Model Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis

0
12
Model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis. — Kemajuan  ilmu  pengetahuan  dan teknologi  (IPTEK)  di  era  globalisasi  yang begitu  pesat  seperti  saat  ini  menawarkan tuntutan  yang  begitu besar  di dalam  dunia pendidikan  untuk  menciptakan  sumber daya manusia  (SDM) yang berkualitas dan mampu  memenuhi  perkembangan zaman. SDM yang  berkualitas hanya  sanggup dicapai  dengan  memperbaiki  kualitas pendidikan di Indonesia. Perbaikan kualitas pendidikan  di  indonesia dapat  dilakukan dengan  cara mengubah  sistem pembelajaran yang selama ini dilaksanakan dari  sistem  pembelajaran  yang  berpusat pada  guru  (teacher  centered) menuju pembelajaran  yang  lebih  bermakna  yakni pembelajaran  yang  berpusat  pada  siswa (students  centered).  Sistem  pembelajaran yang  mengarahkan  keterpusatan  kepada siswa  (students  centerd) akan  sanggup menumbuhkan  dan  berbagi kreativitas dan melatih kemampuan berpikir kritis  siswa  dalam  pembelajaran  maupun dalam  memecahkan  permasalahan  yang dihadapi  dalam  kehidupan  sehari-hari.  Hal ini  dipertegas  oleh  pendapat  dari Noor (dalam  Muhfahroyin,  2009) yang menyatakan  bahwa  paradigma  student centered lebih  tepat  digunakan  untuk mengembangkan  pebelajar  yang  sanggup bangkit diatas kaki sendiri (self-regulated  learner) yang  bisa memberdayakan kemampuan berpikir kritis. 
Kemampuan  berpikir  kritis merupakan  keterampilan  yang  harus ditumbuhkembangkan  dan  dilatih  semenjak pendidikan dasar, sebab dengan dilatihnya kemampuan berpikir kritis siswa dari tingkat SD  akan memberikan  efek  yang  baik  dan dirasakan  manfaatnya  pada  tingkat pendidikan yang  lebih  tinggi. Kemampauan berpikir  kritis  akan  menumbuhkan kemandirian  siswa  sejak  dini  dan menyiapkan  siswa  untuk  mencar ilmu memecahkan permasalahan  yang dihadapi di  lingkungan  masyarakat.  Selain  itu, melatih  kemampuan  berpikir  kritis  pada siswa  sekolah dasar sangat dimungkinkan, karena  siswa  SD  sudah  mempunyai pengalaman  dan  pengetahuan  dasar walaupun  dalam  jumlah  yang  terbatas (Lambertus,  2009). Sejalan  dengan pendapat Lambertus,   Piaget  (dalam Japa, 2008)  juga  mengungkapkan  bahwa  bila ditinjau  dari  tingkat  berpikir  siswa,  siswa kelas  lima  SD  yang  berada  pada  tingkat operasi  formal  awal  sudah memiliki  potensi untuk  berpikir  kritis,  kreatif  dan  produktif. 
Oleh  karena  itu,  diperlukan  latihan  semenjak dini untuk melatih kemampuan berpikir kritis siswa  yaitu  dengan  cara  menumbuhkan kreativitas  dalam  belajar  memecahkan suatu  permasalahan  dan latihan  secara terus  menerus,  dengan  latihan  akan membuat  kemampuan  berpikir  kritis menjadi  suatu kebiasaan  yang  seharusnya ditanamkan  sejak  usia  dini  (Lambertus, 2009).
Berpikir  kritis  dapat  diartikan sebagai  kemampuan  berpikir  secara  terperinci dan  rasional,  dimana  dengan  berpikir  kritis siswa  dapat  memahami  permasalahan dengan  lebih  baik  dan  dapat  menemukan jawaban  yang  terbaik  terhadap permasalahan  yang  dihadapi  (Sihotang, 2010). Sejalan  dengan  pendapat  di  atas, Billy  Tunas  (dalam  Sihotang,  2010) menyatakan  bahwa  berpikir  kritis merupakan  dasar  dari  kemauan  sendiri, disiplin  diri,  memantau  sendiri,  dan memperbaiki  pikiran  sendiri  untuk  sanggup berkomunikasi dan memecahkan duduk masalah secara  lebih  efektif. Aryana  (dalam Dukalang,  2012) memodifikasi  indikator-indikator  kemampuan  berpikir  kritis    Ernis menjadi  enam  kreteria  dalam  menilai kemampuan  berpikir  kritis  mencakup merumuskan  masalah,  menawarkan argumen,  melakukan  deduksi,  melaksanakan induksi,  melakukan  evaluasi,  dan mengambil keputusan dan tindakan.