Pengaruh Jelek Gadget Dapat Menjauhkan Orang Bau Tanah Dengan Anaknya

0
10
Pengaruh Buruk Gadget Bisa Menjauhkan Orang Tua Dengan Anaknya – Di Era teknologi ketika ini tentunya tidak aneh lagi mendengar alat pandai berjulukan gadget. Gadget seperti smartphone, tablet, dan game portable hampir dimiliki semua kalangan dari yang miskin, kaya, orang bakir balig cukup akal maupun anak-anak. Gadget menjadi alat yang penting lantaran dianggap memiliki kegunaan yang luar biasa dalam kehidupan atau acara sehari-hari. 
Selain untuk komunikasi gadget juga berfungsi untuk hiburan, memperoleh informasi, bahkan sanggup dikatakan gadget menjadi gaya hidup modern. Akan tetapi gadget sanggup juga berdampak negatif ibarat menciptakan orang ketergantungan pada alat tersebut. Jika tidak ada gadget merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Bahkan begitu ketergantungan dengan gadget, seorang ibu rela menunda komunikasi dengan anaknya dan lebih asyik berkomunikasi di dunia maya. 
Tanpa disadari ternyata gadget dapat mengurangi waktu orang bau tanah dengan anak. Gadget akan menciptakan orang bau tanah menghabiskan waktu yang seharusnya sanggup dipakai untuk bersama-sama dengan anaknya. Dan biasanya orang bau tanah akan sibuk dengan gadgetnya, sibuk membalas pesan yang masuk, sibuk membalas pesan facebook, sibuk update status di facebook, sibuk chatting dengan teman. 
Tidak jarang dijumpai orang bau tanah yang sedang mengajak anaknya untuk jalan ke Mall, restaurant (rumah makan), taman, mereka membiarkan anak mereka melaksanakan acara sendiri sedangkan orang bau tanah sibuk memainkan jarinya pada alat canggihnya yaitu gadget.
Ada beberapa fakta terkadang anak harus mengalami hal- hal yang tidak terduga atau celaka hanya lantaran orangtua asyik dengan gadgetnya. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, seorang Ibu harus kehilangan anak balitanya lantaran tertabrak kendaraan beroda empat ketika bermain, Peristiwa ini bukan lantaran sang Ibu tidak mendampinginya, bahkan sang Ibu ada di samping balita tersebut.  
Hal ini disebabkan lantaran sang ibu begitu fokus dan asyiknya bermain gadget  sehingga beliau tidak tahu kalau anak yang awalnya berada di sebelahnya berjalan menjauhinya. Begitupula orangtua atau ibu yang bekerja sehingga harus menitipkan anak mereka pada pembantu atau penitipan anak dan di ketika pulang bertemu buah hatinya masih saja tidak sanggup terlepas dari gadget. Lebih memprihatinkan lagi ketika sang ibu serius dengan gadgetnya, sang anak melontarkan pertanyaan, ibu hanya membisu atau menjawab asal – asalan bahkan lebih vatal lagi membentak lantaran merasa terganggu dengan celotehannya.
Ini hanyalah sebagian dongeng dari beberapa bencana di Dunia. Jelas sekali bahwa  pada bencana tersebut bahu-membahu anak membutuhkan kebersamaan, perhatian, pendidikan dan penjagaan dari sosok Ibu. Jika Ibu lebih fokus dalam menjaga anak tentu akhir negatif tersebut tidak akan terjadi. 
Kenyataannya, pengguna gadget lebih akrab dengan orang lain di jarak jauh dan terbukti cenderung mengabaikan orang disekitar ketika asyik mengoperasikan alat elektronik tersebut. Sehingga ada motto “mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat”. 
Gadget sebagai sentra komunikasi sanggup menjangkau orang yang jauh dari sekitar kita, terasa akrab dihadapan kita melalui bunyi atau video call. Akan tetapi gadget menciptakan komunikasi orang yang akrab seolah-olah jauh lantaran sibuk dengan gadgetnya masing- masing dan tidak peduli dengan orang yang disebelahnya. Jangan hingga kecanduan gadget mengakibatkan seseorang yang jauh di mata akrab di hati tetapi yang akrab di mata jauh di hati. Jika diperhatikan orang-orang ketika ini lebih suka menjalin interaksi social di dunia maya daripada silaturrahmi secara eksklusif (dunia nyata).  
Begitupula dilingkungan keluarga, hendaknya orangtua melaksanakan interaksi eksklusif dengan anak, menanyakan kabar, sekolahnya, apa yang telah dikerjakan hari ini atau sekedar bermain bersama. Semakin jauh orangtua dari Anak, maka anak akan merasa aneh dengan orangtua. Semakin dianggap tidak lebih penting dari gadget, maka anak semakin merasa orangtua kurang berarti baginya. apalagi berdasarkan survey yang dilakukan pada anak-anak, 32% anak merasa diri mereka tidak lebih penting daripada gadget yang dipegang orang tua. 
Anak yaitu generasi penerus , Dalam al-Qur’an, anak diistilahkan dengan aneka macam kata sesuai dengan maksud yang ditujunya. Paling tidak, ada beberapa istilah yaitu al-waladu (yang dilahirkan), al-thiflu, al-shabiyyu (anak yang belum dewasa), dan al-ibnu (anak yang belum dewasa).