Interaksi Guru Dan Murid Dalam Pandangan Islam

0
13


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Berbicara mengenai dunia pendidikan tidak luput kiranya dari pelaku pendidikan yang tidak lain ialah guru, dan murid. Perlu diketahui berbagai yang harus diperhatikan dalam dunia pendidikan, alasannya guru bukan hanya orang yang melulu memberi ilmu kepada akseptor didiknya, dan murid juga bukan orang yang melulu mendapatkan ilmu.
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan, alasannya tanpa pendidikan seseorang tidak akan sanggup mengerti arti sebuah kehidupan. Ketika berbicara soal dunia pendidikan dan kehidupan itu semua tidaklah luput dari sebuah interaksi, interaksi antara guru dan murid, interaksi antara guru dan orang bau tanah murid, serta interaksi antara murid dan staf sekolah.
Kehadiran pendidik dalam rangka melakukan tugasnya sebagai pewaris nabi ialah kiprah yang cukup berat untuk diemban alasannya membutuhkan sosok seorang guru yang utuh dan tahu dengan kewajiban dan tanggung jawab sebagai seorang pendidik. Sebagai seorang guru atau pendidik juga harus sanggup memahami keadaan murid-muridnya alasannya keadaan mereka juga besar lengan berkuasa terhadap proses pembelajaran. Kadang guru juga harus sanggup menjadi sobat untuk seorang murid, guru juga harus sanggup menjadi orang bau tanah bagi seorang murid, dan guru juga harus sanggup menjadi pendidik.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Prespektif Islam ihwal Guru
1.      Pengertian Pendidik
Dalam konteks Islam, pendidik disebut dengan murabbi. Muallim dan muaddib. Kata Murabbi berasal dari kata rabba, yurabbi. Kata muallim isim fail dari allama, yuallimu sebagaimana ditemukan dalam al-Qur’an (QS.2:31) yang artinya Dan beliau mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat”. Sedangkan kata muaddib berasal dari kata addaba, yuaddibu. Seperi sabda Rasul : “Allah mendidikku, maka Ia memperlihatkan kepadaku sebaik-baiknya pendidikan”[1]
Ahmad Syauqi dalam bukunya M. Athiyah Al-Abrasyi bahwa pendidik ialah bapak “spiritual” atau pemberi semangat bagi murid, dialah yang memberi santapan kejiwaan dengan ilmu (Taqhdziyah al nafs) membimbing dan meluruskan akhlaq kepada murid (Tahdzjib al-akhlaq taqwimuha) dan mengantarkan mereka ke arah kehormatan hidup.
2.      Sifat-sifat yang harus dimiliki Guru
Guru merupakan kawasan utama bagi para murid untuk menimbah ilmu, guru juga merupakan orang bau tanah kedua bagi para murid-muridnya jadi berikut ialah sifat yang harus dimiliki oleh para pendidik berdasarkan Prof. Dr. Moh. Athi-yah al-Abrasy diantaranya adalah:
a)      Juhud dan mengajar alasannya mencari ridha Allah.
b)      Guru harus suci tubuh dan jiwanya, menjaga diri dari dosa, membebaskan diri dari dan sifat tercela.
c)      Ikhlas dan melakukan tugas.
d)       Bersikap murah hati.
e)      Memiliki sikap tegas dan terhormat.
f)       Memiliki sifat kebapakan sebelum menjadi guru.
g)       Memahami karakteristik murid.
h)      Menguasai bahan pelajaran[2]
B.     Prespektif Islam ihwal Murid
1.      Pengertian Peserta Didik
Peserta didik secara formal ialah orang yang sedang berada dalam fase pertumbuhan  dan perkembangan baik fisik maupaun psikis, pertumbuhan dan perkembangan merupakan ciri dari seseorang akseptor didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik. Murid dilihat dari dari pengertian bahasa ialah dari fi’il madhi اَرَدَ   ®   ُيرِدُ    ®  ِارَدَةً       ®  مُرِداً orang yang menginginkan Sehingga murid diartikan oang yang menghendaki semoga menerima ilmu pengetahuan, ketrampilan, pengalaman, dan kepribadian yang baik untuk bekal hidup di dunia alam abadi dengan jalan mencar ilmu sungguh-sungguh.[3]
C.  Interkasi antara guru dengan murid berdasarkan prespektif islam
Guru ialah pendidik profesional, risikonya secara implisit ia telah merelakan dirinya mendapatkan dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul di bahu para orang tua. Mereka ini, tatkala menyerahkan anaknya ke sekolah sekaligus berarti pelimpahan sebagian tanggung jawab pendidikan kepada anaknya kepada guru. Hal itu memperlihatkan pula bahwa orang bau tanah mustahil menyerahkan anaknya pada sembarang guru atau sekolah alasannya tidak sembarang orang sanggup menjadi guru.[4]
Menurut Zakiah Darajat syarat-syarat ( aba-aba etik ) dilihat dari ilmu pendidikan Islam, maka secara umum untuk menjadi guru dan diperkirakan dapat  memenuhi tanggung jawab yang dibebankan kepadanya hendaknya bertakwa kepada Allah, berilmu, sehat jasmaniah, baik akhlaknya, bertanggung jawab dan berjiwa nasional.
Sedangkan dalam interaksi guru dan murid dalam kelas, untuk membuat iklim pembelajaran sebagaimana yang dikutip dari Sardiman AM.,interaksi edukatif ialah “Interaksi yang dikatakan sebagai interaksi edukatif apabila secara sadar mempunyai tujuan untuk mendidik, untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaannya. Ada beberapa bentuk interaksi diantaranya adalah:
1.             Guru sebagai Orang Tua Kedua
Guru ialah orang tua, anak didik ialah anak. Orang bau tanah dan anak ialah dua sosok insani yang diikat oleh tali jiwa, belaian  kasih sayang ialah naluri jiwa orang bau tanah yang sangat dibutuhkan oleh anak, sama halnya dengan belaian kasih dan sayang seorang guru dan anak didiknya.
2.    Guru sebagai Pendidik
Guru  dan anak didik ialah yang menggerakkan proses interaksi edukatif, dimana interaksi edukatif tesebut mempunyai suatu tujuan. Ketika interaksi edukatif tersebut berproses, guru harus dengan nrimo dalam bersikap dan berbuat serta mau memahami anak didik dengan konsekwensinya. Semua hambatan yang menghambat jalannya proses interaksi edukatif harus dihilangkan alasannya keberhasilan interaksi edukatif lebih banyak ditentukan  oleh guru dalam mengelola kelas.
3.             Guru sebagai pelindung
Pendidik selalu melindungi anak dalam jasmaniyah dan rohaniahnya.
4.             Guru sebagai teladan
Pendidik selalu menjadi teladan pada anak didik.
5.             Guru sebagai Pusat mengarahkan fikiran dan perbuatan.
Pendidik selalu mengikut sertakan anak didik dengan apa yang dipikirkan baik yang menggembirakan ataupun dengan apa yang sedang dipikirkan.
6.             Guru sebagai Penciptaan perasaan bersatu
Untuk mempunyai perasaan bersatu anak harus dibiasakan hidup didalam lingkungan yang teratur.[5]
 
BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Dari pembahasan yang ada di belahan dua maka sanggup disimpulkan interaksi yang terjadi antara guru dengan murid baik dilingkungan sekolah maupun diluar lingkungan sekolah sangatlah penting bagi perkembangan murid. Baik dalam aspek pengetahuan maupun aspek perilaku, alasannya bagaimanapun juga seorang murid niscaya sedikit banyak mencontoh sikap dari pada seorang guru. Oleh alasannya itu guru harus sanggup mengontrol sikapnya ketika di depan muridnya alasannya kiprah guru bukan hanya sebagai pendidik melainkan sebagai orang bau tanah kedua bagi muridnya.


[1] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2006), hal: 56.

[2] Imam Al-Ghazali, terj. Moh Zuhri,  Ihya’ Ulumuddin (Semarang: CV. Asy-Syifa’, 1990), 171-180.

[3] Abudin Nata, Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru- Murid (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), 49-50

[4] Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam ( Jakarta: Bumi Aksara,  2008 ), hal. 39

[5] Sutari Imam Barnadib, Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis (Yogyakarta: Andi Offser), hal 112.
Judul :  Interaksi Guru dan Murid dalam Pandangan Islam
Penulis : Mazidatul Rohmah