Perkembangan Ilmu, Simbol Kejayaan Umat

0
13
Rasanya tak habis-habisnya kita mesti bersyukur kepada Allah, alasannya dari limpahan rahmat dan karuniaNya, hingga sekarang kita tetap bertahan menjaga keimanan kita sebagai tingkat nikmat yang paling tinggi. Syahadatpun harus selalu kita benahi, semoga lebih mendekati makna yang hakiki. Sanjungan shalawat kita sampaikan kepada Baginda Rasul, ujung tombak pembawa pelita kehidupan.

Dari mimbar ini pula saya serukan kepada diri saya pribadi, umumnya kepada para jamaah sekalian untuk selalu menjaga, mempertahankan dan terus berupaya meningkatkan nilai-nilai taqwa, hanya dengan taqwalah kita selamat di hari pengadilanNya.

Ilmu, telah menjadi perbincangan dari waktu ke waktu, bahkan ilmu telah menjadi simbol kemajuan dan kejayaan suatu bangsa. Hampir tak ada suatu bangsa dinilai maju kecuali di sana ada ketinggian ilmu. Hingga hampir menjadi akad setiap jawara bangsa, jikalau ingin maju harus berkiblat kepada negeri yang tinggi ilmunya. Jadilah bangku-bangku sekolah didoktrin dengan kurikulum negara maju. Akan tetapi sayang seribu kali sayang, perilaku ambisi meraup dan mengimport ilmu ini berlaku hanya pada problem duniawi. Bahkan pikiran sebagian besar kaum muslimin pun tak jauh berbeda dengan kaum sekulernya. Yang lebih memprihatinkan lagi, sebagian da’i yang mempertengkarkan perihal cap intelektual muslim pun justru menuding kolot terhadap orang yang tekun mempelajari agamanya alasannya terfitnah oleh kilauan dunia. Bukankah kita pernah mendengar wasiat Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Radhiallaahu anhu :

Dunia akan pergi berlalu, dan alam abadi akan tiba menjelang, dan keduanya memiliki anak-anak. Maka jadilah kalian bawah umur alam abadi dan jangan menjadi bawah umur dunia. Sesungguhnya pada hari ini hanya ada amal tanpa hisab (perhitungan), dan besok hanya ada hisab (perhitungan) tanpa amal.” (HR. Al-Bukhari secara mu’allaq).

Akankah kita membekali diri kita bagaikan si buta di tengah rimba belantara tak tahu apa yang akan menimpanya. Padahal ancaman itu sebuah kepastian yang telah tersedia.

Akankah kita bergelimang dalam kebodohan, padahal kebodohan yaitu lambang kejumudan. Lalu, tidakkah kita ingin sukses dan jaya di negeri alam abadi nanti. Lalu apa yang menghalangi kita untuk segera meraup ilmu dien (agama), sebagaimana kita berambisi meraup ketinggian ilmu dunia alasannya tergambar suksesnya masa depan kita?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengumpulkan keutamaan ilmu ini dalam 13 point:

  1. Bahwa ilmu dien yaitu warisan para nabi Shallallaahu alaihi wa Salam, warisan yang lebih mulia dan berharga dari segala warisannya para nabi. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda: “Keutamaan sesorang ‘alim (berilmu) atas seorang ‘abid (ahli ibadah) menyerupai keutamaan bulan atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambilnya (warisan ilmu) maka dia telah mengambil laba yang banyak.” (HR. Tirmidzi).
  2. Ilmu itu tetap akan infinit sekalipun pemiliknya telah mati, tetapi harta yang jadi rebutan insan itu niscaya akan sirna. Setiap kita niscaya kenal Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, gudangnya periwayatan hadits, sehingga ia menjadi target bidik kejahatan kaum Syi’ah dengan tuduhan-tuduhan keji yang dilancarkannya terhadap diri beliau, dalam rangka menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Dari segi harta Abu Hurairah Radhiallaahu anhu memang termasuk golongan fuqara’ (kaum papa), memang hartanya telah sirna, tapi ilmunya tak pernah sirna, kita semua masih tetap membacanya. Inilah buah menyerupai yang tersebut dalam hadits Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam : “Jika insan mati terputuslah amalnya kecuali tiga: shadaqah jariyah, atau ilmu yang dia amalkan atau anak shalih yang mendoakannya.”
  3. Ilmu, sebanyak apapun tak menyusahkan pemiliknya untuk menyimpan, tak perlu gedung yang tinggi dan besar untuk meletakkannya. Cukup disimpan dalam dada dan kepalanya, bahkan ilmu itu yang akan menjaga pemiliknya sehingga memberi rasa nyaman dan aman, lain halnya dengan harta yang semakin bertumpuk, semakin susah pula untuk mencari daerah menyimpannya, belum lagi harus menjaganya dengan susah payah bahkan bisa menggelisahkan pemiliknya.
  4. Ilmu, bisa menghantarkan pemiliknya menjadi saksi atas kebenaran dan keesaan Allah. Adakah yang lebih tinggi dari tingkatan ini? Inilah firman Allah Ta’ala yang artinya: “Allah menyatakan bergotong-royong tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang pandai (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali Imran: 18). Sedang pemilik harta? Harta sama sekali takkan menghantarkan pemiliknya hingga ke derajat sana.
  5. Para ulama (Ahli ilmu syari’at), termasuk golongan petinggi kehidupan yang Allah perintahkan supaya orang mentaatinya, tentunya selama tidak menganjurkan durhaka kepada Allah dan RasulNya, sebagaimana firmanNya yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan ulil amri di antara kamu.” (An-Nisa: 59). Ulil Amri, berdasarkan ulama yaitu Umara’ dan Hukama’ (Ahli Hikmah/Ahli Ilmu/Ulama). Ulama berfungsi menjelaskan dengan gamblang syariat Allah dan mengajak insan ke jalan Allah. Umara’ berfungsi mengoperasionalkan jalannya syariat Allah dan mengharuskan insan untuk menegakkannya.
  6. Para ulama, mereka itulah yang tetap tegar dalam mewujudkan syariat Allah hingga datangnya hari kiamat. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda: “Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan, maka Allah akan fahamkan dia dalam (masalah) dien. Aku yaitu Al-Qasim (yang membagi) sedang Allah Azza wa Jalla yaitu yang Maha Memberi. Umat ini akan senantiasa tegak di atas kasus Allah, tidak akan memadharatkan kepada mereka, orang-orang yang menyelisihi mereka hingga tiba putusan Allah.” (HR. Al-Bukhari). Imam Ahmad menyampaikan perihal kelompok ini: “Jika mereka bukan Ahlu Hadits maka saya tidak tahu siapa mereka itu”.
  7. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menggambarkan para pemilik ilmu dengan lembah yang bisa menampung air yang bermanfaat terhadap alam sekitar, ia bersabda, yang artinya: “Perumpamaan dari petunjuk ilmu yang saya diutus dengannya bagaikan hujan yang menimpa tanah, sebagian di antaranya ada yang baik (subur) yang bisa menampung air dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak, di antaranya lagi ada sebagian tanah keras yang (mampu) menahan air yang dengannya Allah memperlihatkan manfaat kepada insan untuk minuman, mengairi tumbuhan dan bercocok tanam. Dan sebagian menimpa tanah tandus kering yang gersang, tidak bisa menahan air yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Maka demikianlah permisalan orang yang memahami (pandai) dalam dien Allah dan memanfaatkan apa yang dengannya saya diutus Allah, maka dia mempelajari dan mengajarkan. Sedangkan permisalan bagi orang yang tidak (tidak memperhatikan ilmu) itu (sangat berpaling dan bodoh), dia tidak mendapatkan petunjuk Allah yang dengannya saya diutus. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
  8. Ilmu yaitu jalan menuju Surga, tiada jalan pintas menuju Surga kecuali ilmu. Sabdanya: “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju Surga.” (HR. Muslim).
  9. Ilmu merupakan menandakan kebaikan seorang hamba. Tidaklah akan menjadi baik melainkan orang yang berilmu, sekalipun bukan jaminan mutlak orang yang (mengaku) pandai mesti baik. Sabda ia Shallallaahu alaihi wa Salam : “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan, Allah akan pahamkan dia (masalah) dien.” (Al-Bukhari).
  10. Ilmu yaitu cahaya yang menerangi kehidupan hamba sehingga dia tahu bagaimana beribadah kepada Allah dan bermuamalah dengan para hamba Allah.
  11. Orang ‘alim (berilmu) yaitu cahaya bagi insan lainnya. Dengan dirinyalah insan sanggup tertunjuki jalan hidupnya. Jamaah sekalian tentunya ingat dongeng seorang pembunuh yang menghabisi 100 nyawa. Dia bunuh spesialis ibadah sebagai korban yang ke-100 alasannya tanggapan terbelakang dari si andal ibadah yang menjawab bahwa sudah tak ada lagi pintu taubat bagi pembunuh nyawa manusia. Akhirnya dia tiba kepada seorang ‘alim, dan disana ia ditunjukkan jalan taubat, maka diapun mendapatkan penerangan bagi jalan hidupnya.
  12. Allah akan mengangkat derajat Ahli Ilmu (orang alim) di dunia dan akhirat. Di dunia Allah angkat derajatnya di tengah-tengah umat insan sesuai dengan tingkat amal yang dia tegakkan. Dan di alam abadi akan Allah angkat derajat mereka di Surga sesuai dengan derajat ilmu yang telah diamalkan dan didakwahkannya. Allah Subhannahu wa Ta’ala dalam surat Mujadilah: 11 telah berfirman yang artinya: “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
Itulah point-point penting yang bisa kita nukilkan, semoga menjadi pendorong semangat bagi orang yang bercita-cita mulia dunia dan akhiratnya.