Kedudukan Dan Tugas Guru Sebagai Pembimbing

0
12

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Abin syamsudin (2003) beropini bahwa guru sebagai pembimbing dituntut untuk bisa mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar, melaksanakan diagnosa, prognosa, dan kalau masih dalam batas kewenangannya, harus membantu pemecahnnya (remedial teaching). Jadi sebagai guru juga harus bisa memastikan bahwa pelajaran yang guru sampaikan kepada penerima didik sanggup dicerna dan dipahami dengan baik, alasannya ialah tingkat kepahaman penerima didik berbeda-beda, maka dari itu dibutuhkan ketelitian yang tinggi dengan mencari solusi itu tadi yaitu (remedial teaching) dimana guru akan mengulang kembali pelajaran yang belum penerima didik pahami.
Hubungan gueu dan siswa layaknya seorang petani dengan tanamannya. Seorang petani tidak bisa mengatur dan memaksa supaya tumbuhan yang petani tanam bisa cepat berbuah mirip apa ia kehendaki dengan cara menarik batang atau daunnya. Dan mirip yang kita ketahui bahwa tumbuhan akan berbuah bila si tumbuhan mempunyai potensi untuk berbuah serta telah hingga pada waktu berbuah. Sebagai seorang petani bertugas untuk menjaga tumbuhan itu dan memastikan tumbuhan itu akan berbuah dengan baik dan memastikan bahwa tanamannya terlindung dari hama penyakit yang sanggup menimbulkan tumbuhan tidak tumbuh dengan sehat mirip apa yang petani harapkan, demi menjauhkan tumbuhan dari hama penyakit yang menimbulkan tumbuhan tidak tumbuh dengan sehat maka petani harus senantiasa menyiram, menyemai, memberi pupuk dan memberi obat pembasmi hama pada tumbuhan itu.
Dari cara seorang petani merawat tanamannya sama halnya dengan seorang guru, , guru juga harus memastikan bahwa penerima didik sanggup berguru dengan baik dan memahami setiap mata pelajaran yang ia terima di sekolah. Guru tidak sanggup mengatur atau memaksa penerima didik supaya siswanya jadi “itu” atau jadi “ini”. Peserta didik akan tumbuh dan bermetamorfosis seseorang yang sesuai dengan minat dan talenta yang dimiliki. Tugas guru ialah menjaga, mengarahkan, membimbing supaya penerima didik menemukan minat dan bakatnya sendiri yang sesuai dengan potensi yang dimiliki.[1]

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Peran guru sebagai pembimbing
Guru sanggup diibaratkan sebagai pembimbing suatu perjalanan (Journey),  yang menurut pengetahuan dan pengalamannya bertanggung jawab atas kelancaran suatu perjalanan itu. Istilah demikan bahwa perjalanan itu tidak hanya menyangkut soal fisik tetapi juga menyangkut soal perjalanan mental, emosional, kreatifitas, moral, dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks. Sebagai pembimbing, seorang yang berprofesi sebagai guru juga diharuskan merumuskan tujuan yang hendak dituju dengan jelas, menetapkan waktu perjalanan yang akan ditempuh, menetapkan jalan mana yang akan ditempuh, memakai petunjuk perjalanan untuk menghindari kesalahan dalam perjalanan, serta menilai kelancarannya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan penerima didik. Semua itu dilakukan berdasarkann dengan adanya kolaborasi yang baik antra guru dan penerima didik, akan tetapi guru harus menunjukkan efek utama dalam setiap aspek perjalanan yang akan di tempuh. Sebagai seorang pembimbing, guru mempunyai banyak sekali hak dan tanggung jawab dalam setiap perjalanan yang telah guru rencanakan  dan kelancaran ketika dilaksanakannya.
Dari istilah tersebut, perjalanan merupakan suatu bentuk proses belajar, baik dalam kelas maupun diluar kelas yang masih meliputi ihwal seluruh aspek kehidupan. Analogi (persamaan) dari perjalanan itu sendiri merupakan pengembangan setiap aspek yang terlibat dalam proses pembelajaran. Setiap perjalanan niscaya mempunyai tujuan yang hendak dituju, kecuali bila orang yang berjalan secara kebetulan dan telah mempunyai tujuan yang pasti. Keinginan, kebutuhan, dan bahkan naluri insan untuk menuntut adanya suatu tujuan. Suatu planning yang telah dibuat, perjalanan dilaksanakan dan dari waktu ke waktu terdapatlah ketika berhenti untuk melihat kebelakang serta mengukur sifat, arti, dan efektivitas perjalanan hingga daerah berhentian tadi.
Dapat disimpulkan dari ilustrasi di atas bahwa sebagai seorang pembimbing suatu perjalanan, seorang pendidik sangat memerlukan kompetensi yang tinggi untuk melaksanak empat hal berikut :
1.      Pertama: sebagai seorang pembimbing harus sudah merencanakan tujuan yang akan ditempuh dan mengidentifikasi kompetensi yang hendak dicapai. Tugas sebagai seorang pendidik ialah menetapkan apa yang telah dimiliki oleh penerima didik sehubungan dengan latar belakang dan kemampuannya, serta kompetensi apa yang penerima didik perlukan untuk dipelajari dalam mencapai tujuan. Sebagai seorang pendidik perlu merumuskan tujuannya dan memahami seluruh aspek perjalanan. Sebagai contoh, kualitas hidup seseorang sangat tergantung pada kemampuan membaca dan menyartakan pikiran-pikirannya secara jelas.
2.      Kedua, guru juga harus melihat keterlibatan penerima didik dalam pembelajaran, dan yang paling penting ialah bahwa penerima didik melaksanakan  kegiatan pembelajaran tidak hanya secara jasmaniah, tetapi mereka harus terlibat juga secacar psikologis. Dengan kata lain, penerima didik harus dibimbing untuk mendapat sebuah pengalaman, dan bisa membentuk kompetensi yang akan mengantarkan penerima didik mencapai tujuan mirip apa yang di harapkan. Dalam hal ini, setiap penerima didik harus belajar, untuk itu penerima didik di haruskan mempunyai pengalaman dan kompetensi yang sanggup menimbulkan aktivitas belajar.
3.      Ketiga, sebagai pendidik, pengajar yang baik, guru juga harus memaknai apa itu aktivitas belajar?. Hal ini mungkin merupakan kiprah yang bisa dikatakan kategi kiprah yang sukar tetapi sangat penting, Mengapa?, alasannya ialah guru yang harus menunjukkan kehidupan dan arti terhadap aktivitas belajar. Bisa jadi pembelajaran direncanakan dengan, dilaksanakan secara tuntas, dan rinci penyampaiannya, tetapi kurang relevan, kurang hidup, kurang bermakna, kurang bermakna, kurang menantang rasa ingin tahum dan kurang imaginatif.
4.      Keempat, guru harsu melaksanakan penilaian. Dalam hal ini dibutuhkan guru bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
a.       Bagaimana keadaan penerima didik dalam pembelajaran?
b.      Bagaimana penerima didik membentuk kompetensi?
c.       Bagaimana penerima didik mencapai tujuan?
d.      Jika berhasil, mengapa, dan bila tidak berthasil mengapa?
e.        Apa yang bisa dilakukan dimasa mendatang supaya pembelajaran menjadi sebuah perjalanan yang lebih baik?
f.        Apakah penerima didik dilibitkan dalam menilai kemajuan dan keberhasilan, dengan demikian mereka sanggup mengarahkan dirinya (self-directing)?
Seluruh aspek pertanyaan tersebut ialah merupakan suatu aktivitas evaluasi yang harus dilakukan oleh guru terhadap penerima didik paada ketika aktivitas pembelajaran berlangsung, yang jadinya akan sangat bermanfaat terutama untuk memperbaiki kualitas pembelajaran.[2]


BAB III
PENUTUP
Orang yang bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan anak didik dan bertannggung jawab atas  segala perilaku penerima didik pada ketika di sekolah ialah guru sebagai pendidik. Dengan demikian guru diharpaka  dapat membimbing penerima didik supaya menjadi orang yang cakap dan bersasusila, beguna bagi semua orang untuk masa depan nya. Tugas guru sebagai pembimbing untuk membimbing penerima didik untuk menjadi orang yang sukses dan membantu menemukan minat dan talenta penerima didik supaya sanggup dicapai dan bisa melaksanakan tugas-tugas perkembangan penerima didik.
Seorang guru tidak sanggup memaksakan muridnya untuk menjadi apa yang pendidik inginkan, namun biarkan penerima didik memilih jalan kedepannya.


[1]https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2011/10/17/peran-guru-sebagai-pembimbing/

[2] Mulyasa, Menjadi Guru Profesional (Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan), PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2008,hlm.40-42

Oleh : Nur Hurin In
PAI UM Surabaya