Analisis Dan Solusi Fenomena Pelanggaran Sopan Santun Oleh Guru

0
15


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Guru yaitu salah satu unsur insan dalam proses pendidikan. dalam proses pendidikan di sekolah, guru memegang kiprah ganda yaitu sebagai pengajar dan pendidik. Sebagai pengajar, guru bertugas menuangkan sejumlah materi pelajaran ke dalam otak anak didik, sedangkan sebagai pendidik guru bertugas membimbing dan membina anak didik supaya menjadi insan susila yang cakap, aktif, kreatif dan mandiri. Oleh karena itu, kiprah berat dari seorang guru ini intinya hanya sanggup dilaksanakan oleh guru yang mempunyai kompetensi profesional yang tinggi.
Ibarat sebatang lilin, guru rela mengorbankan dirinya untuk orang lain, akan tetapi di kala kini ini tampaknya filsafat tersebut tidak lagi berlaku bagi sebagian masyarakat. Banyak kalangan mulai meragaukan kapabilitas dan dapat dipercaya guru. Peran guru sebagai pengajar dan pendidik mulai dipertanyakan. Misalnya sebagai pencetak generasi penerus bangsa yang terampil dan bermoral belum sepenuhnya terwujud. Para pelajar ketika ini seakan menjauh dari kondisi ideal menyerupai yang diharapkan. Isu pendidikan semakin tersorot publik, para pelajar dinilai mulai kehilangan kepekaan moral, tersihir oleh peri kehidupan yang memburu selera dan kemanjaan nafsu, terjebak ke dalam sikap hidup instan, tawuran antar pelajar dan pergaulan bebas.
Bisa dikatakan pendidikan tak lagi dianggap sebagai pionir kemajuan bangsa melainkan hanya melambangkan kebobrokan bangsa. Berikut yaitu beberapa uraian wacana analisis fenomena pelanggaran isyarat etik profesi guru serta solusinya.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pelanggaran Kode Etik Profesi Guru
Etika profesi guru yaitu seperangkat norma yang harus di indahkan dalam menjalankan profesi guru kemasyarakatan atau dengan kata lain merupakan landasan moral dan pedoman tingkah laris warga PGRI dalam melaksanakan panggilan pengabdianya bekerja sebagai guru. Etika profesi guru lebih dikenal dengan sebutan “kode etik guru” sebagai hasil kongres seluruh utusan cabang dan pengurus tempat PGRI seluruh Indonesia di Jakarta tahun 1973. Dengan kata lain Kode etik profesi guru merupakan sarana kontrol sosial bagi guru yang bersangkutan. Maksudnya bahwa watak profesi guru sanggup memberitahukan suatu pengetahuan kepada masyarakat supaya sanggup memahami arti pentingnya suatu profesi, sehingga memungkinkan pengontrolan terhadap guru di lapangan kerja.
Sesuai dalam isyarat etik guru Indonesia, guru harus tampil secara profesional dengan kiprah utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, melatih, menilai dan mengevaluasi penerima didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Adapun esai yang penulis sanggup dari isyarat etik guru secara garis besarnya sanggup penulis gambarkan sebagai berikut:[1]
1.      Guru berbakti membimbing penerima didik untuk membentuk insan Indonesia seutuhnya yang berjiwa pancasila
2.      Guru mempunyai dan melaksanakan kejujuran profesional
3.      Guru berusaha memperolah informasi wacana penerima didik sebagai materi melaksanakan bimbingan dan pembinaan
4.      Guru membuat suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar-mengajar
5.      Guru memelihara korelasi baik dengan orang bau tanah murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina kiprah serta dan rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidikan
6.      Guru secara langsung dan tolong-menolong membuatkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya. Guru memelihara korelasi seprofesi, semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial
7.      Guru secara tolong-menolong memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana usaha dan pengabdian
8.      Guru melaksanakan segala kebijakan Pemerintah dalam bidang pendidikan
Jadi pelanggaran isyarat etik profesi guru merupakan pelanggaran terhadap suatu norma, nilai dan hukum profesional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik bagi suatu profesi dalam masyarakat.
B.     Faktor Penyebab Terjadinya Kode Etik Profesi Guru beserta Solusinya
Berikut yaitu beberapa faktor yang mempengaruhi sikap dan sikap yang menyimpang pada seorang pendidik :
1.         Adanya malpraktik yaitu melaksanakan praktik yang salah, miskonsep. Misalnya guru salah dalam menerapkan eksekusi pada siswa. Adapun alasannya tindakan kekerasan maupun pencabulan guru terhadap siswa merupakan suatu pelanggaran.
2.         Kurang siapnya guru maupun siswa secara fisik, mental dan emosional. Jika kedua belah pihak siap secara fisik, mental dan emosional, proses mencar ilmu mengajar akan lancar, interaksi siswa dan guru pun akan terjalin serasi layaknya orang bau tanah dengan anaknya.
3.         Kurangnya penanaman kebijaksanaan pekerti di sekolah. Pelajaran kebijaksanaan pekerti kini ini sudah tidak ada lagi. Kalaupun ada sifatnya hanya sebagai pelengkap, karena di integrasikan dengan banyak sekali mata pelajaran yang ada. Namun realitas di lapangan pelajaran yang di sanggup siswa kebanyakan hanya diberi banyak sekali materi tanpa memperdulikan nilai-nilai kebijaksanaan pekerti yang harus diajarkan pula.
Berikut salah satu pola pelanggaran isyarat etik profesi guru: [2]

Berdasarkan fakta pada artikel diatas ternyata masih banyak saja guru yang melaksanakan absen mengajar. Padahal guru rutin mendapatkan honor setiap bulan. Hal ini merupakan bentuk indisipliner yang paling banyak ditemui. Tidak disiplin masuk kelas, tidak melengkapi perangkat pembelajaran dan yang paling parah absen kerja.
Tindakan guru yang semacam ini telah melanggar isyarat etik guru nomor (2) Guru mempunyai dan melaksanakan kejujuran profesional, (4) Guru membuat suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses mencar ilmu mengajar, (5) Guru memlihara korelasi baik dengan orang bau tanah murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina kiprah serta dan rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidikan, (6) Guru secara langsung dan tolong-menolong membuatkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya dan (7) Guru memlihara korelasi seprofesi, semangat kekeluargaan dan ketidaksetiawanan sosial.
Adapun upaya yang sanggup dilakukan untuk mengatasi Pelanggaran Kode Etik Profesi Guru tersebut[3], yaitu dengan menindak tegas dan memperlihatkan hukuman berat pada oknum-oknum guru yang melaksanakan kasus watak profesi guru karena sangat merugikan guru sebagai salah satu profesi yang salah satu profesi yang salah satu tugasnya yaitu memberi keteladanan yang baik terhadap penerima didik
 
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan diatas sanggup disimpulkan bahwa isyarat etik profesi guru merupakan sarana kontrol sosial bagi guru yang bersangkutan, yang berarti watak profesi guru sanggup memberitahukan suatu pengetahuan kepada masyarakat supaya sanggup memahami arti pentingnya suatu profesi, sehingga memungkinkan pengontrolan terhadap guru di lapangan kerja. Namun kenyataan yang kita jumpai di lapangan ketika ini bahwasannya apa yang dibutuhkan dalam undang-undang profesionalitas guru dan dosen serta isyarat etik yang tertera diatas masih mengidentifikasikan bahwa mutu pendidikan di Indonesia masih rendah.
Oleh karena itu untuk mengatasi pelanggaran terhadap isyarat etik profesi guru yakni salah satunya dengan menindak tegas dan memperlihatkan hukuman berat pada oknum-oknum guru yang melaksanakan kasus watak profesi guru karena sangat merugikan guru sebagai salah satu profesi yang salah satu profesi yang salah satu tugasnya yaitu memberi keteladanan yang baik terhadap penerima didik.


[1] Mudjito, Guru yang Efektif (Jakarta : Rajawali , 1986) hal. 33

[3] Saondi, Ondi dkk, Etika Profesi Keguruan (Bandung : PT Refika Aditama, 2010) hal. 51
Judul :  Analisis Dan Solusi Fenomena Pelanggaran Etika Oleh Guru
Penulis : Zahmavia Shomaroh Rizqy