[Review Anime] Fune Wo Amu

0
8

Anime yang menceritakan suatu pekerjaan memang selalu menarik untuk ditonton, lebih menarik bila pekerjaan tersebut dikerjakan secara profesional, dongeng perihal membuat anime, manga, game udah pernah, tapi gimana dengan pembuatan kamus? hmmmmmmm tampaknya menarik. Kalau kalian pernah melihat kamus yang dijual di toko buku mungkin gak akan kebayang bagaimana proses pembuatannya. apakah menarik untuk diikuti? Simak review di bawah ini.

Judul : Fune wo Amu
Tanggal Rilis : 14 Oktober 2016
Episode : 11
Durasi : 22 Menit per Eps
Genre : Slice of Life, Drama, Romance
Sumber Cerita : Novel
Studio : Zexcs

Sinopsis
Bercerita perihal Majime Mitsuya yang awalnya bekerja di penerbit Genbu Shobo pada Departemen Penjualan gres saja dimutasi ke Departemen Editorial Kamus atas seruan Araki Kouhei, seorang editor veteran di Departemen Editorial Kamus yang ingin segera pensiun. Bersama dengan rekan – rekan timnya, ia mendapatkan proyek penerbitan kamus gres berjudul ?The Great Passage?. Mekipun Majime orang yang kikuk, namun dengan kemampuannya dalam merajut kata – kata, ia ingin menuntaskan proyek kamus itu sekaligus berharap sanggup mengekspresikan perasaannya pada perempuan yang disukainya.


PV


Jalan Cerita
Meski anime ini bisa menekankan nilai penting dari kamus yang mengumpulkan kata – kata dan mempermudah penggunaannya, selain barangkali bagi sekelompok kecil penonton, anime ini tidak pernah benar – benar berhasil dalam menyajikan kisah pembuatan kamus tersebut sebagai sesuatu yang menarik untuk disaksikan. Kecuali memperhatikan makna dan manfaat dari setiap kata yang tertulis, bahkan mereka yang mengaku rajin membaca, arif menulis, atau setidaknya menyukai karya – karya literatur, bisa jadi tetap tidak akan menangkap sepenuhnya pesona dari penyusunan kamus yang anime ini hendak sampaikan. …. Namun, terlepas dari temanya yang cenderung eksklusif, di sisi lain, anime ini bisa mengatakan dengan terperinci betapa gigih usaha para tokohnya selama menyusun kamus. Ketelitian yang dibutuhkan dalam memilah kata – kata yang sesuai untuk dimasukkan ke kamus dari lautan kata yang teramat luas, keteguhan mendapatkan pandangan miring dari pimpinan perusahaan alasannya ialah dianggap tidak pernah memproduksi apapun, dan ketabahan menjalani waktu usang hingga bertahun-tahun sebelum kerja keras mereka karenanya membuahkan hasil nyata. Mungkin tidak semua penonton bisa paham mengapa Majime dan rekan-rekannya begitu bersikeras ingin membuat Daitokai, tetapi siapapun sanggup langsung melihat bahwa mereka menghadapi banyak tantangan besar yang akan dengan gampang menggentarkan hati seseorang, maka kegigihan mereka untuk selalu fokus menuntaskan kiprah demi mencapai hasil terbaik walau dengan semua tantangan tersebut pun tidak kurang dari sebuah kisah yang menginspirasi.

Karakter
Penghargaan tinggi Majime kepada kamus merupakan opini langka yang tidak sanggup segera ikut dirasakan oleh penonton, tetapi kesulitannya untuk mengutarakan pendapat dalam bentuk kata – kata sanggup membuat citra bahwa kamus yang hendak ia susun sesungguhnya ialah suatu alat yang sangat diperlukan. Demikian pula, meski tidak semua pegawai di bab penyusunan kamus punya kiprah yang niscaya dalam proses pembuatan Daitokai, dengan menampilkan mereka selalu bekerja keras walau dengan jumlah anggota yang terbatas, anime ini bisa memberi kesan bahwa mereka sedang berjuang untuk sesuatu yang penting. Jika maksud karenanya ialah memopulerkan kamus, anime ini tampaknya belum cukup terampil dalam memanfaatkan para tokohnya untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap kamus secara khusus. Namun, selama menyusun Daitokai, anime ini melukiskan mereka bagai tengah melaksanakan suatu perjalanan epik dengan arah yang terperinci serta tujuan yang mulia, maka terlepas dari kenyataan bahwa Daitokai ialah sebuah kamus, anime ini tetap cukup berhasil dalam mengajak penonton biar mengikuti perkembangannya dan bahkan mengharapkan kesuksesannya.

Art
Saya pikir anime ini harusnya mempunyai lebih banyak bab yang abstrak, bab perihal isi kepala Majime yang menjelaskan bagaimana cara pandang Majime dalam melihat sesuatu, di Novel hal ini dengan gampang dijelaskan dengan kata – kata namun di dalam anime tidak banyak bab yang dibentuk menyerupai itu. Kalau kalian perhatikan, banyak bab abnormal yang seharusnya bisa ditambah di anime ini, banyak konflik dalam diri Majime yang bisa digambarkan, namun entah kenapa bab abnormal yang direalisasikan di anime ini kebanyakan di bab awal dan final saja. Andaikan anime ini diubahsuaikan oleh studio yang lebih sempurna menyerupai Shaft, saya yakin anime ini akan jauh lebih menarik.

Ost
Salah satu aspek yang menarik di anime ini ialah lagu pembuka dan penutupnya, lagu pembukanya adalah  “Shiokaze (潮風)” by Taiiku Okazaki (岡崎体育) yang asik banget didenger yang mengingatkan saya lagu One Piece lupa saya yang mananya tapi yang awal – awal gitulah dan lagu penutupnya ialah “I & I” by Leola yang lagunya bikin suasana romantis agak greget gimana gitu deh.

Overall
Jalan Cerita : 7 / 10
Karakter : 7.5 / 10
Art : 7 / 10
Ost : 8 / 10
Fune wo Amu : 7.4 / 10

Siapa yang peduli dengan kamus? Kalian tentu selalu memakai banyak sekali jenis kamus, tetapi kalian juga mungkin termasuk salah satu dari kebanyakan orang yang tidak pernah berpikir dari mana bahwasanya semua kamus itu berasal. Maka sangat masuk akal apabila kalian tidak segera merasa tertarik dengan dongeng yang ditawarkan oleh anime ini. Namun, jikalau kalian bersedia mengesampingkan sejenak sisi dongeng perihal pembuatan kamus dan melihatnya hanya sebagai kisah sekelompok orang yang berjuang sekuat tenaga, gigih menghadapi tantangan besar demi mencapai hasil terbaik, anime ini masih bisa menjadi sebuah Drama yang menyentuh dan menginspirasi sekaligus.