Kedudukan Dan Tugas Guru Sebagai Model Dan Teladan

0
10


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Perubahan ekonomi dunia begitu melaju pesat melalui penemuan yang terjadi dalam dunia bisnis dan industri secara mendalam. Hal tersebut ikut memilih isi dan kriteria pendidikan sekolah. Dalam waktu dekat, misalnya, ketidakmampuan mengoperasikan komputer akan didefinisikan sebagai buta aksara (i literacy). Semua ini menjadi pola massal bukan alasannya yaitu pendidikan (education) menuntutnya, melainkan alasannya yaitu industrialisme mensyaratkan apa yang oleh Gellner disebut “modular Man).[1]
Dalam era pembangunan, perhatian hendaknya berpusat pada peranan sekolah sebagai “pelaku perubahan,” dan fokus khususnya ialah mengubah manusia. Dengan kata lain, fungsi utama dari pendidikan ialah mengubah insan kearah yang di inginkan. Untuk itu sekolah harus menjadi daerah insan tumbuh dan bermetamorfosis eksklusif seutuhnya.
Kepemimpinan yang efektif bagi perubahan tiba dari orang orang yang ingin tumbuh dan berfungsi sepenuhnya. Pentingnya peranan pendidikan bagi perubahan sosial, kultural, ekonomi dan politik harus ditekankan.[2]
Managemen tenaga kependidikan (guru dan personil) pencakup (1) perencanaan pegawai, (2) pengadaan pegawai,(3) training dan pengembangan pegawai (4) promosi dan mutasi, dll. Semua itu perlu dilakukan dengan baik dan benar semoga apa yang diharapkan bisa tercapai, yakni tersedianya tenaga kependidikan yang diharapkan dengan kualifikasi dan kemampuan yang sesuai serta sanggup melakukan pekerjaan dengan baik dan berkualitas.[3]
 BAB II
PEMBAHASAN
A.    Guru Dahulu dan Sekarang
Peranan guru zaman dulu dan kini sudah sangat berbeda. Kalau dulu, guru dianggap sebagai orang yang banyak tahu dan akibatnya masyarakat tiba kepada guru. Adapun kini guru melebur diri dalam masyarakat dan mengambil prakarsa secara proaktif dalam aneka macam acara kemasyarakatan. Guru tidak lagi duduk di “singgasana” yang terhormat dan menikmati status kultural yang memang ketika itu sangat tinggi.
Kata orang (orang jawa) ‘guru’ yaitu kependekan dari ungkapan “digugu lan ditiru”. Artinya guru yaitu orang yang harus ditaati dan di ikuti. Tetapi berdasarkan pendapat lain, ‘guru’ sesungguhnya berarti “wagu tur saru”. Artinya sudah tak seronok, memalukan lagi!
Kedua interpretasi ini tentu saja hasil dari kotak katik semantik, suatu latihan mental yang digemari masyarakat Jawa. Ilmu kotak katik ini biasa disebut keratabasa, yaitu semacam etimologi rakyat.
Sekarang, manakah yang lebih benar diantara kedua ungkapan tersebut? Ungkapan pertama, “digugu lan ditiru” yang merupakan idealisasi wacana guru. Melalui ungkapan ini, masyarakat jawa mencanangkan suatu model wacana guru, bahwa seorang guru harus selalu memikirkan perilakunya, alasannya yaitu segala yang dilakukannya akan ditiru oleh murid murid dan masyarakatnya. Ungkapan kedua, “wagu tur saru”, merupakan suatu karikatur, suatu ejekan. Karikatur ini sanggup kita pandang sebagai antimodel, yaitu referensi mengenai apa yang sebaiknya tidak ditiru.
B.     Guru Masa Depan
Di negara manapun, guru diakui sebagai profesi. Guru diagungkan, disanjung, dikagumi alasannya yaitu perannannya yang sangat penting. Namun tugas ini, berdasarkan Gerstner, akan berubah di masa depan, yakni kala ke- 21. Perubahan berpusat pola relasi antara guru dengan lingkungannya, mirip dengan sesama guru, siswa, orang tua, dan kepala sekolah, dengan teknologi dan karirnya sendiri. Guru tidak lagi tampil sebagai “pengajar” (teacher) mirip menonjol fungsinya selama ini, melainkan sebagai pelatih, konselor, manajer belajar, partisipan, pemimpin dan pelajar.
Sebagai pelatih, guru akan berperan menyerupai instruktur olahraga. Ia akan lebih banyak membantu siswa dalam “permainan”. Bedanya permainan itu yaitu berguru (game of learning). Guru juga mendorong siswanya untuk menguasai alat belajar, memotivasi siswa untuk bekerja keras dan mencapai prestasi setinggi tingginya, bekerjasama.
Sebagai konselor, guru akan menjadi teman siswa, teladan dalam eksklusif yang mengundang rasa hormat dan keakraban dari siswa. Struktur kelas, letak meja dan dingklik akan menjadi penghambat psikologis antara keduanya. Selanjutnya akan tercipta suasana sekolah dalam sekolah “School Within School”, dimana siswa berguru dalam kelompok kelompok kecil dalam bimbingan guru.
Sebagai manager belajar, guru akan bertindak menyerupai manajer perusahaan. Ia membimbing siswanya belajar, mengambil prakarsa, mengeluarkan wangsit ide terbaik yang dimilikinya. Namun di pihak lain, ia merupakan bab dari siswa, ikut berguru bersama mereka sebagai “pelajar”. Guru juga berguru dari teman seprofesinya melalui model “team teaching” yang juga sudah kita kenal (Dedi Supriadi: 334-335).
Paradigma gres dalam sistem pembelajaran yaitu siswa harus menjadi pembelajar yang aktif, terlibat dalam proses pembaruan pengetahuan dan cara cara gres dari kepastian untuk menunjang ekspansi rentang persoalan masalah sulit yang meningkat. Fokus persekolahan harus berubah dari “mengajar” menjadi “belajar”, dari penerimaan secara pasif wacana fakta fakta dan rutinitas menjadi aplikasi aktif penerapan wangsit ide untuk pemecahan masalah. Transisi tersebut menyebabkan tugas guru lebih penting.
1.      Guru harus mempunyai pemahaman yang baik wacana aneka macam aspek (fisik dan sosial) yang terlibat dalam sistem kerja.
2.      Para guru harus berpikir untuk diri mereka sendiri jikalau mereka mengharapkan orang lain berpikir wacana mereka, sanggup bertindak secara bebas maupun berkolaborasi dengan yang lain dan menunjukkan pertimbangan pertimbangan kritis. Mereka harus mempunyai pengetahuan yang luas dan pemahaman yang mendalam.
3.      Mereka mempunyai kepandaian intelektual yang tinggi. Lebih  dari itu, mereka harus bisa mengomunikasikan apa yang mereka tahu, menstimulasi siswa untuk mencapai tingkat kemahiran yang sama. Guru harus bisa membuat lingkungan daerah anak anak tidak hanya menikmati belajar, melainkan membangun dasar (landasan) bagi mereka untuk melanjutkan berguru dan menerapkan apa yang mereka ketahui bagi kehidupan mereka di masa depan.
4.      Pada sekolah sekolah daerah siswa diharaspkan memperoleh keterampilan dan pengetahuan rutin, kebutuhan akan keterampilan dan pengetahuan sanggup dikemas dalam buku paket dan guru sanggup dilatih untuk memberikan materi dalam buku paket kepada siswa dengan efisiensi yang beralasan.[4]
 
BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Mendidik, tentu berbeda dengan mengajar. Karena pendidikan mesti dipahami sebagai proses yang tidak melulu mewariskan pengetahuan (transfer of knowledg) tetapi juga bagaimana membimbing anak didik semoga menjadi generasi yang cerdas, kreatif, santun, dan berbudi luhur.
Ilmu psikologi meyakini bahwa anak didik bukan gelas yang harus di isi, tetapi tetapi api yang harus dinyalakan. Teori tersebut semakin memperkokoh keyakinan bahwa pendidikan juga merupakan proses untuk menghidupkan api cinta dan semangat dalam diri anak untuk terus mencari ilmu tanpa henti. [5]
 DAFTAR PUSTAKA
Mulyasa, A. 2009. “Managemen Berbasis Sekolah”. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA
Rohiat. 2010. “Managemen Sekolah” Bandung: PT Refika Aditama
Halimah, Deni Koswara. 2008. “Seluk Beluk Profesi Guru” Bandung: PT PRIBUMI MEKAR


[1] Deni Koswara Halimah, “Seluk Beluk Profesi Guru”. Hal 125

[2] Rohiat, “Managemen Sekolah”. Hal. 39

[3] E. Mulyasa, “Managemen Berbasis Sekolah”. 43

[4] Deni Koswara Halimah, “Seluk Beluk Profesi Guru”. Edisi 1. Hal. 2-10

[5] Deni Koswara Halimah, “Seluk Beluk Profesi Guru”. Edisi 1. Hal. 12-13
Judul :  Kedudukan dan Peran Guru sebagai Model dan Teladan
Penulis : Imam Rofi’i
PAI UM Surabaya