Benyamin S, Si Biang Kerok Dari Betawi

0
20

SEBUAH pekarangan rumah di salah satu kampung di Kemayoran, Jakarta. Seorang bocah enam tahun asyik bermain pada suatu siang tahun 1940-an. Kulitnya legam, berbadan cebol dan tambun. Ia hanya bercelana kolor.

SEBUAH pekarangan rumah di salah satu kampung di Kemayoran Benyamin S,  si biang kerok dari Betawi





Tiba-tiba bunyi keluar dari verbal seorang kakek yang berada di dekatnya. Si kakek minta tolong pada bocah itu, yang merupakan cucunya. “Ben, beliin engkong tape,” kata si kakek.

Si bocah eksklusif menghampiri kakeknya, mengambil uang receh dan menuju ke daerah tukang tape biasa mangkal. “Pekerjaan” itu sudah menjadi kebiasaan bagi si bocah.

Tak usang kemudian, beliau datang. Tapi kali ini prilakunya agak aneh.
“Kong, gak ada tapenya, Kong,” kata bocah cebol itu sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Lu goblok lu, masak gak ada. Orang jualan bererot (berderet) di situ,” jawab si kakek sembari sewot.

“Lagi gak dagang kali, Kong.”

“Enggak, tiap hari pada dagang di situ.”

Si kakek kemudian memperhatikan cucunya dengan seksama. Matanya berhenti pada tali celana kolor bocah. Si kakek eksklusif bertanya. “Itu apa yang lu gantung?”

“Tape.”

“Astagfirullah, lu kebangetan, makanan digantungin di celana.” Si kakek gregetan. Tapi Haji Ung, nama kakek itu, risikonya cekikikan alasannya yakni tak tahan melihat ulah jail cucunya itu.

Berpuluh-puluh tahun kemudian, si cucu masih tetap jail. Di suatu pagi di studio radio miliknya, beliau menelepon seorang sahabat di Bandung. Dia mengajak bicara mengenai kebiasaan sehari-hari si teman. Temannya kemudian menceritakan acara hariannya. Bahkan, hingga hal yang pribadi, termasuk kebiasaan buruknya ketika mandi. Percakapan berlangsung beberapa menit. 

Sebelum menutup pembicaraan, Ben yang menelepon sambil cengengesan berkata, “Lu tahu nggak saat ini gue lagi wawancarai lu, untuk radio gue, dan bunyi lu kini lagi on air.” Karuan temannya kelabakan dan mengomel, “Sialan!”

Begitulah Benyamin Suaeb, nama bocah dan pemilik radio tadi, seniman besar Betawi. Ada-ada saja polahnya. Hidupnya selalu diwarnai kejailan-kejailan “kreatif” yang segar. Kejailan-kejailan yang tak hanya menghibur dirinya, tapi juga banyak orang yang mengetahui, mendengar atau melihatnya.
Kejailan Ben, begitu beliau biasa dipanggil, tidak menyusut ketika kehidupannya sudah mapan, ketika namanya sebagai seniman besar sudah bersinar. Keisengan itu pula yang turut memberi warna karya-karya seninya, baik film maupun lagu.

LAHIR dengan nama Bunjamin Suaeb, di Jakarta pada 5 Maret 1939, Ben merupakan anak bontot dari delapan bersaudara. Bapaknya, Suaeb, berdarah Jawa sedangkan emaknya, Siti Aisyah, Betawi asli. Haji Ung, kakek Ben dari garis ibu, merupakan tokoh terpandang di Kemayoran. Kabarnya, beliau merupakan keturunan Si Jago, seorang pahlawan Betawi populer yang namanya diabadikan sebagai nama tempat: Bendungan Jago. 

Ben kecil mengalami masa sulit. Rintangan demi rintangan silih berganti mendatangi. Kehidupan rumah tangga orangtuanya berantakan. Saat Ben lahir, bapaknya punya dua istri. Puncak kesulitan keluarga orang renta Ben terjadi pada 1941, ketika Suaeb meninggal di Belitung. Aisyah ibu Ben harus memikul beban keluarga seorang diri dengan jalan membuka perjuangan jahit.

Sejak kecil talenta seni Ben telah terlihat. Meski bersuara cadel, Ben bisa menirukan lagu-lagu orang cukup umur dan menghibur tetangganya. “Biasanya, sambil bernyanyi beliau menggoyang-goyangkan pantatnya,” tulis Ludhy. 

Biasanya, ibu-ibu yang gemas pada Ben menanggapnya untuk “mentas” di rumah mereka masing-masing. Sebagai imbalannya Ben sanggup “honor” camilan manis kering, bolu, atau uang. “Aku sih patuh aja. Selesai menyanyi sanggup duit segobang. Akhirnya saya jadi kesenangan dan ketagihan,” kenang Ben.
Bakat nyanyi itu makin terasah alasannya yakni kakak-kakaknya mendukung. Bersama-sama, mereka kerap memainkan lagu-lagu Melayu, ibarat Bajang-Bajang Bertali Sutra dan Pengantin Baru. Untuk lagu pembuka, mereka biasa memainkan lagu Belanda.

SAAT usianya tujuh tahun Ben sekolah di sekolah rakyat di Bendungan Jago. Dia bukan termasuk anak pintar. Abangnya, M. Noer, yang paling sabar mengajari Ben di rumah pun hingga kesal karena Ben tidak kunjung bisa memahami pelajaran sekolahnya. Ben kemudian sempat melewati masa sekolah di Bandung bersama bersama abangnya., Saidi. Di kota itu pula kelak ia bertemu dengan saudara tirinya, Adung Saleh.

Mereka bersekolah di sekolah rakyat Santo Yusuf, Bandung. Ben dan Saidi menumpang di rumah Otto Soeprapto, kakak mereka yang bekerja sebagai pegawai kereta api di Bandung. Otto sangat keras dan disiplin, menciptakan Ben dan Saidi “kaget”. “Bayangin saja, dari tidak disiplin di Kemayoran menjadi disiplin, wah rasanya kayak dihukum,” kenang Ben.

Ben dan Saidi tak usang tinggal di Bandung. Selepas tamat sekolah rakyat mereka menentukan melanjutkan studi di Jakarta. Ben kemudian masuk sekolah lanjutan Perguruan Sosial Indonesia (PEPSI) di Cikini. Di situ beliau sangat tekun. Meski harus berjalan kaki dua jam untuk bisa mencapai sekolahnya, Ben tidak pernah mengeluh, tidak pernah membolos. “Saban hari beliau pulang sekitar pukul 20.00. Pergi berkeringat, pulang berpeluh sudah jadi hal yang biasa,” tulis Ludhy. Lantaran kasihan melihat Ben, abangnya Moenadji kemudian membelikan sepeda BSA dengan cara mencicil. Ben bersekolah di PEPSI hingga 1955.

Ben kemudian melanjutkan sekolah ke Sekolah Menengan Atas Taman Siswa Kemayoran. Konyol, jail, tengil, suka berantem, dan cendekia menghibur tetap jadi ciri Ben di sekolah itu. Meski nakal, beliau tetap bertanggung jawab dan solider. 
Syumanjaya, kelak menjadi sutradara terkenal, dan Misbach Yusa Biran, penulis skenario populer satu almamater dengan Ben. Pelawak Ateng Soeripto merupakan salah seorang “kroco” yang paling bersahabat dengan Ben ketika itu. Mereka sama-sama satu sekolah meski beda tingkatan: Ben Sekolah Menengan Atas Ateng SMP.
Sebenarnya Ben bercita-cita jadi pilot. Semua surat yang diharapkan untuk menjadi pilot sempat beliau urus. Tapi, impian itu urung beliau perjuangkan karena Mak Aisyah takut. “Nggak usah aje ye, gue takut elu jatoh,” kata Mak Aisyah ketika itu.

Ben kemudian kuliah di Akademi Manajemen Sawerigading. Tapi, hanya hingga semester dua. Sambil kuliah Ben juga ngamen di beberapa klab malam. Saat senggang, beliau tetap main bola. Hobi main bolanya ini pula yang mengantarkannya pada nasib menjadi pegawai PPD. “Awalnya ingin menjadi tenaga administrasi, tapi tak tahu kenapa malah menjadi kernet,” ujar Ben, mengenang. Ben jadi kernet bus yang melayani trayek Lapangan Banteng-Pasar Rumput.

Pada masa itu pulalah Ben jatuh cinta kepada seorang gadis yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Noni, nama gadis itu, tinggal bersama ibu dan ayah angkatnya serta ketiga saudara tiri. Mereka tinggal di rumah kontrakan milik Cing Lale, ade Mak Aisyah. Ben dan Noni pacaran secara backstreet. Walaupun awalnya tak direstui orang renta Noni, risikonya Ben dan Noni menikah pada 2 Oktober 1959.

Pada 1960, anak pertama pasangan Ben dan Noni lahir. Bayi itu dinamai Beib Habani Benyamin. Tak usang sehabis anak pertama lahir Ben pindah kerja ke PN. Kriya Yasa, pabrik asbes semen. Di perusahaan itu karir Ben mulai menanjak, ekonomi keluarganya pun beranjak membaik. Selain mendapat rumah dinas di Kemayoran dan sepeda motor, Ben juga bisa membeli rumah sederhana di Gang Bugis. Dari pernikahannya dengan Noni, Ben dikaruniai lima anak: Beib Habani Benyamin, Bob Benito Benyamin, Biem Triany Benyamin, Beno Rachmat Benyamin, dan Benny Pandawa Benyamin.

Tapi Ben pernah kena apes. Di tengah-tengah puncak kariernya, pabrik tempatnya bekerja bangkrut. Ben kena PHK. Masa sulit pun kembali menghampiri Ben dan keluarganya. Ben terpaksa hanya mengandalkan pemasukan dari ngamen sementara Noni berjualan pisang goreng keliling kampung.

Tapi mujur kembali berpihak padanya. Karier sebagai pelawak, penyanyi, dan aktor perlahan menanjak sehabis lagu pertamanya diterima oleh Bing Slamet. Sejak ketika itu Ben mulai dikenal sebagai ikon Betawi.

Kesuksesan Ben tak seiring dengan keharmonisan rumah tangganya. Akibat kesibukan, waktu Ben untuk keluarga makin minim. Dia juga mulai sering ribut dengan istrinya. Akhirnya, Ben dan Noni bercerai meski sempat rujuk sebentar. Kabarnya, Noni cemburu kepada Ida Royani. Pernikahannya pun berantakan. Kabarnya Noni cemburu pada Ida Royani, pasangan duet Ben. Konon Ben demen pada Ida, tapi gayung tak bersambut. Ida tak menaruh hati pada Ben yang sudah punya anak istri.

Ben yang sudah “melajang” itu pun kembali mencari jodoh. Kali ini atas derma Bu Royani, ibu Ida Royani, Ben menemukan jodoh: Alfiah, seorang gadis asal Kediri. Ben kemudian meminang Alfiah, yang ketika dinikahi Ben usianya masih 17 tahun. Dari pernikahannya itu Ben dikaruniai empat anak: Bayi Nurhayati, Billy Sabila Benyamin, Bianca Belladina, dan Belinda Sahadati Amri. Kehadiran Alfiah –dan kemudian empat anaknya– menciptakan semangat Ben untuk melepaskan diri dari cengekeraman “kegelapan” kembali naik. Dan, Ben pun berhasil melewati masa-masa suramnya yang kedua itu hingga sang selesai hidup tiba menjemput pada 1995.

Kepergian Ben menciptakan banyak orang kehilangan. Tak hanya keluarga maupun orang terdekatnya, tapi juga jutaan penggemarnya. Yang pasti, dunia seni pertunjukan Indonesia telah kehilangan salah satu putra terbaiknya. Putra yang, berdasarkan Didi Petet, sukses mengerjakan tiga profesi sekaligus: penyanyi, pelawak, dan pemain film.