Amanah Mendidik Anak Yang Sholeh

0
10
Anak ialah buah hati bagi kedua orang tuanya yang sangat disayangi dan dicintainya. Sewaktu perahu rumah tangga pertama kali diarungi, maka pikiran pertama yang terlintas dalam benak suami istri ialah berapa jumlah anaknya kelak akan mereka miliki serta kearah mana anak tersebut akan dibawa.
Menurut Sunnah melahirkan anak yang banyak justru yang terbaik. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:  “Nikahilah perempuan yang penuh dengan kasih sayang dan lantaran sesungguhnya saya besar hati pada kalian dihari simpulan zaman lantaran jumlah kalian yang banyak.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’I, kata Al Haitsamin).

Namun yang menjadi problem ialah kemana anak akan kita arahkan sehabis mereka terlahir. Umumnya orang bau tanah menginginkan semoga kelak anak-anaknya sanggup menjadi anak yang shalih, semoga sehabis sampaumur mereka sanggup membalas jasa kedua orang tuanya. Namun obsesi orang bau tanah kadang tidak sejalan dengan perjuangan yang dilakukannya. Padahal perjuangan merupakan salah satu faktor yang sangat memilih bagi terbentuknya tabiat dan abjad anak. Obsesi tanpa perjuangan ialah hayalan semu yang tak akan mungkin sanggup menjadi kenyataan.
Bahkan sebagian orang bau tanah jawaban pandangan yang keliru menginginkan semoga kelak anak-anaknya sanggup menjadi bintang film (Artis), bintang iklan, fotomodel dan lain-lain. Mereka beranggapan dengan itu semua kelak belum dewasa mereka sanggup hidup makmur menyerupai kaum selebritis yang populer itu. Padahal dibalik itu semua mereka kering akan warta perihal perihal kehidupan kaum selebritis yang mereka puja-puja. Hal ini terjadi jawaban orang bau tanah yang sering mengkonsumsi banyak sekali macam acara-acara hiburan diberbagai media cetak dan elektronik, lantaran itu opininya terbangun atas apa yang mereka lihat selama ini.
Kehidupan sebagian besar selebritis yang banyak dipuja orang itu tidak lebih menyerupai kehidupan hewan yang tak tahu tujuan hidupnya selain hanya makan dan mengumbar nafsu birahinya. Hura-hura, pergaulan bebas, miras, narkoba dan gaya hidup yang serba glamour ialah konsumsi sehari-hari mereka. Sangat jarang kita saksikan di antara mereka ada yang perduli dengan tujuan hakiki mereka diciptakan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala , kalaupun ada mereka hanya mengakibatkan ritualisme sebagai alat untuk meraih tujuan duniawi, untuk mengecoh masyarakat perihal keadaan mereka yang sebenarnya. Apakah kita menginginkan belum dewasa kita menjadi orang yang jauh dari agamanya yang kelihatannya senang di dunia namun menderita di akhirat? Tentu tidak. 
Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka belum dewasa yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)mereka” (An Nisa: 9).
Pengertian lemah dalam ayat ini ialah lemah iman, lemah fisik, lemah intelektual dan lemah ekonomi. Oleh lantaran itu selaku orang bau tanah yang bertanggung jawab terhadap anak-anaknya, maka mereka harus memperhatikan keempat hal ini. Pengabaian salah satu dari empat hal ini ialah ketimpangan yang sanggup menimbulkan ketidak seimbangan pada anak.
Imam Ibnu Katsir dalam mengomentari pengertian lemah pada ayat ini memfokuskan pada problem ekonomi. Beliau menyampaikan selaku orang bau tanah hendaknya tidak meninggalkan keadaan belum dewasa mereka dalam keadaan miskin . (Tafsir Ibnu Katsir: I, hal 432) Dan terbukti berapa banyak kaum muslimin yang rela meninggalkan aqidahnya (murtad) di abad ini jawaban keadaan ekonomi mereka yang dibawah garis kemiskinan.
Banyak orang bau tanah yang mementingkan perkembangan anak dari segi intelektual, fisik dan ekonomi semata dan mengabaikan perkembangan iman. Orang bau tanah terkadang berani melaksanakan hal apapun yang penting kebutuhan pendidikan anak-anaknya sanggup terpenuhi, sementara untuk memasukkan belum dewasa mereka pada TK-TP Al-Qur’an terasa begitu enggan. Padahal aspek kepercayaan merupakan kebutuhan pokok yang bersifat fundamental bagi anak.
Ada juga orang bau tanah yang menyeimbangkan pemenuhan kebutuhan bagi belum dewasa mereka dari keempat problem pokok di atas, namun perjuangan yang dilakukannya kearah tersebut sangat diskriminatif dan tidak seimbang. Sebagai contoh: Ada orang bau tanah yang dalam perjuangan mencerdaskan anaknya dari segi intelektual telah melaksanakan usahanya yang cukup maksimal, segala sarana dan prasarana kearah tercapainya tujuan tersebut dipenuhinya dengan sungguh-sungguh namun dalam usahanya memenuhi kebutuhan anak dari hal keimanan, orang bau tanah terlihat setengah hati, padahal mereka telah memperhatikan anaknya secara bersungguh-sungguh dalam segi pemenuhan otaknya.
Karena itu sebagian orang bau tanah yang bijaksana, mesti bisa memperhatikan langkah-langkah yang harus di tempuh dalam merealisasikan obsesinya dalam melahirkan anak yang shalih. 
Di bawah ini akan kami ketengahkan beberapa langkah yang cukup representatif dan membantu mewujudkan obsesi tersebut:
1. Opini atau persepsi orang bau tanah atau anak yang shalih tersebut harus benar-benar sesuai dengan kehendak Islam berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam , bersabda yang artinya: “Jika wafat anak cucu Adam, maka terputuslah amalan-amalannya kecuali tiga: Sadaqah jariah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang shalih yang selalu mendoakannya.” (HR.Muslim)
Dalam hadits ini sangat terperinci disebutkan ciri anak yang shalih ialah anak yang selalu mendoakan kedua orang tuanya. Sementara kita telah sama mengetahui bahwa anak yang senang mendoakan orang tuanya ialah anak sedari kecil telah terbiasa terdidik dalam melaksanakan kebaikan-kebaikan,melaksanakan perintah-perintah Allah Subhannahu wa Ta’ala , dan menjauhi larangan-laranganNya. Anak yang shalih ialah anak yang tumbuh dalam naungan DienNya, maka tidak mungkin ada anak sanggup bisa mendoakan orang tuanya kalau anak tersebut jauh dari perintah-perintah Allah Subhannahu wa Ta’ala dan senang bermaksiat kepadaNya. Anak yang senang bermaksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala , terperinci akan jauh dari perintah Allah dan kemungkinan besar senang pula bermaksiat kepada kedua orang tuanya sekaligus.
Dalam hadits ini dijelaskan perihal laba mempunyai anak yang shalih yaitu, amalan-amalan mereka senantiasa berkorelasi dengan kedua orang tuanya walaupun sang orang bau tanah telah wafat. Jika sang anak melaksanakan kebaikan atau mendoakan orang tuanya maka amal dari kebaikannya juga merupakan amal orang tuanya dan doanya akan segera terkabul oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala.
Kaprikornus jelaslah bagi kita akan citra anak yang shalih yaitu anak yang taat kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala , menjauhi larangan-laranganNya, selalu mendoakan orang tuanya dan selalu melaksanakan kebaikan-kebaikan.
2. Menciptakan lingkungan yang aman ke arah tercipta-nya anak yang shalih.
Lingkungan merupakan daerah di mana insan melaksana-kan aktifitas-aktifitasnya. Secara mikro lingkungan sanggup dibagi dalam tiga bagian, yaitu:
a. Lingkungan keluarga
Keluarga merupakan sebuah institusi kecil dimana anak mengawali masa-masa pertumbuhannya. Keluarga juga merupakan madrasah bagi sang anak. Pendidikan yang didapatkan merupakan pondasi baginya dalam pembangunan watak, kepribadian dan karakternya.
Jama’ah jum’at rahimakumullah
Jika anak dalam keluarga senantiasa terdidik dalam warna keIslaman, maka kepribadiannya akan terbentuk dengan warna keIslaman tersebut. Namun sebaliknya kalau anak tumbuh dalam suasana yang jauh dari nilai-nilai keIslaman, maka terperinci kelak ia akan tumbuh menjadi anak yang tidak bermoral.
Seorang anak yang terlahir dalam keadaan fitrah, kemudian orang tuanyalah yang mewarnainya, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: Artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan yang fitrah (Islam), maka orang tuanya yang menimbulkan ia menjadi Yahudi, Katolik atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari)
Untuk itu orang bau tanah harus sanggup memanfaatkan saat-saat awal dimana anak kita mengalami pertumbuhannya dengan cara menanamkan dalam jiwa anak kita kecintaan terhadap diennya, cinta terhadap pemikiran Allah Subhannahu wa Ta’ala dan RasulNya Shallallaahu alaihi wa Salam, sehingga ketika anak tersebut berhadapan dengan lingkungan lain anak tersebut mempunyai daya resistensi yang sanggup menangkal setiap ketika dampak negatif yang akan merusak dirinya.
Agar sanggup memudahkan jalan bagi pembentukan kepribadian bagi anak yang shalih, maka keteladanan orang bau tanah merupakan faktor yang sangat menentukan. Oleh lantaran itu, selaku orang bau tanah yang bijaksana dalam berinteraksi dengan anak niscaya memperlihatkan perilaku yang baik, yaitu perilaku yang sesuai dengan kepribadian yang shalih sehingga anak sanggup dengan gampang menggandakan dan mempraktekkan sifat-sifat orang tuanya.
b. Lingkungan Sekolah
Sekolah merupakan lingkungan di mana belum dewasa berkumpul bersama teman-temannya yang sebaya dengannya. Belajar, bermain dan bercanda ialah kegiatan rutin mereka di sekolah. Sekolah juga merupakan sarana yang cukup efektif dalam membentuk tabiat dan abjad anak. Di sekolah belum dewasa akan saling mensugesti sesuai dengan tabiat dan abjad yang diperolehnya dalam keluarga mereka masing-masing. Anak yang terdidik secara baik di rumah tentu akan memberi dampak yang positif terhadap teman-temanya. Sebaliknya anak yang di rumahnya kurang menerima pendidikan yang baik tentu akan memberi dampak yang negatif berdasarkan abjad dan tabiat sang anak.
Faktor yang juga cukup memilih dalam membentuk tabiat dan abjad anak di sekolah ialah konsep yang diterapkan sekolah tersebut dalam mendidik dan mengarahkan setiap anak didik.
Sekolah yang ditata dengan managemen yang baik tentu akan lebih bisa memperlihatkan hasil yang memuaskan dibandingkan dengan sekolah yang tidak memperhatikan sistem managemen. Sekolah yang sekedar dibangun untuk kepentingan bisnis semata niscaya tidak akan bisa menghasilkan murid-murid yang berkwalitas secara maksimal, kualitas dalam pengertian intelektual dan moral keagamaan.
Kualitas intelektual dan moral keagamaan tenaga pengajar serta kurikulum yang digunakan di sekolah termasuk faktor yang sangat memilih dalam melahirkan murid yang berkualitas secara intelektual dan moral keagamaan.
Oleh alasannya ialah itu orang bau tanah seharusnya bisa melihat secara cermat dan jeli sekolah yang pantas bagi belum dewasa mereka. Orang bau tanah tidak harus memasukkan anak mereka di sekolah-sekolah favorit semata dalam hal intelektual dan mengabaikan faktor perkembangan akhlaq bagi sang anak, lantaran sekolah tersebut akan memberi warna gres bagi setiap anak didiknya.
Keseimbangan pelajaran yang diperoleh murid di sekolah akan lebih bisa menyeimbangkan keadaan mental dan intelektualnya. Karena itu sekolah yang mempunyai keseimbangan kurikulum antara pelajaran umum dan agama akan lebih bisa memberi jaminan bagi seorang anak didik.
c. Lingkungan Masyarakat
Masyarakat ialah komunitas yang terbesar dibandingkan dengan lingkungan yang kita sebutkan sebelumnya. Karena itu dampak yang ditimbulkannya dalam merubah tabiat dan abjad anak jauh lebih besar.
Masyarakat yang lebih banyak didominasi anggotanya hidup dalam kemaksiatan akan sangat mensugesti perubahan tabiat anak kearah yang negatif. Dalam masyarakat menyerupai ini akan tumbuh banyak sekali problem yang merusak ketenangan, kedamaian, dan ketentraman.
Anak yang telah di didik secara baik oleh orang tuanya untuk selalu taat dan patuh pada perintah Allah Subhannahu wa Ta’ala dan RasulNya, sanggup saja tercemari oleh limbah kemaksiatan yang merajalela disekitarnya. Oleh lantaran itu untuk sanggup mempertahankan kwalitas yang telah terdidik secara baik dalam institusi keluarga dan sekolah, maka kita perlu tolong-menolong membuat lingkungan masyarakat yang baik, yang aman bagi anak.
Masyarakat terbentuk atas dasar adonan individu-individu yang hidup pada suatu komunitas tertentu. Karena dalam membentuk masyarakat yang serasi setiap individu mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sama. Persepsi yang keliru biasanya masih mendominasi masyarakat. Mereka beranggapan bahwa yang bertanggung jawab dalam problem ini ialah pemerintah, para da’i, pendidik atau ulama. Padahal Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam , bersabda yang artinya  “Barangsiapa di antaramu melihat kemungkaran hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, kalau ia tidak sanggup maka dengan lidahnya, dan kalau tidak sanggup maka dengan hatinya. Dan itu ialah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)
Jika setiap orang merasa tidak mempunyai tanggung jawab dalam hal beramar ma’ruf nahi munkar, maka segala kemunkaran bermunculan dan merajalela di tengah masyarakat kita dan lambat atau cepat niscaya akan menimpa putra dan putri kita. Padahal kedudukan kita sebagai umat yang terbaik yang sanggup memperlihatkan ketentraman bagi masyarakat kita hanya sanggup tercapai kalau setiap individu muslim secara konsisten menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, lantaran Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Kamu ialah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah…” (Ali Imran: 110).
Amar ma’ruf ialah kewajiban setiap individu masing-masing yang harus dilaksanakan. Jika tidak maka Allah Subhannahu wa Ta’ala , niscaya akan menimpakan adzabnya di tengah-tengah kita dan niscaya kita akan tergolong orang-orang yang rugi Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan hendaklah ada di antara kau segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali-Imran: 104).