[Review Anime] Acchi Kocchi (Tv)

0
19

Setelah nonton Phantom Requiem for the Phantom, salah satu Anime Action yang Bercerita perihal Pembunuh Bayaran, datang – datang pengen rehat nonton anime yang ceritanya ringan. Anime yang dipenuhi oleh abjad – abjad moe, judulnya adalah  Acchi Kocchi. Kalau diterjemahin ke bahasa Indonesia, artinya ialah “Di sana-sini”. Sebuah anime yang disesuaikan dari manga 4-koma dari judul yang sama.

Judul : Acchi Kocchi (TV)

Tanggal Rilis : 6 April 2012
Episode : 12
Durasi : 25 Menit per Eps
Genre : Slice of Life, Comedy, Romance, School, Seinen
Sumber Cerita : 4-koma manga
Studio : AIC

Sinopsis

Berkisah seputar pasangan cowok-cewek SMA, Otonashi Io dan Miniwa Tsumiki. Nampak terperinci banget dari gelagat Tsumiki kalo beliau suka sama Io, tapi sayangnya beliau terlalu tsundere dan gak bisa ngomongin perasaannya secara jujur dan lugas. Io juga, sama sekali gak menyadari apa yang dirasain oleh Tsumiki. Tapiiii…sehari-harinya mereka berdua tatap dekat. Ditambah kelucuan, keanehan, keisengan, serta kegilaan tiga temennya: Haruno Hime, Katase Mayoi, dan Inui Sakaki; jadilah sebuah anime komedi romantis yang manis dan hangat. Menggemaskan hampir di setiap episodenya! 


PV


Jalan Cerita

Secara singkat anime ini berkisah perihal kehidupan sekolah seorang gadis Sekolah Menengan Atas berjulukan Miniwa Tsumiki yang selalu memendam perasaan kepada teman prianya yang berjulukan Otonashi Io. Meskipun telah memperlihatkan banyak sekali sinyal yang mengindikasikan kesukaannya terhadap Io, namun Tsumiki tetap saja kesulitan untuk menciptakan Io sadar bahwa dirinya menyukainya. Hal ini diperparah dengan perilaku Tsunderenya yang menciptakan dirinya sangat kesulitan untuk menyatakan suka pada Io, balasannya momen ini seringkali dipakai oleh teman – teman mereka menyerupai Sakaki ataupun Mayoi untuk menarik hati Tsumiki. Sedangkan disisi lain, Io sendiri digambarkan sebagai pemuda super perfect yang bisa bikin cewek mana aja klepek – klepek, namun mempunyai tingkat kepekaan yang super bebal,..yup itulah yang menciptakan kisah ini menjadi kisah kejar-kejaran tanpa akhir. Lucu, imut dan ringan itulah kesan pertama kali saat saya nonton anime ini. Ketika pertama melihat anime ini kesan imut yang ditimbulkan sangatlah terasa. Kesan imut yang muncul didukung oleh banyak hal menyerupai background music yang imut dan desain abjad yang terkesan chibi. Well, dalam anime ini juga saya melihat ada banyak kucing. Kucing seolah menjadi representasi dari semua keimutan abjad yang ada dalam anime ini. Binatang ini juga dalam beberapa hal merepresentasikan Tsumiki dalam beberapa hal menyerupai keimutan dan obsesinya terhadap Io.

Karakter

Dengan Io yang gak peka dan Tsumiki yang tsundere, anime ini bahwasanya hampir saja terasa hambar, namun untungnya anime ini tidak terfokus hanya kepada kedua abjad tersebut. Selalu ada Sakaki dan Mayoi untuk meramaikan suasana. Ide – pandangan gres gila mereka yang menyebabkan Io dan Tsumiki sebagai objek atau korban bisa memunculkan komedi dari situasi paling sederhana sekalipun. Kemudian ada Hime, selain sesekali menggantikan posisi Io dan Tsumiki, gadis lugu ini juga melipat gandakan komedi Sakaki dan Mayoi dengan semakin memperjelas keganjilan dari pandangan gres – pandangan gres mereka. Dan melengkapi anime ini ialah abjad – abjad pendukung menyerupai Kyouya si tsundere laki – laki, Sakibara the teaser, Anna yang kekanak-kanakan, Kikue si guru yang pemalu, dan masih banyak lagi yang semuanya bisa menjadi alternatif dari lima abjad utama tersebut di atas. Singkatnya, anime ini berhasil mengumpulkan abjad – abjad yang bukan hanya variatif, tetapi juga mempunyai kombinasi dengan potensi komedi yang sepertinya tidak terbatas.

Art
Sekarang, Artwork. Kalau kalian suka desain abjad yang lucu dan sesekali dibikin chibi/deformed, maka kalian tidak akan menemui masalah. Masalah pewarnaannya, buat saya udah cocok untuk anime dengan tipe menyerupai ini, Bright and colorful. Ada lagi hal kecil dalam duduk kasus visual yang saya suka meski beberapa orang mungkin mengabaikannya. Apa itu? Yap, frame transisi antar scene. Simpel, unik, dan artistik.

Ost
Opening Theme “Acchi de Kocchi de” by Acchi Kocchi  dan Ending Theme “Te wo Gyu Shite ne” by Tsumiki Miniwa. Ost…meski gak ada satupun yang bagus, Opening maupun Endingnya yang masuk playlist saya, tapi harus saya akui jikalau dua-duanya itu cukup yummy di telinga. Diciptakan seimut dan selucu mungkin!

Overall
Jalan Cerita : 9 / 10
Karakter : 9 / 10
Art : 9 / 10
Ost : 7.5 / 10
Acchi Kocchi (TV) : 8 / 10

Buat anime ini untuk cuteness, heartwarming aura, permainan antar karakter, dan juga untuk Tsumiki dan Io nya. Amat sangat cocok sebagai pelepas stress (setelah sekolah, kuliah, kerja). Dijamin eksklusif ilang deh segala macem depresi!. Sangat direkomendasikan untuk para penonton yang suka segala sesuatu yang imut dan anget, dibungkus dalam paket Comedy Romance Slice of Life yang slow-paced.