[Review Anime] Shigofumi

0
14

Shigofumi ialah surat dari orang yang sudah meninggal. Bisa dikatakan pesan terakhir dari orang yang sudah tiada. Dan yang mengirim surat itu ialah kurir yang dalam dongeng juga disebut-sebut sudah meninggal. Mungkin ini review paling alay yang pernah saya ketik. Tapi, anime ini mempunyai dongeng drama psikologis yang cukup dalam. Bahkan menciptakan saya (sebagai penonton) sempat frustasi ketika menontonnya. Memangnya menyerupai apa sih ceritanya? Sebelumnya, mungkin review ini akan banyak spoiler, jadi mohon dipikirkan dengan bijak sebelum membaca.

Judul : Shigofumi
Tanggal Rilis : 6 Januari 2008
Episode : 12
Durasi : 24 Menit per Eps
Genre : Psychological, Supernatural, Drama, Thriller, Fantasy
Sumber Cerita : 
Studio : J.C.Staff

Sinopsis
Fumika ialah seorang gadis yang bertugas mengantar shigofumi, surat terakhir dari seseorang yang sudah meninggal, yang ditujukan kepada orang – orang terdekat, entah keluarga, teman, kekasih, atau orang lain yang dirasa oleh sang almarhum layak untuk menerimanya. Dalam pekerjaannya, Fumika selalu ditemani oleh partnernya, Kanaka, tongkat serbaguna yang dapat berbicara. Hingga pada suatu misi pengantaran, Fumika tak sengaja bertemu seseorang sahabat lamanya ketika SMP. Teman usang tersebut, Nojima Kaname, pun mulai memeriksa kenapa Fumika tiba-tiba menghilang dari sekolah dan menjadi pengantar shigofumi.

Jalan Cerita
Anime ini bercerita ihwal kurir pengantar surat dari orang mati. Bukan berarti kutukan atau surat kematian, hanya surat biasa yang ditulis oleh orang yang sudah meninggal untuk kerabat, teman, atau kenalannya yang masih hidup. Seperti yang saya katakan diawal, dapat dikatakan pesan terakhir dari orang yang sudah tiada. Tiga episode awal masih pengenalan cerita. Makara saya pikir ceritanya enggak akan berkembang jauh. Karena setiap episode mempunyai dongeng dengan sudut pandang dari tokoh berbeda. Kalau kalian tahu Jigoku Shoujo yang setiap episodenya berbeda, nah mungkin menyerupai itu. Saya bukan menyamakan konsep cerita, saya hanya ingin memberikan bila setiap episode berbeda, dan kurirnya sama menyerupai si gadis neraka yang muncul ketika sudah waktunya. Jujur saja sesudah menonton tiga episode awal, saya benar – benar tidak ada ketertarikan buat lanjut. Bayangkan saja, jarak tonton dari episode tiga ke empat ialah dua bulan. Yap, saya menonton anime ini ketika awal bulan Agustus, tapi stop di episode tiga alasannya ialah drama yang terlalu berat, bikin baper, dan setiap kisah sudut pandang benar – benar menciptakan saya putus asa. Bagaimana tidak? Di sini penonton akan menjadi sudut pandang pelaku utama, dalam arti, kita akan diperlihatkan bagaimana si pelaku utama putus asa, tidak dapat meminta bantuan, apa pun yang dilakukan percuma, hingga pikirannya digerogoti kegelisahan. Dan akhirnya? Meninggal. Kalau pun tidak meninggal, paling hanya putus asa, dan mengalah dalam hidup. Karena memang tidak tahu harus berbuat apa. Dan hari ini, kebetulan saya resah tidak ada tontonan. Akhirnya coba – coba lanjut nonton episode keempat, tak disangka drama yang “sebenarnya” dimulai dari sini. Ada kurir lain yang berjulukan Chiaki. Chiaki ialah rekan kurir dari Fumika Mikawa, kemunculan Chiaki menciptakan diam-diam lain mencuat ke permukaan. Di awal saya bilang bila semua kurir ialah orang yang sudah meninggal. Yang berarti, semua waktu, pertumbuhan tubuh, dan perubahan terhenti. Intinya sih enggak bau tanah – tua. Tapi, ketika Chiaki bertemu dengan Fumika, Chiaki sadar anehnya Fumika tumbuh semakin tinggi. Nah, di sini mulai seru. Makara dramanya enggak cuma dari sudut pandang masyarakat yang putus asa, malah dari si kurir sendiri. Masuk episode tujuh, ceritanya makin berkembang dengan ditemukan seseorang dengan nama yang sama, yaitu Fumika Mikawa. Di sini terungkap bila Mika (sebutan untuk Fumika Mikawa kurir) ialah kepribadian lain dari orang yang berjulukan Fumika (sebutan untuk orang berjulukan Fumika Mikawa yang masih hidup). Dengan kata lain, Mika dapat tumbuh alasannya ialah beliau belumlah mati. Lalu, kenapa beliau dapat jadi kurir yang seharusnya untuk orang mati?. Saya tidak akan memberi tahu lebih lanjut, alasannya ialah tidak akan seru. Lebih baik tonton saja bila penasaran.

Karakter
Seperti yang saya bilang, setiap episode mempunyai dongeng yang berbeda makanya ada banyak sudut pandang. Hanya saja, dimulai dari episode empat, meski sudut pandang berbeda, tapi nantinya akan menyatu di episode terakhir. Saya juga kaget, orang yang berakhir tragis pun nantinya akan muncul kembali di episode terakhir. Yang pada balasannya ini merupakan dongeng dari seorang kurir berjulukan Fumika Mikawa. Karakter lain yang terseret pun terus ada hingga episode terakhir. Sebut saja Chiaki, beliau juga seorang kurir. Tentu saja Chiaki sudah meninggal, nanti akan ada kisah masa lalunya, jadi kita juga akan tahu seberapa tragis dongeng dari seorang kurir sebelum meninggal. Karena Chiaki mati muda, jadi dapat dibilang beliau sudah dewasa. Dari cara bicaranya kelihatan kayak orang dewasa, malah beliau ini suka banget minum – minum. Enggak kayak Mika yang Poker Face, semua yang dilakukannya ialah alasannya ialah tuntutan pekerjaan sebagai kurir. Selain Mika dan Chiaki, ada juga sahabat insan berjulukan Kaname dan Natsuka. Mereka ialah sahabat Sekolah Menengah Pertama Fumika. Bukan Mika, tetapi Fumika. Malahan, semua drama ini dimulai ketika Kaname tak sengaja bertemu Mika ketika mengantarkan surat. Ketika Kaname menyelidikinya, beliau sadar bila Fumika ternyata sedang tidak sadarkan diri selama tiga tahun. Yang artinya, sangat tidak mungkin Kaname melihat Fumika sedang berkeliaran di luar. Intinya sih, Kaname ini orangnya penasaran, beliau enggak berhenti hingga menemukan sebuah jawaban. Dan Natsuka, beliau ialah cewek yang mengasihi Kaname, tentu saja Kaname tidak menyadarinya. Karena Kaname terlalu fokus pada Fumika. Karena Natsuka sahabat bersahabat Fumika ketika SMP, Kaname pun balasannya meminta pinjaman Natsuka untuk mengetahui Fumika lebih dalam. Oh iya, saya hingga lupa soal tongkat kurir. Setiap kurir berhak menentukan tongkat untuk menjadi partner dalam mengantarkan pesan. Tongkat milik Mika namanya Kanaka, beliau punya bunyi cewek. Malah persis kayak Magical Ruby di Fate/kaleid liner Prisma IIlya. Tapi ternyata mereka mempunyai pengisi bunyi yang berbeda. Lalu Matoma, yang merupakan tongkat milik Chaki. Matoma mempunyai bunyi pemuda dan lebih berwibawa. Bahkan selalu melaksanakan pekerjaan dengan benar dan lebih baik dari Kanaka.

Art
Studio yang menangani ialah J.C. Staff, dan perlu diketahui ini ialah anime yang tayang animo cuek 2008. Tapi penggambaran huruf berdasarkan saya sudah sangat manis dan cukup memanjakan mata. Bahkan saya tidak menduga bila ini anime tahun 2008. Hanya saja, gerakan yang kurang luwes menjadi nilai kurang, tapi berdasarkan saya hal ini tidak kuat pada dongeng yang diberikan. Karena grafis yang terkesan gelap sangat cocok diaplikasikan pada dongeng Shigofumi.

Ost
Lagu Pembuka: Kotodama 「コトダマ」 oleh ALI PROJECT dan Lagu Penutup: Chain oleh Snow. Lagu pembuka dan epilog rasanya agak susah dijelaskan. Rasanya benar – benar cocok banget sama temanya yang gelap, apalagi buat penutupnya. Habis menonton dongeng yang bikin gelisah, terus dikasih lagu yang dalam banget. Ah, benar – benar, deh. Selain itu, dampak bunyi yang diberikan berdasarkan saya biasa tapi cukup menegangkan. Apalagi pas adegan – adegan si pelaku utama sedang kesulitan, itu benar – benar menciptakan dongeng jadi lebih hidup. latar musik juga sangat berperan penting di sini. Makanya penonton dapat kebawa suasana ketika menontonnya.

Overall

Jalan Cerita : 8.5 / 10
Karakter : 7 / 10
Art : 8 / 10
Ost : 9 / 10
Shigofumi : 8.2 / 10

Saya salah menilai anime ini, awalnya saya hampir drop dan malas untuk melanjutkan. Tapi, saya beri tahu bila anime ini mempunyai selesai yang bahagia. Kisah Fumika Mikawa menciptakan saya ingin tau dan ingin tahu apa yang bergotong-royong terjadi. Buat kalian yang suka nonton drama, anime ini sangat cocok. Tapi, saya tidak menyarankan orang yang baperan, bermental kecil untuk menontonnya. Karena benar – benar menciptakan putus asa. Apalagi episode enam. Tadinya saya mau bilang “silakan nonton tanpa nonton episode 6”, tapi saya tarik ucapan itu. Soalnya episode 6 ini sangat berperan penting dalam cerita. Meski beda sudut pandang, nanti di episode selesai akan dimunculkan kembali ke permukaan. Tentu saja dari sudut pandang Fumika. Kalau mau menonton, saya sarankan jangan nonton pas lagi depresi, nontonlah ketika suasana hati kalian stabil. Dan tonton hingga akhir, semoga enggak menyesal. Oh iya, jangan lupa buat nonton episode spesial. Soalnya episode ini dapat dibilang episode 13 atau episode paling akhir, alasannya ialah memang masih berlanjut dari dongeng di episode 6.