[Review Anime] Kanojo Ga Flag Wo Oraretara

0
16

Kanojo ga Flag wa Oraretara atau If Her Flag Breaks ialah sebuah anime pembiasaan yang dikerjakan oleh Hoods Entertainment dengan Ayumu Watabane sebagai sutradaranya. Anime ini dirilis pada 7 April 2014 hingga 30 Juni 2014 dengan 13 episode. 

Judul : Kanojo ga Flag wo Oraretara
Tanggal Rilis : 7 April 2014
Episode : 13
Durasi : 24 Menit per Eps
Genre : Comedy, Harem, Romance, School
Sumber Cerita : Light novel
Studio : Hoods Entertainment

Sinopsis

Hatate Souta mempunyai kemampuan untuk melihat Flag, yaitu indikasi bahwa seseorang akan menjalani suatu event yang memilih arah kehidupan selanjutnya, dan kalau perlu, Souta juga tahu bagaimana cara mematahkan Flag tersebut demi mencegah event itu terjadi. Ketika masuk ke Sekolah Menengan Atas Hatagaya, merasa bahwa kemampuannya ialah pembawa sial, Souta akan mematahkan Flag setiap orang yang berusaha mendekatinya. Namun kemudian beliau menemukan ketaknormalan pada beberapa orang gadis, menyerupai Flag milik Mahougasawa Akane yang selalu muncul kembali, Flag Shoukanji Kikuno yang bisa mengelak, atau bahkan Nanami Knight Bladefield yang tidak punya Flag sama sekali. Dan sesudah beliau tinggal bersama mereka di Asrama Quest, para gadis itu ternyata menjadi kunci yang mengungkap diam-diam di balik kemampuan Souta.

Jalan Cerita
Seorang cowok dan sembilan orang gadis. …. Maaf, yang benar ialah dua orang cowok dan tujuh orang gadis, satu robot, dan seorang nenek!? …. Yang penting, anime ini ialah anime harem, yang kemungkinan besar siapapun akan pribadi menduganya berupa sebuah kisah komedi romantis dengan tokoh utama seorang cowok yang super baik hati yang dikelilingi oleh gadis – gadis (dan lainnya) yang tergila-gila kepadanya. Dan pada awalnya beliau memang begitu, tetapi barangkali anime ini kemudian menetapkan untuk mengejutkan semua orang, maka pada suatu titik di tengah – tengah ceritanya, anime ini mendadak berubah serius. Daripada menyebutkan kemampuan melihat Flag milik Souta hanya sebagai kekuatan asing yang muncul datang – tiba, anime ini berusaha memberinya latar belakang yang panjang dan rumit, dan para gadis itu (dan lainnya) bertemu serta berkumpul di sekeliling Souta bukan secara kebetulan, melainkan sudah ditakdirkan semenjak lama. Harus diakui, keputusan untuk keluar dari kebiasaan yang ada menyerupai ini merupakan upaya yang sangat berani dan patut dipuji, terutama lantaran komedi romantis di anime ini juga tidak cukup menjanjikan, tetapi sayangnya, upaya tersebut tidak berhasil. Sisi serius tadi pada hasilnya tidak pernah dibangun dengan baik. Ada terlalu banyak situasi yang tidak lazim bagi penonton, dan juga pengungkapan gres yang berulang kali memutar balikkan pengetahuan sebelumnya, sementara anime ini menjelaskan semuanya dengan terlalu terburu-buru dan tidak rapi, sehingga hasil hasilnya hanya bisa dikategorikan sebagai karya yang kacau. Tidak sulit menangkap apa yang ingin beliau sampaikan, dan sesungguhnya wangsit anime ini menyimpan potensi yang luar biasa menarik, tetapi tanpa perencanaan yang matang, potensi itu tidak bisa terwujud.

Karakter
Anime ini mempunyai problem yang serupa sebagaimana kebanyakan anime genre harem lainnya, yaitu bahwa para tokoh gadisnya semua tampak sama. Masing – masing mereka memang diberikan sikap yang berbeda, tetapi ini berfungsi sebatas hanya sebagai dasar bagi penonton untuk menetapkan pilihan favorit, sedangkan sebagai elemen cerita, mereka tidak punya ciri khas yang cukup unik untuk mewakili perspektif tertentu. Tokoh Souta terasa sedikit lebih istimewa, alasannya ialah beliau ternyata mengalami pengembangan aksara semenjak sebelum hingga sesudah beliau bertemu dengan para gadis tersebut, dari seorang cowok yang suram dan penyendiri menjadi seseorang yang percaya akan kebersamaan. Sejalan dengan ceritanya yang mendadak berubah dari komedi romantis ke drama sci-fi, pengembangan ini sepertinya juga tidak direncanakan dengan baik, sehingga perubahan aksara Souta seolah hanya terpicu seketika oleh satu bencana daripada melalui proses yang bertahap, tetapi setidaknya perubahan tersebut masih masuk akal, gampang dipahami, dan kalau mempertimbangkan genre kisah yang biasanya tidak terlalu peduli dengan aksara para tokohnya, sudah cukup menyegarkan.

Art
Mungkin paling sempurna kalau dikatakan bahwa visual anime ini mempunyai kualitas yang standar. Animasi gerakan para tokohnya tidak cukup halus, bahkan sesekali terdapat kesalahan dengan garis – garis yang tidak berada pada daerah yang semestinya ketika tokoh – tokoh tersebut saling berinteraksi. Namun, anime ini juga bisa memperlihatkan setiap bencana dengan cukup jelas, yang sedikit membantu pada bab – bab kisah yang rumit. 

Ost
BGM sudah bagus, setiap scenenya terasa lebih lezat untuk ditonton, apalagi ketika adegan Comedy sama Romancenya. Untuk pemilihan Opening serta Endingnya sesuai dengan anime ini. Openingnya yang terdengan kawaii sudah cukup sebagai pengantar untuk berlanjut ke bab story, begitu juga dengan Endingnya. Openingnya sendiri diisi “Cupid Review (クピドゥレビュー) by Aoi Yūki sedangkan Endingnya ada “Kanojo ga Flag o Tateru Wake” (彼女がフラグを立てる理由) by Yell. 

Overall
Jalan Cerita : 6.5 / 10
Karakter : 7 / 10
Art : 8 / 10
Ost : 8 / 10
Kanojo ga Flag wo Oraretara : 7.2 / 10

Anime ini penuh dengan tokoh – tokoh gadis yang jatuh cinta tanpa alasan yang jelas, tetapi juga serius memikirkan pengembangan aksara sang tokoh utama dan berusaha membangun kisah yang lebih dalam yang bukan sekadar wacana memperebutkan hati seorang pemuda. Sayangnya, lantaran perencanaan yang kurang matang, anime ini hasilnya gagal mencapai tujuannya. Cerita yang dihasilkan terasa begitu kacau, sehingga meski terang tampak berbeda, hal itu tidak secara otomatis mengakibatkan anime ini lebih baik.