Kedudukan Dan Tugas Guru Sebagai Evaluator

0
13


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan pada hakikatnya yakni perjuangan membudayakan insan atau memanusiakan manusia. keberadaan pendidikan sangat strategis dalam upaya mencerdaskan kehidupa bangsa dan diharapkan guna meningkatkan mutu bangsa secara menyeluruh. Pencapaian tujuan pendidikan sebagian besar sangat ditentukan oleh mutu pembelajaran yang dilaksanakan di dalam kelas yang dipengaruhi oleh banyak sekali macam faktor. Guru merupakan yakni salah satu faktor penentu tinggi rendahnya mutu hasil pendidikann. Oleh alasannya yakni itu setiap perjuangan peningkatan mutu pendidikan perlu memperlihatkan perhatian besar kepada peningkatan guru baik dlam segi jumlah maupun hasilnya.
Guru yakni figur sumber insan ang menempati posisi dan memegang kiprah penting dalam pendidikan. Ketika semua orang mempersoalkan kasus dunia pendidikan figur guru mesti terlihat dalam agenda pembicaraan terutama menyakngkut problem pendidikan formal di sekolah. Dengan demikian, maju mundurnya dunia pendidikan secara umum sangat tergatung kepada profesionalitas guru dalam melakukan peran, kiprah dan fungsinya.
Sehubungan dengan kiprah dan fungsi guru, Mulyasa (2008 : 37) menyampaikan bahwa : “ guru harus memaknai pembelajaran, serta mengakibatkan pembelajara sebagai ajang pembetukkan kompetensi dan perbaikan kualitas eksklusif penerima didik. Untuk kepentingan tersebut sanggup diindentifikasikan sedikitnya 19 kiprah guru yakni : guru sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasehat, pembaharu (inovator), model, teladan, pribadi, pendorong kreativitas, pekerjaan rutin, emansipator, evaluator, pengawet, dan sebagai kulminator.
B.     Rumusan Masalah
1)      Bagaimana kedudukan seorang guru sebagai evaluator dalam pembelajaran?
2)      Apa saja peranan guru sebagai evaluator pembelajaran?
3)      Apa saja aktivitas guru sebagai evaluator dalam pembelajaran
C.     Tujuan
1)      Untuk mengetahui kedudukan seorang guru sebagai evaluator dalam pembelajaran
2)      Untuk mengetahui peranan guru sebagai evaluator pembelajaran
3)      Untuk mengetahui aktivitas guru sebagai evaluator pembelajaran
 
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Kedudukan Seorang Guru Sebagai Evaluator
Evaluasi atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, alasannya yakni melibatkan banyak latar belakang dan kekerabatan serta variable lain yang mempunyai arti apabila bekerjasama dengan konteks yang mustahil sanggup dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Mengingat kompleksnya proses penilaian, seorang guru tidak cukup hanya mempunyai kemampuan untuk menjadi seorang pengajar, pengelola kelas, dan sebagai perantara dan fasilitator dalam kelas. Akan tetapi hal yang tidak kalah penting dari ke empat aspek di atas yakni kiprah guru sebagai evaluator dalam kelas. Karena jikalau kita perhatikan, setiap periode pendidikan membutuhkan penilaian terhadap hasil yang telah dicpai, baik pihak terdidik maupun pendidik. Oleh alasannya yakni itu, seorang guru dituntut untuk menjadi seorang evaluator yang baik. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan sudah memenuhi taget pencapaian yang telah dibuat. Tujuan lain dari penilaian diantaranya yakni untuk mengetahui kedudukan siswa di dalam kelas atau kelompoknya.
Dengan menelaah pencapaian tujuan pengajaran, guru sanggup mengetahui apakah selama proses pembelajaran yang telah dilakukan berjalana efektif atau pun sebaliknya. Dalam fungsinya sebagai penilai hasil mencar ilmu siswa, guru hendaknya terus-menerus mengikuti hasil mencar ilmu yang telah dicapai siswa dari waktu ke waktu. Informasi yang diperoleh melalui penilaian ini merupakan umpan balik (feedback) terhadap proses belajar-mengajar. Umpan balik ini akan dijadikan titik tolak untuk memperbaiki dan meningkatkan proses mencar ilmu mengajar selanjutnya. Dengan demikian proses mencar ilmu mengajar akan terus menerus ditingkatkan untuk memperoleh hasil yang optimal.[1]
Hal penting yang harus diperhatikan yakni bahwa setiap penilaian perlu dilakukan secara adil. Prinsip ini diikuti oleh prinsip lain biar penilaian bisa dilakukan secara obyektif, alasannya yakni penilaian yang adil tidak dpengaruhi oleh faktor keakraban (hallo efect), menyeluruh, mempunyai krtiteria yang jelas, dilakukan dalam kondisi yang sempurna dan dengan instrumen yang sempurna pula, sehingga bisa memperlihatkan prestasi mencar ilmu penerima didik sebagaimana adanya. Oleh alasannya yakni itu, penilaian harus dilakukan dengan rncangan dan frekuensi yang memadai dan berkesinambungan, serta administrasikan dengan baik.
Selain menilai hasil mencar ilmu penerima didik, guru harus pula menilai dirinya sendiri, baik sebagai peencana, pelaksana, maupun penilaian progam pembelajaran. Oleh alasannya yakni itu, seorang guru haris mempunyai pengetahuan yang memadai wacana penilaian progam sebagaimana memahami penilaian hasil belajar.
B.     Peranan Guru Sebagai Evaluator
Kegiatan yang harus dilakukan guru untuk kiprahnya sebagai evaluator dalam interaksi belajar-mengajar yakni :
1)      Memahami sejumlah prinsip yang bersangkutan dengan penilaian terhadap pelaksanaan progam serta penilaian hasil belajar, baik yang dimanfaatkan untuk memamahi tingkat pencapaian tujuan pembelajaran maupun tingkat pengesuaan materi pengajaran.
2)      Berusaha mengindentifikasi fungsi dan pemnafaatan lanjut dari evaluasi
3)      Merancang alat pengukur yang akan digunakan, baik dalam kaitanya dengan penilaian planning progam pengajaran, pelaksanaa pengajaran, terutama yang bersangkutan dengan rancangan tes yang mempunyai target siswa sebagai subjek belajar.
4)      Mengembangkan rancangan tes sesuai dengan bentuk tes yang telah ditetapkan, sesuai dengan tujuan serta pengalaman mencar ilmu yang siswa miliki
5)      Berusaha memahami tingkat kelebihan alat pengukur yang digunakan
6)      Mengadminstrasikan tes, baik dari dukungan skor, penentuan hasil, persiapan dan penyimpanan alat ukur.[2]
C.     Kegiatan Pelaksanaan Evaluasi
Pelaksanaan penilaian atau penilaian merupakan tahap dalam pengumpulan data siswa yang dilakukan dengan dua cara, yaitu :
1)   Tes
Tes yakni suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu kiprah yang harus dikerjakan siswa sehingga menghasilkan suatu nilai wacana tingkah laris atau prestasi. Adapun dalam pelaksanaanya, tes yang sering dipakai untuk melihat kemampuan siswa yakni tes verbal dan tulisan. Sedangkan tes diagnostik dan penempatan biasanya dilakukan tiap semester sehabis Ulangan Akhir Semester.
2)        Non-Tes
Penilaian non-tes dimaksudkan untuk mengetahui perubahan perilaku dan tingkah laris pesert didik sehabis mengikuti proses pembelajaran.[3]
 BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dalam aktivitas perencanaan kiprah guru sebagai evaluator dalam proses pembelajaran, para guru harus melakukan tugasnya dengan baik. seorang guru tidak cukup hanya mempunyai kemampuan untuk menjadi seorang pengajar, pengelola kelas, dan sebagai perantara dan fasilitator dalam kelas. Akan tetapi hal yang tidak kalah penting dari ke empat aspek di atas yakni kiprah guru sebagai evaluator dalam kelas. Karena jikalau kita perhatikan, setiap periode pendidikan membutuhkan penilaian terhadap hasil yang telah dicpai, baik pihak terdidik maupun pendidik. Adapun pelaksanaan aktivitas penilaian penilaian dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan tes dan non tes. Dengan kedua cara itu, seorang guru akan mengetahui tingkat kemampuan siswa dalam mendapatkan pembelajaran.


[1] Uzer usman, menjadi guru profesional ( Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA, 2011), hlm. 11

[2] Di kanal dari https://dokumen.tips/dokuments/makalah-guru-sebagai-evaluator.html  pada tanggal 25 November 2017 pukul 06.05

[3] Jurnal oleh Reviandar w, Penilaian Guru Dalam Melakukan Penilaian Ketrampilan, 2004, Vol 2 No 2
Oleh : Tri Wahyuni
PAI UM Surabaya