Review Novel : Sang Pemimpi

0
14
Saat ini banyak novel-novel religius yang mengadopsi cerita-cerita al- Qur’an maupun al-Hadits sebagai tema sentral. Ataupun dengan memperlihatkan pengutamaan dan legitimasi terhadap suatu dongeng dengan dalil-dalil al-Qur’an maupun al-Hadits. Dengan begitu pembaca sanggup menyerap nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam dongeng tersebut untuk selanjutnya diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Sehingga novel-novel tersebut tidak hanya bernilai estetis tetapi juga edukatif.

Salah satu novel yang mengandung nilai pendidikan Islam ialah “Novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata”. Novel ini tidak hanya berisi wacana dongeng fiktif belaka, tetapi di dalamnya banyak terdapat pesan pendidikan yang sanggup dipetik. Sehingga dongeng yang dipaparkan tidak hanya sebatas imaginer, tetapi juga mempunyai misi edukatif. Misi edukatif ini sanggup dilihat dari nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam obrolan tokoh-tokoh yang ada di dalam novel Sang Pemimpi. Di antara nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung di dalam novel ini ialah nilai pendidikan aqidah, watak dan syar‟iah, yang dikemas secara estetis dalam bentuk narasi.

Di sini ( Novel Sang pemimpi ) ada korelasi antara tingkat spiritualitas pengarang dengan pesan-pesan yang disampaikan dalam karya sastra. Dimana pesan yang disampaikan merupakan manifestasi kehidupan religius pengarang yang tertuang dalam karya sastranya, sehingga pembaca sanggup mengaplikasikan pesan tersebut dalam kehidupan nyata.

Pemilihan rangkaian novel kedua dari Tetralogi Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dilatarbelakangi oleh adanya keinginan untuk memahami nilai-nilai edukatif yang tercermin dari perilaku-perilaku tokoh. Novel ini menceritakan wacana persahabatan dan setia kawanan yang erat dan juga meliputi pentingnya pendidikan yang begitu mendalam. Ada banyak quote membangun yang sederhana namun penuh kekuatan untuk meraih mimpi.

Sang Pemimpi ialah novel kedua karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh Penerbit Bentang pada tahun 2006, yang sekarang telah mencapai cetakan ketiga puluh di tahun 2014. Novel ini merupakan novel kedua dari Tetralogi Laskar Pelangi yang bercerita wacana kehidupan tiga orang pemimpi yang bersemangat melanjutkan sekolah dari jenjang ke jenjang, meski harus dilakukannya dengan bekerja sambilan demi memenuhi kebutuhan. Mereka mempunyai impian untuk bersekolah melanjutkan pendidikan ke Sorbonne, Prancis.

Dalam novel Sang Pemimpi, Andrea Hirata bercerita wacana kehidupannya di Belitong pada masa SMA. Tiga tokoh utama dalam karya ini ialah Ikal, Arai dan Jimbron. Ikal tidak lain ialah Andrea Hirata sendiri, sedangkan Arai ialah saudara jauhnya yang menjadi yatim piatu dikala masih kecil. Arai disebut simpai keramat alasannya ialah dalam keluarganya ia ialah orang terakhir yang masih hidup dan ia pun diangkat menjadi anak oleh ayah Ikal. Jimbron merupakan sobat Arai dan Ikal yang sangat terobsesi dengan kuda dan gagap kalau sedang antusias terhadap sesuatu atau dikala gugup. Ketiganya melewati kisah persahabatan yang terjalin dari kecil hingga mereka bersekolah di Sekolah Menengan Atas Negeri Manggar, Sekolah Menengan Atas pertama yang berdiri di Belitung bab timur.

Demi memenuhi kebutuhan hidup, Ikal dan Arai harus bekerja sebagai kuli di pelabuhan ikan pada dini hari dan pergi ke sekolah setelahnya. Namun begitu, mereka tetap gigih berguru sehingga selalu berada dalam peringkat lima teratas dari 160 murid di sekolahnya. Sekolah mereka merupakan Sekolah Menengan Atas negeri pertama yang bergengsi di Belitong, sebelumnya satu-satunya Sekolah Menengan Atas yang terdekat berada di Tanjung Pandan. Sekolah tersebut berada 30 kilometer dari rumah Ikal dan Arai sehingga mereka harus menyewa kamar dan hidup jauh dari orang tua.

Pada akhirnya, Jimbron harus berpisah dengan Ikal dan Arai yang akan meneruskan kuliah di Jakarta. Selama di Jakarta, mereka luntang-lantung mencari pekerjaan namun risikonya Ikal menjadi pegawai pos dan Arai pergi ke Kalimantan untuk bekerja sambil kuliah. Ikal berhasil membiayai kuliahnya di Universitas Indonesia hingga menjadi Sarjana Ekonomi, sedangkan Arai berguru biologi di Kalimantan. Hidup sanggup berdiri diatas kaki sendiri terpisah dari orang renta dengan latar belakang kondisi ekonomi yang sangat terbatas namun punya keinginan besar, sebuah keinginan yang kalau dilihat dari latar belakang kehidupan mereka, hanyalah sebuah mimpi.

Dari novel ini sanggup diambil beberapa pelajaran hidup yang penting, salah satunya yakni harus benar-benar menghargai hidup, menghargai semua santunan Tuhan, tidak pantang mengalah kalau menginginkan sesuatu, dan tidak ada yang mustahil asalkan mau dan berusaha. Dapat diambil kesimpulan bahwa semua kehidupan insan sudah ada yang mengaturnya, yaitu Tuhan, dan segala apa yang dialami oleh insan tidaklah luput dari campur tangan ( kuasa ) Tuhan.

Oleh : Safari
Judul Buku : Sang Pemimpi
Penulis : Andrea Hirata