Review Buku : Pendidikan Abjad Berbasis Pesantren

0
15

A.    Pendidikan Karakter Sebagai Solusi Menghadapi Krisis
Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW, diutus ke muka bumi sebagai uswah hasanah (contoh yang baik) (QS Al-Ahzab: 33:21). Dari ayat tersebut sanggup diambil kesimpulan bahwa orang yang mempunyai adat yang baik(karakter yang baik) sanggup dijadikan sebagai uswah hasana (teladan yang baik).
Di dalam upaya mencetak SDM berkualitas dan berkarakter, harus ada sinergitas antara keluarga,sekolah,dan masyarakat, alasannya ialah huruf berawal dari sebuah kebiasaan. Sekolah merupakan salah satu kawasan yang strategis dalam pembentukan huruf selain di keluarga dan masyarakat. Melalui sekolah proses penanaman nilai huruf siswa akan diaplikasikan baik melalui kegiatan berguru mengajar, budaya sekolah, maupun kegiatan pengembangan diri.
Permasalahan bangsa sudah cukup kompleks. Dekedensi moral pelajar ibarat penyalahgunaan narkoba, meningkatnya penderita HIV-AIDS, tawuran antar pelajar, mencontek ketika ujian,dll. Fenomena-fenomena ini mengatakan bahwa huruf dan moral bangsa Indonesia sudah mengalami dekadensi dan rusak, sehingga langkah-langkah antisipatif harus diambil untuk mengantisipasi dampak-dampak negatif. Salah satunya dengan menggaungkan kembali “Pendidikan Karakter”.
Pendidikan Karakter telah ditetapkan oleh Kementrian Pendidikan pada Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei 2011,sebagai upaya perwujudan amanat Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dengan dilatarbelakangi oleh realita permasalahan kebangsaan yang berkembang ketika ini,seperti: belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila, bergesernya nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dan memudarnya kesadaran terhadap nilai kebudayaan bangsa. Untuk mendukung perwujudan keinginan pembangunan huruf tersebut, pemerintah mengakibatkan pendidikan huruf sebagai salah satu kegiatan prioritas pembangunan nasional.
B.     Karakteristik Pendidikan Karakter
Secara etimologis, kata huruf berasal dari bahasa Yunani Charrasein berarti menciptakan tajam, menciptakan dalam. Sedang dalam kamus Inggris huruf berasal dari kata character yang berarti watak, huruf atau sifat (Ecchols dan Shadily, 1995:5). Dalam Kamus Bahasa Indonesia“Karakter” diartikan dengan tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak/budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain.
Pendidikan huruf mempunyai makna lebih tinggi dari pendidikan moral,karena pendidikan huruf tidak hanya berkaitan dengan duduk masalah benar-salah,tetapi bagaimana menanamkan kebiasaan (habit) wacana hal-hal yang baik dalam kehidupan, sehingga penerima didik mempunyai kesadaran, dan pemahaman yang tinggi serta kepedulian dan janji untuk menerapkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian sanggup dikatakan bahwa huruf ialah sifat alami seseorang dalam merespon situasi secara bermoral, yang diwujudkan dalam tindakan faktual melalui sikap baik, jujur, bertanggung jawab, hormat terhadap orang lain, dan nilai-nilai huruf mulia lainnya. Dalam konteks pedoman Islam, huruf berkaitan dengan doktrin dan ihsan. Dari beberapa definisi diatas, ditarik suatu kesimpulan bahwa, pendidikan huruf menanamkan kebiasaan (habituation) wacana hal mana yang baik sehingga penerima didik menjadi faham (kognitif) wacana mana yang benar dan salah, yang baik dan buruk, bisa mencicipi (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (psikomotor). Dengan kata lain pendidikan huruf yang baik bukan hanya melibatkan aspek pengetahuan yang baik (moral knowing), akan tetapi juga mencicipi yang baik (moral feeling) dan sikap yang baik (moral action).
C.    Fungsi dan Tujuan Pendidikan Karakter
Pendidikan huruf pada pada dasarnya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriot, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh doktrin dan taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa menurut Pancasila (Balitbang Kemendiknas, 2011:2).
Adapun tujuan pendidikan huruf dalam setting sekolah ialah untuk menguatkan dan membuatkan nilai-nilai kehidupan yang dianggap penting dan perlu sehingga menjadi kepribadian penerima didik yang khas sebagaimana nilai-nilai yang dikembangkan.

D.    Nilai-nilai Pendidikan Karakter Pesantren
a.       Jiwa Keikhlasan
Ikhlas satu kata yang gampang diucapkan tetapi sulit ditanam di hati (sepi ing pamrih).
b.      Jiwa Kesederhanaan
Maksudnya bukan berarti pasif/pasrah, tetapi mengandung kekuatan dan ketabahan dalam diri, penguasaan diri dalam menghadapi segala kesulitan.
c.       Jiwa Berdikari (Berdiri di atas kaki sendiri)
Maksudnya kesanggupan menolong diri sendiri yang mana sanggup melatih kemandirian kita.
d.      Jiwa Ukhuwah Islamiyah / Jiwa Ukhuwah Diniyyah
Maksudnya memupuk rasa persaudaraan dan terus bersilaturahmi.
e.       Jiwa Kebebasan
Bebas disini yaitu bebas berfikir, dan berbuat, bebas dalam memilih jalan hidupnya di masyarakat kelak.
E.     Proses Penanaman Karakter Berbasis Nilai-nilai Pesantren
Penanaman huruf berbasis pesantren diantaranya dengan cara pembiasaan, penugasan, dan penerapan. Yang mana selama 24 jam santri diberikan tanggung jawab atau disiplin–disiplin baik fisik maupun mental sehingga membentuk pribadi–pribadi yang bertanggung jawab, tangguh dan disiplin.

Penulis : Abdullah Hamid, M.Pd
Judul : Pendidikan Karakter Berbasis Pesantren,