[Review Anime] Inari, Konkon, Koi Iroha.

0
26

Anime ini berjudul Inari, Konkon, Koi Iroha atau kalau mau mudah, biasanya anime ini disingkat dengan judul InaKon. Diangkat dari manga seinen karya Morohe Yoshida dengan judul yang sama dan semuanya berjumlah 9 volume yang terbit dari Agustus 2010 hingga sekarang. Berarti ada kemungkinan besar anime ini akan mempunyai season 2 atau semacamnya. Sedangkan animenya sendiri hanya ada 10 episode, cukup sedikit sih memang dibandingkan rata – rata kan biasanya anime tembus hingga 12 episode atau mungkin 20-an. Oh iya, anime ini tergolong seinen (dewasa), alias sasaran penontonnya yaitu di atas Shounen (remaja). Bukan berarti animenya ini penuh dengan adegan – adegan tidak senonoh, tapi anime ini lebih cukup umur ceritanya dan dalam manga versi aslinya mengandung aksara – aksara kanji berat. Begitu sih singkatnya.

Judul : Inari, Konkon, Koi Iroha.
Tanggal Rilis : 16 januari 2014
Episode : 10
Durasi : 24 Menit per Eps
Genre : Comedy, Supernatural, Romance, School, Seinen
Sumber Cerita : Manga
Studio : Production IMS

Sinopsis
Anime ini bercerita perihal Fushimi Inari, seorang gadis Sekolah Menengah Pertama yang pemalu dan ceroboh. Suatu hari, ia menolong seekor rubah yang ternyata yaitu salah satu yang kuasa penghuni kuil. Ingin berterimakasih, sang rubah mengundangnya ke kuil di mana sang Dewi, Uka-sama memperlihatkan sedikit kekuatan sucinya untuk Inari, yang memungkinkannya melihat dewa-dewi dan berubah wujud. Dengan kekuatan dan sobat barunya, Inari berusaha mewujudkan cintanya terhadap sobat sekelasnya, Tanbabashi Kouji.


PV


Jalan Cerita
Apa yang akan terjadi seandainya seorang manusia, terkhusus seorang gadis, diberi secuil kekuatan dewi? Meski sekilas terlihat tidak ada yang istimewa dengan plot ceritanya, anime ini tetap berhasil mempunyai warna tersendiri, lantaran pertanyaan ini ternyata diajukan ke kedua sisi. Apa yang terjadi kepada si gadis yang mendapatkan kekuatan tersebut, dan apa yang terjadi kepada dewi yang memberikannya? Alhasil, meskipun intinya dilema – dilema yang dihadapi Inari ketika memakai kekuatannya yaitu hal – hal yang sudah begitu lazim, menyerupai ketika akan mengungkapkan cinta atau untuk menuntaskan pertengkaran di antara teman-temannya, tetap ada konsekuensi dan beban yang terasa positif bahkan pada tindakannya yang paling kecil. Kekuatan Inari bukan sekedar keajaiban yang datang – datang menjadikannya gadis super, melainkan sebuah alat yang harus dibayar dengan harga mahal, semakin dipertegas oleh ironi dalam persahabatan Inari dan Uka-no-Mitama. Anime ini tidak cuma bercerita perihal seorang gadis yang bisa berubah wujud, tetapi juga perihal kebahagian dan kesedihan yang ia temukan di balik kemampuan tersebut.

Karakter
Dengan segala dilema yang menunggunya di Takamagahara, minat Uka-no-Mitama untuk bekerjasama dengan kehidupan insan terasa alami dan masuk akal. Demikian pula halnya dengan proses Inari mendapatkan sebahagian kekuatan dari Uka, yang selanjutnya menjadi awal persahabatan mereka, terasa sebagai sesuatu yang mungkin saja terjadi. Cukup dengan kedua tokoh utama tersebut, anime ini memperlihatkan bahwa gotong royong anime ini bisa membangun karakter yang diperlukan untuk ceritanya. Namun anehnya, ketika berusaha juga memasukkan tokoh Touka ke dalam cerita, anime ini sebaliknya justru mendadak terkesan tidak kompeten. Hubungan antara Touka dan Uka memang sudah bisa diduga dan seolah tidak terhindarkan, tetapi tampaknya anime ini menggunakannya hanya untuk satu tujuan tersebut, yaitu memenuhi dugaan penonton. Dia tidak bisa memperlihatkan alasan besar lengan berkuasa mengapa Touka begitu mengkhawatirkan Uka hingga mengikutinya hingga ke Izumo ataupun mengapa Uka dengan gampang mengungkapkan dilema pribadinya kepada Touka. Seandainya Touka tidak lebih daripada seorang tokoh figuran yang muncul cuma sebagai bumbu komedi, hal ini seharusnya bukan masalah, tetapi lantaran ternyata ia kemudian diatur mempunyai tugas yang cukup besar di dalam cerita, kelemahan pada latar belakangnya pun bagaikan sebuah noda yang sulit diabaikan.

Art
Visual anime ini memperlihatkan performanya yang terbaik pada belahan komedi. Melalui penggambaran reaksi pada wajah para tokohnya, sudut pandang dalam sinematografi, dan juga cara penyampaian oleh obrolan dan voice-acting, momen – momen jenaka disajikan dengan tepat untuk mencapai imbas maksimal. Satu poin negatif yaitu voice-acting tokoh Touka yang tampaknya tidak pernah bisa mewakili karakternya dengan benar, tetapi syukurlah, lantaran frekuensi keterlibatan Touka sendiri di dalam dongeng tidak banyak, secara keseluruhan kualitas anime ini pun tidak cukup terpengaruh.

Ost
Lagu Opening untuk anime ini dinyanyikan oleh May’n dengan lagu yang berjudul Kyou ni Koiiro, yang dibentuk oleh kz-livetune, sedangkan lagu  Ending dinyanyikan oleh Maaya Sakamoto yang berjudul Saved. Saya suka sekali dengan Opening dari anime ini. Satu lagu dari May’n berjudul Kyou ni Koiiro. Awalnya aku salah menduga, aku kira May’n itu sama dengan pengisi Ending season 2 anime Kimi no Todoke, tapi ternyata berbeda. Dan yang di anime Kimi no Todoke itu namanya May’s, beda 1 aksara doang dan mbak May’n ini lebih muda dan manis orangnya. Sedangkan untuk Endingnya, aku tidak begitu menyukainya.

Overall
Jalan Cerita : 8.8 / 10
Karakter : 7.5 / 10
Art : 8 / 10
Ost : 8.5 / 10
Inari, Konkon, Koi Iroha. : 8.2 / 10

Karena terus fokus pada persahabatan Inari dan Uka-no-Mitama, tema gadis berkekuatan Supernatural dari anime ini tetap mempunyai keunikannya tersendiri dibandingkan anime – anime lain. Meski demikian, mungkin belahan yang akan paling berkesan pada kalian justru yaitu komedinya. Berkat penyajian dari visual yang sempurna, semua dagelan yang gotong royong biasa – biasa saja tetap hampir niscaya bisa menciptakan kalian tertawa. Memang masih ada kelemahan pada penyusunan salah satu tokohnya, tetapi sebagai hiburan, anime ini terperinci tidak akan mengecewakan.