[Review Anime] Hinamatsuri

0
8

Hinamatsuri

Salah satu aspek yang membuat anime menarik untuk ditonton ialah di penggalan hiburannya, terutama komedi yang menghasilkan sensasi humor yang menjanjikan. Di trend semi 2018 ada salah satu anime yang mempunyai aspek tersebut namun juga mempunyai sifat ibarat berlian, dan anime itu berjudul ‘Hinamatsuri’.


Tanggal Rilis
: Apr 6, 2018
Type: TV
Genre: Comedy, Sci-Fi, Seinen, Slice of Life, Supernatural
Durasi: 23 Menit per Eps
Episode: 12
Rating: 8.38
Sumber Cerita: Manga
Studio: feel.

Sinopsis

Suatu hari, benda asing datang – datang muncul di atas kepala seorang anggota yakuza yang berjulukan Nitta. Di dalam benda asing itu, ada gadis kecil yang berjulukan Hina. Hina ialah gadis yang mempunyai kekuatan supernatural. Kekuatan Hina bisa dipakai untuk pekerjaan yakuza, tapi resikonya juga sangat besar. Selain itu, apabila ia tak menggunakannya, kekuatannya justru tak terkendali dan menghancurkan apa pun yang ada di sekitarnya. Kehidupan Nitta dan Hina yang asing gres saja dimulai.


PV

 

Jalan Cerita

Tertawa, terus kesel, terus tertawa lagi, terus sedih, terus tertawa lagi. Begitu mungkin yang bisa saya gambarkan ketika menonton ‘Hinamatsuri’. Anime ini jokenya memang kental banget, padat di setiap episodenya, kita akan dibentuk terbahak-bahak akan segala macam cerita, tingkah laris dan kelakuan para karakternya. Semua unsur yang diharapkan untuk sebuah anime Comedy ada pada ‘Hinamatsuri’. Mulai dari jokenya yang selalu segar dan tidak garing, interaksi antar huruf sampai lisan atau mimik wajah para huruf yang sangat mendukung. Bahkan jikalau boleh saya bilang, ‘Hinamatsuri’ ialah anime Comedy terbaik di trend semi 2018. Lalu, sebab genre yang dibawakan ‘Hinamatsuri’ ialah Comedy, bukan berarti anime ini punya kualitas dongeng yang biasa saja, tidak, dongeng sebetulnya cukuplah dalam dan bisa membuat kita penonton lebih larut ke dalam ceritanya. Mulai dari rasa kesal, jengkel dan dongkol yang muncul sebab sifat sang huruf utama sampai momen – momen heartwarmingnya yang sanggup dikatakan sangatlah banyak. Momen – momen yang disisipkan diantara Comedy yang kental tadi bahkan sanggup membuat kita sedikit melupakan apakah benar ini anime Comedy saking kuatnya dongeng yang diberikan. Namun, dengan segala kelebihan tadi, tetap saja ada poin minus yang dimiliki ‘Hinamatsuri’. Diantaranya ialah Comedy itu tadi, pedang bermata dua ini di satu sisi sangat menguntungkan sebab sanggup memperlihatkan dampak yang cukup besar bagi penontonnya, namun di sisi lain malah mengurangi beberapa kesan yang seharusnya ada pada anime ini. Yakuza, gadis berpengaruh yang seram serta organisasi yang membuat mereka hanya tampak ibarat poin sampingan yang tak terlalu diharapkan oleh anime ini. Lalu, ada pula gap timeline pada episode 11 anime ini, sebetulnya bisa saja hal tersebut saya anggap sekedar alur yang mundur saja, namun sebab tidak ada keterangan apapun yang diberikan akan membuat tidak nyaman bagi sebagian orang. Dan terakhir, yang paling tidak mengenakkan ialah endingnya yang tidak begitu mengena, kesan memorable yang akan menempel dan memperlihatkan rasa puas bagi penonton sama sekali tidak ada, malah yang diberikan ialah kisah yang setengah – setengah yang menggantung dan tanggung. Yah seperti studio ini kayak memperlihatkan kesepakatan akan kelanjutan dari ‘Hinamatsuri’.

Karakter

Melanjutkan dari apa yang saya sebutkan sebelumnya, untuk karakteristik/sifat yang diberikan kepada karakternya, Studio feel.berhasil melakukannya dengan begitu baik. Tingkah laris Hina sebagai sang huruf utama yang mengesalkan terasa ngena, selain itu ada pula Hitomi yang berilmu namun polos, Nitta yang baik hati dan juga Anzu, gadis enerjik yang mempunyai lika-liku kehidupan yang paling bermacam-macam pada anime ini. Yap, untuk Anzu, bisa saya katakan ialah salah satu huruf pembantu yang lebih baik dari sang huruf utama sendiri. Nasibnya yang selalu berubah-rubah dari awal kemunculannya membuat huruf ini berkembang jauh lebih baik dibandingkan Hina, momen – momen yang didapatkannya jauh lebih memorable yang membuat kita sebagai penonton akan tersentuh dengan kehidupan yang telah ia lalui. Chemistry antara Hina dan Nitta juga tidak sanggup dipungkiri menjadi salah satu yang kelebihan anime ini, kesan ayah-anak mereka sanggup banget. Namun, kisah – kisah ibarat Anzu tadi juga menjadi bumerang bagi ‘Hinamatsuri’. Banyaknya tugas ataupun screentime yang diberikan kepada huruf – huruf pembantu tidak menimbulkan anime ini tampak lebih baik sebab penggalian huruf yang luas, hal ini malah memberi serangan balik yang membuat sang huruf utama kita, Hina terlihat pasif. Perannya sebagai huruf utama seperti tidak begitu berguna, tidak tampak bahwa dirinyalah sentra atau inti dari dongeng ini. Terakhir, yang paling mengecewakan lagi dari ‘Hinamatsuri’ ialah kurangnya penggalian latar belakang karakter-karakternya. Memang mereka berbagi dengan cukup baik, namun mereka ibarat kurang memikirkan masalah yang ada di belakang ini. Seperti yang saya sebutkan di atas, belum ada sedikitpun hal mempunyai kegunaan selain uji coba organisasi yang membahas perihal masa kemudian Hina, Anzu maupun Mao, pada dasarnya hanya mereka ialah gadis – gadis psikokenesis yang mempunyai kemampuan yang berbahaya ciptaan organisasi, itu saja. Yah biar jikalau terealisasi, trend selanjutnya hal ini akan dibahas. Oh iya, kesan yakuza Nitta yang masih kurang sebab dirinya yang terlalu baik juga sedikit menjadi problem bagi saya, yah meski di sini ia disebutkan sebagai Yakuza Intelek sih…

Art

Kok wajahnya rada ibarat – ibarat sih, mungkin ini kesan yang paling kita dapatkan ketika menonton ‘Hinamatsuri’. Seolah-olah para animatornya kekurangan inspirasi ataupun kreatifitas dalam menggambarkan wajah. Hampir seluruhnya terlihat sama, terutama pada huruf ceweknya, yang membedakan mereka hanyalah gaya rambut mereka. Bahkan berdasarkan pandangan saya sendiri, tiga orang gadis sobat sekelas Hina; Hitomi, Aizawa dan Mami-chan terlihat ibarat saudara, bukan sobat Hahaha. Namun, saya tetap suka dengan desainnya ini sebenarnya, apalagi dengan apa yang mereka lakukan terhadap rambut para karakternya. Jarang ada anime yang mempunyai pewarnaan ibarat ini, tentunya hal ini menimbulkan kelebihan yang dimiliki ‘Hinamatsuri’. Dan lagi, ekpresi karakternya itu loh, pas banget. Ekspresi atau mimik muka mereka ini pas banget untuk mendukung Comedy yang ada, perut kita ini akan terkocok-kocok saking konyolnya tampang mereka. Tambahan, fight scene yang muncul di awal dan final anime ini juga salah satu yang terbaik. Meski hanya sedikit dan sesaat saja, namun berkat koreografinya yang memanjakan mata, adegan ini tidak bisa saya lupakan.

Musik

Untuk OST, ‘Hinamatsuri’ memperlihatkan lagu – lagu yang enjoy listening banget, terutama pada Openingnya yang alunan nadanya terdengar tidak asing bagi para pecinta music anime. Ending yang dinyanyikan oleh seiyuu Nitta juga dilarang dilewatkan, masih tidak mengecewakan untuk didengar kok.

Overall

Jalan Cerita: 8.5 / 10
Karakter: 8.5 / 10
Art: 8 / 10
Musik: 8 / 10
Hinamatsuri: 8.2 / 10

Tertawa, terus kesel, terus tertawa lagi, terus sedih, terus tertawa lagi. Kata – kata ini sudah menggambarkan bagaimana menariknya ‘Hinamatsuri’. Semua perasaan yang bercampur jadi satu sebab menontonnya ini akan membuat kita lupa waktu, episode demi episode akan kita lewati dengan begitu cepat sampai tak sadar bahwa kita sudah berada di penghujung cerita. Kira – kira begitulah penggambaran saya ketika menonton ‘Hinamatsuri’, jadi jangan salah jikalau kalian ikut ketagihan ketika mulai menonton anime ini dan ketagihan untuk melanjutkan episode selanjutnya.