Pengertian Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif Secara Akademik

0
11
Pengertian Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif Secara Akademik – Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Metode penelitian kuantitatif dengan banyak sekali teknik statistiknya memang diakui mendominasi analisis penelitian semenjak periode ke-18 hingga periode ini. Karena semakin canggih teknologi komputer, bekembanglah teknik – teknik statistik yang mendukung pengembangan penelitian kuantitatif. Dalam dikotomi keilmuan, awalnya persaingan sehat antara ilmu – ilmu kealaman (eksak) dengan ilmu – ilmu sosial, cenderung saling mengklaim dirinya yang lebih ilmiah. Para hebat ilmu kealaman merasa paling layak untuk disebut sebagai kelompok sains dengan metode penelitian kuantitatifnya. Tetapi kelompok hebat ilmu sosial kemudian juga merasa layak untuk meyakinkan penelitian ilmu – ilmu sosial sebagai model kajian ilmiah dengan metode penelitian kualitatifnya.
Baca juga : Sejarah Perkembangan Penelitian Kualitatif

Secara filosofis, sebetulnya tidak harus ada metodologi penelitian yang dianggap lebih ilmiah atau lebih layak, sebab masing – masing metode tentu mempunyai kelebihan dan kelemahan. Kelebihan metode penelitian kuantitatif contohnya bisa mengungkap realitas problem penelitian lebih kongkrit, dan obyektif dengan angka – angka yang bisa diukur validitasnya, memakai analisis statistik. Sedangkan metode kualitatif, yang terlahir dari tuntutan kebutuhan ilmu – ilmu sosial, mustahil bisa mengungkapkan ukuran yang valid dalam mengungkap tanda-tanda – tanda-tanda dan problem sosial yang terus berubah dan berkembang, sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi masyarakat. Tetapi bukan berarti penelitian ilmiah untuk mendapat obyektifitas tidak bisa dilakukan, sebab ada kelebihan metode kualitatif untuk berhadapan pribadi dengan subyek penelitian yang hidup, dinamis dan berkembang. Melalui penggunaan analisis logic, peneliti kualitatif bisa mengungkapkan realitas kehidupan sosial apa adanya. Peneliti bisa melihat, mengamati dan mempelajari fakta sosial dengan cara observasi partisipasi, sebab peneliti melibatkan diri dalam aktifitas sosial itu. Sedangkan penelitian kuantitatif selalu berhadapan dengan angka – angka statistik yang belum tentu realistis dalam kehidupan masyarakat. Dari beberapa perkara data Badan Pusat Statistik misalnya, berkaitan dengan agenda – agenda pengentasan kemiskinan di negeri ini, hampir tidak pernah ditemukan data akurat, yang justru menjadikan ekses negatif, dikala diwujudkan agenda dukungan untuk penduduk miskin.

Karena itu, ukuran ilmiah dan tidaknya suatu penelitian, bukan ditentukan pada metode kualitatif atau kuantitatif, melainkan pada proses dan pelaksanaan penelitiannya, apakah sesuai dengan mekanisme atau tidak, obyektif atau tidak, sistematis atau tidak. Ketika seorang peneliti kuantitatif mengungkapkan apakah ada hubungan atau tidak antara kemampuan siswa yang bisa membaca Al-Qur’an dengan kemampuan bahasa arab; peneliti hanya mengandalkan angka – angka nilai yang diperoleh dari guru di sekolahnya, atau melalui penyebaran angket kepada siswa yang bersangkutan. Maka hasilnya belum tentu akurat sesuai realita di lapangan. Ada kemungkinan nilai yang diberikan guru bisa subyektif, atau kemungkinan siswa menjawab sesuai alternatif pilihan yang tersedia dalam angket. Penelitian kuantitatif hanya bisa memilih skor nilai, tetapi lagi – lagi belum tentu akurat. Karena tidak berhadapan pribadi dengan siswanya, untuk mengetahui apakah yang bisa membaca Al-Qur’an juga menguasai kemampuan bahawa Arab. Padahal jikalau didekati secara empirik dengan teknik observasi partisipasi, peneliti bisa memperoleh isu lebih akurat, dengan mengamati sendiri kemampuan siswa yang bisa membaca Al-Qur’an dengan yang memahami bahasa Arab. Berdasarkan teori positivme, ilmu yang valid ialah ilmu yang dibangun dari empirisme, sebab lebih realistis, tetapi pendekatan kuantitatif saja belum menjamin akurasi datanya secara menyeluruh.
Pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif memang berbeda dalam penelitian sosial, budaya, dakwah, pendidikan dan agama. Penelitian kuantitatif berbeda dari penelitian kualitatif, baik dalam pandangan dasar keilmuannya ataupun dalam teknik-teknik yang digunakan. Bahkan oleh masing-masing pendukung dan simpatisannya, kedua pendekatan tersebut sering dipertanyakan. Mereka saling membantah dan berdebat untuk karenanya menyatakan mana yang paling terpercaya. Masing-masing menyatakan metodenya secara inheren lebih superior dari yang lain. Peneliti-peneliti kualitatif memandang penelitian kuantitatif kurang validitasnya. Sementara itu, para peneliti kuantitatif mengkritik penelitian kualitatif sebagai tidak representatif, impresionistik, tidak reliabel, dan subjektif. Masing-masing orientasi metodologis tersebut sanggup membuahkan hasil yang baik, “each with its own order and logic”. Karena itu, ialah prematur dan naif untuk berpikir apriori antara penelitian kuantitatif dan kualitatif.
Ada dua argumentasi penting yang melatar belakangi mengapa harus dilakukan penelitian kualitatif. Menurut Stauss dan Corbin (1997). Pertama, sebab sifat problem itu sendiri yang mengharuskan memakai penelitian kualitatif. Misalnya, penelitian untuk menemukan sifat atau pengalaman seseorang dikala mencicipi kesakitan, ketagihan atau konversi agama. Kedua, sebab penelitian dilakukan untuk memahami makna yang tersembunyi atau tersirat dibalik suatu fenomena, yang terkadang sulit diketahui atau difahami melalui penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif tidak akan bisa memperoleh suatu dongeng atau pandangan yang segar dari responden. 
Ada beberapa perbedaan pokok antara penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif.
Pertama, penelitian positivisme atau kuantitatif berdasarkan penyusunan kerangka teori; sedangkan penelitian kualitatif menolak sepenuhnya penggunaan kerangka teoritik sebagai persiapan penelitian.
Kedua, penelitian kuantitatif mutlak membutuhkan hipotesis, sebagaimana diungkapkan oleh Miller (1983 : 208) “The field of statistics has developed to the extent that we now have, for almost all research designs, alternative statistical tests that might be used in order to come to a decision about a hypothesis”. Sedangkan penelitian kualitatif tidak terikat oleh hipotesis. Penelitian kualitatif berangkat dari pikiran kosong dalam rangka membangun suatu konsep atau preposisi.
Ketiga, penelitian kuantitatif menetapkan adanya variabel penelitian sebagai obyek yang akan diukur; sedangkan penelitian kualitatif berusaha melihat obyek dalam konteksnya dan memakai tata pikir logik. Penelitian kualitatif tidak menetapkan variabel dan kategari secara mutlak, sebab tidak ada maksud penelitian untuk mengukur variabel-variabel itu, apalagi mengkuantifikasikannya dalam bentuk angka-angka atau bilangan.
Baca juga : Konsep dan Jenis Penelitian Kualitatif

Keempat, hubungan antara peneliti dan responden dalam penelitian kuantitatif dibatasi oleh jarak yang memisahkan keduanya. Sedangkan dalam penelitian kualitatif, peneliti berfungsi sebagai instrumen penelitian yang berusaha mengikuti asumsi-asumsi kultural melalui proses observasi partisipasi, dimana peneliti sebagai observer terlibat pribadi dalam aktifitas obervees.

Kelima, penelitian kuantitatif memakai analisis statistik dalam wujudangka-angka. “In the development of modern statistical methods, the first techniques of inference that appeared were those that made many assumjptions about the nature of the population from which the scores were drawn” (Miller, 1983 : 207). Sedangkan penelitian kualitatif memakai analisis logik, interaktif dalam wujud narasi, uraian-uraian yang rasional sistematis.
Keenam, penelitian kuantitatif cenderung lebih memperhatikan hasil penelitian, sedangkan penelitian kualitatif lebih memperhatikan proses daripada hasil. Penelitian kualitatif lebih mementingkan kedalaman bahan yang diteliti, daripada luasnya bahan yang diteliti.
Ketujuh, dalam penelitian kuantitatif dibutuhkan tehnik sampling, berkenaan dengan penggunaan sampel yang dianggap representatif mewakili populasi penelitian. Sedangkan penelitian kualitatif tidak membutuhkan sampel, melainkan menuntut adanya informan, berapapun banyaknya.
Karena itu Basrowi-Sukidin (2002 ; 12) menyebut pendekatan kualitatif sebagai model penelitian subyektivisme mikro, yang dipakai untuk mengungkap keunikan individu, kelompok, organisasi atau institusi tertentu. Penelitian ini membutuhkan contoh kajian mendalam, memperhatikan histori dan kompleksitasnya.