Hubungan Antara Motivasi Dan Minat Belajar

0
11
MENINGKATKAN MOTIVASI DAN MINAT BELAJAR
A.    Hubungan Motivasi dan Minat Belajar
Minat merupakan faktor yang sangat memilih dalam keberhasilan berguru seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari sanggup kita jumpai seseorang yang mempunyai kadar kepandaian tinggi, namun kurang minat terhadap didiplin ilmu atau suatu pekerjaan yang digelutinya, prestasi keilmuan atau pekerjaannya biasa-biasa saja, kurang memuaskan. Sebaliknya, tidak jarang pula orang yang mempunyai kapasitas intelektual sedang, namun karena adanya minat yang besar terhadap disiplin ilmu yang dituntut atau pekerjaan yang digelutinya, memperoleh hasil yang gemilang. Hal yang pertama mungkin disebabkan tidak adanya motivasi, tidak konsentrasi, atau karena gangguan – gangguan lain yang menjadikan kurangnya minat terhadap bahan yang dipelajari atau pekerjaannya. Sebaliknya minat yang tinggi sanggup mendorong seseorang rajin berguru dan bekerja serta gigih dalam mengejar sesuatu. Dengan demikian, minat mempunyai andil yang sangat besar dan sanggup mensugesti tinggi rendahnya nilai prestasi berguru dan kerja seseorang.
Bahkan, tidak jarang tanpa minat yang terang terhadap suatu pekerjaan yang digeluti sanggup mendatangkan stress dan kekhawatiran. Banyak orang tidak merasa enjoy dalam berguru dan bekerja karena mereka tidak menyenanginya. Dale Canegie mirip dikutip Mack R. Douglas dalam How to Make a Habit of Succeding (1987 : 57) menyampaikan : “sebagian terbesar dari kekhawatiran dan tekanan (stress) yang mengancam bersumber pada kenyataan bahwa berjuta orang tidak pernah menemukan diri mereka, tidak menemukan macam kerja yang mereka sukai yang sanggup mereka kerjakan dengan baik. Sebaliknya hati mereka memberontak karena mereka mengerjakan pekerjaan yangn tidak mereka senangi”.

Sebenernya minat berguru sanggup ditumbuhkan dan dikembangkan. Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain perlu adanya motivasi dan konsentrasi belajar. Dengan adanya motivasi yang baik, konsentrasi berguru yang terarah ditunjang dengan cara berguru yang terencana, seseorang yang sanggup berguru dengan rajin dan bernafsu sehingga gampang menangkap bahan ilmu pengetahuan yang dipelajari. Menurut Mark R. Douglas (1995:198), inti motivasi ialah harapan. Harapan ialah keinginan yang mengagumkan, yakni impian untuk mewujudkan apa yang diinginkan serta membuatkan keyakinan dan planning untuk mencapai tujuan. Harapan-harapan tersebut berasal dari keyakinan spiritual, masyarakat, dan langsung itu sendiri.

Motivasi sanggup mendorong seseorang hidup lebih maju dan lebih bersemangat. Menurut Mark R. Douglas (1995:176), insan yang remaja secara emosional akan jauh lebih bisa memotivasi dirinya dibandingkan dengan orang yang dipenuhi keraguan, kecemasakn serta emosi yang belum dewasa. Beberapa hal yang penting untuk mengakibatkan motivasi ialah sebagai berikut:
1.    Kemampuan mempercayai orang lain;
2.    Kemampuan untuk menilai diri sendiri;
3.    Kemampuan seksual
4.    Kemampuan memperoleh rasa aman
5.    Kemampuan untuk mengatur dan mengurus pekerjaan tanpa harus sendiri terlibat didalamnya.
Motivasi berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia. Dalam buku, How To Live 365 Days a Year, John A. Schindler (1955:198) mengungkapkan enam kebutuhan dasar insan :
1.    Kebutuhan akan cinta;
2.    Kebutuhan akan rasa aman
3.    Kebutuhan untuk mengungkapkan diri;
4.    Kebutuhan untuk memperoleh akreditasi dari orang lain;
5.    Kebutuhan untuk memperoleh pengalaman baru;
6.    Kebutuhan akan harga diri
Menurut Roy Garn dalam The Magic Power of Emotional Appeal (1960:20), terdapat empat tujuan motivasi, mulai dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah, yaitu :
1.    Pertahanan diri, seseorang yang berada dalam keadaan terdesak dan tersudut akan berbuat apa saja untuk melawan. Motif ini yang terkuat.
2.    Pengakuan, ingin supaya dirinya mempunyai arti dan tidak kehilangan identitas serta kebanggan diri.
3.    Cinta kasih, dengan cinta kasih kehidupan seseorang menjadi dinamis dan penuh kegembiraan;
4.    Uang, mendapat uang yang banyak. Tujuan ini yang paling rendah tingkatannya.
Belajar, sebagaimana aktivitas lain dalam kehidupan manusia, terkadang termotivasi (unmotivated). Secara gamblang, motivasi (motivation : Inggris) sanggup didefinisikan sebagai suatu keinginan (desire) untuk mendapat suatu objek yang mana juga meggunakan objek lain sebagai medium, mediator (Knigt Dunlap, 1946 : 31). Misalnya, seseorang bekerja untuk mendapat uang. Disini suatu pekerjaan dilakukan karena terdorong oleh suatu keinginan untuk mendapat bayaran. Kaprikornus uanglah yang menjadi motifnya bekerja. Contoh lain, seorang mahasiswa kuliah pada perguruan tinggi tinggi untuk mendapat gelar, untuk meningkatkan gengsi, atau untuk mendapat pekerjaan. Dengan motivasi ini, ia berguru dengan gairah untuk mencapai cita-citanya. Lain halnya dengan mahasiswa lain, misalnya, yang tidak termotivasi oleh suatu apapun. Kuliah asal-asalan, berguru malas sehingga ujian sering  tidak lulus dan sering mengulang. Jadi, motivasi merupakan dasar pijakan seseorang mengalahkan kaki menuju kawasan usaha, berguru dan sebagainya. Menurut Mack R. Douglas (1987:188), motivasi muncul bila seseorang mempunyai planning yang dinamis dan real wacana apa yang hendak dicapainya, dan yang setiap hari mendorongnya ke arah pencapaian tujuan itu.
Motivasi berguru tidak mesti bersifat duniawi sebagaimana dilakukan oleh para ulama dan sarjana terdahulu. Menurut M. Athiyah al-Abrasyi (1970 : 11), para ulama dan sarjana terdahulu menuntut ilmu karena ilmu, bahkan mereka menganggap kiprah berguru sebagai ibadah. Mereka menghabiskan umur untuk penelitian-penelitian dan studi untuk hingga pada hakikat dan kebenaran tanpa memikirkan soal harta, pangkat ataupun posisi. Kaum muslimin dikala itu memuliakan ilmu dan sarjana serta ketinggian akhlak. Ilmu di mata mereka ialah sesuatu yang paling berharga didunia ini, sedang ulama dan sarjana ialah pewaris para nabi. Dengan motivasi tersebut, mereka memunculkan kegiatan-kegiatan yang cukup besar dalam bidang karang mengarang, karya ilmiah dan lainnya yang tumbuh dari keimanan dan kepercayaan yang mendalam serta berani dan kehendak-kehendak untuk maju.
Motivasi bisa satu atau lebih. Seorang mahasiswa, mirip pola diatas, disamping kuliah untuk mendapat gelar, mungkin juga dimotivasi oleh faktor lain mirip ingin mendapat pekerjaan yang sesuai dengan cita-citanya, ingin semata-mata memperoleh ilmu pengetahuan, dan sebagainya, banyak sedikitnya motivasi tidak merupakan ukuran mutlak keberhasilan belajar, tetapi lebih ditentukan oleh berpengaruh tidaknya motivasi yang ada. Boleh jadi seorang mahasiswa yang hanya didorong oleh satu motivasi, contohnya ingin mendapat ilmu yang sebanyak-banyaknya, lebih berhasil dari mahasiswa lain yang belajarnya dimotivasi oleh beberapa keinginan yaitu untuk mendapat ilmu, meningkatkan gengsi dan sanggup kerja bila keinginan-keinginan ini tidak kuat. Namun, tidak menutup keinginan motivasi yang lebih banyak sanggup menumbuhkan minat dan gairah yang lebih tinggi pula.
Menurut Knight Dunlap dalam bukunya personal Adjustmen (1946 : 32), aktivitas berguru yang termotivasi dikenal dengan istilah study (belajar) sedang berguru tanpa motivasi (unmotivated learning work) disebut drive (ambilan,gerakan). Kegiatan berguru yang dimotivasi oleh hal-hal tertentu mirip dilakukan mahasiswa diatas. Kegiatan berguru tanpa motivasi contohnya seorang anak kecil yang berguru berbicara atau belajar. Ia melakukannya secara alami tanpa dorongan-dorongan tertentu. Kegiatan berguru yang pertama didasarkan pada respon tertentu yang berupa keinginan untuk mencapai suatu yaitu kepandaian, keterampilan, keuletan, dan sebagainya, sedang yang kedua lebih mengarah pada kebiasaan rutin (routine habitual ways).
Sebagaimana dijelaskan diatas, motivasi berkaitan dengan tujuan. Tujuan disamping sanggup memperkuat motivasi juga sanggup memperlihatkan dampak positif bagi orang yang menggunakannya, contohnya memperlihatkan kebahagiaan. Dale Carnegie dalam How To Stop Worrying and Start Living (1948 : 78) menyatakan : “Bila Anda ingin bahagia, tentukanlah satu tujuan yang menarik perhatian Anda sehingga Anda memakai energi Anda serta tujuan yang sekaligus menghidupkan harapan Anda. Kebahagiaan  terdapat didalam diri Anda. Kebahagiaan tumbuh diri melaksanakan hal-hal yang benar-benar menarik  perhatian dan minat Anda. Bila anda ingin berbahagia, kembangkan minat Anda terhadap sesuatu diluar diri Anda’’.
Tujuan berbeda dengan cita-cita. Cita-cita merupakan tujuan jangka panjang sedangkan tujuan lebih terang dan lebih khusus sekalipun untuk mencapainya memerlukan waktu yang cukup lama. Menurut Mark R. Douglas (1987 : 47), terdapat tiga hal yang menjadi ciri suatu tujuan, yaitu  : [1] kongkret, tujuan merupakan agresi yang kongkret yang sanggup dan akan kita lakukan, [2] sanggup diukur, dengan ukuran kuantitatif atau waktu, [3] jangka waktu tertentu, tujuan harus dicapai dalam jangka waktu tertentu. Tujuan seorang bekerja, contohnya ingin mendapat uang, tujuan berolah raga ialah supaya tubuh sehat, dan sebagainya. Kebutuhan atau keinginan untuk mencapai tujuan tertentu sanggup mensugesti seseorang dalam mencapai kesuksesan atau kegagalan. 
Paul J. Meyer, mirip dikutip Mack R. Douglas (1987 : 59), menciptakan formula untuk mencapai tujuan, yaitu :
[1] Kristalisasikanlah pikiran Anda. Tentukan tujuan yang ingin dicapai. Curahkan seluruh perhatian Anda untuk mencapainya.
[2] Susunlah planning untuk mencapai tujuan itu, tentukan pula batas waktu tenggang yang diperlukan.
[3] Kembangkan suatu keinginan yang besar akan barang-barang yang Anda inginkan dalam hidup ini.
[4] Kembangkan keyakinan dan kemampuan diri yang mantap.
[5] Kembangkan kemantapan untuk selalu setia pada planning meskipun terdapat banyak kritik, tantangan, atau hambatan.
Disinilah letak pentingnya motivasi dan kepastian tujuan. Motivasi ini bisa tiba dari dua arah : dari dalam (inside motivation) dan dari luar (outside motivation). Motivasi dari dalam berupa harapan-harapan dan keinginan-keinginan (hopes and expectations) untuk melaksanakan sesuatu atau untuk menjadi orang tertentu. Motivasi dari dalam muncul karena adanya dorongan psikis (internally driven) untuk melaksanakan sesuatu karena adanya kepuasan yang disebabkan oleh perbuatan itu. Misalnya, seseorang mempelajari suatu disiplin ilmu pengetahuan bukan karena ia mencintai ilmu itu dan merasa puas ketika menanggapinya bukan karena dorongan lain contohnya ingin mendapat gelar, pekerjaan, atau lainnya yang sifatnya eksternal. Motif atau tujuan berguru yang berasal dari diri sendiri (personal desires) sifatnya individual, subjektif, dan bervariasi. Jika seseorang tidak mempunyai motivasi dari dalam, hendaknya ia berpikir secermat mungkin wacana apa yang akan diperoleh dari hasil berguru dan mengapa memperoleh demikian. Hendaklah ia tetapkan tujuan dan mengarahkan seluruh aktivitas berguru untuk mencapai tujuan itu. Hal ini sangat penting alasannya sanggup memilih arah dan tingkatan motivasi belajar.
Tidak semua orang mendapat motivasi dari dalam. Karenanya, motivasi dari luar sanggup dipakai sebagai alat untuk membangkitkan minat belajar. Gelar (grade) di perguruan tinggi tinggi, misalnya, bisa menjadi dorongan mahasiswa berguru di sana. Motivasi dari luar muncul karena adanya dorongan-dorongan yang diperoleh seseorang dari orang lain baik berupa pergaulan, pendapat, maupun saran, atau lingkungan sekitar. Misalnya, pernyataan Herbert N. Casson berikut (1982 : 15-16) sanggup menjadi motivasi bagi seseorang untuk berguru dan berguru dengan ulet : “Belajarlah denga sebaik-baiknya di mana pun Anda berguru atau bekerjalah dengan sebaik-baiknya di mana pun Anda bekerja. Belajar sebagaimana halnya bekerja sanggup diibaratkan dengan bekerja di tanah pertanian. Anda sanggup mengolah setiap bidang  tanah secara produktif  atau Anda sanggup berbuat seenaknya. Ada petani yang berhasil menajdi kaya dengan sebidang tanah yang bercampur dengan pasir, sedang petani yang lain mundur dari pertanian mereka dengan sebidang tanah yang luas da subur. Karena itu, anda harus berguru atau bekerja dengan serius. Anda tidak akan cakup dalam berguru atau bekerja bila hal itu dianggap sebagai kehausan, sesuatu yang tidak menyenangkan, apalagi hal yang membosankan. Belajar dan bekerjalah dengan penuh kebanggaan. Jangan meremehkan pekerjaan Anda dan berlaku mirip mesin yang bergerak tanpa perasaan dan pikiran. Gunakanlah daya pikir Anda supaya tidak mengalami kegagalan dalam pekerjaan dan pelajaran. Belajarlah melaksanakan pekerjaan dengan baik kemudian lakukan sesuatu yang ekstra. Lakukan sesuatu tanpa dibayar. Tunjukan perhatian anda demi kebaikan lembaga. Itu salah satu cara terbaik untuk menarik perhatian pimpinan. Jangan bekerja mirip buruh yang sesuai honor yang mereka terima. Bahkan mengurangi waktu yang semestinya”.
Namun, motivasi dari luar ini seharusnya tidak menjadi tujuan pokok. Ia hanya dipergunakan sebagai dorongan (encouragement). Sebenarnya yang terpenting ialah berguru belajar itu sendiri supaya berhasil. Karena itu, kebiasaan berguru yang baik yang didasari oleh motivasi yang baik pula merupakan sesuatu yang sangat penting alasannya di samping memilih keberhasilan berguru juga sanggup mempersingkat waktu belajar. Perlu disadari bahwa yang diinginkan bukan seberapa banyak (how much) seseorang berguru tapi seberapa hasil kemampuan dari berguru itu.