Kerajaan Islam Di Pulau Sumatera

0
15
Kerajaan islam di pulau sumatera – Selamat malam sahabat Blogger jemo lintank, sebelum admin mau bobo nih admin membahas dulu wacana Kerajaan islam di pulau sumatera, semoga nambah pengetahuan 🙂
 Selamat malam sahabat Blogger jemo lintank Kerajaan Islam di Pulau Sumatera
Kerajaan Islam di Pulau Sumatera
Pada tahun 1292 Seorang pengelana berjulukan Marco Polo berlabuh di pulau sumatera dan mencatat bahwa sebagian penduduk sumatera ialah pemeluk islam dan sebagian penyembah berhala atau pemeluk animisme. Tercatat pula nama sebuah kerajaan yang disebut Ferlcec.  Akan tetapi, seiring dengan perkembangan kerajaan islam di sumatera, penyebaran islam mencapai wilayah yang jauh di pedalaman sehingga islam   diterima oleh lebih banyak didominasi masyarakat sumatera. (Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus Af).
Beberapa kerajaan yang mewarnai perjalanan islam di sumatera antara lain kerajaan perlak, samudera pasai, dan kerajaan Aceh.
a. Kerajaan Perlak

Kerajaan Perlak ialah kerajaan islam yang berdiri pertama kali di sumatera. Kerajaan perlak disebut juga kerajaan Peureula. Demikian menuru Prof. Ali Hasymy. Perlak merupakan kota dagang penyedia kamper paling terkenal. Oleh sebab itu, banyak orang dari luar negeri yang tiba ke daerah tersebut. Hal ini tentu menawarkan efek yang konkret bagi masyarakat. Masyarakat merasa kebutuhannya tercukupi sehingga kemakmuran pun dirasakan oleh mereka. Kerajaan perlak berdiri pada pertengahan periode IX.
Raja pertama di kerajaan Perlak berjulukan SULTAN ALAUDDIN SYED MAULANA ABDUL AZIZ SYAH. Kemunculan Kerajaan Perlak tidak lepas dari komunitas muslim arab yang tiba dari tanah arab. Komunitas  ini disyinyalir ialah sebagian pengikut ALI BIN ABI TALIB atau kelompok Syiah yang melarikan diri akhir kontradiksi politik di madinah. Tidak heran kalau pada awalnya syiah mewarnai islam yang berkembang di ujung sumatera ini. Warna syiah terlihat dari pendiri kerajaan ini, yaitu ALLAUDDIN SYED MAULANA ABDUL AZIZ SYAH yang beraliran syiah.
Selanjutnya, seiring dengan stabilnya keadaan politik umat islam di arab, para dai sunni berkelana untuk membuatkan islam hingga hingga di kerajaan Perlak. Aliran sunni pertama kali masuk pada masa sultan ketiga, SULTAN ALAUDDIN SYED MAULAN ABBAS SYAH. Setelah wafatnya, pada tahun 300 Hijriah atau 913 Masehi terjadi pertempuran antara penganut syiah dan sunni di perlak hingga tidak ada sultan selama dua tahun. Kaum syiah memenangkan pertarungan pada tahun 302 Hijriah dengan naiknya Sultanm Alauddin Syed Maulana Ali Muggayat Shah yang beralirkan syiah.
Pada final pemerintahan sultan ini, kembali terjadi pertempuran yang dimenangkan oleh kaum sunni sehingga sultan-sultan berikutnya berasal dari kaum sunni. Dengan demikian, syiah yang sempat mewarnai perkembangan awal islam disumatera berganti dengan warna sunni hingga dikala ini.
Kerajaan Perlak mengalami pasang surut akhir perebutan antartokoh. Hal ini menyebabkan para pedagang mengalihkan perdagangannya ke samudera pasai yang mulai muncul. Pada final periode XII Kerajaan perlak pun balasannya mengalami kemunduran.
b. Kerajaan samudera pasai

Kerajaan samudera pasai sanggup disebut sebagai penerus kerajaan perlak. Penyebaran islam dari kerajaan perlak mencapai wilayah samudera pasai semenjak awal berdirinya kerajaan perlak. Pada dikala kerjaan perlak diperintah oleh sultan XVII, Yaitu sultan Makhdum Alauddin Malik Muhamad Amin Shah II johan Berdaulat, terjadi ijab kabul politik antar dua putri sultan dengan penguasa negeri tetangga. Putri pertama, yaitu putri ratna kamala di nikahkan dengan raja kerajaan malaka, sultan mahmud shah atau parameswara dan putri kedua, putri Ganggang, dinikahkan dengan raja samudera pasai, almalikus saleh. Setelah sultan ke 18 meninggal, kerajaan perlak dan samudera pasai disatukan di bawah pemerintahan samudera pasai, sultan muhammad malik az zahir, putra al-malikus saleh dengan putri ganggang.
Penyatuan kerajaan ini terjadi pada periode XIII dan terletak di daerah pantai timur aceh. Kerajaan samudera pasai terdapat sekitar kota lhokseumawe dikala ini. Hal ini dibuktikan dengan sumber sejarah berupa inovasi kerikil nisan bertuliskan sultan malik as-saleh dengan angka tahun 1297. Sultan malik as-saleh ialah raja yang sangat populer di kepulauan sumatera hingga ke luar negeri. Bahkan, seorang utusan dari sultan delhi di india berjulukan ibnu batutah pernah berkunjung ke samudera pasai dan menggambarkan samudera pasai sebagai negeri yang memeluk islam beraliran sunni dan dipimpin oleh seorang raja yang alim.
c. Kerajaan Aceh

Kerajaan aceh terdiri pada tahun 1514 Masehi. Sultan ibrahim atau ali mugayat syah tercatat sebagai raja pertama kerajaan ini yang memimpin antara tahun 1514-1528 masehi. Kerajaa n aceh menjadi kerajaan yang sangat penting bagi para pedagang dikala itu. Setelah bandar malaka jatuh ke tangan portugis, mudah para pedagang banyak yang beralih ke wilayah aceh.
Kerajaan aceh juga telah menjalin korelasi dengan para pemimpin islami di daerah arab. Oleh sebab itu, aceh juga dikenal dengan sebutan serambi mekkah.Puncak korelasi ini terjadi pada masa kekhalifahan usmaniyah. Tidak sekadar pada korelasi dagang dan keagamaan, tetapi kolaborasi politik dan militer telah dibangun dikala itu. Hubungan ini pula yang menyebabkan pasukan perang usmani membantu kerajaan aceh untuk mengusir portugis dari pasai yang telah dikuasai semenjak tahun 1512 masehi.
Kerajaan aceh mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan sultan iskandar muda. Pada dikala itu wilayah kekuasaan aceh sangat luas, mulai dari aru di seberang malaka arah utara hingga bengkulu di sebelah barat. Kepulauan nias dengan wilayah johor, pahang, kedah, dan perak juga tunduk di bawah kekuasaan aceh.
Pada tahun 1600 masehi, seluruh wilayah kekuasaan aceh telah memeluk agama islam. Hal ini tidak lepas dari pemberian penuh dari para sultan pada perkembangan ilmu pengetahuan  dan gerak dakwah yang menyebabkan istana kerajaan dikelilingi oleh para ulama dan kaum terpelajar. Beberapa nama ulama besar dikala itu ialah syekh syamsuddin, hamzah fansuri, dan abdul rauf dari singkal.
Para ulama aceh membuatkan islam melampaui batas kerajaannya. salah satunya kerajaan minangkabau. penyebaran islam di  minangkabau pada awalnya tidak berjalan dengan lancar aibat kontradiksi dengan tradisi yang telah ada. Baru pada tahun 1583 masehi, tiga orang tokoh minangkabau kembali dari tanah suci mekah. Ketiga tokoh tersebut membawa paham wahabi. Gerakan wahabi balasannya sangat mewarnai perkembangan islam di minangkabau dengan nama gerakan paderi.
Sebuah literatur kuno arab berjudl asing al-hind yang ditulis oleh buzurg bin shahriyar al-hurmuzi pada tahun 1000 masehi menawarkan citra adanya perkampungan muslim di wilayah kerajaan sriwijaya. Dalam catatan duta-duta islam tersebut nama zabaj atau sribuza yang lebih dikenal sebagai sriwijaya. Interaksi ini tidak mengherankan mengingat zaman itu ialah masa keemasan sriwijaya.
salah satu korelasi baik yang tercatat ialah adanya korespondensi antara raja sriwijaya, yaitu shri indravarman dengan khalifah umar bin abdul aziz. ibnu abdir rabin dalam karyanya al-iqdul farid yang dikutip oleh azymuardi azra dalam bukunya jaringan ulama timur tengah dan kepulauan nusantara periode XVII dan XVIII menyebutkan korespondensi tersebut. Dalam hal ini shri indravarman mengirimkan surat kepada khalifah umar bin abdul aziz yang isinya sebagai berikut “ dari raja diraja yang ialah keturan seribu raja; yang istrinya juga cucu seribu raja; yang dikandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang di daerahnya terdapat dua sungai mengairi pohon gaharu, menjangkaui jarak 12 mil; kepada raja arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan tuhan. aku telah mengirimkan kepada anda hadiah yang sebetulnya merupakan hadia yang tidak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Saya ingin anda mengirimkan kepada aku seseorang yang sanggup mengajarkan islam kepada aku dan menjelaskan kepada aku wacana hukum-hukumnya .”

Itulah antara lain suara surat raja shri indravarman kepada khalifah umar bin abdul aziz . Tidak terang apakah selanjutnya shri indravarman memeluk agama islam. Meskipun demikian, korelasi korespondensi tersebut memperlihatkan adanya korelasi yang baik antara muslim arab dengan penduduk pribumi nusantara.
Itulah pembahasan wacana kerajan Islam di Pulau sumatera, nantikan terus pengetahuan dan info-info lainnya hanya di BLOGGER JEMO LINTANK.
Tag : Kerajaan Islam di Pulau Sumatera, Kerajaan Islam di Pulau Sumatera, Kerajaan Islam di Pulau Sumatera, Kerajaan Islam di Pulau Sumatera, Kerajaan Islam di Pulau Sumatera,Kerajaan Islam di Pulau Sumatera , Kerajaan Islam di Pulau Sumatera, Kerajaan Islam di Pulau Sumatera, Kerajaan Islam di Pulau Sumatera,Kerajaan Islam di Pulau Sumatera, Kerajaan Islam di Pulau Sumatera, Kerajaan Islam di Pulau Sumatera,, Kerajaan Islam di Pulau Sumatera, Kerajaan Islam di Pulau Sumatera, Kerajaan Islam di Pulau Sumatera