Review Buku : Sekolah Bukan Pasar, Sekolah Di Zaman Kini

0
11


SEKOLAH BUKAN PASAR
Karya : St. KARTONO
SEKOLAH DI ZAMAN KINI
                Tempo hari, pada suatu forum pendidikan yang telah mengeluarkan surat keputusan menurut kantor Dinas Pendidikan dan Pengajaran Cabang, bahwa “setiap siswa wajib  menonton hiburan Operet Teletubbies dan Power Rangers.,.,.,”. surat itu menyebutkan waktu, tempat dan harga karcisnya yang mesti dibayar oleh siswa dengan pendampingnya.
                Seorang wali dari siswa tersebut termangu, bukan oleh jumlah uang yang harus di bayar untuk karcis pertunjukan. Betapa sekolah semenjak taman kanak kanak hingga sekolah tinggi tinggi sekedar menjadi pasar sekaligus pangsa untuk meraup laba finansial.
                Pada waktu yang hampir bersamaan, muncul gosip siswa kelas 3 hingga dengan kelas 4 SD disuruh menyaksikan pentas ketoprak dengan biaya Rp. 1.500 per siswa. Pertunjukan tersebut dilaksanakan pada ketika jam pelajaran berlangsung, beberapa orang bau tanah siswa yang enggan disebut namanya mengatakan, meski bukan wajib, alasannya yang menyuruh yaitu guru, sangat mustahil bagi siswa maupun orang bau tanah berani menolak. Uang hasil pertunjukkan yang jumlahnya tidak kecil itu dibentuk bancakkan pihak sekolah, Dinas P & K Ranting Kecamatan serta Dinas P & K Kabupaten”.
                Berkaitan dengan dua pengalaman diatas, saya setuju dengan ungkapan Bertrand Russel bahwa pada gilirannya guru sekedar sebagai profesi, sebagai pekerjaan yang sudah terorganisasi rapi dengan segala bentuk motif dan kepentingan yang bertumpuk didalamnya. Lebih jauh Russel menyebut, bahwa guru dalam sistem birokrasi massal menjadi ujung tombak mewartakan kepentingan birokrasi. Maka, jadilah guru bukan sebagai biro pemberi kebijakan, pemberi kecerdasan manusiawi, instruktur kedewasaan, melainkan menjadi biro kebohongan dan ideologi yang harus disebarluaskan oleh birokrat pemegang keputusan yang notabene yaitu atasan guru. Dan pada risikonya sekolah yaitu pasar paling potensial untuk dimasuki lewat birokrasi urusan pendidikan.
                Banyak prosedur pasar yang mendominasi irama sekolah, ibarat halnya acara sehabis penerimaan siswa yaitu pengadaan seragam siswa, siswa menjadi konsumen pasar tekstil, sepatu, dan banyak sekali atribut yang sanggup jadi harganya melampaui harga masuk akal di luaran. Ketika tahun pedoman berjalan, sekolah berkembang menjadi pasar buku pelajaran. Setiap tahun buku sanggup berganti ganti, tidak sanggup diestafetkan kepada adiknya.
                Menjelang liburan, acara wisata atau tour menampakkan wajah pasar, banyak sekali forum kursus, tes IQ, kursus komputer, sempoa masuk ke sekolah sekolah. Para kepala sekolah memoblisasi siswa (orang tua) untuk mengeluarkan uang lagi demi melayani para penyedia jasa tersebut. Bagaimanapun rumusan pendidikan dilakukan, toh ujung ujungnya tetap duit.
                Menarik uang dari siswa entah itu berjulukan iuran siswa, atau pertolongan wajib tetap saja orang bau tanah yang menanggung. Bahkan jikalau di banyak tempat dikeluhkan sepak terjang musyawarah kerja kepala sekolah yang menyelenggarakan acara ulangan umum bersama, sementara kalangan guru menerka ada motivasi uang dibelakang penyelenggaraan itu.
                Akhirnya, saya meminjam rumusan dari dharmaningtyas bahwa kebiasaan mengakibatkan sekolah sebagai ladang mencari laba harus ditinggalkan. Mekanisme yang demikian itu memiliki bantuan besar terhadap proses pemiskinan masyarakat yang sudah miskin. Sekolah harus sudah dibebaskan dari suasana bisnis yang dilakukan oleh siapapun, terlebih oleh birokrat Diknas. Kepala sekolah, atau guru, dengan dalih apapun.
Ada Banyak Proyek di Sekolah!!!
                Ketika ditanya, balasan kepala Balitbang Dekdiknas tentang perbedaan pelaksanaan ujian nasional di setiap tempat yaitu : “Oh, paling tidak pelaksanaannya bersifat Nasional, baik dari sisi pengadaan soal maupun pelaksanaannya serentak. Jawaban tersebut dinilai semakin membenarkan anggapan bahwa ujian Nasional lebih kentara dengan pendekatan proyek daripada substansi peningkatan mutu pendidikan.
                Maka, pembiaran terjadinya kecurangan dalam pengerjaan, menutup mata terhadap banyak sekolah yang berlomba lomba mengatrol nilai ujian praktik, seolah tidak mau tahu adanya model koreksi balasan oleh para guru disetiap tempat yang begitu penuh belas kasihan.
                Proyek ujian nasional hanyalah salah satu dari sejumlah proyek yang sanggup diadakan sepanjang tahun ajaran, artinya disana ada ritme yang berulang dari tahun ke tahun, pada jenjang pendidikan menengah umum, semenjak penerimaan siswa gres hingga program tutup tahun, apapun sanggup jadi proyek. Apa bahwasanya yang ada dibalik biaya pendaftaran, uang gedung, pertolongan pendidikan, pertolongan operasional, dan sederet tarikan biaya baik pada calon siswa maupun siswa gres yang telah diterima.
Mencari Guru Kreatif.
                Tanpa guru yang Kreatif dan sanggup diandalkan penguasaan materinya, musahil jikalau suatu pendidikan berikut kurikulum serta muatan kulikulernya sanggup mencapai hasil yang di idealkan. Kurikulum memang penting, namun masih membutuhkan sosok sosok guru untuk menterjemahkannya dalam praksis pengajaran.