[Review Anime] Nagi No Asukara

0
18

Jujur saja, anime ini awalnya tidak menarik perhatian saya sama sekali. Melihat abjad utamanya yang menyerupai Taichi di Digimon, serta melihat sinopsis serta posternya yang ada di MAL, saya pribadi menarik kesimpulan bahwa anime ini tidak akan memperlihatkan feel yang berarti. Tapi ternyata semua itu pribadi berubah ketika negara api menyerang–eh bukan. 

Judul : Nagi no Asukara
Tanggal Rilis : 3 Oktober 2013
Episode : 26
Durasi : 23 Menit per Eps
Genre : Drama, Fantasy, Romance
Sumber Cerita : Original
Studio : P.A. Works

Sinopsis
Dahulu kala, umat insan hidup di kedalaman lautan. Tapi mereka mengiginkan hidup di daratan dan merekapun mulai meninggalkan lautan, mereka membuang alat yang dibentuk Dewa Laut untuk menciptakan mereka bisa hidup di dalam laut. Pemahaman insan yang hidup di maritim dan di daratan menjadi berbeda, tergantung tempat tinggal mereka, dan dengan waktu yang terus berjalan, mereka melupakan bila mereka pernah hidup bersama. Kisah ini mengisahkan kehidupan daratan dan lautan. seseorang yang berjulukan Hikari Sakishima dan Manaka Mukaido merupakan teman masa kecil yang tinggal di lautan. Saat sekolah mereka mulai ditutup, mereka terpaksa dipindahkan ke sekolah yang ada di daratan, alasannya hal itu, kehidupan mereka mulai mendapat sesuatu yang baru. 

Jalan Cerita
Nagi No Asukara atau biasa disingkat dengan NagiAsu mengambil latar tempat berupa dunia fantasi di mana insan yang hidup terbagi atas dua, yaitu insan daratan yang tinggal di daratan Oshiohsi(sebuah kawasan pesisir yang paling bersahabat dengan dunia lautan), dan insan lautan yang tinggal di lautan Shioshishio(yang diperkirakan sebagai desa terakhir yang diisi oleh insan laut). Seiring dengan berjalannya waktu, sebagian insan yang tinggal di maritim mulai mencoba meninggalkan kehidupan di lautan dan bermigrasi pindah ke daratan dan tinggal di sana. Cerita bermula ketika sekolah menengah di lautan ditutup dengan alasan tertentu, sehingga menciptakan 4 sekawan anak lautan, yaitu: Hikari; Manaka; Kaname dan Chisaki harus melanjutkan sekolahnya di Sekolah Menengah Pertama yang ada di daratan. Tentu saja mereka masih sulit beradaptasi, alasannya mereka mempunyai Ena (suatu lapisan khusus di kulit insan lautan sehingga mereka bisa hidup di dalam laut) yang dilarang kering alasannya bisa mengakibatkan mereka kesulitan untuk bernapas. Selain itu, insan maritim yang ada di darat juga sering didiskriminasi sehingga antara insan maritim dan insan darat sulit untuk hidup berdampingan di daratan. Seiring berjalannya episode, mulai banyak timbul konflik yang saya akui sangat berbeda dari anime kebanyakan. Meskipun tetap mengambil tema romance yang penuh dengan ihwal permasalahan cinta, tapi NagiAsu ini mempunyai keunikan tersendiri dalam meramu konflik cinta yang muncul. Saya sendiri masih terkagum-kagum dengan Project-118 (penulis skrip anime ini, alasannya tampaknya anime ini tidak diubahsuaikan dari manga), yang menciptakan nuansa cinta di anime ini berbeda dari kisah cinta yang ada. Kelihatan mustahil terjadi di dunia nyata, tapi tetap bisa dibalut dengan realistis.

Karakter
Seperti yang sudah saya bilang berulang-ulang, NagiAsu ini sangat berbeda dari anime kebanyakan. Biasanya, untuk anime romance yang niscaya tidak mempunyai episode panjang, kita sudah sanggup menebak menyerupai apa selesai kisah dari tiap masing – masing karakter. Tapi NagiAsu ini malah mempunyai kisah yang berbeda. Tidak ada tokoh protagonis dalam anime ini. Semua tokoh mendapat porsi masing – masing yang pas dalam anime ini. Kredit lebih diberikan kepada Hikari, sebagai penerus dari kepala desa Shioshishio yang niscaya mempunyai konflik khusus dalam dirinya ihwal hubungan antara lautan dan daratan. Sesuatu yang fantastis untuk anime yang berepisode 26. Secara pribadi, untuk urusan abjad sudah diakui bahwa setiap anime, manga ataupun light novel yang dibentuk niscaya mempunyai ciri pribadi. Hikari punya ciri khas, begitu pula Manaka, Chisaki, Kaname dan tokoh – tokoh pendukung lainnya. Tapi, menyerupai yang saya bilang di awal, bahwa anime ini awalnya tidak menarik perhatian saya. Ketika saya menonton dua episode awal, plot yang berjalan terasa cukup lambat. Hal itu menciptakan saya meninggalkan anime ini untuk seminggu, dan malah menentukan untuk menonton anime lain. Namun semua itu malah berubah ketika mulai menonton episode 5 ke atas, di mana konflik mulai bertaburan dan mulai seru untuk diikuti. 

Art

Visual yang diberikan anime ini benar – benar luar biasa. Suasana lautan Shioshishio yang sudah niscaya indah ternyata bisa dibentuk lebih indah dan teduh dari yang ada. Ditambah lagi suasana pesisir Oshiohshi yang tak kalah indah. Tidak jarang scene yang diambil menampilkan pemandangan langit dan lautan lepas yang tampilannya menyerupai kutub, sehingga menjadikan keteduhan ketika menontonnya. Belum lagi ketika scene tomoebi yang sangat indah. Apa itu tomoebi? Tonton aja animenya. Selain pemandangan dan latar belakang yang indah banget, saya juga suka banget dengan penggambaran mata yang dibentuk di anime ini. Baik itu mata insan maritim hingga ke mata penduduk daratan. Rasanya saya tidak bisa berkomentar banyak ihwal visual dari anime ini. Baik secara objektif maupun subjektif.

Ost
Untuk urusan suara, anime ini juga melakukannya dengan pas. Tidak ada tokoh yang suaranya terkesan keluar jalur dari perawakan tokohnya. Semua tokoh mempunyai posisi bunyi yang pas, dan setiap seiyuu berhasil memainkan kiprahnya dengan baik. Intinya, selain tidak lari dari perawakan badan sang tokoh, bunyi dari setiap tokoh juga memperlihatkan tabiat dari setiap karakter. Untuk soundtrack, well saya sendiri sangat menyukai soundtrack Opening kedua dari anime ini. Secara teknikal, soundtrack Opening pertama (episode 1-13) terasa kurang pas untuk anime ini. Mungkin mereka lebih mencoba untuk memperlihatkan pemberian kepada cerita, dengan memperlihatkan sesuatu yang sedikit lebih ceria, mendukung dari abjad Manaka. Berbeda dengan Ending pertama yang memakai sesuatu yang lebih mellow sebagai tanda perpisahan per episode. Di Opening kedua (episode 14-26), hawa yang lembut dan sangat halus terasa sangat mendukung emosi kisah yang ada. Ditambah lagi adanya puisi yang ada di penggalan soundtrack. Semua dilengkapi dengan visual opening yang teduh dengan tema biru maritim yang buat saya speechless liatnya. Rasanya itu ialah Opening anime terbaik yang pernah saya liat. Menutup episode, soundtrack yang sedikit menggebu cukup menggugah selera musik yang ada.

Overall
Jalan Cerita : 10 / 10
Karakter : 9 / 10
Art : 10 / 10
Ost : 9.8 / 10
Nagi no Asukara : 9.7 / 10

Khusus untuk anime ini, saya tidak pernah ketiduran ketika menontonnya. Plot yang digantung tidak hanya dalam dua episode saja. This anime has twisted ending, bro! Pokoknya, semua belakang layar kisah yang dibangun dari episode pertama terjawab di episode akhir. Gak ada ceritanya yang terungkap di tengah – tengah. So, masuk akal saja kenikmatan menonton anime ini tidak akan habis hingga akhir. Klimaks yang ditampilkan cukup memuaskan. Jadi, tidak ada penyesalan ketika memutuskan untuk menonton anime ini secara maraton setiap malam. Belum lagi aura visual yang luar biasa, yang menciptakan mata melek ketika menontonnya.