maju di Eropa juga menaikkan cukai habis2an, rokok terang bukan barang murah, alasannya yaitu para perokok tahu sekali resiko kena kanker, jantung, dll, jadi mereka pastilah orang kaya. Banyak perusahaan rokok di luar negeri pindah ke negara2 berkembang, alasannya yaitu bisnis di negara mereka lesu dan suram. Indonesia salah-satunya sasaran pasar yang empuk.

Saya sungguh tidak tahu ke arah mana di negeri ini soal rokok, alasannya yaitu faktanya sangat menyedihkan. Sebagian perokok kita tiba dari keluarga miskin, yang malah menghabiskan uang mereka utk merokok, bukan utk gizi, atau pendidikan. Mereka berada dalam cekikan bisnis rokok–yang justeru tiba dari negara2 maju. Kelas menengah dan orang2 terdidik yg seharusnya berpikir sehat, malah menghabiskan waktu membahas wacana buruh, tenaga kerja, pajak. Lupa wacana fakta paling simpel: kita tidak dapat membenarkan sesuatu hanya alasannya yaitu alasan ekonomi saja.

Semoga masih banyak orang2 yang peduli, yang berani terus konsisten menyuarakan soal rokok ini.

Sekali lagi, aku sedang tidak rese membahas kalian yg sudah merokok; aku sedang mengurus anggota page ini yang masih remaja, merekalah yang sedang aku ajak bicara.

courtesy :*Tere Liye