Resep Singkong Thailand Istimewa Versi Mall Ambassador Super Laziz Itu Bund By Bunda Endang

0
50
Resep Singkong Thailand spesial Versi Mall Ambassador Resep Singkong Thailand spesial Versi Mall Ambassador Super Laziz Itu Bund by Bunda Endang

Resep Singkong Thailand spesial Versi Mall Ambassador – “Sin, makanan dari singkong yang dibuat bulat, direndam fla warna putih yang dijual di Mall Ambassador itu namanya apa ya?” Tanya saya ke Sintya, ahad lalu, melalui WhatsApp. “Singkong Thailand, Mba,” balasnya cepat. “Kok singkong Thailand-nya begitu ya? Gak ada bentuk singkongnya sama sekali.” Jawab saya ragu-ragu. “Iya singkong Thai, versinya beda tapi yummy banget rasanya. Teksturnya lembut dan flanya mantap.” Saya menelan air liur mendengar klarifikasi itu. Walau bolak-balik saya melihat makanan ini dipajang para penjual makanan kecil di food court Mall atau di lantai dasar ITC Ambassador, tidak pernah sedikitpun menciptakan saya tertarik mencobanya.

“Coba bikin gih Mba, buat takjil buka puasa kan yummy itu,” saran teman saya ini. “Udah pernah sih tapi versinya beda, kuahnya lebih encer bukan kental menyerupai bubur sumsum dan singkongnya masih berbentuk utuh,” jawab saya menjelaskan. Namun dorongan dari Sintya tak urung menciptakan saya menjadi ingin tau juga. Apalagi saya sangat suka makanan yang berbau-bau bubur atau fla yang bertekstur creamy dan lembut. Sabtu pagi, saya pun bergerilya ke pasar Blok A. Sepertinya Allah merestui impian saya sebab sesudah ‘mengubek-ubek’ pasar risikonya saya mendapat satu kilogram singkong dari satu-satunya penjual yang memilikinya. So, singkong Thailand versi Mall Ambassador ini pun terwujud di weekend lalu. ^_^

Jika anda ialah pengunjung setia Mall Ambassador atau pernah berkunjung disana, maka mungkin makanan ini pernah dan sering anda temukan. Penjual singkong Thailand tidak mengenal musim, artinya setiap hari, baik di bulan Ramadhan maupun tidak maka mereka akan berjualan makanan ini bersama dengan kue-kue lainnya. Saya ialah pengunjung setia Mall, bukan sebab saya sering berbelanja disana, namun sebab mall ini persis bersebelahan dengan kantor saya. Hanya membutuhkan waktu lima menit saja kalau ditempuh dengan berjalan kaki. Makara daripada mendekam di kantor yang super hambar maka  kami lebih bahagia melewatkan jam istirahat berjalan-jalan di Mall.

Seperti deskripsi saya diatas mengenai Singkong Thai versi Mall, maka dessert ini berbeda dengan singkong Thai yang pernah saya buat sebelumnya. Silahkan klik link disini untuk melihat versi lainnya yang pernah saya posting. Di resep sebelumnya, tampilan makanan ini sama menyerupai yang disajikan di resto Thai umumnya. Singkong yang telah direbus bersama santan, gula dan daun pandan sampai empuk kemudian diguyur dengan santan kental, dan disajikan masih berbentuk potongan singkong utuh.

Namun tampaknya pedagang camilan manis di Mall hendak menghadirkan versi berbeda, tujuannya apalagi selain membuatnya tampil menarik dan mendongkrak harga. Membandrol potongan singkong rebus yang disiram santan dengan harga lima belas ribu rupiah per porsi tentu saja akan menciptakan sebagian pembeli berkantong cekak menyerupai saya berpikir ulang. Tapi ketika singkong rebus tersebut dilumatkan sampai lenyap bentuk khas gelondongan kayunya, dikepal menjadi bulatan yang manis dan direndam dalam fla yang terlihat so creamy maka makanan ini sukses menjadi rebutan apalagi dikala bulan pahala menyerupai ini. Terbukti setiap kali saya melewati stall si penjual di jam makan siang maka separuh loyang singkong Thai niscaya telah lenyap, laris terjual.

Bagi saya yang merasa seporsi singkong Thai seharga lima belas ribu rupiah terlalu mahal, maka walau sangat, sangat tertarik untuk mencicipinya, saya tidak pernah termakan membelinya.  Tidak pernah menyantapnya bukan berarti saya tidak dapat menebak rasanya, sebab dari tampilannya saya sudah dapat menduga rasa dan proses pembuatannya. Selama namanya masih singkong Thailand maka materi dasarnya tidak akan jauh berbeda dengan resep yang pernah saya coba sebelumnya.

Untuk menciptakan singkong Thai maka bintang film utama berupa singkong alias ubi kayu alias ketela pohon ini menjadi prioritas penting yang perlu diperhatikan. Ubi kayu haruslah jenis yang empuk. Pengalaman selama ini membeli ubi kayu, saya hanya mengandalkan azas kepercayaan, alias percaya saja dengan apa kata pedagang. “Empuk Bu, singkongnya?” Dan walau si Ibu penjual belum berkata saya sudah tahu jawabannya, “Empuk, Mba!” Pertanyaan kurang berakal yang selalu saya usikan ketika membeli ubi kayu atau buah menyerupai mangga, melon dan semangka. “Manis nggak melonnya? Merah nggak semangkanya?” Dan saya belum pernah menemukan penjual yang menjawab ‘tidak’.

Beberapa tips ketika membeli ubi kayu ialah lihat permukaan kulit terluarnya yang tipis. Jika tampak mengelupas ‘lebay’ maka konon itu tanda ubi kayu yang empuk. Walau tips ini terkadang tidak berlaku juga sebab kulit ubi kayu yang saya beli ahad kemudian tidak menawarkan tanda pengelupasan, namun ketika direbus super empuk.  Saran lain ialah pilih ubi kayu yang berdaging putih bersih, tidak ada bercak warna kebiruan atau kecoklatan. Dulu Ibu saya berkata warna kebiruan itu tanda si ubi kayu masuk angin. Nah berdasarkan Wikipedia warna kebiruan ini terjadi sebab ubi kayu teroksidasi dengan udara sehingga terbentuk glukosida racun yang selanjutnya membentuk asam sianida. Asam sianida ini terasa pahit dan beracun kalau dikonsumsi, namun perebusan ubi kayu akan menciptakan kadar racun di dalamnya menurun drastis. Makara sebaiknya hindari atau buang potongan daging ubi kayu yang berwarna kebiruan.

Tips terakhir ialah ubi kayu yang empuk umumnya gampang dikelupas kulitnya, sedangkan ubi kayu yang keras atau liat maka kulitnya akan melekat dekat menyerupai sol sepatu. Tips terakhir ini agak susah dipraktekkan ketika kita membelinya di pasar, alih-alih si penjual  akan bersemangat mengambarkan teori ini namun bisa-bisa  justru sebilah celurit di sodorkan didepan hidung kita. Kecuali si pedagang ialah Pak De atau Bu De kita maka mungkin tips terakhir ini cukup dibuktikan di rumah saja ketika ubi kayu siap akan diolah.

Wokeh kembali ke resep. Proses membuatnya menyerupai dengan singkong Thai umumnya. Ubi kayu direbus bersama air dan  sedikit garam sampai empuk, gres kemudian gula pasir ditambahkan. Saya sengaja tidak merebus ubi kayu dengan santan sebab fla kentalnya sudah mengandung santan yang pekat. Nah hal yang perlu diperhatikan dikala merebus ubi kayu atau kacang-kacangan (kacang merah/kacang hijau) ialah jangan merebusnya bersamaan dengan gula, gula akan menghambat ubi kayu dan kacang menjadi empuk. Makara pastikan ubi kayu/kacang empuk dan matang terlebih dahulu gres kemudian gula ditambahkan.

Ubi yang telah matang dan empuk ini kemudian dihaluskan sampai menjadi campuran yang padat dan pekat, gres kemudian dibuat lingkaran lonjong  sebesar telur ayam. Sampai disini tahapan menciptakan singkong Thai sudah separuh jadi. Untuk flanya, sangat gampang dibuat. Cukup panaskan santan, gula pasir dan daun pandan sampai mendidih, kemudian saus dikentalkan dengan menambahkan larutan maizena. Saus fla ini kemudian dimasak dengan  api kecil dan diaduk cepat sampai menjadi campuran kental menyerupai bubur sumsum. Jika dirasa kurang kental maka larutan maizena dapat ditambahkan kembali sampai kekentalan yang diinginkan tercapai, dan kalau dirasa terlalu pekat maka tambahkan porsi santan untuk mengencerkannya.

Makanan ini sedap disantap kala telah hambar dan mantap untuk menemani berbuka puasa hari ini. Berikut resep dan prosesnya ya.

Resep Singkong Thai versi Mall Ambassador by Bunda Endang

Bahan Bahan

  • 500 gram singkong/ubi kayu, potong sepanjang 5 cm, belah memanjang ditengah
  • 700 ml air
  • 1/2 sendok teh garam
  • 2 sendok makan gula pasir
  • 3 sendok makan susu debu full cream 

Note: tambahkan sekitar 3 – 4 sendok makan keju cheddar parut di campuran singkong untuk membuatnya lebih creamy dan gurih.

Bahan Saus

  • 100 ml santan kental instan kemasan 
  • 500 ml air
  • 130 gram gula pasir
  • 2 lembar daun pandan
  • 1/4 sendok teh garam
  • 3 sendok makan tepung maizena larutkan dengan 2 sendok makan air

Cara Membuat Singkong Thailand spesial Versi Mall Ambassador

Siapkan ubi kayu, siangi dan basuh sampai bersih. Masukkan ke dalam panci, tambahkan air dan garam. Rebus dengan api sedang sampai ubi kayu benar-benar empuk. Angkat.

Jika masih ada sisa air rebusan maka saring ubi sehingga terpisah dengan air rebusannya. Buang air rebusan ubi. Masukkan ubi kembali ke dalam panci, tambahkan gula pasir dan susu bubuk.

Lumatkan ubi yang telah direbus dengan memakai punggung sendok nasi atau alat apapun sampai halus dan menjadi campuran yang kental dan pekat. Buang serat-serat dan sumbu ditengah ubi. Sisihkan.

Siapkan panci lainnya, masukkan semua materi saus kecuali larutan maizena. Rebus dengan api kecil sambil saus diaduk-aduk dengan baloon whisk (pengaduk balon) sampai mulai mendidih. Masukkan larutan maizena dan aduk terus sampai saus menjadi kental.

Saus harus cukup pekat dan kental namun sedikit lebih encer dibandingkan bubur sumsum dan gampang diguyurkan ke permukaan singkong. Masak saus sampai mendidih, angkat dan sisihkan.

Siapkan piring/mangkuk saji. Bentuk campuran singkong dengan pemberian sebuah sendok nasi dan sebuah sendok makan sampai menjadi bulatan lonjong sebesar telur ayam. Tata di mangkuk, kemudian siram singkong dengan saus flanya. Santap ketika dingin. Super yummy!

Source: Wikipedia Indonesia – Ketela Pohon

http://www.justtryandtaste.com
Sumber https://kompinikmat.blogspot.com