Makna Dan Ciri Interaksi Belajar

0
11

Makna dan Ciri Interaksi Belajar. — Interaksi biasanya berkenaan dengan unsur komunikasi (hubungan) yang didalamnya terdapat dua pelaku yaitu komunikator dan komunikan serta sesuatu yang menjadi materi interaksi yang disebut pesan (message). Pesan disampaikan oleh komunikator kepada komunikan melalui media atau susukan yang disebut channel (Sardiman AM, 2005 : 7). Penyampaian pesan bisa searah tetapi kebanyakan dua arah atau lebih. Komunikator saat memberikan pesan kepada komunikan menempati posisi sebagai subjek dan objeknya ialah komunikan. Tetapi, saat komunikan memberikan pula pesan kepada komunikator dalam bentuk feed back, maka komunikan berubah posisi menjadi komunikator dan jadinya sebagai subjek penyampai pesan, demikian pula komunikator menjadi komunikan. Keempat unsur komunikasi ini sama-sama mempunyai pesan, demikian pula komunikator menjadi komunikan. Keempat unsur komunikasi ini sama-sama mempunyai tugas dalam kesuksesan penyampaian informasi.

Sebagai mahluk sosial (zoon politicon) manusi tidak sanggup hidup sendirian. Ia memerlukan orang lain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya baik yang bersifat material maupun spiritual. Karena itu, kegiatan komunikasi merupakan bab yang hakiki dalam kehidupan manusia. Demikian pula dalam kegiatan berguru mengajar (interaksi edukatif) intinya merupakan komunikasi timbal balik antara pengajar (dosen atau guru) dan yang diajar (mahasiswa atau siswa) dengan maksud untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam interaksi berguru mengajar, pengajar sebagai komunikator memberikan pesan berupa ilmu pengetahuan kepada yang diajar (peserta didik) melalui media pendidikan atau pembelajaran.

Suatu interaksi berguru mengajar secara sadar dilakukan untuk mencapai tujuan, yaitu mengantarkan anak didik ke arah kedewasaannya. Dalam hal ini, interaksi berguru mengajar merupakan sarana untuk mencapai tujuan tersebut. Hal pokok dari kegiatan berguru mengajar ialah sejauhmana tujuan yang telah ditetapkan sanggup tercapai. Hanya saja, tidak sanggup dikatakan bahwa interaksi berguru mengajar tidak penting, alasannya ialah keberhasilan pembelajaran yang indikatornya berupa tercapainya tujuan tergantung pada bagaimana interaksi berguru mengajar dilaksanakan sehingga kegiatan itu harus direncanakan atau disengaja. Pendidikan dan pengajaran, memang, merupakan suatu perjuangan yang secara sistematis terarah pada upaya perubahan tingkah laris menuju kedewasaan anak didik.

Dapat digambarkan contohnya sorang penerima didik dibimbing, dibina dan ditolong, sehingga pada waktunya saat dilepaskan dari forum pendidikan dimana ia digodok, ia sanggup menjadi insan berguna, bergaul ditengah masyarakat, dan bisa mencari penghidupan dengan bekal ilmu yang telah diperolehnya selama pendidikan. Ketika belajar, penerima didik mengalami suatu proses ‘pertolongan’ kearah yang lebih maju. Barangkali alasannya ialah itulah, pestalozzi sebagaimana dikutip Sardiman AM. (2005 : 17) menyampaikan bahwa makna dan tujuan pendidikan itu ialah Hilfer zur selbsthilfe, artinya pemberian untuk pemberian diri.

Perubahan-perubahan yang dialami penerima didik diperoleh melalui suatu proses pendidikan dan pengajaran melalui interaksi tertentu. Dalam proses interaksi itu diharapkan komponen-komponen pendukung berupa tujuan, bahan/pesan, siswa/mahasiswa, guru/dosen, metode, situasi, dan penilaian. Interaksi berguru mengajar, sebagaimana dijelaskan oleh Edi Suardi dalam bukunya Paedagogik (1980 : 15-17) mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

  1. memiliki tujuan, yakni membantu penerima didik dalam suatu perubahan yang berupa pengembangan tertentu baik pada ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik. perubahan dilakukan secara sedikit demi sedikit melalui proses pembelajaran dengan interaksi tertentu.
  2. adanya suatu mekanisme interaksi yang direncanakan dan didesain untuk mencapai tujuan itu. Interaksi berguru mengajar tidak dilakukan semata berdasar selera dan harapan pengajar tetapi direncanakan dan didesaim melalui Satuan Acara Pembelajaran atau Perkuliahan (SAP)
  3. adanya suatu pengajaran materi khusus. Materi pengajaran ini tersusun secara sistematis dan lengkap dalam suatu kurikulum.
  4. adanya kegiatan siswa, baik fisik maupun mental yang dilakukan di dalam kelas ataupun di luar kelas.
  5. dalam interaksi itu, guru/dosen berperan sebagai pembimbing baik sebagai motivator, mediator, maupun designer. Guru/dosen mengarahkan dan membawa siswa/mahasiswa pada tujuan pembelajaran dengan teknik, metode, dan mekanisme yang berlaku.
  6. dibutuhkan disiplin dengan langkah-langkah tertentu sesuai prosedur
  7. adanya batas waktu, yakni interaksi berguru mengajar ditempuh dalam waktu tertentu dan tujuan harus pula sanggup dicapai dalam jangka waktu itu.