Memahami Pengertian Puasa (Shoum) Sebagai Rukun Islam

0
11
Puasa (Shaum) Dalam Islam. — Dalam bahasa arab, puasa disebut shaum yang berdasarkan fiqih diartikan dengan menahan diri. Yang dimaksud meninggalkan dan menahan disini ialah sesuatu yang mubah atau yang boleh, ibarat nafsu perut dan nafsu seks dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Puasa berdasarkan istilah menahan diri dengan sengaja dari makan, minum, berkumpul dengan istri dan segala sesuatu yang bekerjasama dengan aturan bersetubuh selama sehari penuh, yakni semenjak dari terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan niat menjalankan perintah Allah dan mendekatkan diri kepadaNya. Ada beberapa macam puasa berdasarkan hukumnya, yaitu: puasa fardhu, puasa sunnah, puasa haram, dan puasa yang hukumnya makruh.
Puasa fardhu ialah puasa yang wajib dilakukan. Puasa ini dikelompokan menjadi tiga yaitu: pertama, puasa fardu ‘ain yang harus dilakukan setiap individu dengan waktu yang telah ditetapkan Allah (puasa Ramadahan), kedua, puasa fardu yang dilakukan lantaran karena tertentu untuk memenuhi hak Allah (puasa kafarat), contohnya kafarat yamin yaitu membayar denda dikarenakan telah melanggar sumpah yang telah diucapkan. Ketiga, puasa fardu yang wajib dilakukan lantaran seseorang mewajibkan puasa tersebut atas dirinya, ibarat puasa nazar.
Puasa sunah ialah puasa yang apabila dikerjakan mendapatkian pahala, apabila tidak ditinggalkan mendapat dosa. Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata: Rosulullah SAW, bersabda: “ Apabila salah seorang diantara kalian diundang. Hendaklah ia menghadirinya. Jika ia sedang berpuasa, hendaklah ia mendoakan, dan kalau tidak berpuasa hendaklah ia maka. Ada beberapa pola puasa sunah didalam agama islam:
1.    Puasa enam hari pada bulan syawal
Dari Abu Ayub, Rosulullah saw telah berkata: barang siapa puasa pada bulan ramadhan kemudian ia puasa pula enam hari pada bulan syawal ialah ibarat puasa sepanjang masa (H.R Muslim)
2.    Puasa hari arafah (9 dzulhijjah) terkecuali orang yang sedang menegrjakan ibadah haji, maka tidak disunahkan atasnya.
Dari Abu Qatadah, Nabi saw, telah berkata: Puasa hari arafah itu menghapuskan dosa dua tahun, satu tahun yang telah lalu, dan satu tahun yang akan datang. (H.R Muslim)
3.    Puasa hari Asyura (10 muharam)
Dari Abu Qatadah, Rosulullah saw, telah berkata: puasa pada hari Asyura itu menghapus dosa satu tahun yang telah lalu. (H.R Muslim)
4.    Puasa bulan sya’ban
Kata Aisyah: “saya tidak melihat Rosulullah saw, menyempurnakan puasa satu bulan cukup selain dari bulan Ramadhan dan saya tidak melihat ia pada bulan-bulan yang lain berpuasa lebih banyak dari bulan sya’ban. (H.R al-Bukhari, Muslim)
5.    Puasa hari Senin dan Kamis
Dari Aisyah: Nabi saw menentukan waktu puasa hari senin dan hari kamis (H.R at-Tirmidzi)
6.    Puasa tengah bulan (tanggal 13, 14, 15) dalam tiap-tiap bulan Qomariah (tahun Hijriah)
Dari Abu Dzar. Rosulullah saw telah berkata: Hai Abu Dzar apabila engkau hendak puasa hanya tiga hari dalam satu bulan, hendaklah engkau puasa tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas. (H.R Bukhori)
Puasa haram dan puasa makruh dikerjakan yaitu berpuasa terus menerus sepanjang masa, serta masuk dua hari raya dan hari tasyri’. Hukumnya haram dan kalau tidak masuk hari raya dan hari tasyri’ hukumnya makruh. Rosulullah saw bersabda: berkata Rosulullah saw sebetulnya Tuhanmu mempunyai hak atasmu, yang wajib engkau bayar, begitu juga ahlimu dan dirimu semua mempunyai hak yang wajib engkau bayar, maka dari itu, hendaklah engkau berpuasa, sewaktu-waktu dan berbuka pula sewaktu-waktu, berjaga malam sewaktu-waktu dan tidur diwaktu yang lain. Dekatilah ahlimu, dan berikanlah hak mereka satu persatu. (H.R al- Bukhari)
Adapun cara penetapan waktu puasa yaitu dengan hisab dan rukyat. Penetapan waktu puasa dengan rukyat. Rukyat ialah cara memutuskan bulan Qomariyah (Ramadhan) dengan jalan melihat dengan memakai panca indera mata (penglihatan) ihwal timbul atau munculnya bulan sabit. Jika langit berawan dan cuaca buruk, sehingga bulan tidak sanggup dilihat, maka hendaknya memakai prinsip istiqmal, (menyempurnakan bilangan bulan sya’ban menjadi 30 hari). Dan yang kedua mengetahui awal bulan dengan hisab, hisab ialah cara memutuskan bulan Qomariyah (ramadhan) dengan memakai perhitungan secara ilmu astronomi atau ilmu falak, sehingga sanggup ditentukan posisi bulan secara eksak. Lihat Q.S Yunus dan hadist riwayat muslim dan ibnu umar (abdullah).
Islam ialah agama yang diturunkan Allah bagi seluruh insan sehingga ajaraNya sanggup diterapkan disegala waktu dan kondisi termasuk didaerah kutub yang hnaya memilki satu siang dan satu malam selama satu tahun. Syeh Mahmud Syaltut dalam bukunya Al-Fatawa menyebutkan bahwa hanya ada dua alternatif aturan bagi penduduk tempat kutub dalam melakukan ibadah khususnya puasa, yaitu:
a.    Karena didaerah kutub tidak berlaku batasan-batasan waktu sebagaimana dibelahan bumi pada umumnya (normal), maka aturan yang berkenaan dengan ibadah puasa (dan shalat) yang pelaksanaannya dibatasi oleh dimensi waktu tidak berlaku. Dengan demikian, penduduk tempat kutub dibebaskan dari kewajiban puasa (maupun sholat)
b.    Meskipun kertentuan waktu sebagaimana terdapat dalam fatwa fikih islam tidak ada, tetapi nilai aturan tetap berlaku, lantaran fatwa islam berlaku untuk segala kondisi dan tempat. Untuk itu, ketentuan yang digunakan untuk tempat kutub, khususnya berkaitan dengan puasa mengambil persamaan dengan tempat lainnya yang paling dekat.
Puasa bagi pekerja berat, yang dimaksud dengan pekerja berat dalam pembahasan ini ialah orang-orang yang mempunyai mata pencaharian atau pekerjaan yang dinilai berat, terutama dari aspek fisik (tenaga). Dalam syari’at islam sendiri terdapat ketentuan bahwa, kewajiban puasa itu berlaku bagi yang bisa berpuasa. Agar bisa berpuasa, dibutuhkan kondisi fisik yang sehat dan kuat. Orang yang tidak bisa berpuasa lantaran sakit, fisik lemah lantaran usia tua, kondisi tubuh lemah lantaran hamil merupakan alasan (uzur) yang dibenarkan oleh islam, dengan catatan mereka wajib menggantinya (qada) pada hari lain atau membayar fidyah. Ketentuan aturan ibarat ini disebut dispensasi atau ruksah.
    Dalam Al-Qur’an dan hadis orang yang berhak memperoleh keringanna tidak berpuasa lantaran alasan yang dibenarkan oleh syari’at islam sanggup dikategorikan menjadi dua kelompok, yaitu:
a.    Orang sakit yang tidak sanggup berpuasa, tetapi masih ada impian sembuh dan musafir. Bagi mereka diperbolehkan tidak berpuasa pada bulan ramadhan tetapi harus mengganti puasa yang ditinggalkan pada hari lain
b.    Orang yang uzur menjalankan puasa lantaran usia tua, sakit yang berkepanjangan, perempuan hamil atau menyusui anaknya. Bagi mereka diperbolehkan tidak berpuasa dan tidak pula mengqadanya melainkan wajib membayar fidyah.
 Hikmah dan rukhsah dalam berpuasa
1.    Hikmah berpuasa
a.    Menumbuhkan nilai-nilai persamaan selaku hamba allah
b.    Memperkokoh perilaku tabah menghadapi cobaan dan godaan
c.    Menanamkan sifat jujur dan disiplin
d.    Mendidik jiwa biar sanggup menguasai diri (hawa nafsu)
e.    Dll
2.    Hikmah rukhsah
a.    Sebagai bukti bahwa fatwa islam sangat bijaksana dan tidak memberatkan
b.    Sebagai bukti bahwa fatwa islam, disambing konstektual dan kondisional juga memperhatikan aspek keanusiaan (manusiawi)
c.    Sebagai bukti bahwa puasa merupakan ibadah yang bekerjasama pribadi dengan Allah SWT. Dan sekaligus berdimensi sosial, memperhatikan kesejahteraan bersama.
Dalam fatwa islam, disamping ada perintah menjalankan puasa, baik puasa wajib maupun puasa sunnah, juga terdapat larangan berpuasa pada hari-hari tertentu, yaitu:
a.    Dua hari raya, yaitu hari raya idhul fitri (1 syawal) dan hari raya idul adha (10 dzulhijah)
b.    Hari-hari tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 dzulhijah.
c.    Akhir bulan sya’ban atau hari yang mewaspadai yang disebut shaum syak.
Ketentuan-ketentuan larangan berpuasa pada hari-hari tertentu tersebut merupakan petunjuk bahwa fatwa islam itu sangat meperhatikan aspek-aspek manusia. Pada ketika hari tersebut sanggup dimanfaatkan untuk bergembira.

Tanya jawab !
1.    Jika untuk puasa wajib niatnya pada malam hari sebelum terbit fajar, tetapi kalau puasa sunnah niatnya boleh dilaksanakan pagi hari atau siang hari. Yang ditanyakan disini, yang dimaksudkan disitu apakah diwaktu pagi kita boleh makan terlebih dahulu atau bagaimana?
Jawab: tetap tidak diperbolehkan, yang dimaksudkan boleh niat pada pagi atau siang hari dalam puasa sunnah disini pada ketika paginya belum makan sama sekali
2.    Apa pola dari puasa haram itu?
Jawab: Dua hari raya, yaitu hari raya idhul fitri (1 syawal) dan hari raya idul adha (10 dzulhijah), Hari-hari tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 dzulhijah, Akhir bulan sya’ban atau hari yang mewaspadai yang disebut shaum syak
3.    Pingsan yang ibarat apa yang membatalkan puasa?
Jawab: pingsan yang sanggup menghilangkan kewajiban berpuasa seseorang, ibarat koma, kritis, dan sakit-sakit yang sanggup mendapat rukhsoh bagi yang menjalani
4.    Niat itu dilafalkan atau tidak?
Jawab: boleh dilafalkan boleh tidak, tergnatung masing-masing individu. Tapi pada dasarkan kalau kita akan melakukan sesuatu niscaya secara otomatis sudah ada niat didalam hati.

Nama                        : Shofia Gita Qomariatus Ardiana
NIM                         : 20161114056
Jurusan / PRODI     : FKIP/PGPAUD
Mata kuliah              : AIK 2
Tugas                       : Review
Dosen Pengampu    : Sokhibul Arifin