Naluri Pengetahuan Dalam Pengembangan Penelitian

0
10
Semua insan secara naluriah intinya selalu ingin mengetahui, demikianlah kalimat pembukaan karya Aristoteles yang bejudul Metaphysica. Tepatnya kalimat tersebut sanggup disaksikan pada diri individu atau Perseorangan semenjak anak kecil hingga usia lanjut ataupun dalam sejarah perkembangan bangsa insan semenjak jaman purbakala hingga sampaumur ini. Pengetahuan itu, baik perseorangan maupun bersama, ternyata terjadi dalam dua bentuk dasar yang berbeda-beda. Dan sulit untuk memilih mana yang paling berharga atau yang paling penting dari keduanya.Yang pertama ldtlnh “pengetahuan – demi – pengetahuan” Maksudnya, pengetahuan yang berorientasi terutama demi pengetahuan itu sendiri., dan karenanya hanya demi pemuasan hati manusia, sedangkan yang kedua ialah “pengetahuan – untuk- kemanusiaan”. Pengetahuan ini terutama dimaksudkan untuk mrnfaat mudah menyerupai melindungi diri, memperbaiki daerah tinggal meningkatkan kesehatan dll.
Sumber Ilmu
Secara fenomenologi segala pengetahuan dalam kedua bentuk dasar itu sanggup didekati sehingga menjadi realitas yang sanggup diamati. Dalam tanda-tanda itu kita memisahkan secara rapi, antara “si pengenal” ataupun “yang dikenal” yang satu (entah dalam bentuk si “pengenal” atau “yang dikenali’) tidak pernah ada tanpa tanpa yang lain, dan sebaliknya keduanya merupakan satu kesatuan asasi, memang sebelum sebelum terjadinya tindakan pengetahuan tertentu terdapatlah hanya suatu “subyek yang mungkin pernah akan dikenal suatu subyek tertentu”, tetapi itupun merupakan suatu korelasi kesatuan yang lebih orisinil dari pada terpisahnya kedua-duanya satu sama lain.
Baca Juga : Proses dan Prosedur dalam Penelitian

Kesatuan asasi antara kedua-duanya itu sudah diungkapkan dalam kutipan aristoteles tadi : ternyata terdapatlah harapan yang berpengaruh pada diri insan menurut potensi nalar dan hati untuk mengetahui dan mengenal. Jika kita menyelidika apa yang kita saksikan di luar dan di dalam diri kita, ternyatalah tidak terdapat suatu pengetahuanpun memuaskan hati dan nalar budi insan secara tuntas. Segala hasil pengetahuan bersifat sementara dan terbuka. Unsur unsur itu diucapkan para filosof, sebagai ciri intensionalitas. Pengetahuan insan diuraikan atau jikalau dikatakan bahwa ciri khas pengetahuan insan ialah bertanya sambil mencari (sintesis yang tiada hentinya antara yang “sudah tahu” dan “belum tahu”.

Keterangan yang bertanya-tanya terus itu terjadi dalam suatu korelasi timbal-balik antara insan dengan dunianya (tentu saja juga termasuk sesame insan dalam dunia itu) kedua-duanya ingin “mengenal” dan ingin “dikenal” malahan “memperkenalkan diri” biar saling memperkaya dan saling mengembangkan.
Tapi bukan saja keingintahuan merupakan tanda-tanda yang menandai setiap manusia, baik pada tahap perseorangan maupun pada tahap social kita harus mengatak juga bahwa keingintahuan hanya terdapat pada insan dan tidak terdapat padamakhluk lain. Dengan kata lain hanya manusialah yang mempunyai keingintahuan ihwal benda-benda disekelilingnya, alam sekitarnya bahkan ihwal dirinya sendiri. Hal ini bisa dimengerti alasannya insan mempunyai struktur kesadaran yang membuatnya tidak dengan begitu saja ditarik atau ditentukan lingkungannya. Jelas kiranya keingintahuan tidak dimiliki oleh benda-benada tak hidup menyerupai batu, tanah, sungai atau angina. Air dan udara memang bergerak dari satu daerah ke daerah lain, namun geraknya itu bukan atas kehendaknya sendiri tetapi sekedar akhir dari keharusan alamiah. Demikian juga halnya dengan makhluk-makhluk hidup menyerupai tumbuh-tumbuhan dan binatang. Sebatang pohon misalnya,kalau ia menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan atau gerakan hal itu terbatas pada mempertahankan kelestatian hidupnya yang bersifat tetap. Misalnya, daun-daun yang selalu cenderung mencari air yang kaya mineral untuk kebutuhan hidupnya. Kecendtungan semacam ini nampak berlangsung sepanjang zaman. Pengetahuan binatang pun bersifat tetap oleh Asimov (1972) disebut sebagai idle curiosity atau di buku lain disebut sebagai instinct (instink). Instink ini berpusat pada satu hal saja yaitu untuk mempertahankan kelestarian hidupnya. Untuk itu mereka perlu makan, melindungi diri dan berkembang biak. Memang insan juga mempunyai instink menyerupai yang dimiliki hewan, tetapi lain dengan mereka, insan sebagai mahluk berbudaya mempunyai kelebihan yaitu kemampuan berfikir dengan akalnya, serta kemampuan merasa dengan hatinya. Hati nurani insan secara naluri selalu ingin mengetahui dengan akalnya, ingin memenuhi kebutuhan hidup lebih baik dan lebih layak, sehingga terdorong melaksanakan perubahan sesuai nafsu harapan (lawwamah), ingin makan dan minum enak, mendorong insan untuk mengelola sumber daya alam yang ada sehingga terwujud aneka ragam masakan dan minuman yang sangat bervariasi. Ingin rumah mewah, mendorong insan untuk rnelakukan inovasi, menerapkan teknologi dan mangadopsi modernisasi. Dari sinilah kemudian lahir kebudayaan, sebagai manifestasi sikap insan sesuai latar belakang sistem budayanya. Karena memang hanya insan yang berkebudayaan. Dengan kata lain, curiosity insan tidak idle, tidak tetap sepanjang zaman. Karena mempunyai kemampuan berfikir, insan mempunyai keingintahuan yang berkembang. Manusia bertanya terus dan tidak hanya puas ihwal “apa”nya, tetapi ingin tahu ihwal “bagaimana” dan “mengapa”-nya. Manusia bisa memakai pengetahuannya yang terdahulu untuk dikombinasikan dengan pengetahuannya yang baru, menjadi pengetahuan yang lebih baru, hal demikian itu belangsung berabad-abad lamanya, sehingga terjadi akumulasi pengetahuan.
Sebagai ilustrasi kita bayangkan saja insan purba zaman dulu yang hisup di gua-gua atau di atas pohon. Karena kemampuannya berfikir tidak semata mata didorong oleh sekedar kelestarian hidupnya tetapi iuga untuk menciptakan hidupnya lebih menyenangkan maka mereka bisa menciptakan rumahdi atas tiang – tiang kayu yang kokoh dan bahkan insan bisa menciptakan istana bahkan menciptakan gedungpencakar langit. Bandingkan dengan burung tempua dengan sarangnya yang indah yang tampak tidak mengalami perubahan sepanjang zaman. Demikian juga harimau yang hidup dalam gua – gua atau kera yang menciptakan sarang di atas pohon tidak mengalami perubahan sepanjang zaman.
Baca Juga : Cara Membuat Rumusan Masalah Yang Benar

Pengetahuan intinya merupakan suatu produk aktifitas dan kreatifita smanusia, berdsarkan potensi aka luntuk berfiki dan hati yang mendorong seseorang untuk melaksanakan suatu agresi dan kreasi. Pada prakteknya ilmu pengetahuan ditemukan melalui banyak sekali perkiraan yang sangat bervariasi dalam sebagimana dijelaskan oleh Little John (1996:12-13) berkaitan dengan Creation of Knowledge :

Knowledge by Discovery, The discovery mode is so prevalent in the natural and social sciences that it is assumed by some to be the only appropriate route to knowledge, not just one possible avenue. This approach assumes that the world is outside the mind of the observer and list in wait of discovery. Knowledge in the discovery game is something you “get” by “observing”. The known is thus revealed to or received by the knower, which is why this approach to has been called “the received view”, the standard of good knowledge, in the discovery mode is objective and accurate observation, making validity the goal.
Knowledge by interpretation, for the interpretive scholar, knowledge cannot be discovered, intact because relity is not independent of the human mind, although a set of knowledge event are believed to exist, those events can be understood in a variety useful ways and can never be ascertained purely without the imposition of a set concepts by the knower. Thus, knowledge is transactional product of the knower and the known, because reality can be conceptualized in a variety of ways, the interpretive scholar does not view any one way of seeing the world as best. Although interpretations may be debated and criticized, the underlying assumption is that several theories may be good candidates for expressing what is known