Kelanjutan Novel Motivasi Hitam Episode 6

0
6
Kelanjutan Novel Motivasi “hitam” episode 6 – Hai sahabat disini
Jangan lupa baca juga :

#1 Novel Motivasi hitam episode 1 dan 2 klik disini 
  • #2 Novel Motivasi hitam Episode 3 klik disini 
  • #3 Novel motivasi hitam episode 4 klik disini 
  • ***
                “Kalau sudah dewaso, Cita-cita kamu mau jadi apo, Ambong?” Aku memecah lengang ketika mengkremasi ikan hasil tangkapan Ambong barusan.
                Bicara wacana cita-cita, saya tak tahu lagi dengan itu, kini sekolahpun tidak. Dulu, saya ingat betul bila mama ingin saya menjalankan perusahaan tersebut, sedangkan saya bercita-cita ingin menjadi presiden, terlalu tinggi memang, namun saya ingin menjadi pemimpin, ingin membahagiakan semua orang. Ah, bodohnya aku, mana mungkin saya dapat menjadi presiden, kini impian itu mesti saya coret dari daftar keinginan.
                “Cita-cita? Apo itu cita-cita?” Ambong menggaruk kepala yang tidak gatal, sebelah tangannya sibuk memegangi tangkai ikan bakar. Aku tak ingin membahas lagi, sudahlah lupakan.
                Aroma ikan bakar mulai menusuk hidung, daging ikannya sudah mulai memerah. Suara elang di atas melengking, angin lembut menciptakan elang tersebut melayang dengan senang dan santai. 
                Beberapa menit kemudian, ikan sudah matang, ini menjadi makanan terlezatku sesudah berminggu-minggu tersesat di hutan, ini beribu-ribu lebih yummy dibading daging babi, saya benci babi.
                “Oyoyoy jadi selamo ini selain ayam, ubi, kamu jugo suko ikan, sulung?” Ambong menyuwir daging ikan, “Menurut saya lebih enak daging babi ketimbang ikan…”
                Aku sudah tidak mengikuti alur pembicaraan Ambong, pandanganku mengarah pada seorang wanita itu, yang telah menyelamatkan hidupku, gadis kecil itu tampaknya tengah mengumpulkan daun. Aku berdiri, bergegas menghampirinya, tanpa disadari Ambong yang masih berceloteh tanpa henti.
                “Sulungg.. Sulungg.. Dimano kau?” 
                Suara Ambong terdengar sayup-sayup ketika saya sudah jauh darinya, anak gadis berambut lurus itu sedang sendiri, ia tampaknya juga sadar saya ada disitu.
                “Hei… Kito ketemu lagi…” Ia tersenyum manis.
                “Hai…” Aku tergagap, tak tahu harus bicara apa. 
                “Ee..Lagi ngumpulin apo?” Aku membuka verbal sesudah tenang sejenak.
                 “Ini, saya ngumpulin obat-obatan, caca” Ia masih sibuk memetik dedaunan. Pandangannya masih ke depan, tak menatap aku.
                “Erggh… Bukan, namo saya bukan caca” Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, bagaimana dapat ia tiba-tiba memanggil saya caca, memangnya siapa itu caca?
                Dia sedikit tertawa, tidak berkomentar, membahas hal lain “Memangnya caca sebenarnyo darimano?” Bicaranya lembut. Aku masih bingung, ya sudah, tak apa ia memanggil saya caca. Namun tampaknya ia menyenangkan untuk diajak menjadi teman.
                “A.. saya sebenarnyo dari….” Aku berhenti sejenak, bila dijawab kota, maka ia akan mengira katak lagi.
                “A..Aku dari jauh sano…” Aku asal menjawab, asal menunjuk. Beruntung anak wanita ini tidak banyak berkomentar. 
                Lengang sejenak.
                “Ngomong-ngomong namo kamu siapo?” Akhirnya saya bertanya hal itu.
                “Aku … Oli, namo caca sendiri siapo?” Ia bertanya balik, saya menggaruk kepala lagi. Kaprikornus ia bukan memanggil saya dengan nama caca, namun dengan sebutan ‘caca’, dapat kutebak bila ‘caca’ artinya kakak.
                “Sulungg… Namoku sulung..” 
                Aku mencoba membantu dengan mengambilkan daun. Dia menggeleng, “Yang itu tidak biso, daun yang dipakai untuk obat itu ibarat ini..” Dia menunjukkan daun.
                “Oh, jadi namo caca ialah sulung. Bagus nian..”
                Aku mengangguk, “Pemberian dari orangtuaku..” Berusaha tersenyum (senyum getir).
                “Memang keduo-orangtuo caca ado dimano?”
                “Mereko telah meninggal, dibunuh paro bajingan…” Aku menarik bernafsu daun, geram bila ingat itu.
                Suasana tenang sejenak, terdengar bunyi sayup memanggil “Sulung…Dimano kau?”
                “Maaf caca, saya harus segero pulang…” Ia bergegas menuntaskan pekerjaan, beringsut untuk berlari, terlihat takut sekali.
                “Tunggu oli…” Aku menghentikan langkahnya, ia berhenti, menoleh “Ado apo caca..?” Aku garuk kepala, resah apa yang harus kukatakan, “Kau mau mengajariku untuk memanah…?” Itu wangsit yang bagus, apalagi saya lihat ia sangat hebat memanah, Bolu dapat dikalahkan bila saya berguru dengan dia.
                Oli mengangguk, “Ioo caca… Lain kali yo…” Dia kembali berlari.
                Suara Ambong memanggil makin jelas. 
                “Oyoyoy rupanyo disini kamu sulung, saya sedang asyik cakap-cakap kamu ruponyo tak ado lagi, macam mano pulo kamu nih” Ambong berkata geram. Aku tidak menghiraukan, menatap punggung anak wanita itu yang hilang dibalik pepohonan.

    BERSAMBUNGGG….

    Nantikan kelanjutan novel motivasi yang berjudul “Hitam” berikutnya yah..
    Jika anda tak ingin tertinggal update dari blog ini, silahkan berlangganan lewat email pada form sebelah. Oh iya jangan lupa untuk menunjukkan komentar terkait Novel motivasi yang berjudul hitam ini yah. Tapi jangan melaksanakan spam.

    Jika anda ingin melihat profil penulis, silahkan lihat disini.

    Tag : Kelanjutan Novel Motivasi “hitam” episode 6, Kelanjutan Novel Motivasi “hitam” episode 6 Kelanjutan Novel Motivasi “hitam” episode 6, Kelanjutan Novel Motivasi “hitam” episode 6, Kelanjutan Novel Motivasi “hitam” episode 6, Kelanjutan Novel Motivasi “hitam” episode 6, Kelanjutan Novel Motivasi “hitam” episode 6, , Kelanjutan Novel Motivasi “hitam” episode 6, Kelanjutan Novel Motivasi “hitam” episode 6, Kelanjutan Novel Motivasi “hitam” episode 6, Kelanjutan Novel Motivasi “hitam” episode 6, Kelanjutan Novel Motivasi “hitam” episode 6, Kelanjutan Novel Motivasi “hitam” episode 6, Kelanjutan Novel Motivasi “hitam” episode 6, Kelanjutan Novel Motivasi “hitam” episode 6, Kelanjutan Novel Motivasi “hitam” episode 6