Cerpen : Malam Bersama Ungu Nan Gemas

0
17
Malam Bersama Ungu Nan Gemas
Julian Toni
Bergidik. Lalu cemberut. Mungkin wajah ini tampak memble jikalau bercermin kini. Oh my …, apa yang kuperbuat.
Ibu molek itu mendesah gerah, sehabis tembang Berlayar Di Awan dibawakan hancur si pengamen bus. Bersama intaian resah. Aku pelan menoleh kiri-kanan terus mengapit erat tas yang tersandang di dada. Mencari celah sebelah tangan memainkan jemari. Meraih sesuatu yang agak tersembul dari tas perempuan berbody sehat di sebelahku.
Mengawasi sekitar, tunggu lengahnya dan pribadi eksekusi. Lalu berlalu pergi membawa hasil rutinitas memalukan yang sudah sebulan kujalani. Rumah makan padang, ke sanalah mungkin tujuan selanjutnya. Mengakhiri segala debar was-was ini dengan santai sekaligus melepas lapar yang dari semalam meraja.
Sekarang dia membetulkan duduk, betulkan jilbab biru tua-nya. Lalu kembali memandang Hp, menuliskan sesuatu entah apa. Bias sinar layar yang memantul ke wajah memberitahukan kepadaku, di masa mudanya perempuan yang kira-kira berusia 40tahun lebih ini niscaya bagus sekali. Sesekali kucuri pandang perhatikan wajahnya, kemudian entah kenapa mata ini malah menatap semakin turun ke bawah, jari-jari lincah yang menari di keypad itu menyerupai menggoda. Cincin emas antara sela-sela itu berapa gram kah, ya?
Mata kembali fokus menatap ke depan, memasang indera pendengaran pastikan amankah kondisi sekitar. Aku semakin merapat sampai jarak kami begitu dekat. Parfum apa yang ibu berpipi menggemaskan ini pakai? Apek-apek bacin kuciumi. Tapi saya segera tersadar, misi ini harus selesai sebelum dua pemberhentian bus lagi.
Aku tak ingat, kapan terakhir kali berkedip. Apalah. Asal mata dan badan mau saja mengikuti gerak mangsa, lenyap lenyaplah sudah pertanyaanku itu. Biar dapat mendapat ruang longgar di kejepitan aksi, membawanya dari tangan kiri ke genggam kanan. Lalu memasukan ke dalam baju dan turun dari bus ini. Aku tak sabar, jikalau separuh isinya nanti berganti nasi.
Berat, badan sebelah memberat ke arahku. Hai! Dia tertidur rupanya. Aha! Aku dimudahkan untuk segalanya. Ayolah, mengapa tak dari tadi saja kamu terlelap, Bu. Hatiku senang, sekiranya semua peluang setan yang kuikuti semudah ini. Tentu ku beraksi tidak dengan debar mengiring selama ini.
Sejenak kudengar sayup dengkur halus, serasa panggilan, Ayoolah …, ayoolaah untuk tuntaskan misi malam ini. Benda persegi panjang itu pun begitu lancar keluar dari tasnya mengikuti selip jariku. sampai sekarang dia kondusif dibalik baju.
Sempat menatap mata yang terpejam. Menikmati wajah bagus yang mulai memudar. Tapi tidak …, itu tak pudar kurasa. Inilah kecantikan yang mulai matang itu, menyerupai buah apel merah bau tanah bermerk California yang kumakan ahad lalu.
“Pinggir, Pak!”
Bus berhenti, saya bangun untuk meninggalkan mangsa yang masih terlelap di dingklik sebelah. Ingin ucapkan pamit dan katakan selamat tinggal padanya. Tapi tentu itu terlalu beresiko.
Maaf ibu yang berwajah manis, terima kasih untuk wajah yang menyenangkan dan dompet ungu yang mengemaskan. Seperti pipimu, yaa …, pipimu.
End.