Penerapan Pendekatan Cooperative Learning Dalam Pembelajaran Membaca Interpretatif Di Sekolah Dasar (Sd)

0
11

Penerapan Pendekatan Cooperative Learning dalam Pembelajaran Membaca interpretatif di SD (SD). — Pembelajaran membaca di sekolah dasar (SD) merupakan kepingan yang  integral dalam pembelajaran bahasa  Indonesia. Pembelajaran membaca  sebagai kepingan dari empat keterampilan berbahasa yang meliputi keterampilan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Pembelajaran membaca di SD sanggup digolongkan dalam pembelajaran membaca dan menulis permulaan di kelas 1,2, dan 3, dan pembelajaran membaca dan menulis  lanjut untuk kelas 4,5, dan 6 (Depdikbud, 1994). Pembelajaran membaca permulaan lebih ditekankan pada  pengembangan  kemampuan  dasar,  yaitu  menuntut  siswa  “menyuarakan” kalimat-kalimat yang disajikan dalam bentuk tulisan, sedangkan pembelajaran membaca  lanjut diberikan  setelah  siswa mempunyai kemampuan dasar membaca  yang  diperoleh  di  kelas  1,  2,  dan  3  dengan  tujuan  agar  siswa mempunyai kemampuan memahami dan menginterpretasi ihwal yang dibaca.

Pembelajaran membaca  interpretatif meliputi acara menginterpretasi, menganalisis, dan menyimpulkan bacaan. Pembaca menginterpretasi isi bacaan dengan cara mencari relasi sebab-akibat yang dinyatakan secara tidak  langsung dari  teks, mengemukakan alasan dan  tujuan pengarang, serta menyimpulkan isi bacaan menurut skemata yang dimiliki pembaca.

Dalam menginterpretasi teks bacaan, pembaca melibatkan pengetahuan yang dimiliki dengan isu yang ada dalam bacaan biar bacaan sanggup dipahami.  Pembaca  mengaitkan  skemata  yang  dimiliki  dengan  teks  bacaan. Dengan  demikian,  skemata  dapat  dikatakan  berupa  struktur  pengetahuan yang telah dimiliki pembaca dan dipakai oleh pembaca saat memahami bacaan.
Konsep-konsep yang dipelajari pembaca (siswa) melalui acara membaca  interpretatif  lebih bermakna apabila  siswa menerima masukan dan balikan dari orang lain menyerupai guru dan sobat sekelas daripada dipelajari sendiri oleh  siswa. Siswa berguru berinteraksi dengan  orang  lain dan  teman  sebaya yang lebih bisa melalui cooperative learning.
Cooperative  learning memberi  kesempatan  kepada  siswa  berinteraksi dengan siswa  lainnya untuk memahami kebermaknaan  isi pelajaran dan bekerja  sama  secara  aktif  dalam  menyelesaikan  tugas  (Stone,  1990).  Dalam pembelajaran membaca interpretatif siswa berinteraksi dengan sobat sebaya dalam  menginterpretasi,  menganalisis,  dan  menyimpulkan  bacaan  dalam kelompok kecil.
Pemahaman  isi  bacaan  yang  berfokus  pada  penemuan  pikiran  pokok setiap paragraf, tujuan dan alasan pengarang, dan penyimpulan isi bacaan terabaikan oleh  guru di SD  terteliti. Penemuan pikiran pokok  setiap paragraf, tujuan dan alasan pengarang, dan penyimpulan isi bacaan kepingan dari pemahaman membaca interpretatif. Pemahaman isi bacaan terfokus pada pertanyaan yang  tersedia  di  buku  bacaan  yang  lebih menekankan  pada  jawaban  yang mengeksplorasi pemahaman literal. Sedangkan pemahaman interpretative diabaikan. 
Berdasarkan persoalan pembelajaran membaca pemahaman di SD  terteliti yang dikemukakan di atas perlu diadakan pembenahan atau penyelesaian masalah. Peneliti dan praktisi bersepakat untuk membenahi atau menuntaskan pembelajaran membaca pemahaman di SD  terteliti dengan mengimplementasikan pendekatan cooperative learning biar pembelajaran membaca interpretatif lebih efektif.