Konsep Dan Jenis Penelitian Kualitatif

0
11
Penelitian kualitatif diterapkan oleh peneliti dengan maksud menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis, atau ekspresi dari orang-orang yang diamati secara partisipasi. Penetilian kualitatif sebagai tradisi yang sangat spesifik dalam kajian ilmu pengetahuan sosial, kegiatan dakwah dan pendidikan, dilakukan dengan cara bergabung pada kegiatan pengamatan terhadap insan dalam kawasannya sendiri, serta berafiliasi dengan orang-orang tersebut dalam bahasa dan istilah yang berlaku dikalangan mereka. Peneliti menempatkan diri dalam posisi selaku anggota masyarakat berbaur mengikuti arus perjalanan aktifitas sosial masyarakat pada umumya, tanpa alat kecuali dirinya sendiri sebagai instrumen penelitian.
Judistira K. Garna (1999 : 32-37) menjelaskan “penggunaan model naturalistik, inquiry, memerlukan insan sebagai instrumen alasannya yaitu penelitiannya yang syarat oleh muatan naturalistik”. Beberpa istilah lain yang dipakai untuk menyebut pendekatan kualitatif naturalistik atau penelitian ilmiah yaitu etnografi atau etnometodologi, studi kasus, perspektif dalaman, penafsiran dan istilah lainnya.
Konsep etnografi yang dikenal juga dengan istilah etnometodologi atau folk description, hakekatnya merupakan upaya penelitian untuk menandakan bagaimana banyak sekali gagasan serta tindakan sosial dalam suatu ruang dan waktu itu mengandung makna. Etnografi yaitu penggambaran rinci suatu kebudayaan, menyerupai dikemukakan oleh Spreadly (1972 : 3) ”The central aim of ethanography is to understand another way of life from the native point of view”.
Baca juga : Metode Analisis Data Dalam Penelitian

Konsep penelitian kualitatif, berdasarkan Noeng Muhajir (1996 : 86) intinya sanggup dikelompokkan menjadi empat model, yaitu “model grounded research dari Glaser dan Strauss, model etnometodologi dari Bogdan, model paradigma naturalistik dari Guba dan Lincoln, dan model interaksi simbolik dari Blumer”. Istilah pendekatan kualitatif dimaksudkan untuk menyebut tujuan penelitian dan bagaimana penelitian itu dilakukan, sebagai metode dan teknik kajian, yang keseluruhannya dilakukan secara kualitatif. Dilihat dari pemakaian banyak sekali istilah itu lebih lanjut sanggup dijelaskan kiprah dan aktifitas peneliti sesuai konsep naturalistik sebagai penelitian alamiah yang mempunyai karakteristik tersendiri, antara lain : Peneliti dalam hal ini berperan sebagai instrumen penelitan. Peneliti sendiri yang tiba ke lokasi, berada ditengah masyarakat. Peneliti juga yang mecatat sendiri gajala-gejala insiden yang disaksikan, dialami dan dirasakan selama berada di lokasi, sambil menyaksikan sikap orang-orang yang terlibat dalam aktifitas sosial, dakwah dan pendidikan, sekaligus mengambil foto dokumentasi untuk mendukung bukti-bukti visual. Penggunaan pengetahuan antara penelti dan yang diteliti dilakukan secara setara. Peneliti memahami betul sikap masyarakat atau individu yang diteliti dan berlaku sebagaimana sikap mereka pada umumnya. Peneliti berusaha memakai bahasa masyarakat, peneliti mengikuti keadaan dengan bahasa yang berlaku. Peneliti juga memakai sistem pengetahuan yang sederhana sesuai dengan taraf pengetahuan rata-rata masyarakat yang diteliti. 

Metode kualitatif dilakukan dengan cara peneliti benar-benar tiba ke lokasi memakai alat kualitatif, kerangka berpikir kualitatif dan data yang dikumpulkan juga data-data kualitatif. Kecuali untuk beberapa tanda-tanda tertentu yang bersifat penghitungan dikumpulkan juga data kuantitatif. Penyajian data kuantitatif diwujudkan dalam bentuk tabulasi atau grafik. Langkah ini dilakukan untuk mendeskripsikan apa yang sesungguhnya terjadi dilokasi.
Penentuan populasi diharapkan sebagai fatwa untuk mempermudah peneliti memilih kelompok target yang dijadikan obyek penelitian. Makara bukan untuk representasi kelompok menyerupai yang berlaku pada penelitian kuantitatif. Secara purposif, peneliti menghubungi orang-orang yang terkait eksklusif dengan insiden sosial, aktifitas dakwah dan pendidikan. Informan kunci, bisa para tokoh masyarakat terkait, bisa juga juru dakwah dan mad’unya, atau para guru, pendidik dan akseptor didik. Peneliti juga mendatangi lokasi-lokasi penelitian yang sudah diketahui sebelumnya menjadi sentra penelitian. Peneliti menerapkan analisis data secara induktif, dikembangkan dengan kerangka berfikir induktif. Dari beberapa pendapat yang bersifat general berlaku umum, kemudian ditarik klarifikasi yang lebih bersifat spesifik. 
Teori tumbuh dari dasar, bersumber dari hasil penelitian lapangan, informasi eksklusif dari masyarakat, serta insiden yang terjadi di lokasi. Namun demikian sebagai fatwa pengetahuan dasar, peneliti juga membekali diri dengan kerangka berfikir kualitatif, berupa premis-premis dan hipotesis kerja untuk fatwa pertanyaan penelitian. Desain penelitian bersifat sementara, alasannya yaitu terbuka kemungkinan situasi dan kondisi di lapangan berbeda atau berubah dari referensi yang telah ditetapkan. Pada hakikatnya hasil penelitian itu ialah janji subyek kajian, berdasarkan komunikasi eksklusif antara peneliti dengan yang diteliti. 
Konsep etnografi dikenal juga dengan istilah entometodologi atau folk description, hakikatnya merupakan upaya penelitian untuk menata dan menunjukkan bagaimana gagasan serta tindakan sosial masyarakat dalam suatu tradisi ruang dan waktu itu mengandung makna. Peneliti berusaha menafsirkan makna tindakan dari setiap orang yang diteliti, baik individu, kelompok atau masyarakat. Pola pikiran dan pandangan hidup orang atau kelompok masyarakat yang harus diungkapkan melalui penelitian etnografi yaitu bagaimana mereka sendiri melihat, beranggapan, bersikap serta bertindak dalam dunianya begitu juga dalam melihat dunia orang lain. Sebagaimana dijelaskan oleh Malinowski bahwa tujuan etnografi ialah “to grasp the native’s point of view, his relation to life, to realize his vision of his world”.
Etnografi yaitu wadah dan proses untuk memperoleh data lapangan melalui field work, dengan memakai teknik observasi partisipasi serta kemampuan berkomunikasi melalui bahasa masyarakat yang diteliti. Hal ini sesuai dengan ungkapan Berreman (1968 : 237) Etnografi is “a written report summarizing the behaviors and the beliefs, understandings, and values they imply, of a group of interacting people”. (intisari dari sumber bacaan, Judistira K. Garna, 1999 : 32-37). 
Berkenaan dengan konsep entografi sebagai model pendekatan yang banyak dilakukan oleh para hebat antropologi, Marcus dan Fischer (1986 : 18) menjelaskan konsep Etnography is a research process in which the antropolologist closely observes, records, and engages in the daily life of another culture- and experience labeled as the fieldwork method and then writes accounts are the primary form in which field work procedures (Etnografi yaitu proses penelitian dimana hebat antropologi mengamati orang-orang, mencatat dan memakai kehidupan diri dari kebudayaan lain, sebagai suatu pengalaman metode kerja lapangan, kemudian menulis perhitungan pokok sesuai prosedur). Dengan pendekatan etnografi, secara partisipasi peneliti mengamati sikap orang perorang yang menarik perhatian peneliti, Pola pikiran dan pandangan hidup orang atau kelompok masyarakat yang harus diungkapkan melalui penelitian entografi yaitu bagaimana mereka melihat, beranggapan, bersikap serta bertindak dalam dunianya sendiri begitu juga dalam melihat dunia orang lain. Dalam penelitian entografi, peneliti telah berusaha bersabar menjadi pendengar yang baik, apa yang “diobrolkan”, apa yang dikatakan, apa yang dilakukan, dst.
Baca juga : Makna Dasar Penelitian Secara Umum

Etnografi yaitu wadah proses untuk melihat data lapangan melalui field work, dengan memakai tehnik observasi partisipasi serta kemampuan berkomunikasi melalui bahasa masyarakat yang diteliti. Observasi partisipasi dilakukan dengan cara pengamatan terlibat dalam insiden sosial, dakwah dan pendidikan. Untuk kegiatan sosial yg kebetulan dianggap tidak bertentangan dengan aqidah Islamiah atau sistem ideologi yang diajarkan Islam, pengamatan dilakukan secara full partisipasi. Dalam hal kegiatan yang dianggap bertentangan dengan norma dan nilai-nilai sosial, agama dan etika, peneliti melaksanakan quasi partisipasi, yakni berpura-pura sebagai penganut kelompok tertentu. Quasi partisipasi model ini diterapkan oleh peneliti, alasannya yaitu peneliti merasa membutuhkan informasi akurat, sementara itu tidak semua informan khususnya para pelaku menyimpang sanggup mendapatkan dan menunjukkan informasi seadanya. 

Penerapan metode etnografi, dimaksudkan untuk sanggup mempelajari kebudayaan lain, untuk membangun pengetahuan dan banyak sekali macam deskripsi kebudayaan serta bermakna untuk membangun suatu pengertian yang sistematik mengenai semua kebudayaan insan dari perspektif orang yang telah mempelajari kebudayaan itu. Hal demikian itu sesuai dengan Premis Blummer (1969), sebagai landasan teori kebudayaan, bahwa : (1) Manusia melaksanakan banyak sekali hal atas dasar makna yang diberikan oleh banyak sekali hal itu kepada mereka. (2) Makna banyak sekali hal itu berasal dari atau muncul dari interaksi sosial seseorang dengan orang lain. (3) Makna ditangani atau dimodifikasi melalui suatu proses penafsiran yang dipakai oleh orang dalam kaitannya dengan banyak sekali hal yg dihadapi. Selanjutnya Noeng Muhajir (1996:86) menjelaskan bahwa “Model penelitian kualitatif sesungguhnya dikembangkan dalam upaya melepaskan diri dari referensi pikir kuantitatif. Para hebat ilmu sosial, khususnya hebat sosiologi, berupaya menemukan teori berdasarkan data empirik”.
Sesuai dengan model penelitian kualitatif ilmu sosial yang dijelaskan Schlegel (1986:19) peneliti menerapkan seni administrasi penelitian sebagai suatu struktur yang terdiri dari langkah – langkah sebagai berikut:
  1. Peneliti mengiventarisasi manakah kelompok – kelompok atau individu – individu yang penting harus dipertimbangkan. Dalam hal ini peneliti melaksanakan inventarisasi kelompok dan individu yang terlibat dalam kegiatan sosial, dakwah dan pendidikan.
  2. Peneliti membandingkan unsur – unsur persamaan dan perbedaan diantara kelompok masyarakat.
  3. Peneliti melaksanakan pemilahan ciri – ciri yang penting dari setiap kategori.
  4. Dari hasil penelitian ini peneliti menunjukkan sifat – sifat terhadap kategori – kategori yang utama berafiliasi satu dengan lainnya.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi partisipasi, yakni pengamatan terlibat terhadap seluruh fenomena dan sikap masyarakat yang bisa diamati. Peneliti melibatkan diri, berbaur dengan anggota masyarakat atau kelompok orang yang diteliti. Peneliti eksklusif menjadi alat pengumpul data, peneliti berusaha memahami sikap masyarakat yang terlibat dalam aktifitas sosial, dakwah dan pendidikan secara empati, bahkan berprilaku sebagai anggota masyarakat pada umumnya.
Untuk melengkapi informasi, peneliti menerapkan teknik wawancara mendalam, dengan memakai bahasa dan peristilahan masyarakat setempat, berprilaku secara tenggang rasa sambil turut mencicipi apa yang mereka rasakan, sehingga realitas sosial sesuai konteks kebudayaan sanggup diungkap secara akurat. Secara sosiologi antropologi, penelitian dilaksanakan berdasarkan field work. Peneliti mengejar data sebagai hunter secara grounded, untuk merekonstruksikan sistem sosial dalam wujud sikap yang riil. Sesuai norma antropologis, maka pengumpulan data akan diprioritaskan kepada how it is, yakni bagaimana adanya atau apa adanya dilapangan penelitian”. (Vriden Bregt, 1974:89).
Untuk memahami fenomena pada sikap masyarakat, peneliti menggonakan model pendekatan holistik fenomenologis, dengan cara melihat tanda-tanda – tanda-tanda sikap masyarakat secara menyeluruh (holis) dan dinamis. Pendekatan fenomenologis yaitu model pendekatan sosiologi/antropologi yang pernah dikembangkan oleh Alfred Schutz (1899 – 1959) bahwa “sosiologi fenomenologis mempunyai kemampuan tertentu untuk memperjelas dan memahami makna suatu tindakan, atau makna dibalik suatu insiden melalui interaksi simbolik”.
Bahkan dalam interaksi sosial ada makna, norma serta nilai yang sanggup dikonstruksikan serta digali secara mendalam melalui observasi partisipasi, sebagaimana dijelaskan Wiseman dan Aron (1970:27 – 37)
Traditionally, participan observation requirs access to a group of community over a long time period”.
Dalam waktu yang cukup lama, peneliti hidup bersama, berperilaku dan mencicipi menyerupai layaknya anggota masyarakat yang menjadi obyek penelitian.
Peneliti dengan teori yang sudah disipakan walaupun tidak baku, berusaha melaksanakan observasi memakai alat pengumpul data yang lebih banyak didominasi dalam penelitian kualitatif. Seperti pengalaman etnografis para peneliti lapangan yang dijelaskan Koentjaranigrat (1982: 160) mengungkapkan pengalaman Radcliffe Brown diantara penduduk Negrito dari kepulauan Andaman disebelah utara pulau Sumatera. Melalui integrasi struktural fungsional ia sanggup menjelaskan wacana “Konsep kebudayaan yang berkaitan erat dengan upacara keagamaan, keyakinan keagamaan dan mitologi atau dongen – dongen suci”.
Penelitian lapangan secara kualitatif etnografi, barangkali juga tidak jauh berbeda dengan pengalaman penelitian lapangan Malinowski yang dilaksanakan dikalangan masyarakat Trobriand disebelah tenggara Papua Nugini. Penelitian menghasilkan konsep teori wacana fungsi sosial masyarakat yang besar lengan berkuasa terhadap perkembangan kebudayaan. Dengan teknik observasi mendalam, pendekatan etnografi diharapkan bisa menerangkan latar belakang dan fungsi budbahasa istiadat, tingkah laris insan dan pranata – pranata sosial yang berlaku dikalangan masyarakat. Melalui observasi dan wawancara mendalam peneliti juga bisa memahami makna tingkah laris masyarakat. Dalam aktifitas sosial misalnya, peneliti bisa berhadapan secara tenggang rasa dengan kelompok masyarakat miskin, masyarakat marginal. Dalam kegiatan dakwah, peneliti bisa berkomunikasi dengan para juru dakwah, masyarakat mad’u, serta problema dakwah yang dihadapi. Dalam kegiatan pendidikan, peneliti bisa mengamati sikap guru selaku pendidik atau para siswa sebagai akseptor didik.
Craib (1994: 136) menegaskan bahwa “paradigma fenomenologis memakai konsep kebersamaan yang bersifat simbolis untuk memahami tindakan seseorang”. Dalam hal ini, pendekatan fenomenologis bertujuan untuk menemukan unsur – unsur kehidupan sosial, dengan cara merefleksikan pengalaman sosial, berdasarkan pada kesadaran diri yang beritneraksi dengan orang lain. “Dengan metode ini penelitian dilakukan secara sadar untuk meninggalkan segala prasangka mengenai keadaan masyarakat atau realitas sosial”. (Campbell, 1981: 234).
Model pendekatan holistik diterapkan oleh peneliti identik dengan pendekatan sistem, dimana komponen sikap yang mendukung terlaksananya aktifitas sosial, dakwah dan pendidikan, hakekatnya merupakan sub-sistem sub-sistem yang terkait dalam suatu sistem budaya. Turner (1979: 71) mejelaskan bahwa “konsep sistem sosial sebagai refleksi kebudayaan, sesungguhnya merupakan kelanjutan pemikiran Talcott Parsons, dengan teori tindakan sosialnya dalam ”The Structure of Social Action”. Sistem kebudayaan diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol yang diciptakan dan dipakai oleh manusia. Sistem sosial diwujudkan dalam bentuk relasi masyarakat yang tercipta dari adanya interaksi antar individu manusia. Dalam kehidupan sosial, dakwah dan pendidikan, semua sub-sistem masyakarat saling terkait secara struktural. Ketertarikan antar sistem dalam aktifitas sosial mempunyai fingsi yang sangat penting bagi terciptanya keseimbangan dalam kehidupan masyarakat, sebagaimana juga dikembangkan dalam teori fungsional struktural Radcliffe Brown, yang diungkapkan oleh Spreadly (1971: 7) “American anthropological tradition, restricting its reference to transmitted and created content patterns of values, ideas and other symbolic meaning-ful system as factor in the shaping of human behavior