Prosedur Pelaksanaan Evaluasi Kinerja Guru

0
14
A. Pendahuluan
Guru merupakan elemen kunci dalam sistem pendidikan, khususnya di sekolah. Semua komponen lain, mulai dari kurikulum, sarana-prasarana, biaya, dan sebagainya tidak akan banyak berarti apabila esensi pembelajaran yaitu interaksi guru dengan akseptor didik tidak berkualitas. Semua komponen lain, terutama kurikulum akan “hidup” apabila dilaksanakan oleh guru. Begitu pentingnya kiprah guru dalam mentransformasikan input-input pendidikan, sampai-sampai banyak pakar menyatakan bahwa di sekolah tidak akan ada perubahan atau peningkatan kualitas tanpa adanya perubahan dan peningkatan kualitas guru.
Sayangnya, dalam kultur masyarakat Indonesia hingga dikala ini pekerjaan guru masih cukup tertutup. Bahkan atasan guru ibarat kepala sekolah dan pengawas sekali pun tidak gampang untuk mendapat data dan mengamati realitas keseharian performance guru di hadapan siswa. Memang aktivitas kunjungan kelas oleh kepala sekolah atau pengawas, mustahil ditolak oleh guru. Akan tetapi tidak jarang terjadi guru berusaha menampakkan kinerja terbaiknya baik pada aspek perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran hanya pada dikala dikunjungi. Selanjutnya ia akan kembali bekerja ibarat sedia kala, kadang tanpa persiapan yang matang serta tanpa semangat dan antusiasme yang tinggi.

B. Kinerja Guru

Kata kinerja merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, yaitu dari kata performance. Kata performance berasal dari kata to perform yang berarti menampilkan atau melaksanakan. Performance berarti prestasi kerja, pelaksanaan kerja, pencapaian kerja, untuk kerja atau penampilan kerja. Dalam materi diklat “Penilaian Kinerja Guru” yang diterbitkan oleh Direktorat Tenaga Kependidikan (2008:20), kinerja merupakan suatu wujud sikap seseorang atau organisasi dengan orientasi prestasi.[1]
Standar kinerja merupakan patokan dalam mengadakan petanggungjawaban terhadap segala hal yang telah dikerjakan. Menurut Ivancevich (dalam Direktorat Tenaga Kependidikan, 2008:20), patokan tersebut mencakup (1) hasil, mengacu pada ukuran output utama organisasi; (2) efisiensi, mengacu pada penggunaan sumber daya langka oleh organisasi; (3) kepuasan, mengacu pada keberhasilan organisasi dalam memenuhi kebutuhan karyawan atau anggotanya; (4) keadaptasian, mengacu pada ukuran tanggapan organisasi terhadap perubahan.
Kinerja guru sanggup diartikan sebagai tingkat keberhasilan guru dalam melaksanakan kiprah pendidikan sesuai dengan tanggungjawab dan wewenangnya menurut standar kinerja yang telah ditetapkan selama periode tertentu dalam kerangka mencapai tujuan pendidikan. Kinerja guru sanggup dilihat dan diukur menurut spesifikasi kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru.
Standar kinerja guru berafiliasi dengan kualitas guru dalam menjalankan tugasnya, ibarat : (1) bekerja dengan siswa secara individual. (2) persiapan dan perencanaan pembelajaran, (3) pendayagunaan media pembelajaran, (4) melibatkan siswa dalam aneka macam pengalaman belajar, dan (5) kepemimpinan yang aktif dari guru. 

C. Penilaian Kinerja Guru

Dalam upaya mewujudkan kinerja yang baik diharapkan proses evaluasi kerja. Penilaian kinerja guru diartikan sebagai evaluasi dari tiap butir kegiatan kiprah utama guru dalam kerangka training karier kepangkatan dan jabatannya.
Secara umum, evaluasi kinerja guru mempunyai 2 fungsi utama, yaitu :
  1. Untuk menilai kemampuan guru dalam menerapkan semua kompetensi dan keterampilan yang diharapkan pada proses pembelajaran, pembimbingan, atau pelaksanaan kiprah embel-embel yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah.
  2. Untuk menghitung angka kredit yang diperoleh guru atas kinerja pembelajaran, pembimbingan, atau pelaksanaan kiprah embel-embel yang relevan dengan fngsi sekolah/madrasah.
Menurut Uhar[2] evaluasi kerja merupakan suatu kegiatan guna menilai sikap pegawai dalam pekerjaanya, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Informasi wacana hasil evaluasi kinerja guru akan sangat membantu dalam upaya mengelola guru dan mengembangkannya dalam kerangka mencapai tujuan pendidikan di sekolah.
Secara umum, evaluasi kinerja guru di sekolah melewati empat tahapan. Empat tahapan evaluasi kinerja guru, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, kontribusi nilai, dan pelaporan. Pada tahap persiapan, baik guru maupun penilai harus memahai pedoman evaluasi kinerja guru dan posisi evaluasi kinerja guru dalam kerangka training dan pengembangan profesi.
Tahap pelaksanaan ialah tahap dimana kegiatan pengamatan dilakukan. Tetapi sebelum pengamatan dilakukan, penilai dengan guru yang dinilai melaksanakan pertemuan terlebih dahulu di ruang khusus tanpa ada orang ketiga. Pada pertemuan ini, penilai mengumpulkan dokumen pendukung dan berdiskusi wacana hal-hal yang mustahil dilakukan pada dikala pengamatan. Selama pengamatan, penilai mencatat semua kegiatan yang dilakukan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran atau pembimbingan.[3]
Selanjutnya ialah tahap kontribusi nilai. Penilai memutuskan nilai untuk setiap kompetensi menurut hasil pengamatan dan bukti-bukti yang diperoleh selama pengamatan berlangsung. Hasil evaluasi sanggup diverifikasi, guru yang dinilai sanggup mengajukan keberatan terhadap evaluasi tersebut. Kemudian, tahap yang terakhir ialah tahap pelaporan. Penilai melaporkan hasil evaluasi kinerja guru kepada pihak yang berwenang biar hasil tersebut ditindak lanjuti. Hasil evaluasi kinerja guru formatif dilaporkan kepada kepala sekolah atau koordinator Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) sebagai masukan untuk merencanakan kegiatan PKB tahunan.

C. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru

Kinerja guru tidak terwujud dengan begitu saja, tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Baik faktor internal maupun eksternal sama-sama membawa dampak terhadap kinerja guru. Faktor internal kinerja guru ialah faktor yang tiba dari dalam diri guru yang sanggup memengaruhi kinerjanya, misalnya ialah kemampuan, keterampilan, kepribadian, persepsi, motivasi menjadi guru, pengalaman lapangan, dan latar belakang keluarga.
Faktor eksternal kinerja guru ialah faktor yang tiba dari luar guru yang sanggup memengaruhi kinerjanya, misalnya ialah (1) honor ; (2)  sarana dan prasarana; (3) lingkungan kerja fisik; (4) kepemimpinan.
D. Kesimpulan

Kinerja guru sanggup diartikan sebagai tingkat keberhasilan guru dalam melaksanakan kiprah pendidikan sesuai dengan tanggungjawab dan wewenangnya menurut standar kinerja yang telah ditetapkan selama periode tertentu dalam kerangka mencapai tujuan pendidikan. Kinerja guru sanggup dilihat dan diukur menurut spesifikasi kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru.
Standar kinerja guru berafiliasi dengan kualitas guru dalam menjalankan tugasnya, ibarat : (1) bekerja dengan siswa secara individual. (2) persiapan dan perencanaan pembelajaran, (3) pendayagunaan media pembelajaran, (4) melibatkan siswa dalam aneka macam pengalaman belajar, dan (5) kepemimpinan yang aktif dari guru.
 

E. DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Tenaga Kependidikan. 2008. Penilaian Kinerja Guru. Jakarta: Direktorat Tenaga Kependidikan, Ditjen PMPTK, Depdiknas.
Suharsaputra, Uhar. “Pengembagan Kinerja Guru.” Dalam
http://uharsputra.wordpress.com/pendidikan/pengembangan-kinerja-guru/, Diakses pada 20 November 2017 pukul 16.00 WIB.
Mohammad Arifin, Barnawi. 2012. Kinerja Guru Profesional. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Penulis :  Silfi Rahmania
Judul : Prosedur Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru


[1] Direkotorat Tenaga Kependidikan, Penilaian Kinerja Guru. (Jakarta: Direktorat Tenaga Kependidikan, Ditjen PMPTK,Depdiknas. 2008).

[2] “Pengembangan Kinerja Guru” dalam http://uharsputra.wordpress.com/pendidikan/pengembangan-kinerja-guru/, diakses pada 20 November 2017 pukul 16.00 WIB.

[3] Barnawi dan Mohammad Arifin, Kinerja Guru profesional. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,2012)