Review Buku : Dari Guru Konvensional Menuju Guru Profesional

0
12


A.      Mutu dan Kompetensi guru
 Mutu seorang guru sangatlah penting dalam menunjang keberhasilan suatu pendidikan yang menghasilkan siswa-siswa yang  siap berkompetisi dalam dunia modern. Tidak sanggup dipungkiri kompetensi yang memadai seorang guru akan bisa mencetak lulusan-lulusan yang siap terhadap perkembangan dunia yang semakin maju dengan pesat.Guru harus segera meninggalkan metode-metode usang dan beralih pada sistem metode yang gres yang mungkin aneh bagi mereka. Disinilah diharapkan guru yang mempunyai kemauan besar untuk berubah demi meningkatkan kualitas dirinya. Jika modal awal  kemauan dan tekat untuk berubah ke arah yang lebih baik ada pada diri seorang guru, maka langkah selanjutnya untuk mencetak generasi yang unggul dan siap menghadapi tantangan global akan sanggup tercapai.
Beberapa perubahan yang perlu diambil seorang guru biar ia bisa mempunyai kompetensi yang memadai sebagai guru yang profesional,   antara lain :
1.      Mampu mengenal dan mengoperasikan komputer/laptop serta memakai internet sebagai media pembelajarannya.
2.      Merubah sistem pengajaran yang dulu bersifat “text” menjadi “ context” dengan metode CTL ( Contextual Teaching and Learning ).
3.      Merubah rujukan pengajaran yang dulu berprinsip “ teacher centered “ menjadi “ Student Centered “.
4.      Guru harus bisa dan paham mengenai prinsip mencar ilmu otak kanan dan kiri, pendekatan quantum teaching dan learning, pemahaman perihal Multiple Intelligences dan penerapannya d kelas, taksonomi Bloom dan aplikasinya pada proses mencar ilmu mengajar dan bisa mengorkestrasikan materi yang diajarkan dengan materi  pelajaran lain dalam suatu KBMtematik dalam bentuk project.
5.      Memiliki kemauan untuk meng-update dirinya dengan mengikuti banyak sekali pelatihan-pelatihan.
B.       Perubahan Kurikulum
Ada beberapa fenomena  yang ditimbulkan dari adanya perubahan, antara lain :
1.      New materials
Materi baru, merupakan bab dari penemuan bisa berupa benda ( komputer batu) ata suatu kebijakan ( kurikulum baru)
2.      New behavior/Practices
Perubahan sikap adala hal yang sulit dalam sebuah perubahan. Diperlukan latihan dan keahlian secara terus menerus dalam upaya menyebarkan profesi.
3.      New belief / understanding
Bagaimana kita memahami perubahan ialah hal yang sangat penting untuk menciptakan penilaianPerubahan kurikulum dalam sistem pendidikan ialah suatu keniscayaan, artinya jikalau tidak berubah, tentu akan semakin tertinggal dengan kemajuan jaman. Apapun kurikulumnya, mutu guru ialah kuncinya. Perubahan apapun dalam bidang pendidikan, fokus utamanya ialah tetap paada kualitas guru. Jika guru telah mempunyai kualitas sebagai guru profesional, tuntutan kurikulum bagaimanapun tentu akan sanggup dipenuhinya. Memiliki dan mendapat guru-guru yang berkualitas prima itu semakin usang semakin perlu. Apapun perubahan dan penemuan pendidikan yang hendak dilakukan bangsa ini, jikalau mutu guru rendah sama juga sia-sia.
Bagaimana kita akan mendapat guru dengan mutu yang tinggi ?  tentu hal ini yang ingin  akan kita tanyakan dan sangat kita inginkan, diantaranya ialah rekrutlah guru-guru yang yang mempunyai kualifikasi tinggi di bidangnya.Guru harus benar-benar kompeten di bidangnya dan menguasai materi yang akan diajarkannya. Selain itu guru harus mempunyai komitmen yang tinggi dalam perjuangan untuk menyebarkan kurikulum.
 

C.      Peningkatan Mutu Pendidikan
Di bidang peningkatan mutu, seidaknya ada sembilan jadwal yang dilakukan :
1.      Pengembangan dan penyempurnaan kurikulum
2.      Pemberdayaan tim pengembang kurikulum
3.      Tes dan peningkatan kompetensi guru
4.      Peningkatan kualifikasi pendidikan guru
5.      Bantuan sekolah model
6.      Pemberian subsisdi sekolah

Mengapa UN (Ujian nasional ) tidak bisa meningkatkan mutu pendidikan ?  

        Ternyata alasannya ialah soal-soal dalam UN tidak selaras dengan yang diinginkan SKL ( Standar Kompetensi Lulusan ) yang berharap murid bisa berpikir analisis, menyeluruh dan lain-lain. Apabila Unas jeblok dan banyak siswa yang tidak lulus, itu merupakan cerminan dari kegagalan pemerintah dalam mengelola pendidikan. Pemerintah melaksanakan kesalahan beruntun dalam hal tersebut.
          Pertama tidak jelasnya tujuan Unas itu sendiri. Kalau penyelenggaraan Unas itu untuk  melihat bagaimana kualitas pendidikan kita secara nasional, jelaslah sangat mubadzir, alasannya ialah terperinci sekali bahwa penguasaan materi siswa di Indonesia sangat rendah.
          Kesalahan kedua ialah menyebabkan hasil Unas sebagai patokan untuk kelulusan siswa. Pemaksaan unas sebagi tolak ukur kelulusan siswa mencerminkan kekurangpahaman pemerintah mengenai fungsi dan tujuan ujian, penilaian dan standarisasi. Apalagi tujuan pendidikan yang mengandung prinsip pengembangan aspek intelektual, emosional dn spiritual siswa tidak diperhatikan.
          Kesalahan ketiga ialah bahwa kitatelah mereduksi tujuan pendidikan. Kita sudah tidak peduli dengan tujuan pendidikan,  karena Unas itu sendiri sebagai tujuan pendidikan, alasannya ialah kita tidak memperdulikan bagaimana proses dan hasil kerja siswa selama tiga atau enam tahun, alasannya ialah hanya fokus pada hasil Unas yang hanya tiga mata pelajaran saja.
          Unas sebetulnya telah dikritik habis-habisan alasannya ialah “cacat’ secara filosofis, akademis, maupun teknis. Secara teknis, Unas dianggap tidak layak alasannya ialah infrastruktur pendidikan kita memang belum siap untuk melaksanakan ujian yang berskala dan berstandar nasional. Tidak ada standart baku bagaimana Unas sanggup dilakukan tanpa kecurangan.
Oleh :  Nur Aini MW
Judul Buku : DARI GURU KONVENSIONAL MENUJU GURU PROFESIONAL