Rekomendasi Buku – Moga Bunda Disayang Allah

0
18

Hai sobat Blogger jemo lintank, bagi anda yang ingin membeli buku saya punya rekomendasi buku nih. Mulai hari ini kalo saya ada waktu saya akan memposting Rekomendasi buku untuk anda.
Untuk rekomendasi buku pertama, saya merekomendasikan anda untuk membaca buku ” MOGA BUNDA DISAYANG ALLAH, by Tere Liye “

Mungkin udah banyak ya yang tahu perihal buku ini, dan mungkin ada juga yang belum tahu.
Biar lebih jelasnya berikut saya kasih review dari orang-orang yang pernah membaca buku moga bunda di sayang Allah by tere liye ini yang didapat dari goodread.

 bagi anda yang ingin membeli buku saya punya rekomendasi buku nih Rekomendasi buku - Moga Bunda Disayang Allah
Rekomendasi buku – Moga Bunda Disayang Allah

Moga Bunda Disayang Allah

by
Diangkat dari salah satu kisah konkret paling mengharukan, ditulis kembali dari salah satu film terbaik sepanjang masa.

Rekomendasi buku – Moga Bunda Disayang Allah – review dari member ( nuning indani ) :

Setelah Delisa dan Laisa, ini novel ketiga Tere Liye yang saya baca. Saat pertama membaca reviewnya di Goodreads, saya pribadi terpikir, novel ini tampaknya menyerupai kisah Helen Keller, sadurannya kah? Ternyata di bukunya memang disebutkan, kalau novel ini diilhami oleh kisah Helen Keller. Terlepas dari bayang-bayang Helen Keller, kisah dalam buku ini membuatku menyerupai menyaksikan sebuah film pendek, lantaran citra peristiwanya yang terang sekali muncul di otakku ketika membaca halaman demi halaman.

Kita bisa saja mempunyai keadaan yang berbeda dengan yang lainnya, tetapi selama semangat dan cita-cita itu masih ada, maka mimpi tidak hanya akan menjadi sekadar mimpi.

Rekomendasi buku – Moga Bunda Disayang Allah – review dari member ( Maya Sari ) :

 Ini buku kedua Tere Liye yang saya baca. Pengen bikin review yang panjang =)

Ada banyak tokoh di dalam kisah ini:
Ada Bunda, yang begitu anggun, lemah, namun sekaligus juga tegar,
Ada Tuan HK (kira-kira HK itu abreviasi dari apa ya??), suami Bunda yang merupakan seorang pekerja ulet, dan sangat sayang pada keluarganya,
Ada Ibu-Ibu Gendut (kira-kira namanya siapa ya? ), yang baiiiik banget !!,
Ada Salamah, yang slalu membuat ’rame’ suasana dengan kepolosan dan kepanikannya (siap-siap tersenyum dan tertawa kalau hingga pada cuilan kisah yang ada Salamah-nya ),
Ada Mang Jeje, yang setiap hari slalu memotong rumput keluarga HK dan memelihara ayam kate berwarna putih,
Ada Kinasih, gadis yang berkerudung lembut (tokoh yang tidak penting tapi penting ),
Terakhir, 2 tokoh UTAMA dari kisah ini adalah…. (Pak Guru) KARANG dan MELATI.

Pada bab-bab awal dari kisah ini, saya cukup larut dengan rasa keterpurukan yang dialami Karang dan –secara tidak pribadi – juga dirasakan oleh Melati. Melati, seorang anak kecil, yang tak bisa melihat, tak bisa mendengar, sekaligus tak bisa berkomunikasi dengan orang lain. Yang tidak tahu apa-pun, lantaran yang bisa ia lihat yakni gelap dan yang bisa ia dengar hanyalah sunyi.. Dan Karang, cowok yang sudah ‘menyerah’ dengan kehidupan, yang tidak lagi mempunyai mimpi dan harapan..

Lalu, bukankah ketika 2 orang bertemu, niscaya salah satu dari keduanya (atau bahkan kedua-duanya sekaligus ) akan menerima manfaat dari yang lainnya? Hingga takdir-pun mempertemukan kedua orang itu…
Membaca kisah ini, awalnya yang saya temukan yakni rasa-rasa keputus-asaan.. Kemudian, dengan adanya perjuangan yang keras, tak pantang menyerah, dan kekuatan do’a, semuanya kemudian berubah sesuai dengan IMPIAN ! ..

“Baaa, maaa…. Baa… Maa… ” (artinya: Moga Bunda disayang Allah…)

 Rekomendasi buku – Moga Bunda Disayang Allah – review dari member ( Haryadi Yanshah ) :

 “Dia mengasihi anak-anak, Ryan. Bukan! Bukan lantaran mereka terlihat menggemaskan, tetapi lantaran menyadari kesepakatan kehidupan yang lebih baik selalu tergenggam di tangan anak-anak..“ (Hal 234)

Bang Darwis kembali menggunakan belum dewasa sebagai tokoh utama. Kali ini berjulukan Melati, yang secara fisik saya bayangkan tak jauh daripada Delisa. Namun, lantaran kecelakaan kecil disaat liburan pada usia tiga tahun, Melati harus menjadi buta, tuli dan bisu. Persis yang dialami Hellen Keller pada usia 2 tahun.

Melati yakni anak pengusaha kaya, sepasang suami istri, yang dari awal hingga final hanya disebut dengan nama Bunda dan Tuan HK. Bayangkan! Rumah mereka berada di atas bukit, yang dari sana bisa melihat pemandangan seluruh kota (antah berantah) dan laut. Pembantunya saja ada 9 orang (kalo gak salah). Salah satu yang paling setia berjulukan Salamah yang sudah mengabdi pada keluarga HK semenjak berapa generasi diatasnya.

Di daerah lain, ada seorang cowok yang menenggelamkan dirinya pada alkohol selama tiga tahun lamanya. Selalu bertingkah seenaknya, kasar, dan (seperti) tak berperasaan. Pemuda itu –Karang, ternyata menyimpan sebuah teraumah akan kecelakaan bahtera yang menewaskan 8 anak didik taman bacaannya, terutama Qintan, bocah cerdas yang sangat disayangi. Semenjak insiden itu, yang dikerjakan Karang hanya tidur sepanjang hari dan pergi mabuk ketika malam hari, begitu terus selama tiga tahun.

Takdir akibatnya mempertemukan Karang dan Melati. Bukan hal gampang mempertemukan mereka. Bunda Melati hingga harus tiba dan memohon (jika tidak ingin dikatakan menyembah) pada Karang untuk mencoba membantu Melati. Ntah tiba darimana perasaan itu, akibatnya Karang memutuskan untuk membantu Melati.

Cara Karang mendidik Melati yang sangat keras (lebih keras dari pada Mrs Sulivan mendidik Hellen Keller) ditentang oleh Tuan HK. Karang tidak segan-segan membentak (walau Melati tak mendengar), memukul, bersikap kasar, dan lain sebagainya. Melihat itu dan terlebih ketika mengetahui Karang seorang pemabuk, Tuan HK menjadi kian marah.

Dia mengusir Karang. Namun Bunda Melati mempunyai satu keyakinan Karang bisa membantu Melati. Jadilah selama hampir satu bulan Karang tinggal dikediaman keluarga Tuan HK. Selama itu tuan HK bertugas ke Jerman untuk mengurusi bisnis keluarga mereka.

Kisah ini berakhir dengan bahagia. Melati akibatnya bisa melihat, walau tetap bisu. Menurutku, di tangan bang Darwis semua tipe ending bisa menjadi menarik. Andai berakhir menyedihkan, pembaca akan merasa itu masuk akal, lantaran menyembuhkan Melati memang hal yang sulit. Dan dengan berakhir senang menyerupai ini, pembaca akan menerima kelegaan dari kehidupan Melati yang menyedihkan.

Tinggal bersama Melati pula akibatnya Karang bertemu kembali dengan kekasihnya, Kinasih, dan juga menemukan kembali hidupnya dulu, tanpa bayang-bayang teraumah. Buku yang luar biasa, walau rasanya sulit menemukan relasi Melati dan Karang diwaktu sekarang. (Apalagi cara mendidik Karang yang sangat tak biasa).

Selamat buat Bang Darwis. Di tunggu karyanya yang lain. 🙂

“ Benarlah. Jika kalian sedang bersedih, kalau kalian sedang terpagut masa kemudian menyakitkan, penuh penyesalah seumur hidup, salah satu obatnya yakni dengan menyadari masih banyak orang lain yang lebih duka dan mengalami insiden lebih menyakitkan dibandingkan kalian. Masih banyak orang lain yang tidak lebih beruntung dibandingkan kita. Itu akan menawarkan pengertian bahwa hidup ini belum berakhir. Itu akan membuat kita selalu meyakini : setiap makhluk berhak atas satu harapan“ (Hal 136)

Rekomendasi buku – Moga Bunda Disayang Allah – review dari member ( Michiyo ‘jia’ Fujiwara ) :

Terima kasih ya Allah! Terima kasih.. Mungkin kami tidak akan pernah mengerti dimana letak keadilan-Mu dalam hidup. Karena mungkin kami terlalu bebal untuk mengerti. Terlalu ‘bodoh’. Tapi kami tahu satu hal, malam ini kami meyakini satu hal, Engkau sungguh bermurah hati.. Engkau sungguh pemurah.. atas segala hidup dan kehidupan.

Lihatlah kanak-kanak berumur 6 tahun tahu, kanak-kanak yang buta, tuli, sekaligus bisu itu. Kanak-kanak yang seolah dunia terputus darinya, gres saja menyampaikan kalimat indah itu!

“ Moga Bunda disayang Allah..”

Cerita yang diilhami oleh Hellen Adam Keller.

“ Moga Ayah juga disayang Allah..”

Orangtua bagaimanapun keadaannya, akan slalu sayang dan mendapatkan keadaan anak-anaknya, menyerupai yang pernah mereka katakan kepadaku:

“ Kesedihanmu yakni kesedihan kami juga, kebahagiaanmu (kami percaya) suatu ketika niscaya akan kau raih, percayalah nak!.. akan menjadi kebahagiaan kami juga..”

:’(

Semoga nanti saya bisa menyerupai mereka ketika menjadi orangtua.. suatu ketika nanti..

Rekomendasi buku – Moga Bunda Disayang Allah – review dari member ( Liliyah ) :

Melati, gadis kecil yang hampir “sempurna” terputus dari dunia lantaran cacat fisiknya : buta, tuli dan hampir bisu maka hanya HITAM-GELAP dunia yg dikenalnya. Melati tak pernah mengerti apa itu bunyi, apa itu cahaya bahkan tak pernah tahu apa arti “Bunda”?. semua acara yg dilakukannya hanya menurut insting, hampir menyerupai binatang yg berguru mengenal lingkungannya. Perjuangan Bunda bersama Karang (Pak guru) nyaris menguras habis kesabaran, ketabahan demi membawa Melati keluar dari kegelapan dunia.

Fiuhh…novel yang sangat menyentuh, membangunkan diri dari kealpaan akan rasa syukur pada setiap inci kesempurnaan yang telah Dia anugerahkan pada kita yang tergolong insan normal dan sehat. 

Rekomendasi buku – Moga Bunda Disayang Allah – review dari member ( aziyah ) :

Apa yang kau rasakan ketika terjaga dari tidur mendapati keadaan sekitar hitam kelam dan sunyi? Tak ada cahaya. Dan tak ada suara. Panik? Takut? Jengkel? Sesak? Atau marah? Bagi Melati, gadis kecil berusia 6 tahun, beliau telah terbiasa dengan keadaan menyerupai itu. Sepanjang waktu yang beliau jumpai hanya hitam, kosong dan sunyi. Hati ibu mana yang tak duka melihat anak semata wayang mereka, buta, tuli, dan bisu.

Bunda tak putus-putusnya berdoa dan berusaha. Dokter-dokter hebat telah didatangkan dari ibukota dan luar negeri. Bukannya lebih baik, Melati menggigit jari salah seorang dokter nyaris putus. Melati memang tidak gampang untuk didekati. Ia tidak suka dipegang, lantaran ia bisa berang, meronta, dan mengamuk. Bunda tak putus-putusnya berdoa dan berusaha. Walau Melati tidak mungkin untuk bisa mendengar atau melihat, Bunda berharap setidaknya Melati bisa mengenal Ayah, Bunda,dan Sang Pencipta. Bunda mempercayai firman-Nya : dibalik setiap kesulitan terdapat suatu kemudahan. 3 tahun telah berlalu, Bunda sabar menunggu tiba keajaiban untuk putri kecil. Ia telah hingga pada titik asa.

Ada satu cita-cita yang bisa menolong Melati. Seorang cowok yang bisa membaca perasaan dan pikiran anak-anak. Karang namanya. Namun, Karang sendiri butuh pinjaman untuk berdamai dengan masa lalunya. Ia berubah dari idola belum dewasa menjadi pemabuk dan ’makhluk kalong’ tak mempedulikan kehidupannya. Berantakan. Bau. Aroma alkohol bagaikan parfum tubuhnya. Penampakannya seram, rambut gondrong tak terurus dan mukanya brewokan. Hanya matanya sesekali menyiratkan keteduhan, itupun kalau tidak sedang mabuk. Transformasi Karang berakar pada kecelakaan tragis, tiga tahun lalu. Saat Melati jatuh terduduk tepat dengan terbaliknya bahtera nelayan yang membawa Karang dan belum dewasa taman bacaanya berwisata air. Dua belas anak. Delapan belas tidak. Kehilangan yang sungguh besar, ketika Karang menyaksikan Qintan menghembuskan nafas terakhir. Bukan orang lain yang menyalahkan Karang alasannya yakni sudah lalai mengenai keselamatan orang lain. Tak ada yang lebih pedih, kalau dirinya sendiri yang memvonis bersalah.

Terlepas dari sosok Karang yang pemabuk dan ’menyeramkan’. Bunda menaruh cita-cita Karang bisa menolong melati. Bunda tak gentar akan penolakan dan kekasaran Karang. Demi putri semata wayangnya. Karang bisa mencicipi apa yang dirasakan Melati, walau ia tidak buta dan bisa mendengar. Sepi. Kosong. Ia memutuskan untuk menolong Melati, untuk mewujudkan kesepakatan yang lebih baik untuk gadis cilik berambut ikal ini.

Dunia Melati terbiasa dengan gelap dan sunyi. Ia tidak bisa mengetahui bedanya sendok dan garpu. Ia tidak mendengar rinai hujan bahkan petir sekalipun. Ia tidak pernah dengar ketika Bundanya memanggil ”sayang”. Aturan yang utama: jangan memegang Melati. Ia tak suka disentuh. Apabila seseorang lupa hukum tersebut, ia akan meronta, marah, dan berteriak marah, namun hanya sengau yang terlontar, ”BAA…MAAA”. tangan kecilnya akan menjangkau apa saja yang didekatnya. PRANG..Pecahlah sudah.

Perlu waktu seminggu untuk Melati menggunakan Sendok-Garpu. Itupun dilalui dengan tiga hari tidak makan. Merajuk. Dan berang menyerupai biasa. Perlu waktu seminggu lagi untuk Melati supaya mengenal dingklik dan duduk manis diatasnya. Prosesnya untuk mengenal amat berjalan lambat. Karang pun harus mencari cara, kunci yang tepat untuk Melati mengenal dunia. Pelajaran ketiga, tembikar. Sebelumnya, Melati suka sekali melempar keramik Ayahnya, mana ia tahu kalau harganya mahal atau bentuknya indah. Karang ingin mengajarkan tembikar ini bukan benda-untuk-dilempar. Setiap celengan ayam yang diberikan kepada Melati hanya berakhir di Sapu Ijuk dan Pengki Salamah, pembantu keluarga. Karang harus berlomba dengan waktu. Waktunya semakin singkat lantaran kepulangan Tuan HK, Ayah Melati, dari Jerman semakin dekat. Tuan HK telah mengusir Karang di hari keberangkatannya lantaran berani minum alkohol dirumahnya. Jadi, Tuan HK tidak tahu kalau Karang masih berada di rumahnya, masih mengajari Melati.

Karang pusing berusaha menemukan ’kunci’ komunikasi Melati. Disaat Melati tertidur, Karang mulai membuka hatinya, menceritakan Qintan, tarian Aurora. Karang kembali mendongeng biarpun Melati tidak mendengarnya. Ia mencium rambut Melati. Dengan sejuta voltase ,ia bisa merasakan. Sempurna. Karang bisa berpikir, melihat, mendengar, mencicipi persis menyerupai Melati rasakan sekarang. Dia bisa melihat gelap itu. Dia menatap kosong. Hitam. Seperti berdiri sendirian di ruangan yang gelap total. Sebal. Mengkal. Frustasi dan kerinduan. Gadis kecil ini rindu. Rindu mengenal siapa saja. Ayah.Ibu.Teman. Bahkan ia rindu mengenal-Mu.

Time is out. Tuan HK pulang lebih cepat dari yang diketahui. Niat hati ingin membuat surprise keluarganya, justru dirinya yang terkejut. Anak muda itu masih berada di rumahnya, masih bersantap pagi di meja makannya! Tuan HK marah. Situasi di meja makan tegang. Semburan murka Tuan HK membuatnya tak memperhatikan perkembangan Melati. Melati telah makan dengan sendok-garpu dan tak mengacak-ngacak makanan menyerupai dulu. Tanpa disadari orang-orang, Melati melangkah keluar menuju taman. Ia disambut butir-butir air yang menyentuh lembut kulitnya. Dingin. Menyenangkan. Untuk pertama kalinya, ia tersenyum. Sementara seisi rumah sudah panik mencari gadis itu.

Melati sudah didekat air mancur membuatnya berair terciprat air. Ia berair kuyup. Tapi ia tak peduli, ia tertawa riang. Bunda ingin menggendongnya ke dalam rumah, Melati bisa sakit. Karang melarangnya. Kejutan sejuta voltase kembali menghampirinya. Ia bisa merasakannya. Gelap itu mendadak bermetamorfosis tarian sejuta aurora. Gadis cilik itu tergugu. Ia tidak pernah melihat cahaya. c-a-h-a-y-a. Tuhan menawarkan keajaibannya. Telapak tangan Melati lah kuncinya. Syaraf-syaraf permukaan telapak tangan menjadi lebih sensitif, mata-telinga-mulut Melati.
“Baa…aa..aa” Melati bertanya.
“A-i-r” Karang gemetar menuliskan huruf-huruf itu di telapak tangan Melati
”Baa..a..aa”Melati mengerung pelan
Karang mendekatkan telapak tangan Melati ke mulutnya..ia berkata sekali lagi ”a-i-r”
Melati tersenyum riang. Rasa putus asa yang mengungkungnya sirna. Ia mengerti. Ia tahu. Inilah nama benda yang cuek dan menyenangkan: air.

Dengan cepat..ia berguru mengenali Ayah, Bunda, ’Pak Guru’ Karang. Tak putus-putusnya ia bertanya kepada Karang. Ia berguru sangat cepat..Mengenali dunia yang tak sehitam dan sekosong dulu.

Kisah Melati terinspirasi oleh Hellen Keller. Ia buta dan tuli. Keterbatasan fisik tidak menghalanginya menjadi pelopor dunia. Ia justru bisa melaksanakan banyak hal dibandingkan orang ’normal’ yang bisa melihat dan mendengar. Saya mengenal Hellen Keller dari quotenya: ”the best and most beautiful things in the world cannot be seen or even touched. They must be felt with the heart”. Kisahnya menginspirasi dunia. Dia memperlihatkan keterbatasan fisik bukan berarti keterbatasan akal-pikiran.

Itulah sekilas review dari buku ” moga bunda disayang Allah “
Oh iya biar kalian semakin ingin membeli buku ini. Berikut saya berikan quote’s dari Buku ” Moga Bunda disayang Allah “

“kebahagiaan yakni kesetiaan.. setia atas indahnya merasa cukup.. setia atas indahnya berbagi.. setia atas indahnya ketulusan berbuat baik..”
― Tere Liye, Moga Bunda Disayang Allah 

“Ibu, rasa nyaman selalu membuat orang-orang sulit berubah. Celakanya, kami sering kali tidak tahu kalau kami sudah terjebak oleh perasaan nyaman itu… Padahal di luar sana, di tengah hujan deras, petir, guntur, kesepakatan kehidupan yang lebih baik boleh jadi sedang menanti. Kami justru tetap bertahan di pondok reot dengan atap rumbia yang tampias di mana-mana, merasa nyaman, selalu mencari alasan untuk berkata tidak atas perubahan, selalu berkata ‘tidak’…

Ibu, rasa takut juga selalu membuat orang-orang sulit berubah. Celakanya, kami sering kali tidak tahu kalau hampir semua yang kami takuti hanyalah sesuatu yang bahkan tidak pernah terjadi… Kami hanya gentar oleh sesuatu yang boleh jadi ada, boleh jadi tidak. Hanya mereka-reka, lantas menguntai ketakutan itu, bahkan kami tega membuat sendiri rasa takut itu, menjadikannya tameng untuk tidak mau berubah.”
― Tere Liye, Moga Bunda Disayang Allah

“Gadis kecil itu benar sekali.. mengapa dunia diciptakan dengan penuh perbedaan. Yang satu dilebihkan dari yang lain… ada yang bisa melihat. Bisa mendengar, ada juga yang tidak. Ada yang cerdas, ada yang tidak. Apakah semua itu adil? Apakah takdir itu adil? Padahal bukankah semua pembeda itu hanyalah semu. Tidak hakiki. Ketika sang waktu menghabisi segalanya, bukankah semua insan sama…”
― Tere Liye, Moga Bunda Disayang Allah  

Itulah artikel  Rekomendasi buku – Moga Bunda Disayang Allah Semoga bermanfaat, nantikan rekomendasi buku lainnya hanya di BLOGGER JEMO LINTANK 🙂 hingga jumpa .

tag : Rekomendasi buku – Moga Bunda Disayang Allah, Rekomendasi buku – Moga Bunda Disayang Allah, Rekomendasi buku – Moga Bunda Disayang Allah, Rekomendasi buku – Moga Bunda Disayang Allah, Rekomendasi buku – Moga Bunda Disayang Allah, Rekomendasi buku – Moga Bunda Disayang Allah, Rekomendasi buku – Moga Bunda Disayang Allah, Rekomendasi buku – Moga Bunda Disayang Allah, Rekomendasi buku – Moga Bunda Disayang Allah