Faktor Penyebab Tanda-Tanda Aglomerasi Industri | Keterkaitan Sarana Transportasi Dengan Aglomerasi Industri

0
35
Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri – Setelah mempelajari Pengelompokkan Kecendrungan Industri menurut Jenis Industri, berikut kita mempelajari Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri. Lokasi Industri merupakan suatu tempat atau wilayah di permukaan bumi dengan segala unsur-unsurnya, baik unsur fisik maupun sosial yang memperlihatkan bantuan terhadap kelancaran dan perkembangan kegiatan industri secara optimal dari segi ekonomi. Unsur-unsur tersebut merupakan faktor lokasi yang mencakup materi mentah atau materi baku, modal, tenaga kerja, sumber energy, transportasi, pasar, teknologi, iklim, sumber air, perautan dan perundang-undangan.
Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri |  Keterkaitan Sarana Transportasi dengan Aglomerasi Industri
Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri
Faktor-faktor tersebut perlu diperhitungkan,  Mengingat tidak semua unsure yang mendukung kegiatan industri tersedia dan gampang diperoleh di suatu tempat. Apabila suatu industri didukung oleh faktor-faktor tersebut secara lengkap maka kegiatan industri tersebut akan menguntungkan. Pada kenyataanya, lokasi industri yang ideal (yang memenuhi semua persyaratan) jarang ditemukan. Karena itu, penempatan lokasi industri harus menentukan diantara tempat-tempat yang paling menguntungkan.
Akibat adanya kerterbatasan dalam pemilihan lokasi yang ideal maka sangat dimungkinkan akan munculnya pemusatan atau terkonsentrasinya industri pada suatu wilayah tertentu yang dikenal dengan istilah aglomerasi industri. Misalnya, industri garmen, industri konveksi, dan industri kerjainan dibangun di suatu tempat yang berdekatan dengan pusat pemukiman penduduk ; Industri berat yang memerlukan materi mentah, menyerupai kerikil bara dan besi baja, penentuan lokasi pabriknya cenderung mendekati sumber materi mentah.
Pemusatan Industri sanggup terjadi pada suatu tempat terkonsentrasinya beberapa faktor yang dibutuhkan dalam kegiatan industri. Misalnya materi mentah, energy, tenaga kerja, pasar, kemudahan dalam perizinan, pajak yang relative murah, dan penanggulangan limbah merupakan pendukung aglomerasi industri.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, terjadinya aglomerasi industri antara lain :
1. Terkonsentrasinya beberapa faktor produksi yang dibutuhkan pada suatu lokasi
2. Kesamaan lokasi perjuangan yang didasarkan pada salah satu faktor produksi tertentu
3. Adanya wilayah pusat pertumbuhan industri yang diadaptasi dengan tata ruang dan fungsi wilayah
4. Adanya kesamaan kebutuhan sarana, prasarana, dan bidang pelayanan industri lainnya yang lengkap
5. Adanya kolaborasi dan saling membutuhkan dalam menghasilkan suatu produk
Aglomerasi industri yang muncul di suatu kawasan, sanggup diakibatkan oleh faktor alamiah dan sanggup juga diakibatkan secara disengaja dengan perencanaan yang matang. Aglomerasi industri yang terbentuk secara alamiah yaitu apabila pemusatannya diakibatkan secara kebetulan alasannya yaitu lokasi tersebut mempunyai beberapa faktor yang menunjang dan dibutuhkan dalam proses perkembangan industri. Aglomerasi yang terbentuk secara disengaja, yaitu alasannya yaitu menurut hasil perencanaan tata ruang yang dilengkapi banyak sekali kebutuhan yang menunjang dalam proses perkembangan industri.
Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri  –
Model Aglomerasi industri yang berkembang akhir-akhir ini, sanggup dikategorikan menguntungkan, diantaranya :
1. Mengurangi pencemaran atau kerusakan lingkungan, alasannya yaitu terjadi pemusatan kegiatan sehingga memudahkan dalam penangannya.
2. Mengurangi kemacetan di perkotaan, alasannya yaitu lokasinya sanggup disiapkan di sekitar pinggiran kota.
3. Memudahkan pemantauan dan pengawasan, terutama industri yang tidak mengikuti ketentuan yang telah disepakati.
4. Tidak menganggu planning tata ruang
5. Dapat menekan biaya transportasi dan biaya produksi serendah mungkin.
Di dalam aglomerasi industri dikenal istilah daerah industri atau sering disebut industrial estate, yaitu daerah atau tempat pemusatan kegiatan industri pengolahan yang dilengkapi dengan saran dan prasarana, contohnya : Lahan dan lokasi yang strategis. Selain itu, terdapat pula akomodasi penunjang lain, contohnya listrik, air, telepon, jala, dan tempat pembuangan limbah, yang telah disediakan oleh perusahaan pengelola daerah industri.
Pada awalnya, akomodasi penunjang kegiatan industri pada daerah aglomerasi industri hanya dikuasai oleh pemerintah. Tetapi, kini perusahaan swasta sudah diberikan wewenang untuk mengelolanya. Tujuan dibentuknya suatu daerah industri (Aglomerasi yang disengaja), antara lain untuk mempercepat pertumbuhan industri, memperlihatkan kemudahan bagi kegiatan industri, mendorong kegiatan industi supaya terpusat dan berlokasi di daerah tersebut, dan menyediakan akomodasi lokasi industri yang berwawasan lingkungan. Misalnya : Beberapa daerah industri di Indonesia, antara lain medan, Cilegeon (Banten), Pologadung (Jakarta), Cikarang (Bekasi), Cilacap (Jateng), Rungkut (Surabaya), dan Makassar.
Selain daerah Industri, dikenal juga istilah daerah berikat (Bonded Zone). Kawasan berikat (Bonded Zone) merupakan suatu daerah dengan batas tertentu di dalam wilayah pabean yang di dalamnya diberlakukan ketentuan khusus di bidang pabean. Ketentuan tersebut antara lain mengatur lalau lintas pabean dari luar daerah atau dari dalam pabean Indonesia lainnya tanpa terlebih dahulu dikenakan bea cukai atau pungutan Negara lainnya, hingga barang tersebut dikeluarkan untuk tujuan impor dan ekspor. Kawasan berikat berfungsi sebagai tempat penyimpanan, penimbunan, dan pengolahan barang yang berasal dari dalam atau luar negeri. Contoh daerah berikat, yaitu PT Kawasan Berikat Indonesia mencakup Tanjung Priok, Cakung dan Batam.
          Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri
Sehubungan dengan daerah berikat, juga terdapat istilah industri berikat (Industrial Linkage), yaitu beberapa industri yang mempunyai keterikatan ke dalam suatu industri utama. Keterikatan antara satu industri dengan industri lainnya sanggup terjalin dari elemen-elemen (Lahan, modal, mesin, tenaga kerja, informasi, pasar, transportasi, dan unsur lainnya) yang terkait dengan pengoprasian industri. Sedikitnya ada empat jenis keterkaitan yang mengakibatkan terjadinya industri berikat, yaitu :
1. Keterkaitan produk
2. Keterkaitan Jasa
3. Keterkaitan Proses
4. Keterkaitan subkontrak
Sebagai teladan industri berikat yaitu industri garmen.  Dalam hal ini garamen sebagai industri utamanya. Sedangkan di sekitar industri garmen tersebut akan dikelilingi oleh industri-industri lain yang berfungsi sebagai penunjang, contohnya : Industri tekstil, industri kancing, reslasting, dan asesoris lainnya. Adanya keterkaitan antara industri yang berada pada suatu tempat tidak hanya sanggup menekan biaya transport, tetapi juga sanggup mendukung pertumbuhan dan keberlangsungan industri-industri tersebut.

Keterkaitan Sarana Transportasi dengan Aglomerasi Industri
Transportasi merupakan sarana yang sangat penting dalam kehidupan insan selama ini. Manusia sebagai makhluk dinamis, senantiasa terus bergerak dan berusaha dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Awal kehidupan manusia, hanya mempunyai ruang gerak yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan primer saja (makan dan minum), menyerupai melalui kegiatan berburu, meramu dan sistem pertanian berpindah-pindah(normad). Kebiasaan ini berjalan cukup usang dan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Proses kehidupan tersebut merupakan pendidikan dan pembelajaran seiring dengan terus meningkatnya jumlah populasi insan dan terus meningkatnya kebutuhan hidup.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup pada kondisi jumlah penduduk yang semakin padat maka mulai ditemukan banyak sekali temuan gres dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang menunjang percepatan pemenuhan kebutuhan tersebut. Hasil perkembangan iptek tersebut diantaranya dalam bidang transportasi.
Aktivitas ekonomi kini ini, baik yang berafiliasi dengan pertanian, perdagangan, jasa maupun industri, kelangsungannya tidak terlepas dari transportasi. Di Negara-negara maju, contohnya : Di eropa dan amerika, lengkapnya sarana dan prasarana transportasi telah mendukung keberhasilan sebagai Negara-negara industri. Pada Negara-negara yang hanya mempunyai beberapa jala raya, pertukarang barang terjadi dalam skala kecil dan kebanyakan merupakan produk local. Seandainya, sarana dan prasarana transportasi dikembangkan, laba jawaban pertukaran barang sanggup ditingkatkan. Sebagai teladan di perancis, awalnya kebanyakan petani menanam anggur alasannya yaitu dianggap lebih berharga dan sangat menguntungkan, sedangkan kebutuhan akan gandum lebih baik didatangkan dari Negara lain. Dengan demikian, transportasi merupakan akomodasi yang memperlihatkan pelayanan kepada masyarakat untuk menggerakkan dan menunjang acara masyarakat, barang dan jenis lainnya yang dianggap berharga oleh masyarakat dari suatu tempat ke tempat lainnya.
Keberadaan transportasi di permukaan bumi mempunyai keterkaitan yang sangat erat dengan keadaan populasi  penduduk. Hal ini, sanggup dilihat dari semakin bertambahnya jumlah penduduk di suatu tempat, pergerakan (mobilitas) pun semakin kompleks di tempat tersebut. Beberapa alasan yang mengakibatkan berkembangnya sistem transportasi dari waktu ke waktu, antara lain sebagai berikut :
1. Sumber daya alam yang tersedia tidak tersebar secara merata, sehingga terjadi pergerakan insan mencari dan mencapai lokasi alam yang dibutuhkan.
2. Jumlah dan penyebaran penduduk dari satu tempat ke tempat lainnya tidak sama sehingga terjadi saling membutuhkan dan dibutuhkan diantara penduduk yang satu dengan penduduk yang lainnya.
3. Adanya perbedaan kualitas dan kemampuan masyarakat, sehingga ada sekelompok masyarakat yang mempunyai teknologi yang tinggi dan ada pula sekelompok masyarakat yang teknologinya masih konvensional.
4. Adanya perbedaan kemampuan mengelola lahan, sehingga adanya perbedaan tingkat sosial ekonomi masyarakat, yang saling membutuhkan sarana transportasi untuk menunjang kehidupannya.
Adanya transportasi memungkinkan berafiliasi antardaerah, kekerabatan antar-hinterland dan foreland, serta menimbulkan dampak sosial-ekonomi penduduk dan penggunaan lahan. Keberadaan sarana dan prasarana transportasi tidak sanggup lepas dari imbas banyak sekali faktor geografi, diantara sebagai berikut :
1. Iklim
Kondisi iklim besar lengan berkuasa sangat besar pada kelancaran transportasi, terutama transportasi bahari dan udara. Adanya tornado topan, kabut, hujan, salju maupun asap tebal memungkinkan terganggunya penerbangan dan pelayaran yang akan dilakukan. Di daerah yang mempunyai curah hujan tinggi menjadikan pemeliharaan jalan raya dan kereta api menjadi lebih tinggi, jalan akan cepat rusaak jawaban aliran air dan banjir. Bahkan fenomena perubahan fungsi jalan pada waktu hujan sebagai sungai merupakan fenomena yang sering terjadi, jawaban tidak disiplinnya masyarakat dalam membersihan kanal air dan membuang sampah tidak pada tempatnya.
2. Struktur geologi
Kondisi batuan di tiap wilayah berbeda-beda, ada wilayah yang mempunyai kondisi batuan yang stabil dan ada juga daerah yang mempunyai kondisi batuan yang tidak stabil. Kondisi ini sangat besar lengan berkuasa terhadap kestabilan jalan. Jalan yang berada di daerah labil cenderung cepat rusak. Hal inni akan menjadikan tingginya biaya pemeliharaan dan perbaikan jalan. Sebaliknya, jalan yang berada di daerah yang stabil cenderung lebih awet.
3. Keadaan Morfologi
Keberadaan morfologi suatu daerah sangat besar lengan berkuasa pada sarana transportasi darat. Misalnya : di daerah perbukitan hingga pegunungan yang selalu labil dan berkelok-kelok akan menjadikan pembuatan dan pemeliharaan jalan menjadi mahal. Selain itu, diharapkan prasarana lain, contohnya : Jembatan dan terowongan. Begitu juga keberadaan morfologi dasar bahari sangat besar lengan berkuasa pada kecepatan kapal, besarnya muatan kapal dan pembuatan dermaga atau pelabuhan.
4. Faktor sosial
Keberadaan dan kelengkapan sarana dan prasarana transportasi intinya merupakan tuntunan masyarakat untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya, contohnya : bepergian ke tempat kerja, sekolah, belanja dan kekerabatan sosial, bisnis, rekreasi, dan lain-lain. Semua itu, melahirkan tuntunan adanya sosial angkutan dan rute-rute kendaraan yang efisien, kondusif dan nyaman.
5. Kondisi ekonomi
Kondisi ekonomi sebagai hasil dari pertumbuhan industri dan acara komersial lainnya telah mendorong semakin meningkatnya kebutuhan akan transportasi. Semakin tinggi dan kompleks acara atrau kemajuan ekonomi suatu masyarakat sanggup dilihat atau diukur dari kondisi jaringan transportasinya. Jalan yang lebar,pelabuhan dan bkamura sangat berkolerasi dengan membaiknya keadaan ekonomi masyarakat sekitarnya.
6. Keadaan politik dan kecerdikan pemerintah

7. Tenologi yang dimiliki.

Tag: Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri, Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri, Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri, Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri, Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri, Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri, Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri, Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri, Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri, Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri, Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri, Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri, Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri, Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri, Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri, Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri, Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri, Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri, Faktor Penyebab Gejala Aglomerasi Industri