Hubungan Penguasaan Bahan Dan Kemampuan Mengajar

0
12

A.    Pendahuluan

Kemampuan mengajar guru yang sesuai dengan tuntutan standar kiprah yang diemban memperlihatkan imbas nyata bagi hasil yang ingin dicapai ibarat perubahan hasil akademik siswa, sikap siswa, keterampilan siswa, dan perubahan teladan kerja guru yang makin meningkat, sebaliknya kalau kemampuan mengajar yang dimiliki guru sangat sedikit akan berakibat bukan saja menurunkan prestasi mencar ilmu siswa tetapi juga menurunkan tingkat kinerja guru itu sendiri. Untuk itu kemampuan mengajar guru menjadi sangat penting dan menjadi keharusan bagi guru untuk dimiliki dalam menjalankan kiprah dan fungsinya, tanpa kemampuan mengajar yang baik sangat mustahil guru bisa melaksanakan penemuan atau kreasi dari materi yang ada dalam kurikulum yang pada gilirannya memperlihatkan rasa bosan bagi guru maupun siswa untuk menjalankan kiprah dan fungsi masing-masing.[1] 
B.    Penguasaan Materi

     1.     Model Pembelajaran
Model pembelajaran merupakan salah satu pendekatan dalam rangka mensiasati perubahan sikap penerima didik secara adaptif mauapun generative. Model pembelajaran sangat erat kaitannya dengan gaya mencar ilmu penerima didik (learning style) dan gaya mengajar guru (teaching style), yang keduanya disingkat menjadi SOLAT (style of learning and teaching). Adapun model pembelajaran penerima didik ini sebagai berikut:
a.       Example Non-Examples
b.      Artikulasi
c.       Jigsaw (Model Tim Ahli)
d.      Mind Mapping
e.       Group Investigation
f.        Tebak Kata
     2.      Profesi Guru
Guru dalam melaksanakan perannya, yaitu sebagai pendidik, pengajar, pemimpin, administrator, harus bisa melayani penerima didik yang dilandasi dengan kesadaran, keyakinan, kedisiplinan, dan tanggung jawab secara optimal sehingga memperlihatkan imbas nyata terhadap perkembangan siswa siswi optimal, baik fisik maupun psikhis. Guru sebagai pemegang otonomi kelas atau pelaku reformasi saat (classroom reform) sanggup melaksanakan peranannya sebagai berikut: guru sebagai pendidik, guru sebagai pengajar, guru sebagai pemimpin, guru sebagai supervisor, guru sebagai administrator.[2]
 C.     Kemampuan Mengajar
Penguasaan Pengetahuan ialah penguasaan terhadap kemampuan yang berkaitan dengan keluasan dan kedalaman pengetahuan.  Kompetensi dimaksud mencakup pemahaman terhadap wawasan  pendidikan, pengembangan diri dan profesi, pengembangan potensi penerima didik, dan penguasaan akademik (Rusmini, 2003). Kemampuan mengajar guru gotong royong merupakan pencerminan penguasan guru atas kompetensinya. Kemampuan mengajar guru yang sesuai dengan tuntutan standar kiprah yang diemban memperlihatkan imbas nyata bagi hasil yang ingin dicapai ibarat perubahan hasil akademik siswa, sikap siswa, keterampilan siswa, dan perubahan teladan kerja guru yang makin meningkat, sebaliknya kalau kemampuan mengajar yang dimiliki guru sangat sedikit akan berakibat bukan saja menurunkan prestasi mencar ilmu siswa tetapi juga menurunkan tingkat kinerja guru itu sendiri. Untuk itu kemampuan mengajar guru menjadi sangat penting dan menjadi keharusan bagi guru untuk dimiliki dalam menjalankan kiprah dan fungsinya, tanpa kemampuan mengajar yang baik sangat mustahil guru bisa melaksanakan penemuan atau kreasi dari materi yang ada dalam kurikulum yang pada gilirannya memperlihatkan rasa bosan bagi guru maupun siswa untuk menjalankan kiprah dan fungsi masing-masing.
           1.      Komunikasi Guru ke Murid
a.       Keras Hati dan Keras Kepala
·         Keras Hati
Anak yang keras hati berbuat berdasarkan hawa nafsu dan kemayannya sendiri, bertentangan dengan tindakan orang lain. Ia mengemukakan kemauannya terhadap kemauan si pendidik. Ia berpegang teguh pada tujuannya sendiri dan tidak hendak melepaskannya untuk tujuan lain. Anak sanggup berlaku patuh kalau ia semenjak kecil telah dibiasakan akan ketertiban, melaksanakan segala sesuatu pada waktunya dan pada kawasan yang semestinya. Usaha pendidik untuk mengatasi keras hati yaitu :
          Mempermudah bawah umur berlaku patuh dengan jalan membiasakan bawah umur hidup secara teratur dan tertib.
          Hendaklah pendidik senantiasa ingat akan keadaan jasmani dan atau rohani anak pada waktu itu.
          Janganlah memanjakan anak. Bertindaklah yang tegas, yang konsekuen biar bawah umur tahu apa yang harus menjadi pegangannya.
          Dalam menghadapi anak yang keras hati itu kita harus bersikap damai dan tegas, jangan kehilangan ketentangan atau tergoyang keseimbangan batin kita, jadi kita harus tetap sabar.
          Dengan memperlihatkan eksekusi kepada anak yang demikian itu, umumnya tidak berhasil dan tidak ada buahnya. Bagi bawah umur yang sudah agak besar sanggup juga dengan memperlihatkan sedikit kata-kata pesan yang tersirat yang singkat.
·         Keras Kepala
Anak yang keras kepala tidak mau juga mengerjakan apa yang disuruhkan kepadanya, tetapi ia tidak mempunyai bantalan an yang bertujuan. Yang ada hanyalah sifat yang pasif yaitu menolak kemauan orang lain. Keras kepala kebanayakan bertujuan untuk menyembunyikan suatu kelemahan batin. Ilmu pendidikan telah banyak berikhtiar untuk menghilangkan sifat keras kepala itu. Usaha terutama di pendidik ialah mengetahui sebab-sebabnya dengan teliti biar selanjutnya sanggup bertindak dengan sempurna dan bijaksana. Dahulu orang mengira bahwa sikap keras kepala itu ialah penjelmaan kemauan keras dan jahat dari anak-anak. Maka dari itu, orang dahuku menyampaikan bahwa untuk memberantas keras kepala atau membandel itu tidak ada jalan lain hanyalah dengan jalan mematahkannya dengan kekerasan dengan pukulan atau deraan.
·         Anak yang Manja
Janganlah mengindahkan anak yang manja itu lenih dari pada bawah umur lain. Pendidikan harus berusaha biar anak yang manja menginsafi bahwa ia tidak berbeda dengan bawah umur lain. Didiklah mereka itu kea rah percaya kepada kemampuan diri sendiri. Dalam hal ini, pendidik jangan memberi tunjangan kepadanya, kalau tidak perlu benar. Besar hatinya terhadap hasil-hasil usahanya yang telah dikerjakannya sendiri, kalau perlu pujilah mereka. Jagalah biar mereka jangan bertambah kecil hatinya. Kembangkan perasaan social anak itu. Biasakan ia bekerja sama, bantu membantu dengan teman-temannya. Yang penting ialah menginsafkan orang renta bahwa perbuatan mereka memanjakan anak itu ialah keliru dan harus diubahnya. Hal ini akan gampang dilaksanakan kalau ada kolaborasi anatara sekolah dan keluarga. Tentang bagaimana mempererat kekerabatan antara keluarga dan sekolah, akan diuraikan dalam serpihan lain.
·         Perasaan Takut pada Anak
Tidak seorangpun sanggup melepaskan diri dari imbas ketakutan. Tetapi tak seorangpun yang ingin ikut. Perasaan takut itu besar pengaruhnya pada diri kita, baik jasmani maupun rohani. Takut itu sanggup melemahkan semangat kita, kita menjadi tidak tenang, menjadi tidak berdaya dan sebagianya. Kalau terlampau usang dalam keadaan takut, hal itu akan berpengaruhi jelek pada tubuh dan pikiran kita, nafsu makan berkurang atau hilang, lekas murka dan gugup. Bahkan, perasaan takut sanggup pula menjadikan penyakit syaraf dan pikiran (seperti gila), dan sanggup membahayakan hidup kita.[3]

D. Simpulan

Media pembelajaran merupakan segala bentuk perangsang dan alat yang disediakan guru untuk mendorong siswa mencar ilmu secara cepat, tepat, mudah, benar dan tidak terjadinya verbalisme. Media pembelajaran merupakan alat bantu indera pendengaran dan penglihatan bagi penerima didik dalam rangka memperoleh pengalaman mencar ilmu secara signifikasi. Guru sebagai arsitek peruahan sikap penerima didik dan sekaligus sebagai model panutan para penerima didik dituntut mempunyai kompetensi yang paripurna.
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Nanang Hanafiah, M.M.Pd., KOnsep Startegi Pembelajaran, Bandung: PT Refika Aditama, 2010
Drs. M. Ngalim Purwanto, MP, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007 

[2] Dr. Nanang Hanafiah, M.M.Pd., KOnsep Startegi Pembelajaran, Bandung: PT Refika Aditama, 2010

[3] Drs. M. Ngalim Purwanto, MP, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007

Penulis : Silvia Nur Kholifah
PAI UM Surabaya