Pengertian Kegiatan Penilaian Cipp Dan Model Model Kegiatan Evaluasi

0
14
Pengertian Program Evaluasi CIPP dan Model Model Program Evaluasi. — Evaluasi  merupakan  suatu  proses  menyediakan  informasi  yang  dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk memilih harga dan jasa (the worth and merit) dari tujuan yang dicapai, desain, implementasi, dan efek untuk membantu  membuat  keputusan,  membantu  pertanggungjawaban  dan meningkatkan  pemahaman  terhadap  fenomena.  Menurut  rumusan  tersebut, inti dari  evaluasi  adalah penyediaan  informasi  yang sanggup dijadikan  sebagai materi pertimbangan dalam mengambil keputusan. (Widoyoko, 2012 : 4)
 Program  adalah kegiatan  atau  aktivitas  yang dirancang untuk melaksanakan kebijakan  dan  melaksanakn  untuk  waktu  yang  tidak  terbatas.  Kebijakan tertentu bersifat umum dan untuk merealisasikan kebijakan disusun aneka macam jenis program. (Wirawan, 2012 :  16). 
 Evaluasi  program  adalah  suatu  rangkaian  kegiatan  yang  dilakukan  dengan sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan program. Ada beberapa pengertian tentang  program  sendiri. Menurut  Tyler  (1950)  dalam  Arikunto  (2009:  5), penilaian jadwal ialah proses  untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan telah  terealisasikan. Selanjutnya berdasarkan Cronbach  (1963)  dan  Stufflebeam (1971)  dalam  Arikunto  (2009:  5),  evaluasi  program  adalah  upaya menyediakan informasi untuk disampaikan kepada pengambil keputusan.
 Berdasarkan  beberapa  pendapat  tersebut,  maka  dapat  disimpulkan  bahwa evaluasi  merupakan  suatu  proses  untuk  mengumpulkan  informasi  terkait dengan  suatu  program  yang  sudah  ditetapkan  dan  informasi  tersebut  akan digunakan  oleh  pihak  pengguna  terkait  dengan  kelangsungan  program berikutnya.
 Wujud  dari  hasil  evaluasi  adalah  adanya  rekomendasi  dari  evaluator  untuk pengambil keputusan. Menurut Arikunto (2009 : 22) ada empat kemungkinan kebijakan  yang  dapat  dilakukan  berdasarkan  hasil  evaluasi  pelaksanaan program, yaitu :
     1.       Menghentikan  program,  karena  dipandang  bahwa  program  tersebut  tidak ada manfaatnya, atau tidak sanggup terlaksana sebagaimana diharapkan.
     2.       Merevisi program, alasannya ialah ada bab – bab yang kurang sesuai dengan cita-cita (terdapat kesalahan tetapi hanya sedikit).
     3.       program, alasannya ialah pelaksanaan jadwal menunjukkan   bahwa segala  sesuatu  sudah  berjalan  sesuai  dengan  harapan  dan  memberikan yang bermanfaat.
     4.       Menyebarluaskan  program  (melaksanakan  program  di  tempat    tempat lain atau mengulangi lagi jadwal di lain waktu), alasannya ialah jadwal tersebut berhasil dengan baik maka  sangat baik  jika dilaksanakan  lagi di    tempat waktu yang lain.
Dari aneka macam definisi yang sudah dijelaskan, sanggup disimpulkan bahwa yang dimaksud  dengan  evaluasi  program  adalah  kegiatan  untuk  mengumpulkan informasi  tentang    bekerjanya  suatu  program  yang  selanjutnya  informasi tersebut   digunakan untuk menentukan   pilihan yang  tepat dalam mengambil  sebuah keputusan.   Dengan melaksanakan penilaian maka akan ditemukan  fakta pelaksanaan  kebijakan di lapangan yang alhasil sanggup kasatmata ataupun negatif. 
Adapun  tujuan  sebuah  evaluasi  dilakukan  adalah  untuk  mengumpulkan informasi  untuk menentukan  nilai  dan manfaat  objek  evaluasi, mengontrol, memperbaiki, dan mengambil keputusan mengenai objek tersebut. 

Model-model  evaluasi  yang  satu  dengan  yang  lainnya  memang  tampak bervariasi, akan  tetapi maksud dan  tujuannya sama yaitu melaksanakan kegiatan pengumpulan  data  atau  informasi  yang  berkenaan  dengan  objek  yang dievaluasi.  Selanjutnya  informasi  yang  terkumpul  dapat  diberikan  kepada pengambil  keputusan  agar  dapat  dengan  tepat  menentukan  tindak  lanjut wacana jadwal yang sudah dievaluasi.
Menurut  Kaufman  dan  Thomas  yang  dikutip  oleh  Arikunto  (2009:  40), membedakan model penilaian menjadi delapan, yaitu:
     a.       Goal Oriented Evaluation Model, dikembangkan oleh Tyler. Goal  Oriented  Evaluation  Model  ini  merupakan  model  yang  muncul paling  awal.  Yang  menjadi  objek  pengamatan  pada  model  ini  adalah tujuan dari jadwal yang sudah ditetapkan jauh sebelum jadwal dimulai. Evaluasi  ini  dilakukan  secara  berkesinambungan,  terus-menerus, mencek seberapa jauh tujuan tersebut sudah terlaksana.
     b.       Goal Free Evaluation Model, dikembangkan oleh Michael Scriven. Menurut  Michael  Scriven,  dalam  melaksanakan  evaluasi  program evaluator  tidak  perlu memperhatikan  apa  yang menjadi  tujuan  program. Yang  perlu  diperhatikan  dalam  program  tersebut  adalah  bagaimana kerjanya program, dengan  jalan mengidentifikasi penampilan-penampilan yang terjadi, baik hal-hal kasatmata maupun hal-hal negatif.
     c.       Formatif  Summatif  Evaluation  Model,  dikembangkan  oleh  Michael Scriven. Evaluasi  fomatif  secara  prinsip  merupakan  evaluasi  yang  dilaksanakn dikala jadwal masih berlangsung atau dikala proram masih akrab dengan permulaan kegiatan. Tujuan evaluasi  formatif  tersebut ialah mengetahui seberapa  jauh  program  yang  dirancang  dapat  belangsung,  sekaligus mengidentifikasi hambatan.
    d.       Countenance Evaluation Model, dikembangkan oleh Stake. Model ini menekankan pada adanya pelaksanaan dua hal pokok, yaitu (1) deskripsi  (description)  dan  (2)  pertimbangan  (judgment)  serta membedakan  adanya  tiga  tahap  dalam  evaluasi  program,  yaitu  (1)  (antecedents/context),  (2)  traksaksi  (transaction/process),  dan (3) keluaran (output – outcomes).
     e.       CSE-UCLA  Evaluation  Model,  menekankan  pada  “kapan”  evaluasi dilakukan. CSE  merupakan  singkatan  dari  Center  for  the  Study  of  Evaluation, sedangkan  UCLA merupakan  singkatan  dari  University  in  Los  Angeles. Ciri  dari  model  CSE-UCLA  adalah  adanya  lima  tahap  yang  dilakukan dalam penilaian yaitu perencanaan, pengembangan, implementasi, hasil dan dampak.
     f.        CIPP Evaluation Model, dikembangkan oleh Stufflebeam. CIPP merupakan sebuah abreviasi dari: Context Evaluatio   : penilaian terhadap konteks Input Evaluation   : penilaian terhadap masukan Process Evaluation   : penilaian terhadap proses Product Evaluation   : penilaian terhadap hasil.
     g.       Discrepancy Model, dikembangkan oleh Provus. Kata discrepancy ialah istilah bahasa Inggris, yang diterjemahkan dalam bahasa  Indonesia  menjadi  “kesenjangan”.  Model  ini  menekankan  pada pandangan  adanya  kesenjangan  di  dalam  pelaksanaan  program. Evaluasi program  yang  dilakukan  oleh  evaluator mengukur  besarnya  kesenjangan yang ada di setiap komponen.
 Penulis : Fauzi Kurniawan
Diambil Dari BAB II Tesis di Universitas Lampung