Bukan Material, Tapi Waktu Yang Lebih Banyak ‘Membangkitkan Kebahagiaan’

0
29
Sebuah studi mengatakan, Menggunakan uang untuk waktu bebas dikaitkan dengan peningkatan kebahagiaan.
Dalam sebuah percobaan, banyak yang melaporkan kebahagiaan yang lebih besar didapatkan kalau mereka memakai £ 30 ($ 40) atau sekitar 400.000 untuk menghemat waktu – menyerupai  membayar kiprah yang harus dilakukan – daripada menghabiskan uang untuk barang-barang material.
 Menggunakan uang untuk waktu bebas dikaitkan dengan peningkatan kebahagiaan Bukan Material, tapi waktu yang lebih banyak 'membangkitkan kebahagiaan'
Bukan Material, tapi waktu yang lebih banyak ‘membangkitkan kebahagiaan’ :: Courtesy : http://www.bbc.com
Psikolog menyampaikan stres sebab kurangnya waktu menjadikan rendahnya kesejahteraan dan berkontribusi terhadap kegelisahan dan insomnia.
Namun, mereka menyampaikan bahkan orang yang sangat kaya pun sering enggan membayar sesuatu untuk melaksanakan pekerjaan yang tidak mereka sukai.
“Dalam serangkaian survei, kami menemukan bahwa orang-orang yang mengeluarkan uang untuk membeli lebih banyak waktu luang itu, mereka lebih senang – itulah kepuasan hidup mereka yang lebih tinggi,” kata Dr Elizabeth Dunn, seorang profesor psikologi di University of British Columbia, Kanada.
Kepuasan hidup
Meningkatnya pendapatan di banyak negara telah menjadikan sebuah fenomena baru. Dari Jerman ke AS, orang melaporkan “kelaparan waktu”, di mana mereka menerima tekanan atas tuntutan harian pada waktunya.
Psikolog di AS, Kanada dan Belanda berangkat untuk menguji apakah uang sanggup meningkatkan tingkat kebahagiaan dengan membebaskan waktu.
Lebih dari 6.000 orang sampaumur di AS, Kanada, Denmark dan Belanda, termasuk 800 jutawan, ditanyai wacana berapa banyak uang yang mereka habiskan untuk membeli waktu.
Para periset menemukan bahwa kurang dari sepertiga individu menghabiskan uang untuk membeli sendiri waktu setiap bulannya.
Mereka yang pernah melaporkan kepuasan hidup lebih besar dari yang lain.
Para periset lalu merancang percobaan dua ahad di antara 60 orang sampaumur yang bekerja di Vancouver, Kanada.
Pada satu selesai pekan, para akseptor diminta mengeluarkan uang sebesar £ 30 ($ 40) untuk pembelian yang akan menghemat waktu mereka. Mereka melaksanakan hal-hal menyerupai membeli makan siang untuk dikirim ke daerah kerja, membayar bawah umur di lingkungan sekitar untuk menjalankan kiprah mereka atau membayar untuk layanan pembersihan.
Di selesai pekan yang lain, mereka disuruh menghabiskan rejeki nomplok barang-barang material. Pembelian material mencakup minuman keras, pakaian dan buku.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Prosiding National Academy of Sciences ini menemukan bahwa penghematan waktu dibandingkan dengan pembelian material lebih meningkatkan kebahagiaan dengan mengurangi perasaan stress akan waktu.
‘Giliran kedua’
“Uang bersama-sama sanggup membeli waktu, dan itu menghemat waktu dengan cukup efektif,” kata Prof Dunn, yang bekerja dengan rekan di Harvard Business School, Maastricht University dan Vrije Universiteit Amsterdam.
“Jadi pesan saya adalah, ‘pikirkanlah, adakah sesuatu yang Anda benci untuk dilakukan yang menciptakan Anda takut ? dan bisakah Anda membayar orang lain untuk melaksanakan kiprah itu untuk Anda?’ Jika demikian, maka sains menyampaikan itu yakni penggunaan uang yang cukup bagus. ”
Para psikolog menyampaikan bahwa studi tersebut sanggup membantu mereka yang merasa berkewajiban melaksanakan “peralihan kedua” pekerjaan rumah tangga ketika mereka pulang kerja.
“Saya pikir pekerjaan kami mungkin sanggup memperlihatkan jalan keluar dari cara kedua,” Prof Dunn menambahkan.

Penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa orang-orang yang memprioritaskan waktu di atas uang cenderung lebih senang daripada orang-orang yang memprioritaskan uang dari waktu ke waktu.