Cara Menciptakan Rumusan Duduk Perkara Yang Benar

0
10
Cara Membuat Rumusan Masalah Yang Benar. – Untuk menemukan dan memutuskan problem yang baik, ada beberapa kriteria yang perlu dipertimbangkan : Pertama, apakah problem itu mempunyai kegunaan untuk dipecahkan? Kedua, apakah problem itu bisa diteliti (researchable)? Ketiga, apakah ada kemampuan yang dimiliki peneliti untuk memecahkan problem itu, Karena problem yang baik harus berada dalam daya jangkau disiplin ilmu seorang peneliti. Keempat, apakah problem itu menarik untuk diteliti dalam rangka memecahkan problem yang telah ditemukan? Kelima, apakah problem itu bisa menunjukkan sesuatu yang gres bagi ilmu pengetahuan, bila diteliti. Keenam, apakah problem itu terbatas sehingga jelas.
Berdasarkan problem yang telah ditemukan, peneliti memutuskan langkah-langkah berikurnya dengan merumuskan problem dalam bentuk prtanyaan penelitian yang lebih spesifik dan bersifat operasional. Sebelum dirumuskan, peneliti bisa juga mengidentifikasi masalahnya terlebih dahulu dengan cara mengungkapkan hal-hal yang sangat spesifik berkaitan dengan variabel permasalahan penelitaian. Kemudian menyebutkan rincian problem (pointers) secara singkat dan terperinci dalam bentuk pernyataan. Identifikasi dilanjutkan dengan menginventarisasi hal-hal yang mungkin menjadi ganjalan dalam pikiran, sehingga merangsang atau mendorong peneliti untuk memecahkan problem yang menjadi fokus penelitian. Baru kemudian mengarahkan atau mengkerucutkan konsep-konsep pemikiran kearah kristalisasi masalah, sehingga bisa membatasi ruang lingkup penelitian. 
Baca juga : Pengertian Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif Secara Akademik
 
Masalah yang sudah diidentifikasi kemudian dirumuskan dalam bentuk pointers pertanyaan yang relevan. Merumuskan problem berarti menyusun daftar pertanyaan penelitian, sebagai pengantar kerangka berfikir secara sistematis dalam proses penelitian. Karna hakikat penelitian yaitu mencari tanggapan dari pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan, untuk memecahkan problem yang telah dipilih atau ditetapkan oleh peneliti sendiri. Rumusan problem hakikatnya merupakan pedoman yang akan menuntun seorang peneliti untuk menemukan tanggapan di lapangan, sehingga bisa membantu peneliti menyusun laporan sesuai pertanyaan yang telah dirumuskan. Jack Frinkel dan Norman Wallen menjelaskan syarat rumusan problem yang baik (1) harus feasible, yaitu memungkinkan untuk diteliti; (2) harus clear, artinya rumusan harus bisa diungkap dengan bahasa yang terperinci dan sederhana, sehingga gampang difahami maknanya; (3) harus significant, maksudnya rumusan problem harus sanggup mengungkapkan pertanyaan yang jawabannya mempunyai kegunaan dan berarti bagi kepentingan ilmu pengetahuan; (4) harus etihic, artinya rumusan problem harus sanggup dipecahkan, tanpa harus merusak atau membahayakan gambaran orang lain. 
Dengan kalimat lain, rumusan problem dalam bentuk pertanyaan penelitian harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikur :
  • Rumusan problem harus diungkap dengan bahasa yag singkat, terperinci dan bermakna. Masalah perlu dirumuskan dengan kalimat yang gampang dimengerti, tidak berbelit-belit sehingga menjadikan penafsiran ganda.
  • Rumusan problem diwujudkan dalam bentuk kalimat tanya. Seperti dinyatakan oleh Karlinger (1986;16) bahwa problem akan lebih sempurna apabila dirumuskan dalam bentuk kalimat pertanyaan, sehingga peneliti dipandu untuk menemukan jawabannya melalui penelitian.
  • Rumusan problem harus terperinci dan kongkrit, sehingga memungkinkan peneliti secara explisit sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan apa yang akan diteliti, siapa yang akan diselidiki, mengapa harus diteliti, bagaimana menelitinya.
  • Masalah harus dirumuskan secara operasional, sehingga memungkinkan peneliti memahami variabel-variabel yang gampang diukur.
  • Rumusan problem harus bisa menunjukkan pedoman dan petunjuk bagi pelaksanaan pengumpulan data di lapangan, sehingga sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan.
  • Rumusan problem harus dibatasi, guna membantu penarikan tamat yang tegas. Itu sebabnya rumusan problem bergotong-royong juga berfungsi membatasi problem penelitian, sehingga terperinci fokusnya.
Jika problem sudah ditemukan menurut hasil pengamatan yang cermat terhadap fenomena di lapangan atau pemikiran seseorang, maka langkah berikutnya seorang peneliti bisa merumuskan masalahnya, dengan terlebih dahulu mengidentifikasi problem yang dimaksud.
Di bawah ini ada pola sederhana yang bisa dijadikan materi analogi, dikala seorang peneliti pendidikan hendak mengidentifikasi kemungkinan sudah siap atau belum para guru di suatu sekolah, dalam menghadapi perubahan kurikulum. Kurikulum 2004 yang dikenal dengan istilah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), belum sempat diuji, dievaluasi serta belum dioptimalkan penerapannya, kini sudah harus dilakukan perubahan menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang mulai diterapkan pada tahun 2006. Masalahnya sejauh mana kesiapan guru di suatu sekolah dalam menghadapi perubahan kurikulum yang begitu cepat.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang problem di atas, perlu disampaikan identifikasi masalahnya sebagai berikut:
  1. Masih banyak guru yang kurang mempunyai standar kompetensi.
  2. Kesiapan dalam pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan dipengaruhi oleh kompetensi guru.
  3. Banyak guru yang belum mengetahhui dan memahami isi kurikulum tingkat satuan pendidikan.
  4. Banyak guru yang belum menjabarkan isi kurikulum ke dalam perangkat pembelajaran.
  5. Masih kurangnnya kemampuan guru dalam membuatkan silabus, menciptakan rencana proses pembelajaran, memakai media dan melakukan evaluasi.
  6. Kesiapan guru banyak dipengaruhi oleh pengalaman, pendidikan dan motivasi kerja.
  7. Kurangnya perhatian pemerintah kawasan terhadap perubahan kurikulum sehingga sosialisasi terhadap KTSP belum dilaksanakan secara optimal.
Penelitian dalam rangka menemukan hakikat kebenaran dan ilmu pengetahuan, sanggup ditempuh melalui banyak sekali model. Dalam bahasa terkenal sering disebut paradigma, pola atau perspektif. Sebagai suatu paradigma, penelitian memungkinkan dilakukan dalam banyak sekali bentuk, model atau pola, tergantung pada problem dan metode penelitian yang digunakan. Pada garis besarnya, paradigma penelitian secara dikotomi sanggup dilakukan dengan model penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Masing – masing cara pandang penelitian ini mempunyai karakteristik tersendiri, dan akan kuat terhadap tehnik pengumpulan data dan analisa. Penelitian kualitatif lebih didominasi oleh teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi partisipasi, di mana peneliti sendiri sebagai instrumen penelitiannya. Analisi terhadap hasil penelitian lebih banyak dilakukan memakai analisis logik, berupa uraian dan narasi kalimat yang rasional, kritis dan sistematis. Sedangkan penelitian kuantitatif lebih didominasi oleh tehnik pengumpulan data secara penyebaran angket atau pengguna questionnaire, yang telah disiapkan kerangka daftar pertanyaan untuk kemudian dianalisis memakai statistik.
Baca juga : Sejarah Perkembangan Penelitian Kualitatif

Untuk melihat model penelitian kualitatif, sehingga terperinci perbedaannya dengan model penelitian kuantitatif, Strauss (1990: 17-18) menggambarkan pengertian penelitian kualitatif sebagai berikut:
By the term qualitative reasearch we mean any kind of research that produces findings not arrived at by means of statistical procedures or other means of quantification. It can refer to research abaout persons’ lives, stories, behavior, but also abaout organizational function, social movements, or interactional reletionship. Some of the data may be quantified as with census data but the analysis itself is a qualitative one. Actually, the term qualitative research is confusing because it can mean different people. Some researchers gather data by means of interview and observation – techniques normally associated with qualitative methods.

Meskipun demikian, dalam perkara tertentu bisa terjadi penggunaan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif secara kombinasi, ibarat diungkap Strauss lebih lanjut “Can I combine qualitative and quantitative methods? The answer is yes. The two types of methods can be used effectively in the same research project (Strauss, Bucher, Enrlich, Schatzman &Sabshin, 1964).