[Review Anime] Classroom☆Crisis

0
10

Kali ini saya akan review anime Classroom Crisis, salah satu anime yang berdasarkan saya underrated di demam isu summer 2015. Saya sendiri menulis di impresi awal bahwa Classroom Crisis merupakan anime yang paling saya nantikan di season summer tersebut dan bagaimanakah evaluasi saya perihal anime ini? Simak reviewnya.

Judul : Classroom☆Crisis
Tanggal Rilis : 4 Juli 2015
Episode : 13
Durasi : 24 Menit per Eps
Genre : School, Sci-Fi
Sumber Cerita : Original
Studio : Lay-duce

Sinopsis

Di dalam Akademi Sains dan Teknologi Kirishina, terdapat sebuah kelas unik yang disebut Departemen Pengembangan Teknologi Lanjutan (Senkou Gijutsu Kaihatsu-bu) atau disingkat A-TEC. Pada siang hari, mereka melaksanakan acara belajar-mengajar sebagaimana guru dan murid lainnya, tetapi pada malam hari, mereka akan bekerja sebagai pegawai Kirishina Corporation yang bertugas membuatkan mesin SWNPR. Ketika mendengar bahwa seorang murid pindahan yang hendak bergabung dengan mereka tiba-tiba menjadi korban penyanderaan, Sera Kaito dan para murid A-TEC memutuskan untuk pergi menyelamatkannya. Mereka semua bergembira ketika mengetahui misi nekad tersebut ternyata berakhir dengan sukses, hingga kemudian mereka menyadari bahwa si murid pindahan tidak lain yaitu Kiryuu Nagisa, adik dari Presiden Direktur Kirishina Corporation dan sekaligus pimpinan gres A-TEC yang telah mendapat kiprah khusus untuk mengawasi perampingan A-TEC secara sedikit demi sedikit hingga pembubarannya kemudian dalam beberapa bulan yang akan datang.

Jalan Cerita
Kisah perihal usaha kelas khusus A-TEC ketika menghadapi krisis sebab akan segera dibubarkan? Atau justru perihal persaingan antara Nagisa dengan kedua saudaranya? Meskipun judul dan beberapa episode awal mengindikasikan yang pertama, inti sesungguhnya dari anime ini ternyata ada di belakangan. Bukan problem yang terlalu besar, sebenarnya, terutama sebab kisah Nagisa sepertinya ditulis dengan perencanaan matang pada setiap langkah yang beliau ambil dalam mengejar ambisinya. Namun, judul dan awal yang tidak sesuai ini merupakan salah satu pola bagaimana anime ini suka menciptakan ceritanya lebih rumit dari yang seharusnya. Sama menyerupai ketika menciptakan A-TEC, yang seharusnya hanya mencar ilmu dan membangun roket, tiba – tiba saja memutuskan untuk turun tangan sendiri menangani kasus penculikan, atau ketika beliau mengulas cukup jauh perihal pemilihan anggota senat, padahal hanya dengan menyebutkan bahwa ada politik yang terlibat di balik persaingan di Kirishina semestinya sudah cukup. Dan juga, mengapa A-TEC harus berupa sebuah kelas di sekolah? Jika yang menjadi problem yaitu cuma pembubaran mereka, bukankah membatasi mereka hanya sebagai sebuah departemen di perusahaan Kirishina terasa lebih masuk akal? Jika anime ini bermaksud menyampaikan bahwa mereka dikumpulkan supaya apa yang mereka pelajari di kelas sanggup segera diimplementasikan pada malam harinya, mengapa di antara mereka juga ada yang menjadi akuntan dan PR? Mengapa mereka harus mencar ilmu tentang, misalnya, fisika kuantum?. Di satu sisi, anime ini mungkin berusaha membahas bisnis dan administrasi dari banyak perspektif, dan hal itu tetap patut dihargai kalau memang benar demikian, tetapi masalahnya, semua informasi tersebut tidak pernah terasa perlu. Mereka tidak membantu apa – apa dalam mengantarkan kisah Nagisa. Bahkan, pada hasilnya mereka justru hanya menjadi gangguan yang mengalihkan perhatian penonton, sehingga akan jauh lebih baik seandainya dihilangkan saja.

Karakter
Karena anime ini tidak benar – benar bercerita perihal pembubaran A-TEC, yang ternyata hanya menyerupai korban tambahan dari persaingan di Kirishina, Sera Kaito dan semua muridnya seharusnya bukanlah tokoh – tokoh yang utama. Namun, anime ini justru bersikeras menampilkan mereka sesering mungkin hingga seakan-akan mereka yaitu sentra di mana ceritanya berputar. Apakah tokoh – tokoh ini memperlihatkan sesuatu yang lain sehingga layak mendapat porsi tampil sebanyak itu, komedi, barangkali? …. Tidak juga. Bahkan kalau mereka dimaksudkan untuk menggambarkan jiwa muda dan inovatif pada A-TEC, yang penting yaitu hanya bahwa mereka ada, bahwa A-TEC mempunyai anggota – anggota yang muda, tidak peduli siapapun mereka. Maka, sesungguhnya tidak pernah ada kebutuhan untuk membicarakan tokoh – tokoh tersebut secara khusus. Ini cuma merupakan satu lagi pola dari kebiasaan jelek anime ini untuk merumitkan hal – hal yang tidak harus dibentuk rumit. Akhirnya, anime ini malah tidak sempat membahas tokoh – tokoh lain menyerupai Kiryuu Kazuhisa yang lebih pantas untuk diperkenalkan lebih jauh. Anime ini, anehnya, lebih suka menyia-nyiakan waktu untuk bicara perihal tokoh – tokoh tambahan (yang sebagian bahkan tidak pernah dijelaskan secara spesifik pekerjaan apa yang bekerjsama mereka lakukan) daripada memanfaatkannya untuk tokoh – tokoh yang sebaliknya memang memberi imbas konkret kepada ceritanya.

Art
Tidak ada yang perlu disebutkan secara khusus dari visual di anime ini, namun itu tidak harus berarti hal yang buruk. Karena ceritanya yang bertema bisnis dan manajemen, barangkali anime ini hanya tidak punya banyak kesempatan untuk menampilkan animasi yang memukau, dan rasanya memang sulit untuk menciptakan dialognya lebih menarik daripada yang sudah ada, sementara secara keseluruhan, anime ini bekerjsama sudah cukup memuaskan.

Ost
Opening : “Cobalt (コバルト)” by TrySail dan Ending : “Anemone (アネモネ)” by ClariS. Tidak ada yang Istimewa dalam musicnya, kecuali OST Endingnya. Who doesn’t like ClariS  ^_^

Overall
Jalan Cerita : 7 / 10
Karakter : 7 / 10
Art : 7.5 / 10
Ost : 8 / 10
Classroom☆Crisis : 7.4 / 10

Entah sengaja atau tidak, anime ini menciptakan fokus ceritanya sendiri menjadi kabur. Karena membahas semua subplot, termasuk kisah perihal A-TEC, jauh lebih banyak daripada yang semestinya, kisah utama perihal ambisi Nagisa untuk membalas dendam pun hasilnya terdorong ke belakang, menyusut hingga hanya bagaikan satu lagi subplot yang tidak disampaikan secara lengkap. Animasinya mungkin masih cukup memuaskan, namun ada kesan tidak tuntas yang senantiasa membayangi anime ini, suatu kekosongan yang dibiarkan tidak terisi.